
Sebelum kembali ke kota, Zhio dan Zee menyempatkan diri untuk berpamitan dengan Pak Bayu.
" Zee pulang ya pak " ucap Zee sembari mencium punggung tangan Pak Bayu, di susul Zhea, Bulan, Tasya dan terakhir Zhio.
" Zhio, bapak ingin berbicara sebentar dengan kamu " pinta pak Bayu.
" Bicara apa Pak? " tanya Zee.
" Tidak apa Zee, hanya antara Bapak dan Zhio. Kamu tunggu di mobil saja "
" Hmm..ya udah deh pak, kalau gitu Zee tunggu di mobil ya bang " ucap Zee dan di balas anggukan oleh Zhio.
" Kak, bapak mau ngomong apa sama bang Zhio?" tanya Zhea, kini mereka semua sudah di dalam mobil dan sedang memperhatikan Pak Bayu dan juga Zhio yang sedang berbincang.
" Zhio "
" Yang pertama memeluk putriku adalah aku, bukan kamu. Yang pertama mencium putriku adalah aku, bukan kamu. Yang pertama merawat putriku adalah aku, bukan kamu. Tapi, bapak berharap kamu menantuku, akan jadi orang yang menemani putriku seumur hidupnya. Jangan kau sakiti dia, apalagi perasaan nya, sudah cukup hati nya sakit karena perceraian bapak dan ibu nya Zee, sudah cukup juga mantan suami nya yang dulu menyakitinya, sudah terlalu banyak luka di hati anak bapak, bapak mohon sayangi dan cintailah dia dengan tulus "
Kedua bola mata Pak Bayu terlihat memerah menahan air mata nya saat memberi nasihat kepada Zhio.
" Bila suatu saat nanti kamu tidak mencintainya lagi, jangan beritahu dia, beritahu bapak. Karena bapak lah yang akan membawa nya pulang "
Zhio tersenyum lalu memeluk Pak Bayu. " Saya mencintai anak bapak, saya mencintai Zee pak. InsyaAllah saya akan menjaga Zee, akan terus mencintainya, menyayanginya hingga akhir hayat saya pak. Saya tidak akan menyakiti nya "
Pak Bayu begitu senang mendengar ucapan Zhio , dan berharap Zhio benar - benar menepati janji nya. Hanya itu saja yang ingin Pak Bayu sampaikan, setelah itu Zhio pamit dan kembali ke mobil.
" Bapak ada ngomong apa bang?" tanya Zee yang penasaran, ya walaupun sebenarnya bukan hanya Zee yang penasaran. Zhea, Tasya dan Bulan juga begitu.
" Gak ada sayang, cuma masalah bisnis aja " Zhio tersenyum lalu mulai menjalankan mobil nya.
" Ciehhh.....abang..sayang..sayangan nih.." ucap Tasya sembari terkekeh.
" Kenapa sih dek? emangnya salah kalau abang manggil Zee sayang "
__ADS_1
" Ya gak sih, justru kita senang.Ia kan Zhe, Bulan?" Zhea dan Bulan mengangguk setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Tasya.
Perjalanan yang cukup memakan waktu membuat tiga gadis cantik yang duduk di belakang tertidur, suara ribut yang tadi terdengar di antara ketiga nya karena terus saja berbicara pun hilang dan membuat suasana menjadi sepi.
" Akhirnya mereka tidur juga ya bang, dari tadi gak berhenti ngoceh. Apalagi Tasya, bang " ucap Zee.
" Iya sayang, Tasya itu orang nya memang berisik. Dia juga jago banget kalau beradu pendapat, selalu ada aja jawaban dari dia "
" Hehehe...ia bang, cocoknya Tasya jadi pengacara aja bang. Oh ya bang, emang nya Bapak sama abang bicarain bisnis apa? aneh banget bang, kok bapak malah bicarain bisnis sama abang? "Zee masih belum percaya dengan apa yang tadi di ucapkan oleh Zhio. Bisnis? Zhio kan dokter? bukan pengusaha, bisnis apa yang bapak dan suami nya bicarakan? dalam benak Zee terus bertanya, Zee belum tau saja kalau sebenarnya suami nya itu bukan hanya merangkap sebagai dokter, tapi juga seorang CEO. Ya walaupun sebenarnya bukan bisnis yang Zhio bicarakan dengan Pak Bayu, semua hanya alasan Zhio saja.
" Bisnis mengenai rencana bapak yang ingin segera mendapat cucu dari kita " Zhio meraih tangan Zee dan menyatukan jemari - jemari tangan mereka.
Mendengar ucapan Zhio, kedua pipi Zee memerah. Sedangkan Zhio tampak senyum - senyum saja dan tetap fokus mengendarai mobil nya.
" Emang ada bisnis begituan bang, aku gak percaya deh bang. Serius na bang, bapak ada ngomong apa sama abang ? Gak ada yang aneh - aneh kan bang ? "
" Gak ada sayang, abang serius ni. Bapak betulan ngomong gitu, maksud kamu bapak ngomong aneh gimana? gak boleh suudzon sama orang tua sendiri "
" Bukan nya gitu bang, aku penasaran aja "
" Apaaan sih abang " ucap Zee lalu tersenyum kepada Zhio.
" Gitu dong senyum, kan cantik " ucap Zhio sembari mengelus - elus kepala dan kemudian kembali menggenggam tangan Zee.
