Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Zee cemburu


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal cek kandungan Zee , sebagai suami siaga, tentu Zhio selalu menemani Zee. Kali ini Zhio dan Zee juga membawa Bulan bersama mereka , Bulan begitu antusias karena ingin melihat sang adik walaupun hanya sebatas layar monitor.


Sebenarnya bukan hanya Bukan yang antusias, Tasya dan Bulan pun juga antusias untuk ikut. Namun karena ujian semakin dekat, Tasya dan Zhea terpaksa mengurungkan diri karena harus belajar dan mengerjakan banyak tugas sekolah.


Zhio, Zee dan Bulan menunggu di depan ruang Dokter, ikut menunggu nama Zee di panggil, menunggu dan mengantri seperti pengunjung lainnya.


" Dokter Zee , silahkan masuk " ajak salah satu perawat yang mengenal Zee.


Zee memeriksa kandungannya di rumah sakit tempat ia magang , rumah sakit dimana Zhio dulu bekerja. Jadi pantas saja jika perawat - perawat di sana mengenal Zee dan Zhio.


" Silahkan duduk " pinta Dokter Rena, Dokter kandungan yang baru , karena Dokter yang sebelumnya sedang melaksanakan cuti, jadi Dokter Rena tidak mengenal Zee dan Zhio.


" Maaf, kata perawat anda seorang Dokter, dan suami anda juga, anda juga bekerja di sini ya, perkenalkan saya Dokter Rena, jadi saya panggil dengan sebutan Dokter atau bagaimana ? " tanya Dokter Rena dengan ramah.


" Gak perlu Dokter , anggap kami seperti pasien pada umumnya " ucap Zee.


Dokter Rena menaruh kagum pada Zhio , karena menurutnya Zhio sangat tampan. Ya walaupun sebenernya kebanyakan kaum hawa jika bertemu Zhio pasti berdecak kagum.


Diam-diam Zee bisa melihat pandangan berbeda dari Dokter Rena kepada sang suami. Zee pun merasa sedikit kesal.


" Bagaimana Dok ? kita langsung periksa sekarang saja ya " ucap Zee lalu beranjak dari duduknya.


" Baiklah Bu Zee " ucap Dokter Rena.


" Bulan, ayo sini nak " ucap Zhio, mengajak Bulan untuk berdiri di sampingnya, agar bisa melihat lebih jelas ke layar monitor untuk melihat sang adik.


Saat pemeriksaan di mulai , Bulan begitu antusias dan senang saat melihat adiknya di layar monitor. Walaupun kurang jelas, tapi Bulan sudah semringah apalagi saat mendengar detak jantung. adiknya saat Dokter Rena melakukan pemeriksaan detak jantung.


" Alhamdulillah , jantung bayinya berdetak normal dan berat badannya juga masih normal Bu, dan jenis kelaminnya laki-laki " ucap Dokter Rena.


" Alhamdulillah " ucap Zhio dan Zee bersamaan.


" Alhamdulillah, berarti adik Bulan cowok dong Bun " ucap Bulan semringah.


" Jadi adik ini calon kakak si dedek bayi ? " tanya Dokter Rena.


"Iya Dokter " jawab Bulan.


Selesai memeriksa Zee, Dokter Rena kembali ke meja kerjanya. Zhio dan Zee juga membahas mengenai mata Zee waktu itu, dan Dokter Rena mengatakan bahwa Zee masih bisa melahirkan dengan proses normal.


" Karena tekanan darah ibu Zee sedikit rendah,saya resepkan vitamin dan penambah darahnya ya bu. Jangan terlalu lelah dan harus makan - makanan yang bergizi " jelas Dokter Rena.


" Baik Dokter, Terima kasih " ucap Zee.


Dokter Rena pun bersalaman dengan Zee, dan selanjutnya mengulurkan tangannya kepada Zhio. Namun Zhio hanya membalas uluran tangan Dokter Rena dengan senyum tipis dan menyatukan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Dokter Rena kembali terpesona dan takjub dengan sikap Zhio. Bagaimana Zhio begitu menjaga dirinya dari yang bukan mahramnya.


Tatapan Dokter Rena kepada Zhio membuat Zee kembali kesal.


" Aku mau ke toilet dulu bang " ucap Zee.


" Abang temenin ya ? " pinta Zhio.


" Gak usah bang, biar aku sama Bulan aja " ucap Zee.


Zhio pun menunggu Zee , sembari menunggu , Zhio memainkan ponselnya sambil berdiri dan bersandar di dinding.


Dari kejauhan Celin bisa mengetahui jika seseorang yang sedang berdiri dan bersandar di dinding itu adalah lelaki idamannya Zhio.


" Zhio " sapa Celin, dan Zhio terkejut saat melihat Celin yang berdiri di depannya.


Zhio pun memasang wajah datarnya di depan Celin.


" Zhio, kamu..kamu ngapain ke sini ? sama siapa ? " tanya Celin sembari celingukan melihat kekiri dan ke kanan mencari seseorang yang mungkin bersama Zhio.


