
Zee di kejutkan dengan kedatangan ibu dan Bapak sambung nya. Ibu Zee sengaja tidak memberi tahu anaknya jika ia akan datang. Sebenarnya kedatangan ibu Zee juga mendadak, ibu Zee mendengar kabar jika Zee ingin berpisah dengan Satria. Itulah alasan ibu Zee datang, ia ingin mendengar langsung kabar itu dari anaknya.
Sesampai di rumah, Zee di jejali dengan banyak pertanyaan dari ibunya. Ibu Zee juga tidak lupa menceramahi Zee, Ia marah karena Zee tidak memberitahunya berita ini. Bukan hanya Zee yang di ceramahi, Zhea yang ada di sana pun ikut juga jadi sasaran.
" Ibu bersyukur kamu pisah sama Satria, ibu dari dulu memang gak yakin kalau Satria itu baik buat kamu. Jadi kapan mau urus surat perceraian kamu Zee? "
" Besok Bu "
" Baguslah, lebih cepat lebih baik. Besok biar ibu temenin, ibu punya kenalan di sana. Ibu mau minta tolong sama dia biar proses perceraian kamu sama Satria gak terhambat dan cepat di urus sama orang sana "
Zee hanya manggut - manggut, dan besok memang rencananya ia akan ke pengadilan agama untuk mengantar berkas pengajuan perceraian nya dengan Satria.
******
Di tempat lain, terlihat seorang lelaki tampan yang sedang duduk sembari memegangi kertas di tangan nya. Ia tampak serius memandangi kertas itu, dan sesekali mulutnya terlihat komat kamit seperti menghafal sesuatu.
" Dokter Zhio, operasi segera di mulai " salah satu perawat di sana memanggilnya, ia mendongak dan melihat ke arah perawat itu. Ia melipat kertas yang di pegang nya tadi lalu memasukkan nya ke dalam saku baju. Ia beranjak dari duduknya dan segera masuk ke ruang operasi.
Lelaki itu adalah Zhio Alexander Putra, ia adalah dokter di sebuah rumah sakit ternama di kota. Zhio terkenal sebagai dokter yang ramah, cerdas, baik, dan juga disiplin. Selain itu Zhio juga memiliki paras yang tampan, tidak salah jika hampir semua dokter dan perawat wanita di sana menyukai dan mengagumi nya.
Sekitar tiga jam lama nya, Zhio baru keluar dari kamar operasi. Zhio menarik nafas panjang, ia bersyukur karena operasi nya hari ini berjalan lancar. Setelah membersihkan diri, Zhio dan teman nya pergi ke kantin untuk mencari makan. Tiga jam bertempur di meja operasi membuat tenaga mereka habis terkuras.
" Zhio, Kevin, cepat makan nya. Lima menit lagi kita ada rapat "
" Astaga, kenapa baru memberitahu sekarang Celin ?? " Kevin menjitak kepalanya sendiri, dan ia buru - buru menghabiskan makanan nya.
Sedangkan Zhio tampak biasa saja, ia masih bisa santai mengunyah makanan nya. kedua mata celin tidak lepas menatap Zhio. Celin sangat menyukai Zhio, tapi tidak dengan Zhio, Zhio hanya menganggap Celin sebagai teman saja. Zhio, Kevin dan Celin sudah berteman sejak bangku kuliah. Celin merupakan anak dari direktur rumah sakit, Celin lah yang waktu itu menawarkan Kevin dan Zhio untuk bekerja di rumah sakit milik ayah nya. Zhio sempat beberapa kali menolak, itu semua karena Zhio tidak mau ada bayang - bayang Celin di belakang nya. Namun setelah Celin memaksa dan memberi pengertian jika di terima nya Zhio di rumah sakit itu bukan karena dia melainkan karena potensi dan kecerdasan Zhio. Barulah Zhio mau bekerja di sana.
Selesai makan mereka buru - buru masuk ke ruang rapat, di sana beberapa rekan sesama dokter dan senior menunggu. Rencananya rumah sakit akan melakukan bakti sosial di beberapa daerah terpencil, bakti sosial akan di lakukan dalam dua hari saja. Ada lima desa yang akan menjadi sasaran mereka. Dan dua orang dokter akan di tempatkan di masing - masing desa tersebut.
