
Zee terbangun dari tidurnya saat mendengar suara adzan subuh berkumandang. Wajah tampan Zhio lah yang pertama kali ia lihat saat pertama membuka mata, Zee terdiam sejenak dan terus memandangi wajah tampan sang suami yang masih tidur dengan pulas sembari memeluk dirinya.
Zee ingin ke kamar mandi, dan secara perlahan beranjak dan melepas pelukan sang suami. Namun, bukan nya terlepas, Zhio justru semakin mempererat pelukan nya. Bahkan Zee tidak bisa bergerak sama sekali.
" Bang..abang..." mau tidak mau Zee harus membangunkan Zhio,padahal rencana nya Zee akan membangunkan Zhio setelah ia selesai dari kamar mandi. Tapi sepertinya tidak bisa di lakukan karena jalan satu - satunya hanyalah membangunkan Zhio.
" Emmhh... " Zhio hanya melenguh, dan semakin mempererat pelukan nya.
" Abang..bangun...sudah subuh " Zee kembali membangunkan Zhio, tapi tetap saja Zhio masih saja tidur lelap.
" Abang..bangun ya, sudah subuh. Ntar kita kesiangan sholat subuhnya " kali ini Zee membangunkan Zhio dengan mengelus - elus pipi Zhio. Dan dalam sekejap Zhio langsung membuka kedua mata nya dan tersenyum melihat Zee.
Cup...
" Morning kiss sayang " sebuah kecupan singkat Zhio berikan di bibir Zee. Zee hanya diam saat mendapatkan ciuman dari Zhio.
" Hei...kenapa bengong " ucap Zhio begitu melihat Zee yang diam seperti patung.
" Ah..itu..hmm..gak apa bang, sudah adzan bang. Kita sholat sama - sama ya " ucap Zee lalu buru - buru masuk kedalam kamar mandi.
Zhio tersenyum melihat istrinya yang terlihat salah tingkah, sebenarnya Zhio sudah bangun terlebih dahulu dari pada Zee. Dan ia mendengar kalau Zee membangunkan nya, Zhio sengaja tidak bangun karena masih ingin memeluk Zee dan mendengar suara lembut Zee yang membangunkan nya tidur.
*****
Karena hari ini akan kembali ke kota, Tasya sudah bangun pagi - pagi sekali. Rencana nya pagi ini Zhea akan mengajak Tasya untuk berkeliling kampung.Terutama mengajak Tasya ke area sawah yang kata nya di sana banyak sport foto - foto cantik yang bisa kita dapat.
" Zhea...aku jalan duluan ya, nanti kamu nyusul " teriak Tasya kepada Zhea yang masih di kamar mandi.
" Emang kamu tau jalan Sya, nanti sesat lo Sya "
" Tau..aku bawa ponsel kok, nanti telpon aja ya. Aku bakalan jalan pelan - pelan kok Zhe. Soalnya nungguin kamu lama, aku udah gak sabar nih "
" Ya udah..nanti aku nyusul "
" oke "
Dengan senyum semringah, Tasya keluar seorang diri dan menuju ke area sawah tempat tujuan mereka.
" Tasya mau kemana? " tanya Zee saat Zee keluar dari kamar.
" Mau ke sawah kak, kata nya tempat nya cantik dan pemandangan nya bagus ya di sana "
" Oh iya di sana pemandangan nya emang bagus, Tasya pergi sama siapa? Zhea mana? "
" Zhea masih mandi kak, Tasya duluan soalnya udah gak ke sabar. Kan bentar lagi kita pulang "
" kok sendirian ke sana, emangnya Tasya tau tempatnya "
" Nanti Tasya bisa tanya - tanya orang sini kak, Tasya udah suruh Zhea untuk nyusul juga nanti nya. Kata Zhea tempatnya gak terlalu jauh dari sini "
__ADS_1
" Iya sih, tapi yakin Tasya gak mau nunggu Zhea dulu "
" Yakin kak, kakak tenang aja ya "
" Ya udah hati - hati ya , kakak mau ke dapur dulu "
" Eh..tunggu bentar kak " Tasya menahan langkah Zee, lalu ia memandangi Zee.
