
Satria terbangun pukul 10 pagi, ia tidak tau pukul berapa ia tidur semalam, semalam ia susah sekali tidur karena terus saja memikirkan Zee. Satria meraih ponselnya dan terkejut banyak nya pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Yuni. Kekasih gelap yang baru ia kenal sebulan lalu.
Satria tidak benar - benar mencintai Yuni, Yuni hanya pelarian nya semata. Walaupun hubungan mereka baru berjalan satu bulan, tapi hubungan Satria dan Yuni sudah terlalu jauh. Satria dan Yuni sudah berani melakukan hubungan badan. Awalnya Satria menolak, namun Yuni terus saja menggoda nya. Ya mana ada laki - laki yang tahan, apalagi Satria yang notabene juga tidak mencintai Zee, jadi buat apa juga dia harus menjaga nya untuk Zee. Satria tidak memikirkan lagi status nya saat itu.
" Hallo, ada apa? " Satria menghubungi kembali Yuni.
" Mas Satria kemana aja sih? aku tu udah dari semalam telpon sampe pagi ini juga gak di angkat telpon nya "
" Ya maaf, semalam aku ketiduran " jawab Satria asal.
" Oh ya deh,, oh ya Mas,, ketemuan yukk.. aku kangen "
" Baiklah "
Sambungan telepon mereka terputus, Satria sebenarnya malas bertemu Yuni, tapi ia ingin segera memutuskan hubungan nya dengan Yuni, maka dari itu ia setuju saja dengan ajakan Yuni.
Padahal di tempat lain, Yuni senang sekali karena akan bertemu dengan Satria.
Sekitar setengah jam lamanya, Yuni dan Satria bertemu di tempat biasa mereka kalau sedang ketemuan. Yuni adalah anak kampung sebelah, jadi Satria lah yang ke kampung sebelah untuk menemui Yuni.
Memakai topi dan juga masker, Satria menutupi wajah dan
juga kepalanya agar orang - orang tidak menyadari jika itu adalah dirinya. Begitu terus penampilan mereka saat bertemu.
" Mas, aku kangen " Yuni meraih kedua tangan Satria.
" Ada yang ingin aku bicarakan "
" Bicaralah Mas "
" Aku ingin hubungan kita berakhir "
" Maksud mu Mas? tidak Mas. Aku tidak mau "
" Aku tidak ingin hubungan kita terlalu jauh, kamu kan tau aku sudah berkeluarga "
" Lalu? bukannya Mas bilang tidak mencintai istri Mas, dan sudah bosan dengan pernikahan kalian "
" Sudahlah, jangan banyak bicara. ikuti saja mau ku " Satria mundur, berniat untuk meninggalkan Yuni. Namun Yuni dengan cepat memeluk Satria dari belakang. Tidak ada orang di sana, hanya mereka berdua.
Mereka bertemu di tempat yang biasa di adakan pasar malam, dan pasar malam itu di adakan sekali dalam seminggu. tempat nya berada agak jauh dari kampung, tempatnya di atas gunung. Hanya beberapa rumah saja yang ada di sana, itu pun rumah nya jauh dari pasar. Jadi kalau lagi tidak ada pasar malam, tempat itu sepi, tapi kalau ada pasar malam, dari pagi saja tempat itu sudah ramai.
" Aku tidak mau hubungan kita berakhir, aku sudah nyaman dengan Mas, aku kan udah bilang aku gak masalah dengan status Mas Satria "
Satria diam sejenak, membiarkan Yuni memeluk dirinya. Satria tidak menyadari jika dari kejauhan ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Siapa lagi kalau bukan Zhea dan Bulan.
__ADS_1
Mereka kebetulan pulang dari sekolah, Zhea sengaja menjemput Bulan karena ingin mengajak Bulan ke kampung sebelah untuk membeli gorengan yang katanya enak dan banyak sekali orang yang beli di sana. Karena Zhea penasaran, ia berniat membelinya.
Setelah membeli, Zhea mengajak Bulan berkeliling, salah satunya ke tempat pasar malam itu. Dan ternyata mereka harus di suguhkan dengan pemandangan yang tidak seharusnya mereka lihat, terutama Bulan. Walaupun penampilan Satria yang tertutup, Bulan bisa tau kalau itu ayahnya, karena kenal sekali dengan jaket dan topi yang ayahnya pakai.
" Kurang ajar Kak Satria " umpat Zhea, Zhea bersiap turun dari sepeda motornya, tapi Bulan menahan nya.
" Gak usah Onty, kita pulang aja, ceritain ini sama Bunda "
Zhea mengalah, apa yang di katakan Bulan benar, tidak ada gunanya juga ia kesana. Dan akhirnya mereka pulang. sesekali Bulan tampak menangis, ia menangis di sepanjang pulang menuju rumah nenek. Ia sedih melihat ayah nya di peluk oleh wanita lain.
Sesampai di rumah nenek, Bulan langusng turun dan berlari menemui Zee di dalam kamar. Bulan memeluk Zee, dan menangis sesegukan di pelukan Zee.
