Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Ada yang aneh


__ADS_3

Zee memutuskan untuk tetap ke Rumah Sakit hari ini, setelah meyakinkan Zhea dan Bulan pastinya. Karena sebenarnya adik dan anak nya itu melarang Zee untuk ke Rumah Sakit dulu, mereka meminta Zee untuk beristirahat sehari lagi agar kondisi tubuh Zee benar - benar sehat.


" Yakin ya kak, kalau kakak merasa pusing atau lainnya. kakak pulang aja ya, nanti hubungi Zhea biar Zhea jemput "


" Onty benar Bun, nanti Bunda pulang aja kalau masih merasa pusing atau lainnya. Bunda jangan terlalu lelah ya Bun, jangan lupa makan siang juga "


Zee hanya menganggukan kepala nya dan tersenyum kepada anak dan adik nya itu, Zee senang karena anak dan adik nya itu sangat perhatian kepada nya.


Setelah berpamitan, Zhea dan Bulan berangkat ke sekolah. Hari ini Tasya tidak menjemput mereka, karena tadi Tasya memberi tahu Zhea kalau dia tidak turun ke sekolah karena akan keluar kota menjenguk oma nya yang juga sedang sakit.


*****


Tok.. tok.. tok..


" Dek.. abang masuk ya "


" Iya bang masuk aja "


Zhio masuk kedalam kamar Tasya setelah mendapat ijin dari adik nya itu. Tasya sedang sibuk memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam tas nya, rencana nya mereka akan bermalam di rumah oma mungkin semalam atau dua malam.


" Kenapa bang? "


" Abang boleh gak minta nomor ponsel kak Zee, kamu punya kan? "


Tasya yang tadi nya sibuk merapikan pakaian nya kini menghentikan aktivitas nya itu sejenak lalu menatap wajah abang nya. Dari tatapan nya itu, Zhio yakin setelah ini adiknya pasti akan terus meledek nya.


" Tasya gak salah dengar kan bang? abang mau minta nomor ponsel nya kak Zee? " Tasya sangat sumringah mendengar nya.


" Benar dek, cepat kasih tau abang. Gak usah banyak tanya "


Tasya segera mengambil ponsel nya yang tergeletak di atas meja laci, ia duduk di samping Zhio. Dengan segera pula mencari kontak nama Zee di ponsel nya lalu mengirimkan nya kepada Zhio.


" Terima kasih ya dek " Zhio mengelus lembut pucuk kepala Tasya, lalu beranjak pergi setelah Tasya mengirimkan nomor ponsel Zee di ponsel nya. Zhio ingin segera pergi, karena ia yakin setelah ini adiknya pasti akan menghujani nya dengan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


" Abang tunggu " Tasya menarik lengan Zhio, dan memaksa abang nya itu untuk duduk kembali.


" Kemarin kenapa abang gak minta langsung aja ke kak Zee, kan kemarin ketemu " Benar dugaan Zhio, Tasya akan menghujani nya dengan berbagai pertanyaan. Dan ini pertanyaan kedua nya.


" Abang gak sempat minta dek " jawab Zhio asal, padahal kemarin ia ingin sekali bertukar nomor ponsel dengan Zee, tapi ia urungkan karena Zhio merasa malu. Dan berniat meminta nomor ponsel Zee kepada Bulan. Tetapi ponsel Bulan tidak bisa dihubungi, dan alhasil terpaksa meminta nya kepada Tasya.


" Iih...abang, pasti bohong. Sebenarnya abang malu kan cieeh.. ciehh.. abang.. abang memang suka kan sama kak Zee " Tasya selalu bisa membaca pikiran abang nya, dan kali ini ia berusaha menggoda Zhio. Zhio hanya diam dan hanya tersenyum melihat Tasya.


" adek seneng deh bang, adek merestui hubungan abang sama kak Zee. Kalau menikah apalagi, jadinya nanti kita tinggal serumah. Tasya bakalan ketemu Zhea dan Bulan setiap hari deh, kalau abang kerja terus ibu dan Ayah lagi gak ada di rumah, Tasya jadi gak sendiri. Tasya bakalan ada teman setiap hari " Tasya bercerita panjang lebar, dan sudah bisa membayangkan bagaimana rame nya nanti kalau benar Zhio dan Zee menikah dan mereka semua tinggal dalam satu rumah.


" Nanti kalau adek lulus, adek bakalan kuliah bareng Zhea,dan pastinya bakal ke kampus hari - hari sama Zhea. senang banget adek bang " Tasya kembali berhayal dan kembali mengoceh.


Zhio hanya tersenyum melihat adiknya, dalam hati Zhio mengaminkan setiap ucapan Tasya. Ia juga berharap semua itu terjadi. Ya walaupun saat ini ia masih belum tau perasaan Zee kepada nya, tapi semalam Zhio telah bertekad akan memulai hubungan nya dengan Zee dari awal lagi. Semua permasalahan dan kesalahpahaman telah usia, Zee juga sudah bercerai dengan suaminya. Jadi tidak ada halangan lagi untuk Zhio menjalani hubungan yang lebih dekat dengan Zee.


