Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Sebuah surat


__ADS_3

Zhea melempar ponselnya ke tempat tidur setelah melihat begitu banyaknya pesan dan panggilan tak terjawab dari nomor tanpa nama yang tentunya Zhea tahu yang tak lain adalah Iqbal.


Iqbal terus saja menghubungi Zhea dan sering mengirim pesan kepada Zhea. Padahal Zhea sudah memblokir nomor ponsel Iqbal, tapi tak lama muncul kembali nomor baru dan itu adalah Iqbal.


" Sampai kapan seperti ini terus, apa aku yang harus ganti nomor ? tapi sayang banget kan, apalagi udah banyak temen-temen yang tau nomor aku " ucap Zhea.


Zhea ingin beranjak menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti saat melihat buket dan kado kecil yang di berikan oleh Kevin. Zhea mengambil kado tersebut dan kembali duduk di atas tempat tidur. Mengenai buket bunga dan kado pemberian dari Iqbal, Zhea sudah serahkan kepada Tasya. Zhea tidak ingin menerima pemberian dari Iqbal.


" Kadonya imut banget "


Zhea tersenyum melihat kado kecil yang di beri oleh Kevin, lalu perlahan ia membuka kado tersebut.


Di dalam kotak kado tersebut ternyata hanya ada selembar kertas yang di lipat kecil, tak ada barang mewah ataupun lainnya. Zhea senyum-senyum sendiri saat membaca isi surat tersebut.


*Haii Zhea,


Wanita misterius yang pernah aku temui dan ternyata adalah adik dari istrinya sahabat aku. Hahaha..sudah seperti judul sinetron saja yahh..


Aku tidak tahu apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka. Jadi aku hanya memberi kamu selembar kertas ini yang di belakang suratnya sudah aku tulis nomor ponsel aku. Segeralah hubungi aku ya, biar aku bisa tahu apa yang kamu suka dan yang tidak kamu sukai.


Congratulations Zhea, selamat atas kelulusan kamu. Semoga Allah selalu memberkahimu dan semoga semua yang kamu impikan tercapai.


Kevin*


Zhea membalik suratnya dan benar terdapat 12 digit angka yang tertulis di sana. Zhea kembali tersenyum melihatnya.


Tok..tok..tok..


Sebuah ketukan pintu mengejutkan Zhea, Zhea segera melipat dan memasukkan kembali surat dari Kevin kedalam kotak.


Zhea beranjak untuk membuka pintu dan ternyata yang mengetuk pintu adalah Zee.


" Kak Zee, masuk kak " ajak Zhea.


Zee masuk kedalam kamar Zhea dan ikut duduk di atas tempat tidur bersama Zhea.


" Belum tidur dek ? "


" Belum kak , oh iya itu apa kak ? "


Zhea melirik paper bag besar yang Zee bawa.


" ini buat kamu "


" Apa ini kak ? "


" Buka, biar kamu tau "


Dalam hati Zhea sudah terlihat sangat senang karena kalau di lihat sepertinya yang ia pegang saat ini adalah sebuah laptop.


" Maa syaa allah, ini kan laptop yang pengen banget aku beli kak "

__ADS_1


Zhea terlihat bahagia sekali karena apa yang di pikirkannya benar. Zee memberinya sebuah laptop keluaran terbaru yang sangat diinginkan oleh Zhea.


" Ini buat aku kak ? ini mahal lho kak " tanya Zhea tak percaya.


" Iya buat kamu dek, sebentar lagi kan kamu mau melanjutkan studi , kamu pasti perlu ini "


Kedua mata Zhea tampak berkaca-kaca, dari dulu Zee sang kakak selalu bisa memberikan apa yang Zhea inginkan. Zhea ingat saat dulu masih duduk di kelas 2 SMA, semua teman-teman sekelas Zhea memilki sebuah tablet untuk menunjang pembelajaran mereka, dan hanya Zhea yang tak punya.


Zhea bisa saja meminta kepada kedua orangtuanya , tapi tidak ia lakukan karena tidak ingin membebani kedua orangtuanya. Apalagi kedua orangtuanya bercerai, Zhea tidak ingin membuat kedua orangtuanya bertengkar. Karena dulu Zhea pernah meminta kepada sang ibu, namun ibunya justru menyuruh Zhea meminta kepada sang ayah, dan saat meminta kepada sang ayah, yang ada sang ayah yang menjadi sasaran ibu tirinya. Ceritanya justru menjadi panjang , jadi menurut Zhea lebih baik tidak usah saja.


Lebih baik Zhea menabung dan mengumpulkan uang dari sisa jajannya untuk membeli sebuah tablet.


