
Celin tak menyerah untuk mengejar cintanya Kevin. Pagi ini ia kembali menunggu kedatangan Kevin di depan ruang kerja Kevin. Penampilan Celin juga tampak berbeda karena ia datang ke rumah sakit dengan memakai jas putih nya.
" Kevin " sapa Celin dengan senyum manisnya.
Tanpa di suruh masuk, Celin ikut masuk ke dalam ruang kerja Kevin dengan mengekor di belakang Kevin.
" Vin, aku bawa sarapan untuk kamu. Seperti biasa " Celin mengeluarkan kotak bekal yang ia masukkan di dalam papar bag yang ia bawa.
Kevin hanya diam dan tidak menghiraukan Celin.
" Vin, kamu gak mau tanya tentang penampilan ku hari ini ? coba lihat Vin " Celin berlenggak lenggok di depan Kevin, menunjukkan bahwa ia memakai jas putih nya yang menandakan bahwa ia sudah kembali bekerja di rumah sakit.
" Kalau tidak ada keperluan lagi, silahkan pergi dari sini Cel. Sebentar lagi pasien ku datang " ucap Kevin dingin.
" Oh..berarti sebentar lagi ya, baiklah aku akan bersiap "
Jawaban Celin membuat Kevin mengerenyitkan keningnya.
" Apa maksudmu Cel ? "
Celin tersenyum manis kepada Kevin.
" Mulai sekarang, aku bertugas untuk menemani kamu Vin. Karena hari ini adalah hari pertama ku kerja, jadi aku perlu penyesuaian baru dan belajar banyak hal agar aku bener - bener siap untuk mendapat ruang kerja sendiri "
" Omong kosong " ucap Kevin.
" Apa Vin ? kamu bilang apa ? "
Kevin berdiri lalu menghampiri Celin.
" Aku bilang semua ini omong kosong Cel, kamu bukan dokter magang, jadi kamu gak perlu lagi belajar atau penyesuaian diri segala "
Kevin mulai kesal menghadapi Celin.
" Santai Vin, Santai..jangan marah okey. Aku benar-benar perlu bantuan kamu Vin. Beri aku waktu seminggu untuk belajar kembali, lagipula ayah ku juga sudah mengijinkan dan menyetujui hal ini "
Celin memegang kedua lengan Kevin , berusaha menenangkan Kevin , namun Kevin segera menepis tangan Celin.
" Kamu gak pernah berubah ya Cel, kamu pikir dengan kekuasaan yang ayah kamu punya, kamu bisa mendapatkan semua yang kamu mau "
" Maksud kamu apa Vin ? "
__ADS_1
" Pikirlah sendiri Cel "
Tidak ingin berdebat dengan Celin, Kevin beranjak pergi.
" Kevin tunggu !! "
Celin menghadang Kevin dan kini sudah berdiri di depan pintu menghalangi Kevin untuk pergi.
" Baiklah kalau begitu kita saling jujur aja ya Vin, aku tau mungkin ini semua terlambat. Aku yang terlambat karena terlambat tau kalau sebenarnya kamu mencintai aku selama ini kan Vin. "
" Mencintai kamu ?? sudahlah Cel, aku ingin pergi "
" Aku gak bakalan biarin kamu pergi Vin, aku sadar Vin selama ini aku salah karena mengabaikan kamu, padahal kamu sangat mencintai aku. Ya walaupun sekarang kamu sudah menikah, aku tahu itu semua hanya terpaksa kan Vin ? kamu masih mencintai aku kan ? "
" Kamu gila Cel "
" Ya aku gila Vin, kamu masih mencintai aku kan ? ayo katakan Vin, aku gak bakalan biarin kamu pergi sebelum kamu jawab "
" Oke...ya kamu benar, dulu aku memang mencintai kamu "
Celin tersenyum senang mendengar ucapan Kevin.
Senyum yang semula mengembang pun berubah.