" Bulan, kenapa menangis?apa ada yang mengganggumu di sekolah? "
" Hiks.. Hiks.. Hiks... ayah.. ayah..., Bunda "
" Ayah? kenapa dengan Ayah mu?"
" Suami Mba kepergok sedang berpelukan dengan wanita lain tu di kampung sebelah, ya tepatnya aku sama Bulan yang mergoki mba "
" APA!!! " Zee benar - benar terkejut, untuk kedua kalinya Satria menunjukkan hal yang tidak seharusnya Bulan lihat.
" Karena itu kan Bunda gak mau ketemu Ayah? "
" Bukan Bulan, bukan itu. Sudah jangan menangis lagi ya nak, tidak usah memikirkan hal yang kamu lihat tadi, mungkin saja kamu salah nak "
" Iya Bunda mengerti, tapi Bulan jangan langsung berpikir yang negatif ya, nanti Bunda tanya sama Ayah. Siapa tau apa yang di lihat Bulan dan yang ada di pikiran bulan saat ini ternyata tidak sama dengan keadaan yang sebenarnya "
Bulan sudah tidak menangis lagi, ia hanya manggut - manggut mendengar penjelasan Bunda nya. Lalu ia keluar untuk pergi ke kamar mandi.
" Kak, apa yang kami lihat itu benar kak. Itu memang Kak Satria "
" Ya kakak tau "
" Eh.. kakak mau kemana? " tanya Zhea begitu melihat Zee beranjak dari tempatnya.
" Kakak mau pulang bentar "
Zhea hanya manggut - manggut.
Satria baru saja sampai di rumah, setelah melewati perdebatan panjang dengan Yuni, akhirnya Yuni mau menerima keputusan Satria.
Ceklek.. pintu terbuka.
" Zee " Satria semringah begitu melihat Zee, dari semalam ia sudah menunggu kedatangan istrinya.
__ADS_1
" Zee, ada yang ingin aku bicarakan " Satria mencoba mendekati Zee.
" Berhenti, jangan mendekat!!! "
" Kenapa Zee? "
" Aku pikir setelah pertengkaran kita kemarin, Mas mau merenungkan semua ucapan ku. Tapi ternyata tidak, aku salah. Mas malah semakin menjadi - jadi "
" Maksud mu apa Zee? "
" Apa Mas tidak tau? Bulan melihat Mas berpelukan dengan wanita lain di luar sana "
GLEK...Satria membulatkan kedua matanya, ia benar - benar terkejut.
" Kenapa Mas? kenapa diam? kaget? "
" Mas benar - benar keterlaluan, semua itu semakin membuat aku yakin untuk berpisah dengan Mas Satria "
Satria kembali terkejut, ia terkejut mendengar ucapan Zee yang ingin berpisah dengannya.
" Lebih baik Mas jelaskan kepada Bulan mengenai apa yang di lihat nya tadi "
Kali ini Zee tidak menangis, ia lebih kuat dari sebelumnya. Zee sudah bertekad untuk tidak menangis lagi di depan Satria. Karena ia tidak ingin membuang percuma air mata nya hanya untuk orang yang selama ini tidak pernah menganggapnya.
" Zee tunggu " Satria meraih lengan Zee begitu Zee ingin keluar dari rumah.
" Lepaskan "
Satria membawa Zee kedalam pelukan nya, Zee memberontak, tapi Satria malah memperat pelukan nya.
" Maafkan aku, maafkan aku Zee " itu yang terucap di batin Satria, entah mengapa sulit sekali Satria untuk mengucapkan nya secara langsung.
" Aku tidak ingin berpisah dengan mu, aku menemui wanita tadi karena aku ingin memutuskan hubungan ku dengan nya, dan semua sudah berakhir "
Zee terus saja memberontak, ia tidak perduli dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya, dan Satria mendorong Zee dan bersandar di dinding.
Satria menangkup wajah Zee, kini Zee dan Satria saling tatap. Sudah lama sekali mereka tidak pernah saling bertatapan dengan jarak dekat seperti ini.
Satria mulai mendekatkan wajahnya, dan berhasil menyambar bibir manis Zee. Pertahanan Zee mulai runtuh, namun seketika Zee sadar dan ia langsung menggigit bibir Satria sekuat - kuat nya hingga bibir Satria mengeluarkan sedikit darah.
" Aku tidak perduli dengan apa yang Mas Satria lakukan, aku akan tetap berpisah dengan Mas Satria " Zee langsung pergi dari rumah.
Satria termenung, padahal ia sudah terlena dengan ci uman nya tadi bersama Zee. Dan semua yang ia katakan tadi jujur apa adanya dan dari hati nya yang paling dalam.
" Aku benar - benar tidak ingin berpisah dengan mu Zee, aku tidak akan melepaskan mu "
__ADS_1
**Bersambung...
jangan lupa like, kritik dan saran nya ya.. 😊**