
Sejak Tasya dan Zhea pergi, kediaman keluarga Xander tampak sepi. Apalagi di siang hari saat semua sedang keluar dan masing-masing dengan aktivitas nya. Hanya bunda Hesty lah yang sendiri di rumah di temani dengan bi Inah.
Di tempat lain, Zee juga kembali dengan rutinitasnya. Walaupun perutnya yang sudah semakin besar, tak membuat Zee susah untuk melakukan pekerjaannya. Ia masih cekatan dalam menangani para pasiennya.
" Zee, udah waktunya istirahat. Yukk makan siang " ajak Amira sahabat Zee.
" Oke, bentar aku bawa susu ku dulu "
Zee mengambil susu hamil nya yang selalu ia bawa. Biasanya Zee selalu membawa tiga kotak susu hamil yang sudah dalam kemasan kecil, sehingga mempermudah Zee untuk meminumnya tanpa di sedih terlebih dahulu.
" Maa syaa Allah, rajin banget minum susu nya Zee "
" Iya Amira, soalnya aku tuh gak bisa minum vitamin, kamu kan tau aku gak bisa minum obat. Di awal semester aja aku minum karena itu penting banget, sekarang karena dedeknya udah besar. Aku udah gak minum vitamin lagi, cuma rutin ke susu aja, hehe " jelas Zee sembari tertawa kecil.
" Dasar kamu Zee, semuanya itu penting tau. Lagian kamu tuh aneh, nyuruh pasien minum obat, kamu sendiri gak suka minum obat "
" Huss...jangan keras-keras ngomongnya Ra "
Amira hanya tertawa kecil melihat Zee, mereka berdua kemudian pergi ke kantin untuk makan siang.
Saat keluar dari pintu UGD, Zee dan Amira berpapasan dengan Yuni. Yuni yang niatnya memang datang untuk menemui Zee pun tersenyum setelah bertemu Zee.
" Mbak Yuni " sapa Zee.
__ADS_1
" Zee "
" Mbak sudah sehat ? mbak ada perlu apa ke sini ? " tanya Zee.
" Aku ke sini cuma mau ngucapin terima kasih Zee , makasih kamu masih tetap baik sama aku " ucap Yuni dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
" Zee, aku tunggu kamu di sana ya " ucap Amira lalu meninggalkan Zee dan Yuni, melihat Yuni membuat Amira mengerti bahwa Zee dan Yuni butuh berbicara berdua saja.
" Maafkan aku ya Zee " Yuni pun menangis setelah Amirs pergi, Yuni menangis sembari tertunduk malu di depan Zee.
Zee tersenyum lalu menarik kedua tangan Yuni.
" Semua sudah masa lalu mbak, aku sudah memaafkan mbak Yuni. Sekarang kita hanya perlu menata masa depan kita masing-masih menjadi lebih baik "
" Sekali lagi terima kasih Zee " ucap Yuni lalu menatap Zee dengan senyuman.
" Sama-sama mbak, oh ya bayi nya mbak Yuni sama siapa ? "
" Ada sama bapak dan juga ibuk, mereka sudah menunggu aku di depan "
" Jadi gitu, ya udah mbak. Hati-hati di jalan ya, titip salam sama ibuk dan juga bapak "
" Iya Zee, aku pamit , sekali lagi terimakasih ya Zee "
__ADS_1
" Iya sama-sama mbak "
Melihat Yuni pergi, Amira kembali mendatangi Zee.
" Kamu kenal Zee ? " tanya Amira penasaran.
" Dia mbak Yuni, istrinya mantan suami aku "
" Tunggu sebentar , maksud kamu pelakor yang dulu pernah kamu ceritakan " ucap Amira.
" Amira, jangan ngomong gitu ah " ucap Zee.
" Dia ngapain ke sini Zee ? "
" Dia cuma mau bilang makasih Ra, soalnya seminggu lalu dia habis lahiran. Nah waktu itu aku ada beliin dia dan juga bayinya beberapa baju buat mereka "
Zee dan Amira bercerita sembari berjalan menuju kantin.
" Astaga Zee, kamu tuh berhati emas banget tau nggak. Kalau aku jadi kamu, belum tentu aku kayak gitu Zee, wanita-wanita lain juga gak mungkin bisa kayak kamu Zee. Kalau aku mau udah masa bodoh aja sama dia Zee "
Zee hanya tersenyum mendengar celotehan Amira, jika harus mengingat yang terdahulu tentulah sangat susah , dan sakit bagi Zee. Namun seperti apa kata Zee, semua sudah masa lalu, sekarang Zee sudah punya masa depan yang lebih baik, membina masa depan yang lebih baik dengan Zhio suaminya.
" Kamu tuh ngomel - ngomel terus dari tadi Ra, bikin aku makin laper " ucap Zee lalu berjalan terlebih dahulu dari Amira.
__ADS_1
" Ihhh..Zee..aku belum selesai ngomongnya.. " teriak Amira lalu mengejar Zee.