Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Abi


__ADS_3

Gairah yang sudah membara membuat Zhio tak lagi bisa menahan dirinya. Sehabis mandi, Zhio tidak membiarkan Zee untuk berpakaian. Zhio kembali membawa Zee kedalam pelukan nya, Zhio menggendong Zee dan membawa Zee ke atas ranjang.


Detak jantung Zee berdetak semakin kencang tatkala kedua mata mereka saling bertatapan, terlebih saat ini Zee sudah berada di dalam kungkungan Zhio. Zhio kembali mengecup lembut kening sang istri, mencium kedua mata nya. Dan berakhir di bibir manis sang istri.


" Boleh aku melakukan nya sekarang sayang? " pinta Zhio, dan di balas senyum dan anggukan oleh Zee.


Zhio tersenyum, lalu ia kembali mengecup lembut kening Zee dan membisikkan sesuatu doa di telinga Zee yang membuat perasaan Zee seketika merasa tenang dan hangat.


Setelah melantunkan doa , Zhio tersenyum kepada Zee dan kembali memberikan kecupan mesra di bibir manis sang istri. Zhio pun mulai mencumbu sang istri dengan kelembutan, dan Zee pun sebagai istri menyerahkan segala nya kepada Zhio. Berusaha menjalankan kewajiban nya sebagai istri dan membiarkan Zhio melakukan dan menguasai seluruhnya dirinya sesuka hati Zhio.


Zhio memperlakukan Zee begitu lembut, bahkan Zee begitu terlena akan sentuhan - sentuhan lembut yang di berikan sang suami. Dan malam itu menjadi malam kebahagiaan kedua nya, saling memadu kasih dan mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang mereka. Suara desa han dan erungan pun memenuhi seisi kamar Zhio, untung saja kamar Zhio sudah di lapisi dengan peredam suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar mereka. Dan pergumulan panas pun berakhir saat kedua kalinya Zhio menumpahkan benih nya di dalam rahim sang istri. Sebenarnya Zhio masih ingin kembali mencumbu sang istri tapi ia urungkan karena melihat Zee yang tampak kelelahan. Belum lagi besok pagi Zee sudah kembali magang di Rumah sakit setelah dua hari ijin karena pernikahan mereka.


" Terima kasih sayang, aku mencintaimu, sangat mencintaimu " ucap Zhio saat mengecup lembut kening Zee.


Setelah beristirahat sebentar, Zhio mengajak Zee untuk membersihkan diri lalu kemudian mereka kembali ke ranjang untuk beristirahat.


******


Karena jarak antara sekolah bulan lebih jauh dari rumah sakit, Zhio pun terlebih dahulu mengantar Zee lalu setelahnya mengantar Bulan.


" Aku masuk dulu ya bang " ucap Zee lalu menyalimi tangan Zhio.


" Bunda masuk dulu ya Bulan, Bulan yang rajin belajar nya. Nanti kalau pulang jangan duluan, tungguin onty sama kak Tasya yang jemput "


" Siap Bun " ucap Bulan lalu menyalimi tangan Zee.


" Assalamu'alaikum "


" Waalaikumsalam " jawab Zhio dan Bulan bersamaan.

__ADS_1


Bulan yang semula duduk di belakang pindah duduk di depan bersama Zhio.


" Maaf ya Bulan, kalau pulang sekolah nanti Om gak bisa jemput " Zhio masih menyebut dirinya dengan sebutan om seperti biasa Bulan memanggil nya sebelum dirinya menikah dengan Zee. Tapi setelah menikah dengan Zee akan lebih baik jika Bulan tidak memanggilnya dengan sebutan om lagi, mungkin bisa dengan sebutan ayah, papa, atau semacam nya. Dan pastinya Zhio akan sangat senang, karena sekarang Bulan sudah menjadi anak nya. Tapi Zhio tidak ingin memaksa Bulan, jika ia tidak nyaman memanggil nya dengan sebutan itu pun tak masalah bagi Zhio.


" Gak masalah Abi, Bulan ngerti kok "


" A..bi..?" tanya Zhio dengan tersenyum kepada Bulan.


" Iya Abi, sekarang kan Om Zhio sudah jadi suami Bunda. Otomatis Om juga ayah nya Bulan, dan semalam Bulan sama Onty dan juga kak Tasya udah sepakat untuk memanggil Om Zhio dengan sebutan Abi? gimana menurut Abi? "


Flashback on


Tasya memanggil Bulan dan Zhea untuk ke kamarnya dan membahas sesuatu. Bulan dan Zhea memilki kamar - kamar masing - masing, semua sudah siapkan oleh Bunda Hesty sebelum mereka datang.