" Bersama Zee , aku permisi " ucap Zhio ingin pergi dari hadapan Celin.


" Zhio tunggu " ucap Celin dan tanpa sengaja menyentuh dan menarik lengan Zhio. Dan saat sadar langsung menarik kembali tangannya dari lengan Zhio.


Zhio menarik nafas panjang lalu ingin kembali melangkah, " Zhio, tunggu " ucap Celin kembali.


" Ada apa ? " tanya Zhio.


" Aku..aku ingin minta maaf Zhio " ucap Celin.


" Maafkan aku, aku minta maaf Zhio, karena selama ini aku selalu berbuat jahat kepada Zee. Dan aku juga pernah membohongimu " ucap Celin.


Zhio hanya diam, sana halnya seperti Zee. Zhio masih merasa tidak yakin apakah benar Celin sudah sadar dan menyadari kesalahannya. Atau semua ini adalah awal untuk Celin berulah lagi.


" Aku sudah meminta maaf juga kepada Zee beberapa hari lalu, aku sebenarnya sudah lama mencarimu Zhi, dan akhirnya aku bisa bertemu kamu di sini " ucap Celin.


" Allah sangat menyukai orang yang meminta maaf, apalagi yang memaafkan. Semoga kamu benar-benar menyadari kesalahanmu Cel, dan menjadi lebih baik " ucap Zhio.


Celin tersenyum dan senang, walaupun Zhio tidak berkata secara langsung bahwa ia memadukan Celin, tapi dari ucapannya bisa di artikan jelas bahwa Zhio sudah memaafkan Celin.


" Maaf cel, aku pergi dulu. Aku tidak bisa berlama-lama, tidak ingin menimbulkan fitnah " ucap Zhio lalu berlalu meninggalkan Celin.


" Terima kasih Zhio " ucap Celin dari kejauhan.


Zhio berjalan menyusul istri dan anaknya di toilet , sepanjang jalan beberapa perawat dan petugas rumah sakit menyapa Zhio, dan Zhio pun membalas sapaan mereka dengan hangat.

__ADS_1


" Loh Bi, Abi udah lama nunggu di sini ? " tanya Bulan saat melihat Zhio yang sudah berada di depan toilet.


" Gak Bulan , baru aja " ucap Zhio.


Zee hanya menatap sang suami lalu berjalan terlebih dahulu, ada yang aneh menurut Zhio. Tapi Zhio tidak ingin berpikir negatif dengan sang istri.


" Kita langsung pulang atau jalan dulu yang ? " tanya Zhio kepada Zee.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang.


" Terserah aja bang " ucap Zee tanpa melihat Zhio, pandangan Zee fokus ke sebelah kiri menatap kendaraan yang lalu lalang dari balik jendela mobil.


" Bulan mau jalan dulu, atau mau beli jajan ? " tanya Zhio kepada Bulan.


" Beli jajan dulu deh Bi, hehe. Tadi kak Tasya dan Kak Zhea nitip martabak manis Bi ", ucap Bulan.


" Baiklah , kita meluncur " ucao Zhio dengan nada tertawa, membuat Bulan terkekeh.


Dan lagi, Zee hanya diam dan tentu membuat Zhio semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan sang istri.


" Yang, kamu mau martabak manis juga ? " tanya Zhio.


" Gak bang " ucap Zee.


" Ya udah kamu tunggu di mobil ya, Abang sama Bulan aja yang turun " ucap Zhio.


" Iya "


Zhio dan Bulan turun dari mobil untuk membeli martabak manis. Zhio membeli tiga porsi martabak manis. Dua porsi untuk orang di rumah, dan satu lagi khusus untuk sang istri.


" Bulan, tunggu di sini ya, Abi mau ke mobil dulu " ucap Zhio.


" Oh iya bi " ucap Bulan.


Zhio kembali ke mobil, dan ternyata di dalam mobil Zee justru tertidur. Zhio tersenyum mengelus lembut pipi sang istri. Zhio pun memperbaiki kursi mobil dan menurunkannya sedikit agar Zee bisa lebih nyaman tidurnya.


" Apa kamu lagi kelelahan sayang ? " ucap Zhio , mengambil selimut yang ia simpan di kursi belakang lalu menyelimuti Zee.


Padahal Zhio ingin mengajak Zee ngobrol sekaligus ingin tau kenapa sang istri terlihat sedikit berubah karena semenjak di rumah sakit tadi hanya diam saja, tapi karena Zee tertidur hal itu pun di urungkan, Zhio merasa mungkin Zee hanya lelah sehingga Zee tidak banyak bicara, padahal sebenarnya Zee sedikit kesal dengan Zhio karena pertemuan mereka dengan Dokter Rena.


Apalagi melihat Dokter Rena yang menatap Zhio dengan tatapan yang berbeda.


Bersambung..


Maaf ya readers baru up , jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini 😘

__ADS_1


__ADS_2