" Obsesi ?? "
" Ya obsesi ? setelah kamu gak mendapatkan Zhio, lalu kamu kembali terobsesi untuk mendapatkan aku ? bukan begitu ? dan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan kan ? bahkan kamu tahu kalau aku sudah menikah, aku sudah punya istri Cel, kamu masih saja seperti wanita yang rendah yang tak tahu diri , berusaha menggoda ku hanya untuk mendapatkan ku "
PLAKKK...sebuah tamparan melayang di wajah Kevin.
" Kamu bilang aku wanita rendah yang tak tahu diri ? kamu sadar dengan apa yang kamu katakan Vin ? "
" Bukan aku yang seharusnya sadar diri Cel, tapi kamu !! bukankah kamu bilang kita bersahabat, seorang sahabat pasti tahu batasannya cek, seharusnya kamu menyadari kalau aku sudah punya istri ,, aku punya istri yang hati nya harus selalu aku jaga Cel "
Celin tertawa kecil mendengar ucapan Kevin.
" Harus kamu jaga ?? hahaha...kamu yakin istri mu di sana juga menjaga dirinya dan perasaan kamu ? jangan munafik Vin, aku tahu kamu kesepian, kalau memang istri kamu itu istri yang baik, seharusnya dia memilih untuk tetap tinggal di sini bersama kamu, bukannya malah ninggalin kamu , hanya alasan pendidikan, di sini juga bisa mendapatkan pendidikan yang layak, bahkan kampus-kampus terbaik juga banyak di sini "
Kevin meradang saat Celin berbicara tidak baik tentang Zhea.
" Oh ya, bukannya istri kamu itu anak baru gede ya , baru lulus aja kan ?? jarak umur kamu aja sama dia jauh banget. Masih anak-anak, seumuran gitu biasanya lebih suka happy - happy Vin, aku yakin di sana dia pasti sudah senang - senang sama pacar baru nya , terbukti kan seperti yang aku bilang kalau dia lebih memilih kuliah di luar negeri dari pada kuliah di sini "
__ADS_1
" CUKUP CELIN.....!!! " ucap Kevin dengan nada keras.
Celin berusaha memanas-manasi hati Kevin. Kevin mendorong Celin yang berdiri di depannya.
" Aduh... " ucap Celin meringis setelah di dorong Kevin untuk menjauh dari pintu.
" Mulai sekarang, persahabatan kita berakhir Cel " ucap Kevin lalu pergi meninggalkan Celin.
Celin hanya diam dan tampak kesal mendengar ucapan Kevin.
" Aku yakin kamu pasti terpancing ucapan aku , lihat saja nanti, kamu pasti sadar Vin dan berpaling kembali ke aku " ucap Celin.
*****
" Bagaimana Pak Niko, semua sudah di persiapkan? " tanya Zhio.
" Sudah Tuan, tiket dan paspor anda semua sudah saya siapkan, dan rencananya Tuan akan berangkat Minggu depan "
" Hufff..baiklah, terima kasih Pak Niko "
Zhio kembali fokus dengan laptop yang ada di depannya, Zhio sedang mempersiapkan dan menyelesaikan semua pekerjaan nya sebelum ia pergi .
" Tuan... "
Pak Niko tidak langsung pergi dari hadapan Zhio, ia masih berdiri di depan Zhio.
" Iya Pak Niko, ada apa ? kenapa masih di sini ? "
" Maaf tuan, saya hanya ingin kembali memastikan apakah Tuan yakin dengan rencana tuan ini "
Zhio menghentikan pekerjaannya sejenak lalu melihat ke Pak Niko yang tampak khawatir.
" Saya mengerti Pak Niko Khawatir, tapi saya harus melakukan ini Pak, ini demi kebaikan istri dan anak saya "
" Lalu bagaimana dengan istri anda Tuan ? apa Tuan yakin tidak akan memberi tahu nya "
" Saya yakin Pak Niko, kalau saya memberi tahunya, saya yakin istri saya pasti tidak mengijinkan saya. Saya juga tidak bisa hanya berdiam diri, waktu saya tidak banyak Pak Niko, saya harus menyiapkan semua sebelum istri saya melahirkan "
" Baiklah Tuan "
Zhio tersenyum kepada Pak Niko. Setelahnya Pak Niko pergi dari hadapan Zhio.
__ADS_1