Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Move on


__ADS_3

Dritt..Dritt...Drittt...


Dering ponsel Zhea berbunyi, namun Zhea tak menghiraukannya, ia hanya melihat sekilas ponselnya lalu kembali fokus dengan buku yang ia baca.


Hari ini Tasya dan Zhea akan menjalani ujian semester pertama, beberapa bulan lagi akan menjalani ujian semester akhir dan mereka akan merayakan kelulusan.


Zhea tampak serius membaca, sedangkan Tasya justru sebaliknya, ia terlihat sangat santai.


" Zhe, ponsel kamu bunyi terus tuh dari tadi. Siapa sih yang telpon ? "


" Gak penting Sya "


Tasya hanya menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Zhea. Padahal sebenarnya Tasya sangat penasaran , dan yang ada dalam pikiran Tasya yaitu kalau yang menghubungi Zhea itu adalah Iqbal, kekasih Zhea.


Sampai di sekolah pun, Zhea tetap tidak menjabat telepon dari Iqbal, hubungan Zhea dan Iqbal saat ini tidak baik-baik saja karena sesuatu hal yang sebenarnya sangat mengganggu pikiran Zhea. Namun Zhea berusaha untuk tidak memikirkan hal itu dan fokus dengan ujian semesternya.


" Zhe, ponsel kamu berdering terus tuh. Kamu yakin gak mau angkat, siapa sih Zhe, siapa tau penting. Atau aku aja yang angkat teleponnya "


Zhea merogoh ponselnya di dalam tas dan mematikan ponselnya.


" Nah loh, kamu matiin ponsel kamu. Kok di matiin Zhe "


" Iya, kan bentar lagi masuk kelas, dari pada ganggu "


"emangnya siapa sih yang telpon Zhe, kak Iqbal ya, kamu lagi marahan ya sama dia "


" Gak ada apa-apa kok Sya "


" Ihhh Zhea, kamu pikir aku gak tau. Kita tu udah sahabat lama. Aku tuh kenal banget kamu Zhe, pasti ada sesuatu kan ? cerita yah, cerita "


" Iya..iya..nanti ya ceritanya di rumah. Sekarang kita tuh harus fokus buat ujian kita Sya "


" Tapi..ini juga penting Zhe , cerita sekarang ya. Aku udah penasaran banget nih "


Pletakk..


" Aduhhh..Zheaa, sakit tau !! " Tasya mengelus-elus dahinya yang sebenarnya tidak sakit karena di tepuk buku oleh Zhea.


" Kan aku bilang nanti dirumah Sya, aku mau belajar dulu "


" Akhh.. Zhea gak asyik, kamu kan udah belajar dari tadi Zhe, di mobil juga udah "

__ADS_1


" Aku tuh gak secerdas kamu Sya, jadi harus banyak belajar "


" Zhea berlebihan "


" ihh..beneran, bukan berlebihan, sudah ah Sya, ngajak ngobrol terus dari tadi "


" Iya..iya..tapi janji nanti dirumah cerita ya "


" Iya Tasya bawel "


" Sipp " ucap Tasya sembari menunjukkan jempolnya kepada Zhea.


*****


" Apa pasien sudah habis ? " tanya Kevin.


" Sudah Dok "


" Syukurlah, kalau begitu saya akan istirahat sebentar "


" Baik Dok "


Kevin merebahkan dirinya di sofa yang cukup panjang yang ada di dalam ruang kerjanya. Kevin merasa lelah karena banyaknya pasien yang ia harus periksa hari ini.


Kevin pun membuka kembali kedua matanya, " Wanita itu, apa dia baik-baik saja ya ? kenapa aku jadi memikirkan wanita itu , apa karena dia cantik ? Kevin..Kevin..aku selalu begitu ketika melihat wanita cantik, tapi..kenapa rasanya berbeda ya , cantiknya itu...akhh ..sudahlah !! " batin Kevin, lalu kembali memejamkan kedua matanya.


Tok..tok..tok...


Suara ketukan pintu kembali membuat Kevin harus membuka kedua matanya.


" Siapa lagi itu " ucap Kevin , namun berusaha tak peduli dan kembali memejamkan kedua matanya.


Tok..tok..tok..


