Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Resmi Bercerai


__ADS_3

Dengan menguatkan diri, Zee menyambangi rumah kedua orang tu Satria. Dengan membawa sebuah amplop kecil yang berisi salinan akte perceraian mereka. Zee akan memberikan itu kepada Satria. Zee ke sana tidak sendiri, ia bersama anaknya Bulan. Setelah dua minggu lebih akhirnya surat perceraian itu keluar.


Sebelumnya Zee sudah memberi tahu Satria agar datang ke pengadilan untuk menghadiri beberapa sidang. Itupun Zee sampaikan lewat ibu Satria, tidak berbicara langsung kepada Satria.


Seperti yang sudah Zee duga, Satria tidak menghadiri sidang itu sedikitpun. Satria benar - benar kekeh tidak ingin bercerai dari Zee. Ya, sangat egois kan? sudah menikah dengan Yuni, tapi Satria masih juga menginginkan Zee. Bahkan dengan semua sakit yang Satria berikan, Satria seperti tidak merasa bersalah. Padahal kalau pun Zee kembali lagi dengan Satria, Satria hanya akan terus menyakiti Zee.


" Assalamu'alaikum nek " Bulan datang lalu mencium punggung tangan ibu Satria, dan di susul Zee yang juga ikut mencium punggung tangan mantan mertua nya itu.


" Waalaikumsalam, Bulan, Zee " ibu Satria menyambut hangat kedatangan Bulan dan Zee.


" Nek, kakek mana? "


" Tuh di dalam Bulan, kakek lagi mancing " kebetulan rumah kedua orang Satria di pinggir sungai, jadi Bapak Satria tidak perlu jauh - jauh untuk pergi memancing.


" Mancing nek?Kalau Ayah kemana? "


" Ayah lagi jalan, Bulan " Satria sudah lama tidur di kediaman mertua nya,atau lebih tepatnya ibu Yuni. Ibu Satria tidak ingin mengatakan yang sebenarnya,karena tidak mau Bulan sedih. Bulan sudah tau kalau Ayahnya menikah lagi, awalnya Zee mengatakan kepada Bulan, dan tak lama di susul ayahnya sendiri yang memberitahunya. Awalnya Bulan tampak kecewa dan sedih, bahkan terjadi drama yang hebat saat itu, Ibu Satria pun tak hentinya menangis saat Satria membawa Bulan kerumah mereka dan memperkenalkan Bulan kepada Yuni, Bulan yang bercerita kepada Zee. nenek mana yang tidak sedih kalau melihat rumah tangga anaknya harus hancur, apalagi itu ulah anak nya sendiri. Dan kemudian harus melihat Bulan cucu nya yang terlihat sangat sedih, ya menjadi korban atas semua ini. Tapi lama - kelamaan Bulan bisa menerima itu semua itu.


" Kalau gitu Bulan kedalam dulu ya, mau liatin kakek mancing " Bulan bergegas masuk dan hanya di balas senyuman oleh Zee dan Ibu Satria.


" Itu apa Zee? " tanya Ibu Satria saat melihat sebuah amplop kecil yang di genggam oleh Zee.


Zee menarik ibu Satria untuk duduk sebentar, lalu memberikan amplop itu kepada ibu Satria.


" Bu, di dalam amplop ini ada salinan akte perceraian Zee dan Mas Satria. Tolong di berikan kepada Mas Satria ya Bu " seketika air mata Ibu Satria menetes.

__ADS_1


" Maafkan ibu ya Zee, maafkan ibu " hanya kata maaf yang saat ini terucap, ibu Satria tidak sanggup untuk berkata - kata lagi.


Zee meraih kedua tangan Ibu Satria dan mengelus nya lembut, dan setelah itu Zee membawa ibu Satria kedalam pelukan nya.


" Bu, ibu tidak perlu meminta maaf. Ibu tidak salah, mungkin jodoh Zee dan Mas Satria cuma sampai di sini Bu. Dan inilah jalan terbaik untuk Zee dan Mas Satria, ibu jangan sedih ya. Zee juga mau minta maaf kalau selama ini Zee pernah sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati ibu " Zee juga ikut sedih, tapi ia berusaha untuk tidak menangis.


" Tidak Zee, kamu tidak pernah menyakiti hati ibu. Ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri, ibu menyanyangi kamu "


" Iya Bu, Zee juga menyanyangi ibu. Zee tidak membenci Mas Satria Bu. Zee juga akan terus mendoakan Mas Satria agar berbahagia "


Zee dan Ibu Satria melepas pelukan mereka, Zee menyeka air mata yang membasahi wajah Ibu Satria.