" Kenapa Sya? kamu kenapa ngeliatin kakak kayak gitu? "
" Leher kakak kenapa merah gitu? ihhh...abang Zhio yang buat ya. Hehehe " Tasya melihat ada bekas kemerahan di leher Zee, Tasya mengira itu adalah tanda kepemilikan yang di buat oleh abang nya. Tasya menggeleng - gelengkan kepala nya. Gak menyangka kalau abang nya seganas itu.
" Mana Sya? di sini " ucap Zee meraba - raba leher nya.
" Iya di situ kak, abang ngeri banget ya kak. Hehehe...pasti udah kayak macan buas yang menerkam kakak semalaman " ucap Tasya sembari terkekeh.
Awalnya Zee tidak mengerti maksud pertanyaan Tasya, tapi setelah Tasya mengatakan macan buas. Barulah Zee mengerti, Tasya mengira jika bekas kemerahan itu Zhio yang membuatnya. Padahal tidak sama sekali, leher Zee memerah karena gatal bukan karena Zhio. Melakukan malam pertama saja mereka belum, mengingat itu Zee jadi merasa bersalah kepada Zhio.
" Kakak..kok bengong sih "
" I..iya Tasya..ih kamu tu sok tau, ini cuma gatal Sya " ucap Zee menggaruk - garuk lehernya.
" Kakak Zee..malu ya..hehehehe..gak usah malu kak, Tasya ngerti kok, udah biasa kak lagian udah halal juga. Jadi..semalam berapa ronde kak? abang ganas ya kak semalam? " Zee hanya tersenyum mendengar ocehan dan pertanyaan dari Tasya, Tasya begitu bebeda dengan Zhio. Si adik tingkat kemesuman nya lebih tinggi.
" Tasya apaan sih, bocil..gak boleh tau. Udah pergi sana " ucap Zee mendorong - dorong Tasya untuk pergi.
Setelah bertanya kepada beberapa orang, akhirnya Tasya sampai di area persawahan yang ingin ia datangi.
" Wah...tempatnya memang bagus...banyak tempat untuk santai nya lagi "
Tasya pun dengan semangat berjalan kaki menyusuri jembatan sawah. Tidak lupa ia juga mengambil fotret dirinya sendiri memakai ponsel yang ia punya.
" Zhea mana sih, lama banget. Gak enak nih selfi sendiri. Kalau di fotokan kan lebih cantik " ucap Tasya sembari melihat foto hasil selfi nya sendiri.
Tasya berjalan mundur, ia tidak sadar jika di belakangnya ada sesorang dan alhasil Tasya menabrak lelaki yang berdiri di belakang nya.
" Maaf..." ucap Tasya saat sadar ia telah menabrak seseorang, dengan cepat Tasya membalikkan tubuhnya. Dan begitu melihat, Tasya terpaku melihat lelaki yang ada di depan nya.
" Ya Allah, ganteng banget " batin Tasya sembari menatap lelaki tampan di depan nya, sedangkan lelaki itu hanya menatap Tasya dengan wajah datar dan dingin nya.
****
Di dalam kamar, Zee sedang berdiri di depan kaca dan melihat leher nya yang ternyata benar terlihat kemerahan. Bekas kemerahan nya tidak lebar , hanya setitik dan memang kalau di lihat sekilas seperti bekas cu pang.
" Ngeliatan apa sayang? " tanya Zhio.
Zhio datang dengan rambut yang masih basah, ia maklum saja karena ia baru saja dari kamar mandi dan membersihkan diri . Kini setelah resmi menikah, Zhio selalu memanggil Zee dengan sebutan sayang.
