Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Ada apa dengan mu..


__ADS_3

Dari warung Bang Joni, Zee bukan nya pulang ke rumah nenek. Ia memilih untuk berjalan - jalan ke sawah, Zee memarkirkan motornya di pinggir jalan. Dan setelah itu berjalan kaki menyusuri jembatan yang terdapat pemandangan hamparan padi hijau di sisi kiri dan kanan jembatan.


Setelah cukup jauh berjalan, Zee merasa kaki nya pegal dan memilih untuk duduk di pinggir jembatan. Zee merogoh ponselnya di dalam tas, kemudian memutar lagu favoritnya.


Zee tersenyum sembari melihat pemandangan indah di depan nya. Alunan musik yang syahdu membuat Zee terbuai, sehingga Zee tidak bisa menahan bendungan air matanya. Dan air mata itupun tumpah.


Hiks.. Hiks.. Hiks.. Zee menangis sembari sesegukan. Zee kembali mengingat Satria, begitu banyak garisan luka yang di toreh Satria di hatinya. Padahal Zee sudah berjanji untuk tidak menangisi Satria lagi, tapi nyata nya Zee tidak bisa. Rasa sakit itu kembali tergores ketika Yuni mengatakan jika ia hamil anak dari suaminya.


Selama sepuluh tahun, sesakit apapun hati Zee kepada suaminya. Tidak pernah terbesit sedikit pun di hati Zee untuk berpaling, namun Satria. Segitu mudah nya suami nya itu berpaling, bahkan suaminya tega bersetubuh dengan wanita lain di belakangnya.


" Bagaimana kalau Bulan tau Mas, bagaimana? apa yang akan kamu katakan kepada anak kita? hiks.. hiks... hiks.. " Zee berbicara sendiri sembari terus menangis.


Karena hari sudah sangat sore, semua petani kebanyakan sudah pulang. Hingga tidak banyak orang di sana, sehingga Zee dengan leluasa untuk menangis dan meluapkan semua emosi dan kesedihannya.


" Aku harus kuat, demi Bulan. Aku tidak boleh terlihat lemah, dan aku harus memulai hidup baruku " ucap Zee sembari menyeka air mata yang membasahi wajahnya, lalu setelah itu Zee beranjak karena hari sudah hampir malam.


Namun begitu berdiri, dan berbalik badan. Zee di kagetkan dengan sebuah sapu tangan yang ada di depan nya. Zee mendongakkan kepalanya. Dan ternyata Zhio tepat berada di depannya dengan memegang sebuah sapu tangan dan berniat memberikan sapu tangan itu kepada Zee.


" Ambil " ucap Zhio, namun Zee masih terpaku dan terus menatap Zhio.


" Hei.. ambil lah " ucap Zhio sekali lagi.


" Hah..!! tidak perlu Pak Dokter " Zee tersadar dari lamunan nya, dan menolak pemberian dari Zhio. Zee kembali menundukkan kepalanya, ia tidak ingin Zhio melihat jika ia habis menangis. Padahal tidak perlu seperti itu pun Zhio sudah tau jika Zee habis menangis, karena sejak tadi Zhio berada dekat dengan Zee dan mendengar jika Zee menangis sembari sesegukan.


Zhio mendapat informasi dari Pak Bayu jika sawah di desa meraka pemandangan nya sangat indah, maka dari itu Zhio berniat kesana sembari menghubungi ibunya. Ia ingin memberi kabar kepada ibu nya jika ia sudah sampai di desa itu. Dan tanpa sengaja ia melihat Zee juga ada di sana.

__ADS_1


Zhio memegang tangan Zee, dan menaruh sapu tangan itu di telapak tangan Zee. Zee yang terkejut melihat perlakukan Zee kembali mendongakkan kepalanya dan menatap Zhio.


" Pakai lah, apa kau tidak melihat kalau wajah mu sudah penuh dengan ingus "


Mendengar ucapan Zhio, Zee langsung saja meraba - raba wajah dan hidung. Ia ingin memeriksa apakah benar wajahnya penuh dengan ingus. Dan kedua pipi nya memerah begitu sadar jika Zhio mengerjai nya. Sedangkan Zhio tersenyum tipis melihat kepolosan Zee.


" Terima kasih Pak Dokter " Zee menerima sapu tangan yang di beri oleh Zhio dan mengelap wajahnya dengan sapu tangan itu. "Saya akan kembalikan sapu tangan ini nanti Pak Dokter, saya permisi " Zee berniat meninggalkan Zhio, namun langkahnya tiba - tiba terhenti. Ia berbalik badan dan kembali menemui Zhio.


