
Perselisihan terjadi antara kedua orangtua Zee. Ayah Zee dan juga Zhea tidak menginginkan Zhea untuk menikah, apalagi mengingat Zhea yang baru saja lulus dan ingin kembali melanjutkan study nya. Dan kemungkinan tidak akan merestui pernikahan Kevin dan Zhea.
Sedangkan sang ibu sangat antusias dan menyetujui Zhea untuk menikah. Sejak bercerai, kedua orang tua Zee dan Zhea tidak pernah saling berhubungan lagi. Terakhir mereka bertemu saat pernikahan Zee dan Zhio, dan hari ini kembali bertemu untuk membahas anak mereka yang akan di lamar oleh seseorang.
Terjadi perdebatan di ruang tamu antara kedua orang tua Zee dan Zhea, di sana juga ada Zee dan Zhio.
" Ayolah Bayu, anak kita sudah cukup umur untuk menikah. Lagipula dengan menikah, maka kita tidak perlu repot lagi menjaganya, akan ada suaminya yang akan menjaganya " ucap Ibunya Zee.
" Lalu, bagaimana dengan kuliahnya, masa depan Zhea masih panjang. Kita tidak harus terburu-buru seperti ini kan ? Lagipula Zhea, kenapa dia tidak langsung menolak saja permintaan lelaki itu "
Pak Bayu sedikit kesal karena Zhea tidak langsung menolak permintaan Kevin. Justru memberi harapan, padahal jika saja Zhea menolak , pasti tidak akan sesulit ini.
" Itu karena anak kita Zhea sudah siap untuk menikah, hargailah keputusan nya Bayu, anak kita sudah beranjak dewasa, justru dengan menikahkan dia, kita menjauhkan yang namanya Zina. Dan mengenai kuliahnya, kita bisa bahas nanti, calon suaminya juga pasti tidak akan melarang Zhea untuk kuliah "
Zee selalu merasa sedih kalau melihat kedua orangtua nya seperti ini. Ketika bertemu selalu bertengkar, membuat Zee jadi ingat masa lalunya saat ia masih kecil dimana kedua orangtuanya selalu bertengkar bahkan juga sering tidak bertegur sapa.
" Iya, tapi tetap saja aku tidak menginginkan Zhea menikah secepat ini, dia harus lulus kuliah dulu, bekerja, menghasilkan uang sendiri, dan aku yakin tidak perlu di cari pun laki-laki akan mencari Zhea dan akan menikahinya "
" Kamu tidak belajar pengalaman dari anak kita Zee, kamu masih terus mengekang dan meminta anak mu untuk selalu mengikuti perintah mu. Anak kita bukan anak kecil lagi Bayu "
" Bapak, ibuk, sudah ya jangan berkelahi lagi "
Bapak dan ibu Zee terdiam dan melihat ke arah Zee dan Zhio. Karena tersulut emosi, mereka berdua tidak sadar kalau menantu mereka juga berada di sana, mereka berdua merasa malu karena Zhio melihat pertengkaran keduanya.
" Pokoknya aku menyetujui Zhea untuk segera menikah. Bukannya lelaki yang ingin menikahi Zhea itu sahabat nya Zhio kan ? benar itu Zhio ? kamu setuju kan ? ibu yakin sahabat kamu itu juga baik dan bertanggung jawab seperti kamu " ucap Ibu Zee sembari melihat ke arah Zhio.
Zhio tersenyum, ini saatnya untuk dirinya berbicara.
" Benar Pak, Bu, Kevin adalah sahabat saya bahkan sudah saya anggap seperti saudara sendiri. Saya bersahabat dengan Kevin sejak kecil sampai sekarang, Zee juga mengenal Kevin karena dulu kami pernah satu sekolah saat masih duduk di bangku SMP "
" Kevin seorang Dokter, Pak, Bu. Sama seperti saya, Dokter spesialis bedah yang bekerja di tempat Zee magang saat ini. Saya sangat mengenal Kevin, Pak, Bu. Kevin itu orangnya begitu bertanggung jawab dan sangat mandiri, saya yakin dia pasti bisa membimbing Zhea dengan baik "
" Dan menurut saya, untuk kuliah Zhea nantinya. Biarlah dia dan Zhea yang menentukan Pak, Bu, saya yakin Kevin tidak mungkin membatasi Zhea dan melarang Zhea untuk melanjutkan pendidikannya "
" Tu, kamu dengar sendiri kan Bayu. Tidak ada yang perlu kamu khawatir kan. Anak kita tidak akan menikahi sembarang orang, lelaki ini juga seorang dokter " jelas Ibu Zee sembari melihat ke arah Pak Bayu.
" Biarkan Zhea memilih sendiri jalan hidupnya ya Pak, Zhea sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupnya. Seperti ibu bilang, kalau Zhea menikah, setidaknya kita sudah menjauhkan Zhea dari hal yang tidak diinginkan. Dan akan ada yang selalu menjaga Zhea pak " tambah Zee.
Pak Bayu terdiam, ia kembali memikirkan semua ucapan mantan istri, anak dan menantunya.
" Bapak mau masuk ke kamar dulu Zee " ucap Pak Bayu.
__ADS_1
" Eh..Bayu, mau kemana kamu. Kita belum selesai bicara, kita harus menyepakati nya sekarang . Tidak ada waktu lagi " teriak Ibu Zee kepada Pak Bayu.