__ADS_1
" Abang udah selesai mandi nya, ini lo Tasya bang. Kata nya merah di leher aku ini bekas di gigit sama abang. padahal kan cuma karena gatal aja. Aku juga gak tau ini kenapa bisa gatal gini bang, Tasya tu udah tanya yang macam - macam, ngeledek lagi bang, apalagi Zhea kalau liat ini. Pasti sama tu sama Tasya pikiran nya " ucap Zee sembari terus melihat leher nya di balik kaca.
" Sini abang liat " Zhio tiba - tiba saja menarik Zee dan membawa Zee duduk di pangkuan nya.
" Abang " ucap Zee.
" Gak ada tanda bekas di gigit sesuatu " ucap Zhio saat melihat kemerahan di leher Zee.
" tu gak ada kan bang, kira - kira kenapa ya. Tapi gatal " ucap Zee.
Tiba - tiba saja Zhio mencium leher jenjang Zee yang putih dan mulus itu, dan hal itu membuat Zee merinding dan juga gugup.
" Abang.." ucap Zee saat Zhio masih menciumi leher nya dan mempererat pelukan nya.
" Ahhh...abang.. " teriak Zee saat ia merasa sedikit sakit bercampur nikmat saat Zhio menggigit leher nya.
" Tanda merah seperti ini kan maksud Tasya " ucap Zhio dengan santai nya dan merasa bangga karena tanda kepemilikan nya sudah terukir di leher Zee.
" ihhh abang...kenapa malah di tambahin, nanti kalau ada yang liat gimana? " kesal Zee karena ulah suami nya.
Melihat Zee cemberut membuat Zhio gemas, ia pun menangkup wajah Zee dan menyambar bibir manis sang istri. Kini bibir Zee menjadi candu buat Zhio, Zee pun melingkarkan kedua tangan nya di leher Zhio. Zee juga dengan senang hati membalas ciuman Zhio dan mulai memejamkan kedua mata nya. Tak lama setelah kedua mata Zee terpejam, ternyata bayangan Satria kembali muncul. Zee pun kembali meremat punggung Zhio. Sadar akan hal itu, Zhio ingin menyudahi ciu man nya, tapi tiba - tiba saja Zee menahan tengkuk leher Zhio seakan menandakan untuk tidak menghentikan nya.
Zee sedang berusaha melawan rasa takutnya, dan ia mencoba mengalihkan ingatan nya dengan mengingat wajah Zhio dan kenangan mereka.
Dan ternyata hal itu sukses, kini bayangan Satria menghilang dari ingatan Zee. Kedua nya pun kembali berciuman dengan mesra.
" Kamu bisa sayang? " ucap Zhio saat melepaskan ciu man nya dan memberi ruang untuk Zee bernafas.
" Iya bang, tadi bayangan itu kembali muncul. Tapi aku coba lawan. Dan ternayat berhasil, sudah gak ada lagi " ucap Zee sembari tersenyum.
" Kalau begitu abang bikin tanda kepemilikan abang ya " ucap Zhio dan ingin mencium leher Zee.
" Ihh abang..jangan disitu..nanti di liat orang kan gak enak bang. Ini aja udah bebekas gini " ucap Zee.
" Berarti di tempat lain boleh dong " goda Zhio.
" Hah..tempat lain..ih abang mesyum... " ucap Zee sembari menepuk pelan pundak Zhio.
" Mesum sama istri sendiri kan gak apa sayang, lagia n ini tu tanda nya kamu milik abang " ucap Zhio dan kembali mencium bekas kemerahan di leher Zee yang tadi sudah ia buat.
Zee terkekeh melihat kelakuan suaminya, dugaan Zee yang mengira Zhio berbeda dengan Tasya ternyata salah. Kakak beradik sama saja, bahkan tingkat kemesuman suami nya lebih parah di banding sang adik.
**Bersambung..
Sedikit cerita manis dari Zee dan Zhio..
Mengenai cerita Tasya, nanti akan ada cerita lain ya. Insyaallah setelah cerita Zee dan Zhio usai, dan kemungkinan cerita mengenai Tasya berkaitan dengan novel aku yang pertama..
salam sayang untuk kalian yang selalu setia menunggu 😘**
__ADS_1