" Onty sama Kak Tasya mau ngomong apa ? Bulan udah ngantuk lagi ni mau tidur "


" Iya lah kak Tasya, emang nya kenapa?"


" Nah..jadi berarti Bulan gak harus manggil Abang dengan sebutan om terus dong "


" Oh..itu.. ya pasti kak Tasya, Bulan akan panggil Om Zhio dengan sebutan Ayah "


" Kok Ayah sih Bulan, Ayah kamu kan udah ada Kak Satria. Ganti dong Bulan biar beda "


" Bener juga sih onty, tapi panggilan yang bagus apa ya?"


" Bagaimana kalau Papa " ucap Tasya


" Papa, kurang cocok deh Sya " protes Zhea.

__ADS_1


" Kalau Bapak?" ucap Bulan sembari tertawa.


" Ihh Bulan, yang kerenan dikit dong, gak ada yang salah sih dengan sebutan Bapak. Tapi menurut aku gak cocok, abang Zhio kan masih muda, kalau di panggil bapak tu kayak tua aja gitu " ucap Tasya protes.


" Canda kak, Hehehe.."


" Hmmm...gimana kalau Abi?" ucap Tasya dengan senyum semringah.


Bulan dan Zhea tampak berpikir, " Ya setuju " ucap Zhea dan Bulan kompak. Menurut mereka panggilan Abi tu panggilan yang bagus.


Setelah bermusyawarah mereka semua kembali ke kamar masing - masing.


Flashback off


" Om setuju, eh..maksud nya Abi setuju " ucap Zhio lalu tersenyum kepada Bulan dan Bulan juga tersenyum kepada Zhio.


" Terima kasih ya Bulan, terima kasih udah merestui hubungan Abi dan juga bunda. Dan mengijinkan Abi untuk menikah dengan Bunda kamu "


Sebelum meminta restu kepada Pak Bayu , orang pertama yang Zhio pinta restu nya adalah Bulan. Sudah mendapat lampu hijau dari Zee bukan berarti Zhio melupakan Bulan begitu saja. Walaupun selama ini Bulan juga memperlihatkan sikap baik dan sayang nya kepada Zhio, bukan berarti Bulan bisa setuju jika Zhio menikah dengan Zee. Bisa saja tidak, tidak semua anak dari hasil broken home bisa menerima begitu saja jika salah satu dari orang tua nya menikah lagi. Karena sejatinya semua anak pasti ingin kedua orangtua nya bersama, dan tidak ada yang nama nya perceraian. Karena itu Zhio tidak mau egois , restu dari Bulan dan kebahagiaan Bulan itu sangat penting.


Kalau Bulan menerima nya dan menyetujui dirinya untuk menikah dengan Zee maka Zhio akan bersyukur sekali. Tapi jika sebaliknya, Zhio juga tidak akan memaksa, dan justru akan berusaha meyakinkan Bulan jika dirinya bersungguh - sungguh untuk menikah dengan sang Bunda dan menyayangi Bulan dan juga Zee.


" Sama - sama Abi, Bulan senang kok Abi nikah sama Bunda. Kalau Bunda bahagia , Bulan juga bahagia. Maka dari itu Abi juga harus terus buat Bunda bahagia ya? " kedua mata Bulan berkaca - kaca, kalau bisa memilih ia tidak ingin perceraian kedua orang tua nya terjadi. Yang ia inginkan Ayah dan Bunda nya bersama, tidak ada Ayah titi ataupun ibu tiri. Tapi Bulan sadar jika semua tidak bisa di paksakan, semua sudah menjadi garis kehidupan yang Allah tentukan untuk nya dan Bunda nya. Dan yakin jika inilah yang terbaik, Bulan juga yakin dan percaya jika Zhio adalah lelaki baik yang memang bersungguh - sungguh mencintai dan menyayangi sang Bunda, dan juga berharap semoga Zhio akan selama nya baik kepada nya dan juga menyayangi nya. Tidak seperti Yuni, ibu tiri nya yang tidak menyukai nya dan bahkan selalu bersikap tidak baik kepada Bulan.


" Iya anak Abi, Bulan juga harus selalu buat Bunda bahagia ya? " ucap Zhio.


" Siap Abi "


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2