" Semoga saja kita sekelompok, Celin " batin Kevin.
Kevin menelan kekecewaan setelah tau jika dirinya tidak bersama Celin, dan yang bersama Celin dalah Zhio. Kevin diam - diam menyukai Celin. Celin tersenyum puas di dalam hatinya, sebenarnya ini sudah di atur oleh Celin, ia meminta dokter Martin untuk mengelompokkan nya bersama Zhio. Awalnya Dokter Martin menolak, karena Dokter Martin sudah mengatur semuanya, namun Celin memaksa dan menyebut - nyebut nama Ayahnya sebagai jurus jitu agar Dokter Martin mau menuruti kemauan nya. Dan benar saja Dokter Martin terpaksa dan harus mengatur ulang susunan kelompok yang sudah ia buat.
" Dokter Martin, dokter Martin tunggu!! " Zhio berlari dan menemui dokter Martin yang sudah pergi meninggalkan ruang rapat.
" Ada apa Dokter Zhio? "
" Dok, maaf sebelumnya. Bisakah posisi saya di gantikan. Saya sudah ada jadwal operasi, dan operasi itu tidak bisa di gantikan oleh orang lain "
__ADS_1
Dokter Martin berpikir sejenak, dan tak lama ia menyetujui permintaan Zhio. Dan Zhio tersenyum, sebenarnya bukan itulah salah satu alasan utama nya untuk tidak ikut bakti sosial itu. Namun ia tidak mau di kelompok kan bersama Celin.
*****
Zee dan ibu nya sudah bersiap menuju kota, jarak antara desa menuju kota cukup jauh. Mereka harus menempuh jarak dua jam lebih agar sampai di kota.
" Ayo cepat Zee, malah bengong!! " Ibu Zee menarik lengan Zee untuk segera masuk kedalam kantor pengadilan agama.
Zee dan ibu nya menunggu di kursi tunggu, menunggu giliran nama Zee yang di panggil untuk menyerahkan berkas nya. Zee kembali melamun. Bercerai dengan Satria adalah pilihan yang berat untuk Zee, bukan hanya untuk nya tapi juga untuk Bulan. Apalagi sebentar lagi Zee akan berubah status menjadi janda, dimana kebanyakan orang menanggap janda adalah warga kedua. Tapi Zee tidak perduli, lagian untuk apa mempertahankan lagi hubungan nya dengan Satria. Sudah cukup sepuluh tahun ini, Zee sudah lelah, dan rasa itu sudah mulai hilang. Terlebih lagi Satria yang berani mendua di belakang nya.
" Zee.. Zee...!! " teriak ibu memanggil Zee dan alhasil membangunkan Zee dari lamunan nya.
" Ehh.. Bu "
" Mana berkas nya? nama kamu sudah di panggil tu!! " Zee menyerahkan berkas perceraian nya kepada ibu nya, dan ibu Zee menyuruh Zee untuk menunggu saja di luar. Sedangkan Ibu Zee masuk kedalam sembari membawa berkas itu, seperti yang di katakan ibu Zee kemarin, ia akan bertemu dengan teman nya itu. Dan meminta bantuan agar proses perceraian anak nya cepat di urus dan tidak membutuhkan waktu yang lama.
Drittt... Dritt.. Drtitt... dering ponsel Zee berbunyi, sekarang Zee sudah punya ponsel baru. Ia baru saja membeli nya, setiap bulan Zee selalu menyisihkan uang nya untuk membeli ponsel. Dan baru sebulan lalu Zee berhasil mewujudkan keinginan nya itu.
" Assalamu'alaikum, ada apa Mawar? "
" Waalaikumsalam Kak Zee, kakak dimana? udah pulang belum? Kak kalau bisa cepat pulang ya kak, tadi Mawar di kasih tau sama Bidan isti kalau dokter dari kota sudah dalam perjalanan "
" Mawar gak tau juga kak Zee, Bidan isti aja kaget tadi Kak begitu dapat telpon dari salah satu dokter nya. Kalau urusan kakak udah selesai cepat pulang ya kak, banyak obat yang belum di urus kak. Teman - teman yang lain juga pada sibuk sama tugas nya masing - masing "
" Baik Mawar, bentar lagi urusan kakak selesai kok. Assallamuallaikum "
" Waalaikumsalam " Sambungan telpon Mawar dan Zee terputus.
