Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Hanya Sementara, Hanya Seminggu


__ADS_3

Sudah berpuluh kali Syam mencoba menghubungi Zee, namun tidak bisa karena seperti yang kita tahu kalau Zee saat ini sedang tertidur dan ponsel nya juga dalam keadaan mati.


Merasa khawatir, Syam memilih untuk menemui Zee di kediamanan nya. Tidak sulit untuk Syam mendapatkan alamat tempat tinggal Zee karena Syam masih memegang beberapa salinan laporan yang Zee pernah berikan kepada nya. Di sana sudah tertera nama lengkap, nomor ponsel dan juga alamat tempat tinggal Zee.


Sekitar 30 menit lama nya Syam sampai di kediaman Zee, awalnya sempat ragu apakah rumah yang ada di depan nya ini adalah rumah Zee. Tapi begitu melihat sepeda motor Zee barulah Syam yakin dan segera turun dari mobil nya.


Tok.. tok..tok.


" Assalamu'alaikum " Syam mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dan tak butuh waktu lama pintu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis remaja cantik tersenyum ramah kepada Syam.


" Waalaikumsalam, om mau cari siapa? " tanya Bulan.


" Maaf mengganggu, Zee nya ada? "


" Oh.. Om cari Bunda ya, Bunda nya ada tapi lagi tidur Om. Sudah lama sih tidurnya, bentar Bulan panggilkan ya, om duduk aja dulu ya Om " ucap Bulan.


Mendengar kata Bunda, Syam terdiam sejenak. Ia terkejut karena gadis remaja di depan nya ini menyebut Zee dengan sebutan Bunda. " Bunda, gadis di depan ku ini... apa dia anak nya Zee, astaga.. jangan bilang kalau selama ini ternyata Zee sudah menikah " batin Syam.


Wajar saja Syam terkejut karena ia benar - benar tidak tau mengenai status Zee, Syam mengira jika selama ini Zee masih single dan belum menikah. Sewaktu Zee di rawat di rumah sakit Syam tidak bertemu dengan Bulan, Syam datang saat Bulan dan Zhea sudah pulang sehingga mereka tidak saling bertemu. Mungkin jika Syam bertemu dengan Bulan, ia akan tau bahwa sebenarnya Zee sudah menikah dan punya anak.


" Eh.. tunggu " ucap Syam saat tersadar dan mencoba menahan langkah Bulan.


" Kenapa Om? " tanya Bulan.


" Gak usah di bangunkan dek, biarin aja Zee nya tidur. Kamu anaknya Zee ya? " Syam kembali bertanya untuk memastikan apakah Bulan anak nya Zee atau bukan.


" Iya Om, emang nya kenapa? Om gak tau ya kalau Bunda udah punya anak. Hahaha..kebanyakan orang - orang juga ngira nya Bunda belum punya anak, bahkan Bulan di sebut adik nya Bunda kalau Bulan lagi jalan bareng sama Bunda. Oh ya Om, Om ada perlu apa cari Bunda? "


Syam terkekeh mendengar ocehan Bulan, ternyata Bulan ini gadis yang ramah dan periang. " Nanti kalau Bunda kamu sudah bangun, sampaikan aja kalau Om Syam mencari ya. Kalau begitu Om pamit ya Bulan, Om senang bisa bertemu Bulan "


" Siap Om, nanti Bulan sampaikan sama Bunda "


" Om pamit ya Assalamualaikum "


" Waalaikumsalam " Syam memilih untuk pulang, padahal ia sangat ingin bertemu dengan Zee, tapi mendengar jika Zee sedang tidur membuat Syam tidak ingin mengganggu nya.


Sepanjang perjalanan pulang Syam masih memikirkan Zee, memikirkan Zee yang ternyata sudah mempunyai anak. " Bodoh sekali kamu Syam, kenapa tidak bisa melihat kalau Zee itu sudah menikah dan dengan jelas pastinya sudah berstatus istri orang. Tapi dimana suaminya ya? aku tidak melihat nya, apa suami Zee sedang bekerja sehingga tidak ada di rumah? tapi..Zhio, kalaupun Zee sudah bersuami kenapa dia dekat sekali dengan Zhio, ada hubungan apa mereka? apa Zhio suami Zee, ahh.. tidak mungkin.." Syam memijit - mijit kepala nya yang terasa pening.

__ADS_1


*****


" Bunda.. udah bangun " ucap Bulan saat melihat Zee keluar dari kamar.


" Onty dimana Bulan? sudah pulang? " Zhea lah yang pertama di cari oleh Zee, karena Zee ingat kalau adiknya itu sedang jalan bersama Iqbal dan seharusnya sudah pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


" Sudah Bun, onty lagi di dapur " ucap Bulan.