" Hmm.. saya minta maaf atas kejadian tadi pagi, maaf jika saya sudah menuduh anda sembarangan. Dan itu.." Zee menunjuk ke paha Zhio, ia bingung harus berkata apa.


" Itu apa? " Zhio bertanya sembari terus tersenyum kepada Zee, ia sudah mengerti maksud Zee. Namun ia sengaja bertanya karena ia ingin mengulur waktu agar Zee tidak segera pergi.


" Hmm.. itu Pak Dokter, maaf apakah sakit? saya benar - benar minta maaf Pak. Saya hanya ingin membela diri, jadi saya terpaksa melakukan nya "


" Oh.. paha ku maksud mu? sebenarnya sih sakit. Tapi tidak masalah, tidak perlu minta maaf. Aku juga yang salah karena sudah berani masuk ke ruangan obat kalian "


" Terima kasih Pak Dokter, kalau begitu saya pamit " Zee menundukkan kepalanya dan meninggalkan Zhio seorang diri. Zee hanya tidak ingin berlama - lama di sana, karena ia tidak ingin terjadi fitnah. Apalagi hari sudah mulai gelap, walaupun ia sudah tidak tinggal bersama dengan Satria. Tapi surat perceraian belum keluar, dan pastinya ia masih berstatus istri dari Satria.


Zhio terus saja menatap kepergian Zee, dan senyum terus terukir di wajahnya. Ingin sekali Zhio menahan Zee agar tidak pergi, namun itu tidak mungkin karena Zhio juga sadar jika mereka tidak punya hubungan apa - apa. Dan hari juga sudah mulai gelap, Zhio mengerti jika Zee pasti tidak ingin terjadi fitnah karena hanya berdua saja dan berlama - lama di sana.


" Kenapa kamu menangis Zee? apa yang membuat mu bersedih? Tadi siang aku melihat mu baik - baik saja, bahkan kamu tertawa bahagia bersama teman mu. Dan sekarang, kamu terlihat sangat lemah Zee. Ada apa denganmu? " Timbul banyak pertanyaan di benak Zhio saat ini.


" Wanita itu!! apa yang dia lakukan di sini? " Celin melihat Zee dari kejauhan. Dan begitu ingin mengejar Zee, Zee sudah keburu pergi. Celin sejak tadi mencari keberadaan Zhio, dan begitu mendengar Zhio sedang di sawah. Celin berniat menyusul Zhio.


" Zhio...!!! " Teriak Celin begitu melihat Zhio yang baru saja keluar dari area sawah. Dan Zhio hanya memasang wajah datar begitu melihat Celin.

__ADS_1


" Zhio, aku cariin kamu dari tadi. Kamu kenapa gak nunggu aku sih? tadi aku ajakin keliling desa di sini kamu gak mau, ini malah jalan sendirian "


" Ayo kita pulang " ajak Zhio, hanya itu jawaban Zhio. Zhio selalu irit bicara, apalagi kepada Celin.


" Zhio? aku tadi liat wanita itu di sini? apa dia tadi sama - sama kamu di sawah? " Celin penasaran dengan Zee, karena tadi ia melihat Zee juga ke luar dari area sawah.


" Wanita siapa? "


" Itu.. yang ngatain kamu pencuri, siapa sih namanya.. hmm... Zee.. ya Zee kalau gak salah "


" Gak, aku gak ketemu dia " Zhio berbohong, karena jika Zhio mengatakan iya, pasti Celin akan kembali menjejali nya dengan banyak pertanyaan.


" Oh...!! kalau gitu kita ntar aja pulang nya ya? kita keliling desa ini " ajak Celin, ia sangat semringah. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan bersama nya dengan Zhio saat ini.


" Kita ke sini buat bakti sosial, bukan jalan - jalan "


" Ihhh.. Zhio, kamu kok kaku banget sih. Kan sekalian Zhio, lagian desa ini indah tau. Kan kita cuma dua hari di sini, harus di manfaatin waktu nya "


" Justru itu, waktu kita gak banyak. Lebih baik menyimpan tenaga dan pikiran kita untuk bakti sosial besok " Setelah berkata seperti itu, Zhio berlari dan meninggalkan Celin. Zhio tidak ingin mendengar omelan ataupun pertanyaan lagi dari Celin.


" Zhio..!!! Zhio tunggu aku!! Sabar - sabar celin, sabar untuk mendapat kan cinta Zhio " ucap Celin sembari berlari juga mengejar Zhio.


**Bersambung..


Tetap stay tune 😊

__ADS_1


jangan lupa like, vote, dan singgah di kolom komentar ya... 😘**


__ADS_2