Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Help me Bang Zhio


__ADS_3

Zee dan Zhio dalam perjalanan pulang ke rumah, namun saat di perempatan jalan Zhio justru berbelok ke arah lain bukan ke arah rumah mereka.


" Loh bang kita mau kemana ? " tanya Zee heran.


" Ke suatu tempat " ucap Zhio.


Zee hanya diam dan mengikuti kemana Zhio membawanya. Dan ternyata Zhio membawa Zee ke sebuah toko yang menjual berbagai kacamata.


" Ayo turun sayang " ajak Zhio yang turun terlebih dahulu dari mobil lalu membuka pintu untuk Zee.


" Ngapain ke sini bang ? Abang mau beli kacamata ? mau periksa mata Abang ? emangnya mata Abang minus ? " ucap Zee melontarkan banyak pertanyaan kepada Zhio.


" Bukan Abang , tapi kamu yang " ucap Zhio.


" Aku ? " tanya Zee bingung.


" Iya sayang "


Zee tercengang melihat banyaknya kacamata yang terpajang di etalase kaca, dengan model kacamata yang cantik - cantik.


" Saya ingin bertemu dengan Dokter Steven " ucap Zhio kepada salah satu karyawan toko.


Toko tersebut bukan hanya menjual kacamata , namun terdapat Dokter spesial mata yang langsung menangani, bisa untuk pengecekan mata saja atau lainnya.


" Ada dokternya juga bang ? " tanya Zee.


" Iya yang, kamu gak liat tulisan di palang depan " ucap Zhio.


" Gak bang " ucap Zee.


Salah satu karyawan memberi tahu jalan untuk menemui Dokter Steven.


" Silahkan masuk pak " ucap karyawan toko.


Zhio pun masuk bersama Zee.


" Waw...Zhio... !! " ucap Dokter Steven.


Dokter Steven adalah teman sejawat Zhio semasa kuliah, namun mereka mengambil jurusan spesialis yang berbeda.


" Heii Steven, bagaimana kabarmu ? " tanya Zhio, mereka saling bersalaman dan berpelukan.


", Baik, sangat baik. Dan kau.. sepertinya aku tidak perlu bertanya lagi ", ucap Dokter Steven sembari melihat ke arah Zee.

__ADS_1


" Seperti yang kau lihat, oh ya ini istri saya Zee " ucap Zhio memperkenalkan Zee kepada Dokter Steven.


Zee tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan Dokter Steven, Zee tidak ingin berjabat tangan lagi dengan sembarang orang terutama laki-laki yang bukan mahramnya. Zhio tersenyum melihat hal itu.


" Salam kenal, Zhio sudah bercerita tentang anda. Dan ternyata Zhio tidak salah pilih , anda memang sangat cantik " ucap Dokter Steven, memuji kecantikan Zee di depan Zhio. Dokter Steven memang terkenal playboy dan sangat pintar mengutarakan kata-kata romantis, sudah biasa terdengar oleh Zhio. Dan hal ini sudah pasti di duga oleh Zhio sebelum mereka datang.


" Baik, kita langsung cek saja ya " pinta Dokter Steven.


Zee pun hanya menuruti perintah , di temani Zhio , Zee memeriksakan gangguan pada kedua matanya.


" Minus pada mata istrimu cukup tinggi Zhio, aku akan menyarankan memakai kontak lens agar istrimu tidak selalu memakai kacamata " ucap Dokter Steven.


" Dan maaf , karena minus pada mata istrimu , kemungkinan melahirkan normal akan berakibat fatal, kalian mengerti kan. Tapi kalian bisa konsultasikan nanti bersama dokter kandungan kalian " ucap Dokter Steven berterus terang.


Terlihat sedikit kekhawatiran di wajah Zee, ia tahu akan hal itu. Tapi ia tak pernah berpikir jika minus di kedua matanya sudah terlalu tinggi dan akan berefek pada proses kelahirannya nanti.


Cukup lama berkonsultasi, Zhio dan Zee keluar dari ruangan Dokter Steven, Zhio juga sudah tidak tangan mendengar kata - kata gombalan Dokter. Steven yang ia tujukan untuk Zee. Padahal hal itu tidak bersungguh - sungguh Dokter Steven lakukan , ia mengerti kalau Zee itu sudah menjadi milik Zhio. Dokter Steven tidak ada niat untuk merebut Zee, ia hanya berniat mengganggu Zhio dan membuat Zhio cemburu karena ulahnya.


Zee pun mencoba kontak lens yang di resepkan oleh Dokter Steven, dan benar Zee bisa melihat dengan jelas tanpa kacamata.