" Bulan gak tidur? besok kan sekolah " ucap Zee lalu ikut duduk di samping Bulan yang sedang asyik menonton televisi.


" Bentar Bun mau nunggu onty lagi bikin nasgor "


" Nasgor? kan Bunda udah masak, Bulan gak makan? "


" Sudah Bun, cuma onty katanya lapar jadi bikin nasgor dan Bulan.. Bulan juga pengen bun, Hehehe "


" Kak Zee " Zhea datang dari dapur membawa semangkuk nasi goreng dan tiga buah piring lengkap dengan sendok nya.


" Yeee.. nasgor nya udah jadi, ayo bun ikut makan " ajak Bulan.


" Tadi di rumah kak Iqbal Zhea makan nya dikit aja kak, jadinya sekarang masih lapar "


"Kenapa onty makan nya dikit aja? " tanya Bulan.


" Onty malu Bulan, jadi nya dikit aja deh makan nya. Hehehe "


" Ihhh sok - sok jaim, biasanya juga makan nya sebakul " ucap Zee sembari terkekeh, Bulan dan Zhea juga ikut tertawa mendengar ucapan Zee.


" Ya harus gitu dong kak kalau ketemu camer, jangan malu - maluin. hehehe.. oh ya kak, tadi kata Bulan ada yang nyariin kakak "


" Iya Bun, Bulan sampai lupa kan. Tadi itu ada temen bunda ke sini katanya nama nya Syam "


" Dokter Syam, jadi tadi kesini? kenapa Bulan gak bangunin Bunda? "


" Bulan mau bangunin, tapi kata Om Syam gak usah. Terus gak lama Om nya pergi Bun "


" Astaga.. kakak lupa " ucap Zee lalu bergegas masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamar Zee mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas, Zee segera mengaktifkan ponsel nya. Begitu banyak notifikasi pesan dan juga panggilan tak terjawab yang masuk dalam ponsel Zee.


Pertama Zee membalas pesan dari Amira terlebih dahulu, kemudian membalas pesan yang juga masuk dari Syam. Dan yang terakhir pesan dari Zhio, jika sebelumnya pesan yang Zee kirim untuk Amira dan Syam belum ada jawaban. Beda halnya dengan Zhio, Zhio begitu senang mendapat pesan dari Zee dan secepat mungkin membalas nya.


***Zhio


Tidak perlu meminta maaf Zee, abang tau kamu sedang tidur. Kamu pasti lelah kan? sudah makan? ❤***


Zee tersenyum melihat pesan yang dikirim oleh Zhio, tanda hati berbentuk love itu tidak pernah absen dan selalu hadir di ujung kata di setiap pesan yang di kirim oleh Zhio.


***Zee


Abang lagi sibuk gak? boleh kalau aku telpon***?


Dritt.. Dritt.. dering ponsel Zee berbunyi.


" Assalamu'alaikum, abang Zhio "


" Waalaikumsalam, Zee "


" Abang lagi gak sibuk kan? "


" Gak Zee, ada apa? kamu udah makan belum? kalau belum makan dulu tapi sebaiknya jangan makanan yang berat ya soalnya sudah larut malam gak baik buat kesehatan kamu " Zee kembali tersenyum mendengar perhatian dari Zhio.


" Terimakasih udah perhatian sama aku bang, oh ya bang Zhio ada yang mau aku bicarakan " terdengar suara Zee kini lebih serius.


" Apa Zee? "


" Mulai besok, abang gak usah antar jemput aku dulu ya. Dan sebaiknya selama seminggu ini kita gak usah ketemu ya bang Zhio "


Zhio yang awalnya sedang berbaring kini merubah posisinya menjadi duduk, apa maksdunya Zee berkata seperti itu?


" Kenapa Zee, apa kamu tidak ingin bertemu lagi dengan abang? apa abang ada berbuat salah? "


" Gak bang, abang gak ada buat salah apapun. Hanya sementara bang, setelah seminggu aku bakalan kasih jawaban dari permintaan abang "


Zhio terdiam sejenak mendengar ucapan Zee, hingga akhirnya Zhio mengiyakan apa yang di minta oleh Zee. Andai Zee tau betapa berat nya ini bagi Zhio, sehari saja tidak bertemu atau mendengar suara Zee sudah membuat Zhio resah apalagi sampai seminggu. Tapi setelah berpikir kembali, Zhio sadar dan mungkin saja ini adalah cara untuk Zee meyakinkan perasaan nya kepada Zhio. Ya seperti kata Bunda, Zhio harus terus bersabar. Hanya sementara, hanya seminggu. Aku pasti bisa, dan aku berharap semoga penantian ku ini tidak sia - sia Zee. Semoga kamu juga memiliki perasaan yang sama kepada ku.

__ADS_1


__ADS_2