
Usia kandungan Zee sudah memasuki usia sembilan bulan. Perkiraan persalinan pun sudah semakin dekat, Zee sudah mempersiapkan semua keperluan persalinan nya dan persiapan dirinya sendiri untuk menghadapi persalinan di tengah-tengah kesibukan magangnya.
" Bunda... "
Bulan membuka pintu kamar Zee sembari membawa segelas susu untuk Zee.
" Bun, ini susu nya di minum dulu "
" Makasih sayang "
Bulan memperhatikan ibunda nya yang sedang minum, Bulan merasa kasihan melihat Zee yang beberapa Minggu ini terlihat sangat sibuk.
" Bun, bunda gak capek ? "
" Capek ? capek kenapa bulan ? "
" Bunda kan udah berangkat kerja dari pagi, pulang sore, habis itu malam nya bunda harus ngabisin waktu di meja belajar ini "
Zee tersenyum, ia mengerti akan kekhawatiran Bulan.
" Hmm..capek sih pasti nak, cuma ini sudah menjadi kewajiban bunda , bunda seneng kok ngejalaninya, lagian kan ada Bulan yang selalu bikin semangat Bunda "
" Iya Bun, Bulan selalu semangatin Bunda "
" Iya sayang, kamu harus rajin belajar juga ya. Kayak bunda, sampe Bulan bisa menggapai cita - cita bulan "
" Siap Bun, oh ya Bun , Abi kapan pulang ? "
Zee memanyunkan bibirnya mendengar pertanyaan Bulan.
" Bunda juga gak tau sayang, kata Abi pekerjaan Abi masih belum selesai di sana "
" Sudah hampir tiga bulan Abi belum pulang Bun, bunda kan juga bentar lagi lahiran , kira-kira nanti pas bunda lahiran , Abi sempat pulang gak ya Bun, sebelum bunda lahiran "
" Bunda juga gak tau sayang, kalaupun nanti bunda lahiran dan Abi belum bisa pulang ya gak jadi masalah. Kan masih ada Bulan, nenek, dan kakek di rumah ini "
" Iya sih Bun, Bulan kangen banget sama Abi "
" Bunda juga Bulan , tapi mau gimana lagi kan. Yang terpenting kita selalu doakan Abi, berdoa semoga Allah selalu memudahkan pekerjaan Abi di sana "
" Iya Bun "
Sama halnya dengan Bulan, di rumah sakit saat bertemu Amira, Amira menanyakan hal yang sama kepada Zee.
" Suami kamu belum pulang Zee, kan kamu bentar lagi lahiran ? "
__ADS_1
" Kata bang Zhio, dia usahakan pulang sebelum aku lahiran Ra "
" Kalau di pikir - pikir rasa nya aneh Zee, suami kamu itu kan bucin banget sama kamu, kok dia tahan ya udah tiga bulan gak pulang - pulang, bahkan gak bisa jengukin kamu gitu sebentar walaupun cuma sehari dua hari. Apalagi kan suami kamu bisa di bilang sultan Zee, kayaknya kalau masalah biaya pulang ke indo gak jadi masalah "
" Ya sih Ra , aku khawatir sama bang Zhio, walaupun setiap hari telponan, video call, tapi kalau gak ketemu secara langsung tu rasanya gimana gitu. Apalagi kamu kan tau bang Zhio lagi kaki nya belum pulih Ra "
" Kamu paksa aja deh suami kamu pulang Zee, kamu ngambek aja kalau dia gak mau pulang, bilang apa kek gitu, emangnya kamu gak kangen sama suami kamu "
Zee tertawa kecil mendengar celotehan Amira.
