
Selesai sholat, Zee mencium punggung tangan Bunda Hesty sama seperti yang Tasya dan Zhio lakukan. Dan pastinya dengan perasaan malu dan canggung pastinya.
" Maaf Tante, saya tidur di sini " ucap Zee memulai membuka pembicaraan kepada Bunda Hesty sembari menundukkan kepala nya.
" Tidak perlu meminta maaf sayang, Zhio sudah menjelaskan semua nya sama Bunda. Dan gimana perasaan kamu sekarang? sudah baikan? tanya Bunda Hesty dengan hangat dan penuh kasih sayang.
Zhio dan Tasya tersenyum melihat Zee yang jelas terlihat sekali malu dan gugup berbicara dengan Bunda Hesty.
" Su..sudah tante, alhamdulillah sudah enakan. Terima kasih tante " ucap Zee.
" Syukurlah kalau begitu, oh ya jangan panggil tante dong Zee. Panggil BUNDA !!! sama seperti halnya abang Zhio dan Tasya memanggil bunda " ucap Bunda dengan senyum yang sejak tadi mengembang di wajah bunda Hesty.
" Iya Bunda, sekali lagi terima kasih. Maaf sudah merepotkan " kali ini Zee berbicara dengan santai, ia sudah merasa nyaman karena Bunda Hesty memang selalu berbicara dengan hangat kepada nya.
" Iya sayang, kami semua gak merasa di repotkan. Ya sudah kalau gitu Bunda mau ke kamar dulu ya, Bunda mau mandi. Jangan lupa nanti sarapan bareng sama kita ya Zee " ucap Bunda Hesty dan di balas anggukan dan senyuman oleh Zee.
" Tasya juga mau ke kamar nih kak Zee, Tasya mau tidur lagi. Ngantukk..." ucap Tasya.
" Abang kan udah bilang dek, habis sholat subuh gak boleh tidur lagi " ucap Zhio.
" Sesekali kan gak apa bang, lagian Tasya sekolah nya masih libur. Tasya juga semalam begadang jagain kak Zee, ia kan kak Zee? " Zee hanya tersenyum mendengar ucapan Tasya.
" Mau libur atau gak, gak ada perubahan nya dek. Lagian kamu gak bedagang kok semalam, malah tidurnya enak kayak kebo. Mau ngebohongin abang? "
" Hah!! abang tau dari mana kalau Tasya gak begadang. Abang semalam datang jam berapa? abang ke kamar Tasya ya?"
" Maka nya tidur jangan kayak kebo dek, abang kan suruh jagain kak Zee. Kak Zee bangun aja kamu gak tau " ucap Zhio.
" Jadi kak Zee bangun semalam? kenapa gak bangunin Tasya kak? terus abang ngapain ke kamar Tasya? terus..kalau kak Zee bangun, abang juga ada di kamar Tasya..Abang sama kak Zee ngapain? wah..jangan..jangan.." ucap Tasya dengan menyipikan mata kanan nya dan menunjuk Zhio dan Zee.
__ADS_1
Pletakk.. Zhio menjitak kening sang adik dengan pelan,menghentikan pemikiran sang adik yang mulai berpikir aneh.
" Aduh abang..sakit.. " ucap Tasya sembari mengelus kening nya.
" Kamu pikir abang sama kak Zee ngapain? mesum? masih bocil juga pikiran udah aneh - aneh "
" Ya siapa tau bang, abang khilaf..hahahaha..." ucap Tasya tertawa.
" cepat minta maaf sama kak Zee " ucap Zhio.
" Maaf ya kak Zee, Tasya cuma bercanda "
" Iya Tasya gak apa " ucap Zee sembari tersenyum.
" Ya sudah pergi mandi sana, gosok gigi lama - lama biar gak bau " ucap Zhio.
" Sorry ya bang, sebelum sholat juga Tasya udah sikat gigi "
" Abang apaan sih..malu tau di dengar kak Zee "
" Biarin.."
Zhio dan Tasya terus saja saling bercanda, Zee pun ikut tertawa melihat kakak beradik itu. Seperti itulah juga kalau Zhea dan dirinya jika sedang bersama, selalu terjadi ejek mengejek di antara mereka. Namun jika di tanya tentang kasih sayang, tentunya rasa kasih sayang antara mereka begitu besar.
Zee bisa melihat bagaimana keluarga Zhio begitu sempurna dan begitu di penuhi dengan kasih sayang. Tidak seperti dirinya, dimana tidak memiliki keluarga yang lengkap. Sejak SMP saja kedua orangtua nya sudah bercerai, tidak hidup bersama kedua orang tua melainkan tinggal bersama sang nenek. Kedua orang tua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing,terlebih saat bercerai. Zee juga mengingat kembali bagaimana ia melakukan dosa besar kala itu, melakukan kesalahan besar dan sekarang bahkan ia sendiri juga sama. Gagal membina rumah tangga, dan terpaksa harus berpisah karena memang tidak sanggup untuk Zee pertahankan kembali.
