Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Terulang kembali


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Zee mencoba menghubungi suaminya Zhio namun Zhio tak bisa di hubungi. Zee merasa khawatir namun ia mencoba untuk berpikir positif dan berpikir mungkin saja suami nya sedang sibuk saat ini.


Sejak berada di rumah sakit, perasaan Zee tidak nyaman. Zee juga merasa hari ini ia sangat lelah, tidak seperti biasanya dimana ia merasa bersemangat.


" Pak, berhenti di toko ice cream ya Pak di ujung jalan sana "


Hamil kedua ini, Zee sangat suka makan ice cream, Zee sangat ngidam es cream bahkan setiap hari Zee harus menyantap ice cream walaupun hanya sedikit. Karena Zee merasa ia tidak akan tenang kalau tidak makan ice cream. Dan bahkan belum bisa tidur tenang sebelum makan ice cream.


Zee turun dari mobil dan masuk kedalam toko tersebut, tempat itu khusus menyediakan berbagai macam ice cream dan menjadi tempat favorit Zee.


Zee hanya membeli satu cup kecil ice cream, karena sebulan lalu dokter kandungan yang selalu memeriksa Zee meminta Zee untuk mengurangi porsi ice cream nya. Dan Zee pun menurut, sebagai seorang Dokter Zee pun tahu , jika setiap harinya Zee selalu habis memakan ice cream sebanyak dua cup besar , dan kini Zee berusaha mengurangi nya dengan hanya makan satu cup kecil ice cream.


Zee tidak menyadari kalau di sana juga ada Celin bersama dengan beberapa teman nya. Dan kebetulan Celin ingin pergi dari sana, mereka tak sengaja bertemu di kasir.


Zee dan Celin hanya saling tatap tanpa menyapa, Celin menyunggingkan senyumnya , melihat Zee dengan perasaan muak dan kebencian nya.


" Cel, wanita itu , kayaknya kita semua pernah ketemu " tanya salah satu teman Celin.


Teman-teman Celin adalah orang yang sama yang dulu pernah berkata kasar dan bersikap tidak baik pada Zee dan Amira, saat Zee dan Amira masih bekerja di sebuah resto. Dan teman yang sama juga saat mereka pernah mengerjai Zee hingga Zee hampir mengalami keguguran .


" Ya benar, dia wanita yang kita pernah temui di resto waktu itu " jawab Celin sembari berbisik.


Teman-teman Celin menganggukkan kepala mereka tanda mengerti, mereka pun semua nya menatap Zee dari ujung kepala hingga kaki, membuat Zee merasa tidak nyaman.


Setelah membayar ice cream nya, Zee terlebih dahulu pergi, ia juga merasa muak melihat Celin beserta teman - temannya.


" Upsss...sorry "


Celin mendahului Zee berjalan dan dengan sengaja menabrak Zee dari belakang membuat ice cream yang Zee bawa tumpah dan mengenai pakaian nya.


" Hahahaha ... "


Teman-teman Celin dengan senangnya menertawakan Zee , menertawakan pakaian Zee yang tampak kotor terkena ice cream.


Setelahnya mereka pergi, meninggalkan Zee begitu saja. Zee menarik nafas panjang dan mencoba sabar menghadapi Celin dan teman-temannya.


" Ya Allah...sabar..sabar.., gimana nih jadi kotor " ucap Zee sembari mengelap dan membersihkan pakaian nya.


Zee tidak kembali membeli ice cream yang baru , mood nya benar-benar tidak baik setelah di buat kesal oleh Celin. Zee memilih untuk keluar dan kembali ke dalam mobil.


Sembari berjalan menuju mobilnya, dari seberang jalan Zee kembali melihat Celin yang masih bercengkrama dengan beberapa temannya.


" Aku pamit duluan ya gaes.." ucap Celin kepada teman-teman nya.

__ADS_1


" Okelah Cel, kita juga pada pengen pergi "


" Oke siap, bye.."


" bye Cel.. "


Celin ingin menyeberang jalan menuju mobilnya, dari kejauhan Celin tak melihat kalau ada sebuah motor yang berjalan ke arahnya. Celin tampak sibuk melambaikan tangan kepada teman-teman nya.


Titttt.....Tittttt...


" Celin AWAS......!!! " teriak Zee.


Zee mendorong Celin dan mereka jatuh bersama ke jalanan dengan saling berpelukan.