" Ya udah dek, abang kembali ke kamar ya " kali ini Tasya membiarkan abang nya pergi, sudah puas ia mengoceh dan bertanya kepada abangnya.


Sesampai di kamar, Zhio langsung menghubungi Zee. Panggilan pertama tidak ada jawaban, panggilan kedua juga begitu. Zhio mulai resah, " apa Tasya salah memberikan nomor nya " batin Zhio. Kali ini Zhio mencoba mengirim pesan kepada Zee.


Assalamu'alaikum, Zee ini aku Zhio.


" Waalaikumsalam bang, ini nomor nya abang ya. Maaf ya bang, Zee gak dengar kalau abang telpon "


" Iya gak pa - pa Zee " Zhio bernafas lega, nomor ponsel yang di berikan Tasya tidak salah.


" Zee simpan ya nomor abang, abang kenapa telpon? " tanya Zee.


" Hmm.. kamu lagi apa? "


" aku lagi siap - siap mau ke Rumah sakit bang "


" Ke Rumah Sakit? kamu udah baikan? bukannya abang udah bilang hari ini gak usah ke Rumah sakit dulu "


Abang? Zee sedikit heran dengan ucapan Zhio. Biasa nya kan Zhio akan berkata aku. Tapi hari ini berbeda, tumben menyebut dirinya dengan sebutan abang. Zee hanya mengerutkan kedua alis nya, tapi tidak mau ambil pusing akan hal itu.

__ADS_1


" Aku sudah baikan bang, lagipula di rumah juga gak ngapa - ngapain "


" Kalau begitu bareng ya Zee, abang juga mau ke Rumah Sakit. Kamu jangan berangkat dulu, tunggu abang. Abang jemput kamu. Assalamu'alaikum " Zhio segera memutus sambungan telepon nya. Ia segera berisap dan bergegas menjemput Zee.


" Waalaikumsalam bang " Zee terdiam sejenak, walaupun terdengar panggilan telpon mereka sudah terputus. Tapi Zee tetap menjawab salam Zhio, Zee duduk di teras depan rumah. Ia menurut, ia akan menunggu Zhio menjemputnya.


" Bunda, ayah, Zhio berangkat dulu. Nanti kalau kerjaan Zhio udah selesai,Zhio segera menyusul ayah dan ibu ke rumah oma " Zhio menemui ibu, ayah dan adiknya yang saat ini sedang sarapan. Zhio mencium punggung tangan ayah dan ibu nya bergantian.


" Iya bang, eh abang gak sarapan dulu " ucap Bu Hesty, Zhio terlihat buru - buru sekali.


" Abang sarapan di Rumah sakit Bun, Assalamu'alaikum " Zhio begitu semangat, ia bahkan berlari keluar dan segera masuk kedalam mobilnya. Ia tidak ingin Zee menunggu nya terlalu lama.


" ada yang aneh dari anak kita hari ni yah " ucap Bu Hesty kepada suaminya.


" Benar Bu, tidak biasanya dia buru - buru begitu " ucap Ayah Xander.


" Abang itu lagi jatuh cinta, maka nya seperti itu Bu, yah " ucap Tasya sembari asyik menyantap sarapan pagi nya.


" Maksud kamu apa nak? abang kamu jatuh cinta sama siapa? " tanya Bu Hesty, Ayah Xander hanya diam tapi ia menatap putrinya. Ayah Xander juga ingin tau maksud dari ucapan putri nya itu.


" ya abang lagi jatuh cinta Bu, Yah. Abang lagi jatuh cinta sama kak Zee "


" Kak Zee, Zee kakaknya Zhea sahabat kamu itu? "


" Iya ibu, ayah. Tasya kan pernah cerita sebelumnya sama ayah dan ibu, ibu sama ayah juga udah pernah ketemu kan sama Bulan. Anak nya kak Zee. Menurut ayah dan ibu gimana, ayah sama ibu ngerestui gak hubungan abang sama kak Zee. Ibu dan Ayah juga gak permasalahkan status kak Zee kan? " sebenarnya Tasya merasa ragu bertanya seperti ini kepada ayah dan ibu nya, tapi lebih baik di katakan sekarang. Tak perlu menunggu abang Zhio yang bilang sama ibu dan ayah, aku akan mewakili abang.


Ibu Hesty dan Ayah Xander terdiam sejenak mendengar pertanyaan dan penjelasan dari putrinya, lalu mereka saling memandang dan tak lama setelah itu saling melempar senyum.


" Ayah pasti merestui nak, apapun itu yang terbaik untuk abang " ucap Ayah Xander dan membuat senyum yang tadi sempat menghilang dari wajah Tasya kini kembali lagi.


" Ibu bagaimana? " kini Tasya menatap sang ibu, sang ibu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya tanda setuju.


" Alhamdulillah " Ucap Tasya semringah.

__ADS_1


**Bersambung..


jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini... 😘**


__ADS_2