" Gimana sayang ? " tanya Zhio.


" Jelas banget bang " ucap Zee.


" Iya makasih ya bang ",


" Sama-sama sayang "


******


Rutinitas malam seperti biasa sebelum tidur , Zhio dan Zee saling bercerita mengenai kegiatan mereka hari ini.


" Bang, mengenai ucapan Dokter Steven.. " ucap Zee.


" Kamu mikirin itu dari tadi " ucap Zhio.


" Iya bang " ucap Zee.


Zhio merapatkan pelukannya kepada Zee sembari mengelus lembut punggung Zee.


" Abang mengerti kekhawatiran kamu, Abang juga begitu. Dua hari lagi kan jadwal cek kandungan kamu, nanti kita konsultasikan ya sayang " ucap Zhio dan di balas anggukan oleh Zee.


" Mau nanti normal ataupun Caesar , aku gak masalah bang , yang penting anak kita selamat bang, lahir dengan sehat " ucap Zee.

__ADS_1


" Aamiin, in syaa Allah. Jangan lupa untuk selalu berdzikir dan berdoa di setiap saat ya sayang. Agar Allah selalu melindungi kamu dan anak kita , dan Allah permudah kelahiran kamu nanti " ucap Zhio.


" Iya bang , Hoaaamm...aku udah ngantuk bang " ucap Zee, Zee memang tidak bisa bertemu dengan bantal, pasti cepat sekali mengantuk dan tak lama tertidur.


" iya yang, ya udah tidur ya " ucap Zhio sembari mengelus - elus pinggang Zee, hal itu membuat Zee justru semakin cepat tertidur.


Tok..tok..tok..tok..tok...


Suara ketukan pintu membuat Zhio terkejut, padahal baru saja Zhio ingin memejamkan kedua matanya. Karena Zee sudah tertidur, perlahan Zhio melepas pelukannya dari Zee dan turun dari atas tempat tidur untuk segera membuka pintu.


" Abang... !! " teriak Tasya setelah Zhio membuka pintu.


" Tasya, kenapa teriak-teriak gitu udah malam " ucap Zhio, menutup pintu dan berbicara dengan Tasya di luar kamar, tidak ingin suara ribut Tasya membangunkan Zee.


" Masa aku teriak-teriak bang, perasaan aku manggil Abang gak teriak " ucap Tasya.


" itu perasaan kamu, kenapa, kenapa ketuk pintu kamar Abang , udah malam juga orang udah pada istirahat " ucap Zhio.


" Hehehe...Abang, hmm..help me bang, help me, bantuin Tasya ngerjain laporan Tasya dong bang, susah banget bang, Tasya bingung mau mulai dari mana "


" Kamu yang punya tugas, kenapa Abang yang ngerjain " ucap Zhio sembari terkekeh.


" Ayolah bang, nanti aku traktir deh ya bang, mau minta bantuan Zhea, Zhea juga bingung bang, soalnya materinya punya aku sama Zhea tu beda. Abang kan orangnya pinter, pasti bisa ngerjain bantuin aku. Ya bang, please bang , besok udah harus di kumpul bang !!! " ucap Tasya sembari memohon.


" Kamu tu kebiasaan dari dulu, udah mepet banget baru mau di kerjain " omel Zhio.


" Tasya tu udah ngerjain lama bang, cuma gak kelar-kelar, please bang, bantuin Tasya yah, ya bang please bang,please...please... " mohon Tasya.


Zhio hanya menggelengkan - gelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik.


" Iya..iya..kakak bantuin, ayo cepat " ucap Zhio lalu beranjak ke kamar Tasya.


" Yeeyyy .. makasih Abang " ucap Tasya lalu naik ke punggung Zhio, Zhio tersenyum lalu menggendong Tasya, Tasya sudah seperti anak kecil yang berada di punggung Zhio.


" Kamu kok berat banget sekarang dek " ucap Zhio.


" Masa sih bang, perasaan gak deh " ucap Tasya dengan santainya keenakan di gendong oleh Zhio. Hal yang sebenarnya sering ia lakukan bersama Zhio, Tasya memang sangat manja kepada Zhio, dan paling suka juga mengerjai abangnya.


" Kamu tuh perasaan terus, baperan " ucap Zhio terkekeh.


" Ihh...sorry ya bang, gak level baperan " ucap Tasya.


Sesampai di depan kamar Tasya, Tasya lalu turun dari punggung Zhio. Zhio pun segera membantu sang adik mengerjakan tugasnya, Zhio hanya membantu menjelaskan sedikit yang harus Tasya perbaiki, sedangkan keseluruhan tugas Tasya lah yang menyelesaikannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2