Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Sedikit hukuman


__ADS_3

Zee tersenyum senang saat mendengar suara mobil yang terparkir di garasi rumah mereka. Siapa lagi kalau bukan Zhio, Zhio kembali ke aktivitasnya seperti biasanya. Hari ini Zhio ada jadwal operasi sebanyak dua kali yang alhasil membuatnya pulang larut malam. Untung saja mual dan muntah yang ia alami hanya terjadi pada pagi hari, sehingga apabila sore atau malam saat ada pasien yang memerlukan untuk di operasi, ia siap melakukannya.


" Assalamu'alaikum, abang "


Zee tersenyum manis kepada sang suami sembari menarik tangan kanan Zhio lalu menyaliminya.


" Waalaikumsalam " jawab Zhio.


Zee menggandeng lengan Zhio dan berjalan bergandengan menuju kamar mereka.


" Bang, air untuk mandi udah aku siapin. Abang udah makan belum ? kalau belum aku siapin juga ya? " tanya Zee.


" Tidak perlu, aku sudah makan " ucap Zhio dengan dingin lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Ada yang aneh dari Zhio, dan Zee merasa sekali perbedaan itu. " Aku " tidak biasanya Zhio menyebut dirinya dengan kata aku kepada Zee, biasanya ia akan mengatakan " tidak perlu, abang sudah makan " ya seperti itu, dan biasanya saat Zee menyambut Zhio ketika Zhio pulang, raut wajah Zhio begitu senang dan penuh senyum. Tapi kali ini sungguh berbeda.

__ADS_1


Berusaha untuk tidak berpikir yang negatif kepada sang suami, Zee pun mengabaikan hal itu. Ya mungkin saja suaminya sangat kelelahan saat ini, Zee pun turun ke bawah untuk membuatkan Zhio teh hangat.


Ceklek..


Pintu kamar mandi terbuka, melihat itu Zee segera beranjak untuk menyiapkan pakaian Zhio.


" Ini bang, oh ya di minum dulu tehnya. Abang pasti lelah sekali ya " ucap Zee.


Zhio hanya diam, lalu mengambil segelas teh hangat yang ada di atas nakas dan meminumnya.


" Tidak, aku hanya ingin istirahat " ucap Zhio, lalu merebahkan tubuhnya, berbaring telentang dan kemudian memejamkan kedua mata nya.


Zee menarik nafas panjang melihat sikap suami nya, ia pun akhirnya ikut berbaring di samping Zhio, posisi Zee menghadap sang suami. Zee terus memandangi wajah Zhio, kedua matanya berkaca-kaca. Zee merasakan sesuatu yang berbeda dari suaminya, biasanya Zhio akan memeluknya saat ini , atau berbicara terlebih dahulu dengan calon buah hati mereka sebelum Zhio tidur.


" Ya Allah, apa ini hanya perasaanku saja, mungkin abang hanya lelah " batin Zee, Zee pun ikut memejamkan kedua matanya dan tak lama ia terlelap. Semenjak hamil Zee sangat mudah lelah dan cepat sekali tertidur.

__ADS_1


Sejam kemudian Zhio membuka kedua matanya, sebenarnya Zhio belum tidur, ia hanya berpura-pura tidur. Zhio mengubah posisi tidurnya menghadap sang istri, Zhio memandangi wajah cantik Zee yang sedang tertidur, lalu perlahan Zhio mengecup lembut kening sang istri.


Zee yang memang sudah tertidur pulas, sudah tidak menyadari lagi dengan apa yang di lakukan Zhio. Zhio menciumnya pun, tidak membuat Zee terbangun.


" Maafkan abang ya sayang, abang hanya ingin sedikit menghukum mu karena kamu tidak berkata jujur kepada abang. Abang mencintaimu sayang, sangat mencintaimu, dirimu yang begitu baik dan berhati emas itulah yang membuat abang jatuh cinta kepadamu. Dari dulu saat abang pertama mengenalmu, dan hingga sekarang kau tak pernah berubah " batin Zhio, sembari mengelus-elus kepala Zee.


Setelah itu Zhio mensejajarkan kepalanya dengan perut sangat istri, Zhio pun kembali menyapa sang buah hati. " Selamat malam anak abi, apa seharian ini anak abi merepotkan bunda? pasti gak kan, maafkan abi karena abi baru bisa mengajakmu berbicara sekarang sayang, maafkan abi yang masih sibuk dengan pekerjaan abi. Maafkan abi juga karena tadi abi mengabaikan bunda, apa tadi bunda mengadu, maafkan abi ya sayang, abi hanya ingin memberi sedikit hukuman karena bunda terlalu baik. Hehee, tumbuh sehat di dalam ya sayang, abi menyayangimu, dan abi juga sangat menyayangi bunda "


CUP..


CUP..


CUP..


Berulang kali Zhio mengecupi perut Zee yang masih terlihat rata, setelah itu Zhio membenarkan posisi nya dan menghadap Zee. Zhio membawa Zee kedalam pelukan nya dan mengeratkan pelukannya. Tak lama Zhio pun ikut terlelap sembari memeluk erat tubuh mungil sang istri.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2