" Ibu juga akan selalu mendoakan kamu Zee, semoga kamu juga selalu berbahagia, dan semoga kelak kamu bisa mendapatkan jodoh terbaik. Walaupun kamu bukan istri Satria lagi, jangan sungkan untuk menemui ibu dan bapak ya Zee. Ibu dan bapak akan senang kalau kamu berkunjung ke rumah "


" Aamiin, aamiin, Terima kasih doa nya bu. Ibu tenang aja, Zee pasti sering berkunjung ke rumah ibu dan Bapak. Ibu jangan menangis lagi ya, nanti kalau ada orang yang beli jadi heran liat mata ibu sembab begini "


Satria sudah tau kalau sepeda motor yang terparkir di depan nya adalah sepeda motor Zee, dan ia bergegas turun dan masuk kedalam rumah. Meninggalkan Yuni yang ada di belakang nya.


" Satria " ucap ibu begitu melihat anaknya. Zee dan Satria saling tatap. Perasaan takut masih menyelimuti Zee, ia kembali teringat kejadian malam itu saat Satria menampar wajahnya. Zee berusaha menguatkan diri.


" Mau apa lagi wanita ini ke sini? apa dia mau cari perhatian kepada Ibu Satria? atau mau minta balikan sama Mas Satria? " batin Yuni begitu melihat Zee.


" Aku ke sini untuk memberikan salinan akte perceraian kita, dan salinan nya sudah ibu pegang " ucap Zee kepada Satria. Satria hanya diam saja, ia terus menatap Zee.


" Oh akte perceraian, syukurlah. Akhirnya mereka bercerai juga, setelah ini aku akan paksa Mas Satria untuk mengurus surat nikah kami " batin Yuni.

__ADS_1


" Bu, kalau begitu Zee pamit ya. Bulan.. Bulan.. "


" I.. ya.. Bun.. da.. " Wajah yang awalnya ceria langsung berubah begitu melihat Yuni di sana, sungguh Bulan sangat tidak menyukai Yuni. Karena Yuni itu hanya baik kepada nya kalau di depan Satria atau yang lain saja. Kalau hanya berdua, Yuni sering memarahi Bulan. Bulan mencium punggung tangan ayahnya, dan ikut juga mencium punggung tangan Yuni.Walaupun tidak menyukai Yuni, tapi ia tetap bersikap sopan. Karena Zee selalu berpesan seperti itu kepada nya.


" Bunda mau pulang, Bulan mau ikut atau tinggal dulu di rumah nenek dan kakek? "


" Bulan ikut pulang aja Bun, gak pa-pa ya nek? yah? " ucap Bulan sembari memandangi ayah dan Neneknya.


" Bulan kenapa langsung pulang, tinggal di sini aja dulu. Nanti biar ayah yang antar kamu pulang " sanggah Yuni tiba - tiba, tersenyum ramah kepada Yuni. Sungguh itu hanya pura - pura, padahal saat ini Yuni sangat senang kalau Zee dan Bulan segera pulang.


" Hmm.. pulang aja dulu tante, eh.. Ibu. Soalnya Zee mau kerja kelompok habis ini di tempat teman " bohong Bulan.


" Baiklah " ucap Yuni lalu berlalu saja meninggalkan mereka di sana. Ibu Satria menggeleng - geleng kan kepala nya melihat tingkah menantu baru nya itu, sungguh tidak sopan. Zee dan Bulan belum pulang dia malah pergi.


" Ya udah Bulan ayo nenek antar kedepan " Ibu Satria menarik Bulan untuk segera ke luar rumah. Dan meninggalkan Zee dan Satria, Zee juga ingin keluar namun lengan nya terlebih dulu di cekal oleh Satria.


Deg!! jantung Zee berdebar, bukan apa - apa. Zee takut jika Satria kembali berulah seperti malam itu.


" Aku ingin berbicara sebentar " ucap Satria, dan membawa Zee untuk kembali duduk.


" Kamu ingat, aku tidak mengharapkan perceraian ini. Dan aku akan terus menganggap kamu sebagai istriku "


" Jangan egois Mas Satria, aku bukan barang atau mainan yang bisa semau nya kamu mainkan. Akte perceraian itu adalah bukti yang jelas kalau kita sudah berpisah dan resmi bercerai . Sekarang kita harus fokus kepada tumbuh kembang Bulan, dan lebih baik Mas Satria perbaiki diri. Sebentar lagi kan Mas Satria akan mempunyai anak lagi. Jadilah ayah yang baik dan suami yang baik untuk Yuni dan calon anak mu nanti. Dan ketika anak Mas nanti lahir, aku cuma minta agar Mas tidak pilih kasih. Tetap lah menyanyangi Bulan juga, dan aku berharap hubungan kita tetap terjalin baik,tapi hanya sebatas teman. Bukan suami istri lagi " jelas Zee panjang lebar, dan tanpa mendengar jawaban dari Satria. Zee langsung keluar dari rumah itu.


Satria kembali mencekal lengan Zee ketika hendak keluar, lalu membisikkan sesuatu di telinga Zee.

__ADS_1


" Aku akan tetap menganggap kamu istriku Zee, sampai kapan pun " bisikan yang membuat Zee bergidik. Satria lalu melepaskan tangannya. Dan membiarkan Zee pergi.


__ADS_2