Beberapa teman Celin yang melihat pun juga ikut berteriak dan segera berlari mendekati Zee dan Celin.


Celin tampak syok setelah berhasil keluar dari maut, dan terkejut juga melihat Zee yang justru menyelamatkannya.


" Kamu baik-baik saja Dokter Celin ? " tanya Zee dengan wajah yang tampak meringis merasakan sakit pada perutnya.


" A..a..ku..aku baik-baik saja "


" Celin... "


" Cel, kamu gak kenapa-kenapa kan ? " tanya teman-teman Celin.


Melihat Zee yang terjatuh setelah menyelamatkan Celin membuat Pak Ujang khawatir dan juga bergegas keluar dari mobil.


" Nyonya ? Nyonya baik - baik saja ? "


Celin dan teman-temannya terkejut mendengar Pak Ujang memanggil Zee dengan panggilan Nyonya.


" Saya baik aja Pak Ujang "


" Ya udah kalau gitu bapak bantu berdiri "


Pak Ujang membantu Zee berdiri, sedang teman - teman Celin juga ikut membantu Celin.


" Aww...."


Zee meringis kesakitan saat merasakan nyeri hebat pada perutnya.


" Nyonya... "

__ADS_1


" Zee... "


Celin tampak khawatir melihat Zee meringis kesakitan.


" Astaghfirullah, darah... " ucap Pak Ujang saat melihat darah yang mengucur di kaki Zee.


" Kita harus segera ke rumah sakit Zee " ucap Celin lalu membantu Pak Ujang memboyong Zee ke dalam mobil.


Pak Ujang segera menghubungi Bunda Hesty untuk memberi tahu keadaan Zee. Mendengar kabar menantu nya yang mengalami pendarahan tentu membuat panik Bunda Hesty dan seisi rumah.


Zee di larikan ke Rumah sakit Zee Hospital Center atas permintaan Bunda Hesty, dan kebetulan Rumah sakit tersebut jaraknya paling dekat dengan posisi mereka saat ini.


" Kita sudah hampir sampai Nyonya , bersabar ya nyonya " ucap Pak Ujang.


Zee hanya bisa diam sembari menahan nyeri pada perutnya. Celin juga sesekali memberi Zee semangat agar Zee bisa bertahan.


Sampai di UGD, Zee sudah di sambut dengan para Dokter dan juga beberapa petugas medis yang sudah menunggu mereka. Seperti sudah menanti kedatangan Zee.


" Nyonya Alexander sudah datang... " teriak dari salah satu petugas yang ada di UGD.


Celin hanya bisa melongo mendengar teriakan petugas itu, Celin bingung bagaimana bisa mereka tahu Zee adalah anggota keluarga Alexander, padahal mereka baru saja tiba. Belum lagi dengan panggilan Nyonya yang mereka sebut.


Zee tidak di tangani di UGD, Zee segera di bawa ke ruangan lain yang sudah di sediakan Rumah Sakit. Celin kembali terheran - heran melihatnya, bahkan di luar ruangan rawat Zee sudah ada beberapa petugas medis yang menunggu.


" Maaf Bu, anda silahkan menunggu di luar " pinta seorang petugas saat Celin ingin masuk bersama Zee kedalam ruangan rawat.


" Tapi..saya ingin tahu keadaan Zee, saya juga seorang Dokter " ucap Celin.


" Maaf ibu, ini sudah menjadi prosedur "


" Baiklah "


Celin tak dapat memaksa, ia terpaksa menunggu di luar ruangan dengan perasaan yang juga penuh kekhawatiran dan ketakutan akan keselamatan Zee. Pasalnya karena menyelamatkan dirinya lah Zee mengalami pendarahan.


Tak lama Bunda Hesty, Ayah Xander dan Bulan tiba di rumah sakit. Semua nya tampak khawatir mendengar kabar Zee. Celin yang semula duduk bergegas berdiri setelah melihat kedatangan Bunda Hesty dan lainnya.


" Tante.."


Celin tersenyum dan memanggil Bunda Hesty, namun Bunda Hesty tidak menghiraukan Celin dan langsung masuk kedalam kamar rawat Zee begitu pula dengan ayah Xander dan Bulan.


Celin tertunduk lesu, ia merasa sedih karena Bunda Hesty mengabaikan nya.


" Semoga Zee dan calon bayinya baik - baik saja "

__ADS_1


__ADS_2