" Aduh, ada - ada aja deh " batin Zee.
Sekitar setengah jam menunggu, ibu Zee juga belum keluar. Zee beranjak dari duduknya untuk segera menemui ibu Rumi. Ya nama ibu Zee adalah ibu Rumi.
" Huuh Ibu, pasti keasyikan ngobrol kan. Aku udah kayak ikan asin nungguin di luar dari tadi " Zee segera menemui ibu nya dan mengajak ibu nya segera pulang.
" Ibu kan belum selesai ngobrol Zee " ucap ibu Zee di sepanjang perjalanan pulang.
" Zee ada urusan di puskesmas Bu, harus cepat pulang. Lagian ibu kalau udah ngobrol sama orang pasti gak ingat waktu "
" Hahahaha.. kamu tau aja kak " Ibu Zee tertawa.
__ADS_1
Zee mengantar terlebih dahulu ibu nya ke rumah nenek, dan setelah itu ia langsung ke puskesmas. Sesampai di sana, puskesmas tampak sepi.
" Di mana semua orang? kenapa pintu nya tidak di kunci? " perlahan Zee masuk kedalam dan langsung masuk ke ruangan obat. Dan betapa terkejutnya Zee begitu melihat seorang lelaki yang sedang berdiri membelakangi nya. lelaki itu sedang memegang sebuah botol obat.
Zee yang tidak berpikir panjang mengambil sapu yang ada di sebelah kanan nya, perlahan ia maju dan memegang sapu itu dengan kuat.
PLAK.. PLAKK.. PLAKK.. Zee memukuli lelaki tadi dengan sapu, ia mengira jika lelaki itu adalah pencuri, dan berniat untuk mencuri obat - obatan di puskesmas.
" Mau apa kamu di sini, mau mencuri kan? " Zee berbicara sembari terus memukuli lelaki itu.
Zee tidak tau jika lelaki itu cukup kuat, merasa kesal karena ulah Zee ia menarik gagang sapu itu. Dan tanpa sengaja Zee juga ikut tertarik dan malah memeluk lelaki itu.Lelaki itu tersandar di dinding, dan Zee terjatuh di pelukan nya dengan satu tangan yang bertumpu di dada lelaki itu,dan satu nya lagi masih memegang gagang sapu. Kedua mata mereka saling bertemu, bahkan hembusan nafas masing - masing dapat mereka rasakan.
" Mata itu, aku pernah melihat nya " batin Zhio. Lelaki itu adalah Zhio.
" Lepaskan!! " Zee berusaha memberontak saat Zhio malah memegangi kedua tangan nya.
" Aku bilang lepaskan!! " dengan keahlian bela diri yang ia punya, Zee menendang paha Zhio. Dan refleks saja Zhio kesakitan dan melepas genggaman tangan nya dari Zhio.
" Akkhh sial.. sakit sekali " batin Zhio.
Zee kemudian berlari keluar dan ingin meminta pertolongan. Namun Zhio segera menyusul dan meraih lengan Zee.
" Lepaskan!! atau kamu mau aku... "
" Mau apa Hmm? " Zhio kembali memegangi kedua tangan Zee dan menguncinya dari belakang.
" Ada apa ini? " Bidan Isti tiba - tiba saja datang bersama dengan yang lain. Celin terkejut melihat Zhio yang sedang memegangi tangan Zee.
Zhio melepas genggaman tangan nya, dan merasa di bebaskan Zee langsung berlari ke arah bidan Isti.
" Ibu tolong, lelaki ini penjahat, dia pencuri!! "
"APA?? PENCURI?? "
Semua orang terkejut, dan menatap ke arah Zee.
**Bersambung...
Jangan lupa like, vote, kritik dan saran nya teman - teman.. 😊**
__ADS_1