Tidak tahan mendengar suara ketukan pintu, Kevin pun bangkit dan membuka pintu. Dan wajah Kevin. berubah datar saat melihat Celin yang berdiri di depannya sekarang.


" Aku sedang beristirahat Cel " ucap Kevin dan ingin menutup pintu.


" Ehh..Kevin, please jangan di tutup " ucap Celin, menahan pintu dan langsung masuk kedalam ruang kerja Kevin.


" Apa yang kamu lakukan Cel ? " tanya Kevin dengan raut wajah malas.

__ADS_1


" Seharusnya aku yang bertanya hal itu , apa yang kamu lakukan selama beberapa Minggu ini, kenapa cuti tidak memberitahuku, dan kenapa setiap aku telpon, kamu gak pernah jawab Vin "


Kevin menarik nafas panjang mendengar pertanyaan dari Celin, sebenarnya hal itu ia lakukan untuk berusaha melupakan Celin dan menenangkan pikiran Kevin.


" Apa aku perlu memberitahu mu semua yang aku lakukan ? apa semua penting untukmu " ucap Kevin.


Celin terdiam, sebenanrya apa yang di katakan Kevin benar. Kevin dan Celin juga tidak punya hubungan spesial, jadi untuk apa Kevin harus memberi tahunya segala apa yang di lakukan Kevin.


" Ya..bukan begitu Vin, hmm..aku..aku hanya merindukanmu Vin " ucap Celin.


Kevin tersenyum tipis , " Merindukan ku , apa itu benar ? " batin Kevin.


" Vin, apa kamu juga merindukanku. Sudah berminggu-minggu aku gak ketemu kamu Vin, aku pengen cerita banyak hal " ucap Celin, Celin berjalan ke arah Kevin , lalu memeluk Kevin.


Kevin hanya diam merasakan pelukan dari Celin, " Aku kira kamu merindukanku karena kamu sudah sadar kalau selama ini akulah yang selalu ada untuk kami Cel, tapi sepertinya semua masih tetap sama. Kamu hanya menganggap ku sebagai teman cerita , tempat kamu berkeluh kesah, mencariku saat kamu perlu, dan setelah itu kamu lupakan " batin Kevin.


" Kamu tau gak Vin , aku.. " belum selesai Celin bercerita, Kevin melepas pelukan Celin darinya.


" Aku sangat lelah Cel, bisa kamu keluar sekarang "


" Tapi Vin.. " terlihat kesedihan di wajah Celin.


" Please Cel, aku sangat lelah, tolong mengerti aku " pinta Kevin.


" Baiklah sebentar, aku hanya ingin bilang kalau aku, aku sudah meminta maaf kepada Zee dan juga Zhio " ucap Celin semringah.


" Syukurlah, seharusnya hal itu sudah lama kamu lakukan " ucap Kevin.


" Sekarang aku sudah menyadari semuanya Vin , aku sangat-sangat.." belum selesai Celin bercerita, Kevin kembali memotongnya.


" Cel, please, aku benar-benar lelah "ucap Kevin.


Celin yang awalnya semangat untuk bercerita dan terlihat semringah pun berubah saat Kevin memotong pembicaraannya. Dan akhirnya Celin mengalah, " Baiklah Vin , maaf aku sudah mengganggu " ucap Celin lalu berjalan keluar dari ruang kerja Kevin.


Celin begitu sedih , dan di dalam Kevin merasakan hal yang sama. Namun Kevin tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Sudah cukup selama ini ia membuang buang tenaga dan cinta untuk Celin.


" Kamu pasti bisa Vin, pasti bisa " ucap Kevin berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Di luar ruang kerja Kevin, Celin masih berdiri mematung. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding, setelah beberapa Minggu tak bertemu. Kevin benar-benar terlihat berbeda dan Celin sangat merasakan hal itu. Wajar saja karena biasanya saat bertemu, Kevin selalu memasang wajah cerianya di depan Celin, dan selalu menyemangati Celin.


Dan hari ini hal itu sudah tak lagi terlihat , Kevin bahkan terlihat tidak ingin bertemu dengan Celin.

__ADS_1


" Ya Tuhan, ada apa dengan Kevin. Saat ini aku sangat ingin bercerita banyak dengannya. Apa semua ini balasan untuk semua yang ku lakukan " batin Celin.


__ADS_2