Mengingat itu semua membuat Zee sedih, terlebih mengingat Bulan. Dimana sang anak juga harus merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan dulu, tapi apalah daya Zee. Ia juga tidak mungkin mempertahankan semua nya, dan ia akan berjanji akan selalu menjaga bulan dan akan menyayangi Bulan sepenuh hatinya dan memastikan Bulan tidak kekuarangan sedikit pun kasih sayang.
Tanpa sadar Zee menetekan air mata, ia pun segera menghapus air mata nya agar Tasya dan Zhio tidak melihat. Tapi Zee tidak sadar kalau Zhio melihat nya.
__ADS_1
" Ya udah bang, canda terus. Ayo kak Zee kita masuk ke kamar " Zee tersenyum, dan Tasya menarik lengannya dan membawa nya masuk ke dalam kamar.
" Kenapa kamu menangis Zee? apa yang membuat kamu sedih? " batin Zhio, Zhio menjadi gusar. Ia pun kembali ke kamar untuk segera mandi.
*****
Mengingat Bunda yang meminta nya untuk sarapan bersama, Zee pun turun duluan ke bawah dan menuju dapur. Zee berniat untuk membantu Bunda atau Bi Asih memasak, lagi - lagi Zee tidak enak hati jika nantinya hanya makan saja tanpa membantu apapun.
" Bunda kemana Bi?" tanya Zee begitu melihat Bi Asih yang sedang sibuk memasak di dapur.
" Eh.. mba Zee, kenapa ke sini mba? gimana keadaan mba Zee, tadi nyonya cerita kalau Zee habis kecelakaan "
" Iya benar bi, alhamdulillah gak kenapa-kenapa. Bi Asih masak apa? aku bantuin ya "
" Gak usah mba, mba tunggu di luar aja. Ini udah jadi tugas bibi, nanti bibi di marahin kalau mba Zee ke sini dan bantuin bibi. Kan mba Zee tamu di sini mba "
" Bunda gak bakalan marah kok bi, justru Zee tamu di sini. Zee harus bantu - bantu, ini mau di taruh di atas meja ya bi. Biar Zee bawa ya " tanpa menunggu persetujuan dari Bi Asih, Zee dengan sigap menaruh semangkok sayur capcay di atas meja makan. Zee tersenyum senang, ya setidaknya ia bisa melakukan sesuatu.
" Aduh mba..sudah gak apa biarin bibi aja "
" Zee..udah di sini aja " ucap Bunda, Bi Asih dan Zee melihat ke arah Bunda.
" Bunda..maaf ya bun, Zee mau bantu - bantu aja "
" Iya gak apa sayang,tapi seharusnya kamu gak perlu capek-capek. Kondisi kamu kan belum pulih , sekarang temani Bunda aja ya ngobrol sambil nungguin Bi Asih selesai masaknya " Bunda mengajak Zee ke ruang keluarga, kalau urusan memasak Bunda selalu turun tangan. Namun kali ini ia membiarkan Bi Asih untuk memasak sendiri karena Bunda sangat ingin mengobrol dengan calon menantu nya. Kapan lagi kan? mumpung ada kesempatan untuk bertemu.
Bunda pun mengajak Zee untuk ngobrol bersama, awalnya Zee merasa sedikit canggung dan malu. Namun semakin lama perasaan itu hilang berganti dengan canda tawa. Apalagi saat Bunda bercerita mengenai kenakalan Zhio saat kecil, membuat Zee tidak bisa menahan tawa nya.
Zhio yang awalnya ingin bergabung bersama Zee dan juga Bunda mengundurkan niatnya. Ia memilih untuk memperhatikan mereka saja dari jauh. Bahagia sekali rasanya melihat kedua wanita yang ia cintai itu tertawa bahagia, Zhio senyum - senyum sendiri sembari melihat Zee dan Bunda. Zhio senang, Bunda bisa menerima Zee dengan baik. Bahkan sekarang mereka terlihat akrab.
__ADS_1
Mengingat janji Zee akan pertanyaan nya waktu itu, Zhio tidak ingin buru - buru bertanya kembali kepada Zee. Terlebih kondisi Zee saat ini yang baru saja mengalami kecelakaan, Zee tidak ingin memaksa dan akan menunggu lagi sampai Zee memulai sendiri dan menjawab pertanyaan dan menerima lamaran nya.
Bersambung..