Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Terima kasih


__ADS_3

Acara pernikahan Kevin dan Zhea berjalan dengan lancar, mulai dari proses akad dan juga resepsi. Acara resepsi berlangsung hingga sore hari, walaupun begitu hingga malam pun Kevin dan Zhea menerima banyak tamu. Tamu yang datang saat malam tak lain kebanyakan dari teman-teman Kevin yang sama-sama bekerja di rumah sakit.


Sebagain teman-teman Kevin adalah yang bekerja di siang hari, jadi saat acara resepsi masih berlangsung mereka tidak bisa hadir dan baru bisa datang pada malam harinya.


Karena sudah resmi menjadi istri dari seorang Kevin, malam ini dan seterusnya Zhea tidak akan tinggal di kediaman keluarga Xander lagi, Zhea akan tinggal di kediaman Kevin. Walaupun sebenarnya sebentar lagi ia juga akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan study nya.


Semua anggota keluarga Xander dan juga keluarga Zhea sudah kembali dan hanya meninggalkan Zhea. Ini adalah kali pertama Zhea berada dirumah Kevin dan tidur di sana.


Sudah hampir jam 11 malam pun teman-teman Kevin masih ada yang bertamu. Karena kasihan melihat Zhea, Kevin pun meminta Zhea untuk terlebih dahulu masuk ke kamar mereka dan beristirahat.


Zhea yang sudah berganti pakaian memilih untuk langsung berbaring. Zhea memperhatikan seisi kamar yang terlihat begitu cantik karena penuh dengan hiasan. Belum lagi banyaknya bunga yang bertabur di tempat tidur mereka.


Zhea hanya tersenyum melihat semuanya, dan tiba-tiba pikiran kotor Zhea terlintas. Apalagi mengingat ucapan Tasya yaitu berbunyi " itu-ituan..." membuat Zhea juga sedikit gugup dan takut.


" Apa malam ini semua akan terjadi ? " ucap Zhea.


" Apa aku siap ? aku tidak mungkin menolak permintaan bang Kevin, aku adalah istrinya. Tapi,,, " Zhea terlihat panik sendiri.


Zhea beranjak dari tempat tidur dan mengambil ponselnya. Zhea pun mulai membuka artikel mengenai malam pertama, Zhea tampak serius membaca artikel tersebut. Dan sesekali Zhea menelan ludahnya setelah melihat apa yang ia baca.


Waktu itu saat Tasya membahas mengenai hal intim kepadanya, Zhea sebenarnya hanya berpura-pura santai dan tidak menanggapi nya. Namun sekarang Zhea justru terlihat takut dan gugup.


Ceklek..

__ADS_1


Suara pintu kamar terbuka, mengejutkan Zhea bahkan hampir membuat Zhea menjatuhkan ponselnya.


" Kamu belum tidur Zhe ? " tanya Kevin.


" Be..be..Lum bang " ucap Zhea terbata-bata.


Kevin tersenyum lalu berjalan menghampiri Zhea, semakin dekat Kevin semakin membuat Zhea gugup.


Kevin duduk di atas tempat tidur lalu menatap Zhea.


" Kamu pasti capek kan ? " tanya Kevin sembari mengelus lembut pucuk kepala Zhea.


Merasakan belaian lembut Kevin di puncak kepalanya, membuat pikiran kotor Zhea semakin memuncak dan ia sangat gugup saat ini.


" Iya bang, di tempat tidur juga banyak " ucap Zhea.


Kevin pun beranjak lalu merapikan tempat tidur mereka, membuang ke bawah bunga-bunga mawar yang memenuhi tempat tidurnya.


" Tidurlah Zhe, sudah aku rapikan " ucap Kevin. Kevin pun ikut berbaring di tempat tidur di susul oleh Zhea.


Jarak di antara Kevin dan Zhea cukup jauh , kini mereka berdua masing-masing menatap ke atas langit-langit kamar. Keduanya sedang mencoba mengatur detak jantung mereka yang berdetak begitu kencang.


" Boleh aku memegang tangan mu Zhe ? " tanya Kevin memecah keheningan di antara keduanya.

__ADS_1


Pertanyaan Kevin membuat Zhea tersenyum, pasalnya bagaimana mungkin Kevin harus meminta ijin terlebih dahulu saat ingin memegang tangannya, padahal mereka adalah suami istri. Tidak ada alasan untuk Zhea menolak karena Kevin adalah suaminya.


Zhea pun mengulurkan tangan ke samping , melihat hal itu Kevin tersenyum lalu menggenggam jemari tangan Zhea.


Kevin merasakan tangan Zhea yang dingin dan berkeringat, Kevin tersenyum merasakan hal tersebut.


Seolah bisa membaca pikiran masing-masing, Kevin dan Zhea bersamaan menoleh dan dengan bersamaan kedua bola mata mereka saling bertemu.


" Aku tidak akan memaksamu Zhea, aku akan melakukannya sampai kamu siap " ucap Kevin sembari tersenyum manis, seolah mengerti akan apa yang ada di pikiran Zhea saat ini. Kevin memiringkan badannya dan mengelus lembut pucuk kepala Zhea.


Zhea terpejam merasakan hangat dan lembutnya sentuhan Kevin. Zhea merasa sedikit lega setelah mendengar apa yang Kevin katakan kepadanya, dan sekaligus terharu karena Kevin begitu mulia, egois dan begitu mengerti dirinya yang memang belum siap untuk melakukan hal itu.


" Terima kasih bang Kevin "


" Aku yang sangat berterimakasih Zhe, terima kasih sudah menerima ku Zhea "


Kevin dan Zhea saling melempar senyum.


" Tidurlah " pinta Kevin dan di balas anggukan oleh Zhea, Zhea pun perlahan menutup kedua matanya.


Kevin terus saja memandang wajah cantik Zhea.


" Dalam keadaan tertidur pun kamu masih terlihat cantik Zhe " batin Kevin.

__ADS_1


Kevin terus memandangi Zhea hingga akhirnya Kevin pun ikut terlelap. Mereka berdua tertidur dengan saling bergenggaman tangan.


__ADS_2