Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Celin beraksi


__ADS_3

Zhio duduk di samping istrinya yang sembari mengelus lembut pucuk kepala Zee. Zhio menunggu Zee hingga Zee terbangun dari tidurnya.


" Usia kandunganmu semakin bertambah, dan Abang sudah harus mempersiapkan semuanya. Sehari saja gak ketemu kamu , aku udah kebingungan Zee, gimana nantinya " batin Zhio sembari memperhatikan wajah cantik istrinya.


Zee mengeluh, dan menggerakkan sedikit tubuhnya. Kemudian perlahan Zee membuka kedua matanya. Zee tersenyum saat yang ia lihat pertama kali adalah suaminya Zhio.


" Sudah hampir magrib yang, ayo mandi "


Zee terkejut saat Zhio memberi tahunya kalau hari sudah menjelang magrib. Zee pun lantas duduk dan ingin beranjak ke kamar mandi.


" Eitttss...tunggu dulu "


Zhio menarik lengan Zee dan meminta Zee untuk kembali duduk.


" Baru habis bangun tidur, diam dulu beberapa menit yang "


" Tapi ini udah mau magrib bang, Abang sih kenapa gak bangunin aku dari tadi "


Zee memanyunkan bibirnya, kesal karena Zhio tak membangunkan nya lebih awal.


" Kamu tuh semakin cantik yang kalau manyun gitu "


Zhio menyentuh bibir Zee dengan jemarinya, membuat Zee tersenyum kecil.


" Gitu dong senyum, oh ya yang tadi Kevin ke datang cari kamu "


Mendengar nama Kevin membuat Zee kembali memanyunkan bibirnya.


" Tuh..manyun lagi " Zee kembali menyentuh bibir Zee dengan jemarinya. Namun kali ini tak membuat Zee tersenyum.


" Kevin udah cerita semua nya sama Abang, kamu percaya sama Kevin kan yang ? "


" Gak "


Jawaban Zee lantas membuat Zhio sedikit terkejut, Zhio lalu menggeser tubuhnya mendekati Zee.


" Kok kamu ngomong gitu yang ? "


" Aku gak percaya sama bang Kevin "


" Tapi yang, yang kamu lihat itu.. "

__ADS_1


" Sudah ahh bang, gak usah bahas itu ya. Pokoknya aku tuh gak percaya sama bang Kevin "


" Kamu kan tau Celin gimana yang, Celin tu begitu karena.... "


" Abang, udah gak ngomongnya. Aku tau kok kalau Dokter Celin yang duluan peluk bang Kevin, karena aku ngeliatnya posisi Kevin membelakangi Dokter Celin. Tapi tetap aja aku gak percaya sama bang Kevin, karena seharusnya dia tuh langsung lepasin pelukannya dari Dokter Celin, bukannya diam aja "


Zhio mengernyitkan keningnya, baru kali ini istrinya terlihat sangat marah. Dan tidak mau mendengarkan penjelasannya.


" Ya itu karena... "


" Abang,,,,,STOP "


Zee menaruh telunjuk tangannya di bibir Zhio, membuat Zhio berhenti bicara. Zee juga menatap Zhio dengan tatapan tajam, membuat Istrinya itu tampak menyeramkan.


" Udah gak usah bahas itu lagi, sekarang aku mau mandi "


Zee lalu pergi ke kamar mandi, Zhio hanya bisa diam dan membiarkan istrinya.


" Apa ini faktor kehamilan ? " tanya Zhio seorang diri , pasalnya istrinya itu sangat tampak berbeda.


Zhio menggeleng -gelengkan kepalanya, " Sepertinya ini akan sulit Vin " ucap Zhio.


Seperti dugaan Zhio, Celin mulai melancarkan aksinya. Baru saja tiba di rumah sakit, Kevin sudah kedatangan tamu yang menunggunya di luar ruangan kerjanya. Yaitu Celin yang melihatkan senyuman manisnya dari kejauhan saat melihat kedatangan Kevin.


Tak bisa menghindar, Kevin mau tak mau menghadapi Celin.


" Hei Vin " sapa Celin.


Kevin dengan wajah datarnya melihat sekilas ke arah Celin, kemudian setelah itu membuka pintu ruang kerjanya.


Celin yang tak peduli dengan sikap cuek Kevin, tetap ikut masuk ke dalam ruang kerja Kevin.


" Ada apa ke sini Cel ? "


" Aku..aku cuma pengen ngantarin ini ? "


Celin mengambil sebuah kotak bekal yang ada di dalam paperbag yang ia bawa.


" Cel, pulanglah. Aku gak perlu itu " tolak Kevin.


" Aku gak mau penolakan Vin, kamu sudah sarapan belum ? kalau belum makan sekarang yuuk "

__ADS_1


Celin berjalan ke arah Kevin dengan membawa kotak bekal yang ia bawa.


" Ma..u..apa kamu Cel ? "


" Mau suapin kamu, sedikit aja ya Vin "


Celin mengulurkan sesendok nasi ke arah Kevin. Kevin menutup kedua matanya, ia berusaha meredam amarahnya melihat kelakuan Celin.


" CUKUP CEL !! " Kevin menolak , lalu menjauhkan dirinya dari Celin.


" Ini gak bener Cel, kamu tau kan aku sudah punya istri "


Celin menaruh bekal yang ia bawa di atas meja.


" Iya Vin, aku tau kok kamu udah nikah. Dan istri kamu lagi kuliah ya di luar negeri. Bener ya ? nah.. karena istri kamu lagi di luar negeri, pasti gak ada yang perhatian lagi sama kamu kan. Jadi sebagai seorang sahabat aku pengen bantu kamu, merhatiin sarapan kamu, makan siang kamu "


Celin pintar sekali mencari alasan, dan menjadikan kata sahabat adalah tamengnya.


" Tapi tetap aja ini gak bener Cel, kita punya batasan. Walaupun istri ku jauh dan gak tau, Allah tau Cel, dan aku harus menjaga perasaan istriku "


" Hahahaha "


Celin justru tertawa , dan sontak membuat Kevin bingung melihat sikap Celin.


" Jangan bilang kamu takut kalau istri kamu tau, dan kamu pikir aku mau jadi pengganggu rumah tangga kamu gitu ? hahaha...kamu tuh mikirnya kejauhan Vin "


" Aku tuh sadar Vin, aku tau kamu sudah nikah, cuma sebagai sahabat aku justru pengen support dan kasih kamu perhatian. Itu aja gak lebih, ya sebenarnya aku kasihan sih sama kamu. Secara kalian tuh baru nikah, tapi kamu malah di tinggal. Berat banget pasti ya kan ? "


Celin menutup kembali kotak makan yang ia bawa lalu menaruh nya di atas meja kerja Kevin.


" Tapi its okey, aku gak masalah kok. Sedih juga sih sebenernya kamu justru berpikir gak baik sama aku, padahal aku niatnya gak gitu, pengen jadi Sabahat yang baik aja buat kamu "


Kedua mata Celin tampak berkaca-kaca setelah mengatakan itu kepada Kevin.


" Oke kalau gitu aku pergi , ini bekal nya jangan lupa di makan ya "


Celin tersenyum ke arah Kevin sebelum ia pergi.


Kevin mengelus - elus dadanya saat Celin sudah pergi, merasa tenang setelah Celin tak ada.


" Zhio benar, aku harus kuat menghadapi Celin. Celin sangat pintar sekali mencari alasan dan mengelak " batin Kevin.

__ADS_1


__ADS_2