" Amira ihh ngajarin yang gak bener "
" Ini saran Zee, saran, oh ya Zee ngomong - ngomong kamu udah tau belum rumah sakit yang baru yang tempatnya ada di pusat kota "
" Rumah sakit baru ? Gak tau , emang kenapa Ra "
" Kamu tu gimana sih Zee masa gak tau, orang - orang di rumah sakit aja pada ngomongin loh. Rumah sakitnya tu baru launching dua Minggu lalu, nah yang bikin viral tuh ratingnya sudah melebihi rumah sakit ini "
" Yang bener ? Bukannya rumah sakit ini yang paling terbaik dan punya rating tertinggi di kota ini "
" Nah itu Zee, terus ya Zee hebatnya mereka tu punya program pengobatan gratis dan punya tempat sendiri di sana, dan lebih hebatnya lagi ni Zee mereka juga mendirikan university, seperti rumah sakit di luar negeri yang menyediakan dokter - dokter muda untuk belajar di sana plus tempat tinggal , apa gak hebat tu rumah sakit Zee "
" Nama rumah sakitnya apa ? "
" Apa ya Zee, aku gak tau Zee "
" Aku cuma dengar gitu aja Zee, coba kita searching aja Zee "
" Nanti aja deh Ra, masih banyak pasien tuh "
Zee meninggalkan Amira untuk memeriksa pasien yang baru saja tiba. Sedangkan Amira sibuk dengan ponselnya, mencari nama rumah sakit yang mereka ceritakan.
" Ya Allah...nama rumah sakitnya... "
Amira menutup mulutnya dengan tangannya setelah mengetahui nama rumah sakit yang mereka ceritakan. Amira pun berlari mencari Zee untuk memberi tahu Zee.
" Zee... Zee... "
Karena terlalu syok dan terkejut, Amira sampai lupa bahwa Zee sedang memeriksa pasien. Dengan santainya ia berteriak memanggil Zee di depan pasien.
" Amira ... "
" Maaf Zee "
Selesai memeriksa pasiennya, Zee menemui Amira yang sudah menunggu bersama beberapa petugas medis di sana.
__ADS_1
" Zee, lihat "
" Lihat apa Ra "
" Lihat, nama rumah sakitnya tertera nama Kamu Zee , Zee Hospital Center "
" Ya benar Dokter Zee, apa itu rumah sakit milik Dokter " salah satu perawat bertanya kepada Zee.
Tidak tampak seperti yang lain, melihat nama rumah sakit itu Zee tidak terkejut.
" Mungkin ini cuma kebetulan aja, nama Zee kan bisa aja lebih dari satu "
" Iya bener sih " jawab Amira.
" Tapi Dokter, kenapa bisa sama ya "
Zee tertawa kecil melihat Amira dan para petugas di sana yang tampak melamun memikirkan rumah sakit tersebut.
" Sudah..ayo kembali bekerja "
" Baik Dokter "
*****
Di tempat lain Dokter Andreas dan beberapa staf lainnya sedang membahas rumah sakit baru yang membuat rating rumah sakit mereka menurun. Dan tentu nama Zee yang tertera di sana membuat beberapa orang mencurigai Zee. Mereka merasa penasaran dengan direktur utama rumah sakit tersebut dan juga pemilik rumah sakit tersebut.
" Jangan khawatir Daddy, aku akan mencari tahu siapa pemilik rumah sakit itu "
Celin melihat ayahnya Andreas yang tampak gusar, Andreas tentu merasa sedikit khawatir dengan adanya rumah sakit tersebut, ia takut kalau peforma rumah sakit mereka akan turun dan kalah dari Zee Hospital Center.
" Tidak perlu Celin, Daddy sudah meminta beberapa pertolongan dari teman - teman Daddy, mereka akan mencari tahu semua yang menyangkut tentang rumah sakit itu "
" Baiklah Daddy "
Celin keluar dari ruang kerja ayahnya dan kembali ke ruang kerja nya sendiri.
Celin memikirkan mengenai nama rumah sakit yang menjadi saingan rumah sakit milik ayahnya. Yang menjadi pikiran Celin adalah nama Zee yang tertera di sana.
" Tidak mungkin kalau rumah sakit itu milik Zee, apa mungkin saja semua ini hanya kebetulan "
" Sial..kenapa harus nama Zee sih "
Celin terus mengumpat dan memikirkan Zee. Celin kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Kevin.
" Akhhhh..Kevin.. "
__ADS_1
Celin melempar kan ponselnya di atas meja, Ia kesal karena tidak bisa menghubungi Kevin. Sudah tiga bulan semenjak berhenti nya Kevin bekerja di sana, Celin benar - benar kehilangan jejak Kevin, saat Celin ke kediaman Kevin pun ia tak menemukan Kevin.
Orang tua Kevin juga tidak memberi tahu nya dimana Kevin, terlihat menyembunyikan Kevin darinya.