Saat semua uang yang Zhea kumpulkan sudah banyak dan ingin membeli, ternyata Zee sudah terlebih dahulu membelikan tablet untuknya. Padahal Zhea tak pernah bercerita ataupun meminta kepada Zee. Zee tahu semua itu dari wali kelas Zhea, karena diam-diam Zee selalu memperhatikan keperluan dan kelakuan Zhea kepada wali kelasnya.


Hal itulah yang membuat Zhea ingin menangis saat ini karena sang kakak selalu bisa mewujudkan apa yang ia inginkan tanpa meminta, dan Zee adalah seorang kakak terbaik Zhea.


" Makasih ya kak, kak Zee selalu tau apa yang aku mau "


" Sama-sama adek kakak tersayang "


" Sini kak, peluk "


Zhea beranjak sedikit mendekati Zee lalu memeluk Zee. Mereka berdua saling berpelukan hangat. Zee memeluk Zhea sembari mengelus lembut kepala Zhea.


Saat berpelukan, Zee tak sengaja melihat sebuah buket yang ada di depannya.


" itu dari siapa dek ? " tanya Zee.


Zee mengerenyitkan keningnya, " dari bang Kevin, kok bisa ya. Sejak kapan bang Kevin dan Zhea kenal dekat, kenapa bang Kevin kasih buket ke Zhea " batin Zee.


" Tasya juga punya buket yang sama kayak Zhea kak, bang Kevin juga kasih ke Tasya seperti itu " jelas Zhea.


" Oh..ia dek "


Setelah Zhea menjelaskan bahwa Kevin juga memberikan buket yang sama kepada Tasya, Zee bisa menyimpulkan bahwa mungkin Kevin merasa tidak adil saja kalau hanya memberi buket untuk Tasya. Karena bagaimana pun Zhea juga anggota keluarga mereka semua.


" Ngomong-ngomong , kok kayaknya coklatnya enak dek "


Tiba-tiba Zee merasa ingin menyantap coklat yang tersusun rapi di buket tersebut.


" Kakak mau , bentar "


Zhea beranjak mengambil buket dan mengambil dua batang coklat lalu memberikannya kepada Zee.


" Ambil aja kak "


" Tapi dek, kan ini buat kamu "


" Ya gak pa-pa kak, sekarang aku kasih buat kakak. Kasian kan nanti keponakan aku ileran lagi kak, cuma gara-gara pengen makan coklat gak kesampaian "


Zhea terkekeh lalu mengelus lembut perut Zee.

__ADS_1


" Iya kan ponakan onty, pengen makan coklat ya. Makan yang banyak ya, Onty udah kasih sama Bunda kamu " ucap Zhea mengajak bicara bayi yang ada di dalam kandungan Zee.


" Makasih ya dek, kalau gitu kakak keluar dulu. Kamu istirahat ya "


" Iya kak "


Zee keluar dan kembali ke kamarnya dengan perasaan senang karena dapat dua batang coklat dari Zhea.


" Kok istri Abang senang banget, sudah di kasih kadonya buat Zhea ? " tanya Zhio.


" Sudah , Abang mau tau nggak kenapa aku senang banget "


" Apa coba yang bikin istri Abang senang ? "


" Ini dia !!!! "


Dengan senangnya Zee mengeluarkan dua batang coklat dari saku bajunya.


" Coklat ? ya ampun sayang, Abang kirain gara-gara apa "


" Tadi tu aku liat buket coklat di kamar Zhea, aku pengen bang, jadi di kasih deh sama Zhea. Abang mau ? aku buka ya "


Zee membuka satu batang coklat yang ia bawa.


" Ihh..coklatnya agak meleleh bang "


" Ya gak apa sayang, langsung di makan aja "


Zee pun segera melahap coklat yang ia bawa, dan tanpa di sadari coklat tersebut sebagian menempel di sudut bibir Zee.


" Kamu tu gemesin banget sih yang, makan aja sampe belepotan gitu "


Zhio tersenyum melihat Zee, ia ingin meraih tisu yang ada di sampingnya, namun di dahului Zee karena Zee melihat Zhio yang tampak kesusahan mengambil tisu tersebut.


" Biar aku aja bang, di sini ya yang celemotan bang " tanya Zee sembari mengelap sudut bibirnya.


" Bukan yang, tapi di situ " tunjuk Zhio.


" Di sini bang "


" Bukan yang, sebelah sini " tunjuk Zhio di ujung sudut bibir Zee.


" Ini bang "


Melihat kegemesan sang istri yang sejak tadi salah mengelap bibir nya yang kotor, Zhio pun dengan tiba-tiba menarik Zee dan mencium bibir manis sang istri.


" Nah...sudah bersih " ucap Zhio sembari terkekeh.


" Ihh Abang.. modus lagi kan... "


" Kamu sih yang ngegemesin "

__ADS_1


Zee hanya bisa pasrah, tak lama ia ikut terkekeh lalu kembali menghabiskan coklatnya di bantu oleh Zhio.


__ADS_2