Pak Bayu terus berjalan dan masuk ke dalam kamarnya. Tidak menghiraukan teriakan dari mantan istri nya itu.
" Bapak kamu selalu begitu Zee " umpat Ibu Zee.
" Sabar Bu, nanti Zee coba ngomong lagi sama bapak "
" Kita tu udah gak ada waktu lagi Zee, besok kedua orangtuanya lelaki itu datang. Bagaimana nantinya kalau Bapak kamu itu menolak, keluarga mereka akan malu. Lebih baik di putuskan sekarang, kalau dia tidak setuju, kita bisa memberi tahu lelaki itu agar tidak perlu repot-repot kerumah kita. Tapi..padahal ibu sangat berharap Zee, ibu tadi sudah bicara dengan Zhea. Dan Zhea begitu mantap dan yakin untuk menikah, setidaknya kalau Zhea menikah, ibu tidak perlu mengkhawatirkan nya lagi Zee " jelas ibu Zee panjang lebar.
" Ya Bu, Zee nanti coba ngomong lagi sama bapak kok "
" Gimana kalau kamu telepon saja sahabat kamu itu Zhio, bilang kalau kita sudah menerima nya. Tidak usah suruh dia datang kerumah kita. Mereka tidak perlu bertemu Bayu " ucap ibu Zee asal, ibu Zee memang selalu barbar dan terkadang tidak berpikir dulu sebelum berkata.
" Ibu, kenapa jadi mikirnya kayak gitu "
" Kenapa emangnya Zee ? ibu sudah merestui Zhea "
" Iya Bu, tapi tetap restu kedua orangtua itu penting. Bapak itu akan jadi wali nikahnya Zhea buk, gak mungkin kita bilang iya iya aja , sedangkan bapak gak tau dan gak setuju "
" Huff...merepotkan sekali "
Zhio hanya diam memperhatikan Zee dan ibunya berbicara, Zhio baru tau kalau ibunya Zee ini ternyata orangnya sedikit barbar dan pemarah, walaupun Zhio tau di balik semua itu mertuanya ini adalah yang paling mengerti dan selalu mendukung keputusan anaknya.
" Ya Bu "
" Zhio, ibu pulang dulu ya nak "
" Iya Bu "
Zhio dan Zee mengantar ibu mereka sampai keluar rumah. Setelah ibunya pergi, Zee mendorong kursi roda Zhio dan membawa Zhio masuk ke dalam kamar mereka. Malam ini Zee dan Zhio tidur di rumah Pak Bayu.
Zee menjongkong lalu menadahkan kepalanya di paha Zhio. Zhio masih berada di kursi roda.
" Maaf ya bang, Abang harus liat pertengkaran bapak sama ibuk tadi "
Zhio tersenyum lalu mengelus - elus lembut pucuk kepala Zee.
" Mereka seperti itu terus kalau ketemu ? " tanya Zhio dan di balas anggukan oleh Zee.
" Dari dulu selalu gitu bang, dari aku kecil sampai akhirnya bapak sama ibu pisah, ya sampai sekarang " ucap Zee.
__ADS_1
Zhio merasa terpukul mendengar ucapan Zee, ternyata istrinya memilki kenangan yang buruk sejak kecil. Hidup dalam keluarga yang broken home memang tidak mudah, Zhio bersyukur memiliki istri yang kuat seperti Zee.
" Abang ngerti sayang, Abang cuma terkejut karena ternyata Abang punya mertua yang sedikit barbar "
Zee mendongakkan kepalanya saat mendengar ucapan Zhio.
" Maksud Abang ibuk ? " tanya Zee dan di balas anggukan oleh Zhio.
Zee terkekeh, " ibu memang seperti ibu bang, tapi aslinya ibu itu sangat baik " ucap Zee.
" Iya sayang, Abang tau kok "
Zhio menarik kedua tangan Zee, Zee terpaksa harus berdiri dan tidak menjongkok lagi.
Zhio menarik lengan Zee dan melingkarkan tangan Zee di lehernya.
" Jangan jongkok gitu, nanti anak kita kejepit " ucap Zhio sembari terkekeh.
" Kan bagus bang kalau ibu hamil sering jongkok, biar persalinannya mudah bang "
Zee mendekatkan wajahnya ke wajah Zhio, dan bergelayut manja. Zhio menangkup wajah Zee dan mengelus lembut kedua pipi sang istri.
" Kamu selalu bisa cari alasan " ucap Zhio.
Zee terkekeh lalu memeluk Zhio. Mereka berpelukan bahkan dengan saling memejamkan kedua mata mereka. Zhio berulang kali menciumi pipi Zee.
" Gimana bapak ya bang " ucap Zee.
" Mau taruhan sama Abang ? tanya Zhio.
" Taruhan ? "
" Iya, kamu percaya gak kalau besok bapak pasti menerima lamaran Kevin " ucap Zhio dengan yakin.
" Kenapa Abang seyakin itu ? "
" Yaa..Abang cuma yakin aja "
Zee tersenyum lalu menepuk pelan dada suaminya.
" Alasannya gak akurat " ucap Zee lalu kembali memeluk Zhio.
__ADS_1
Zhio juga tersenyum lalu mempererat pelukannya kepada Zee.