****
Hampir tiga jam lama nya akhirnya mereka sampai di rumah, lebih tepatnya di rumah kedua orang tua Zhio. Bukan di kontrakan Zee lagi, sebelumnya Zhio sudah mengatakan kepada Zee jika mulai sekarang mereka semua akan pindah ke rumah Zhio. Dan tidak akan lagi tinggal di kontrakan, mengenai barang - barang yang masih ada di kontrakan, Zhio akan membantu memindahkan nya besok.
Kedatangan Zhio, Zee dan lain nya tentu sudah di ketahui oleh Bunda Hesty. Bunda Hesty begitu bersemangat menyambut kedatangan mereka, Bunda Hesty begitu senang karena suasana rumah pasti akan lebih ramai dan menyenangkan. Apalagi sekarang ia sudah memiliki menantu, dan pasti nya sebentar lagi akan mendapatkan seorang cucu. Rasa nya Bunda Hesty sudah tidak sabar mendapatkan cucu dari Zhio dan juga Zee.
" Yang lain mana Zee? " tanya Bunda saat melihat hanya ada Zhio dan Zee.
" Mereka masih di dalam mobil bun, di bangunin dari tadi gak bangun - bangun " karena Zhea, Tasya dan Bulan tidak juga bangun, Zee memutuskan untuk meninggalkan mereka di dalam mobil.
__ADS_1
" Astaga, ya udah kalian cepat mandi ya. Nanti kemalaman mandi nya, habis itu makan malam. Anak - anak biar Bunda yang bangunin "
Zhio dan Zee mengangguk dan segera masuk kedalam kamar, ini kali kedua Zee masuk kedalam kamar Zhio. Zee tersenyum saat mengingat pertemuan nya dengan Zhio di kamar ini.
" Mau ikut mandi sama abang? " tanya Zhio lalu memeluk Zee.
" Mandi bareng bang? " pertanyaan yang seharusnya tidak perlu Zee tanyakan ulang.
" Iya sayang, mandi bersama istri itu adalah sunah romantis dari Rasulullah, selain itu mandi bersama pasangan itu menyehatkan, mau tau manfaat nya apa aja? Mengidentifikasi perubahan kulit, Meredakan stres,perawatan tubuh, meningkatkan percaya diri, menyehatkan jantung, menenangkan syaraf " dengan detail nya Zhio menjelaskan kepada Zee manfaat mandi bersama pasangan, Zee terkekeh melihat Zhio. Zee juga seorang dokter, tapi ia baru tau jika mandi bersama pasangan itu ternyata memiliki banyak manfaat. Zee akan mencari tahu lebih akan hal itu.
Zee mengangguk tanda setuju, ya walaupun sebenarnya Zee sekarang jantung Zee berdetak begitu kencang saat membayangkan jika mereka berdua mandi bersama.
Zhio begitu senang saat Zee menganggukan kepala nya, ia membawa Zee ke dalam kamar mandi. Kalau di rumah Zhio, kamar mandi sudah berada di kamar. Jadi tidak perlu keluar kamar dulu seperti yang di lakukan di tempat nenek.
Zhio menyiapkan air hangat untuk mereka mandi dan membiarkan air memenuhi bathup yang tersedia di sana. Kamar mandi Zhio cukup luas, luasnya hampir sama dengan kamar yang Zee tempati di kontrakan. Di dalam nya juga sudah terisi lengkap, Zee hanya diam saja dan memperhatikan setiap sudut kamar mandi. Ia tidak menyadari jika sekarang di depan nya Zhio sudah berdiri tanpa memakai baju nya.
" Sedang lihat apa? " tanya Zhio, Zee menelan ludah nya melihat tubuh kekar sang suami, apalagi melihat lipatan balok yang terbentuk di perut Zhio yang kini sudah tidak tertutup sehelai kan pun.
" Kenapa bengong sayang? " ucap Zhio lalu menarik pinggang Zee sehingga jarak mereka begitu dekat. Saat ini jantung Zee berdetak semakin kencang.
Zhio dan Zee saling bertatapan, perlahan Zhio menarik pakaian Zee dan membantu Zee melepaskan nya. Pakaian Zee dan Zhio sudah berserakan di lantai, Zhio menelan ludah saat melihat kemolekan tubuh sang istri yang kini hanya pakaian dalam yang menutup kedua aset nya.
Perlahan Zhio membuka kancing yang menutup aset pertama Zee, dan reflek Zee menutup dada nya dengan kedua tangan. Zhio tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh Zee.
" Jangan di tutup sayang, ini sudah menjadi milik abang. Dan abang berhak kan untuk melihat nya " ucap Zhio lalu perlahan menarik tangan Zee yang mencoba menutupi buah dada yang sekarang terlihat begitu indah dan membuat Zhio bergairah.
Zee hanya bisa tersenyum dan pasrah dengan wajah yang memerah. Zhio pun menarik tengkuk leher Zee dan mengecup mesra bibir sang istri, hanya sebentar dan terakhir mengecup kening Zee lalu membawa Zee masuk ke dalam bathup. Zhio berusaha meredam gairahnya dan segera mengajak Zee untuk mandi. Zhio tidak ingin melakukan nya sekarang,Secara perlahan Zhio membasahi tubuh Zee, dan sesekali memberi kecupan mesra di bibir manis sang istri.
Zee begitu tersentuh dengan apa yang di lakukan Zhio, Zee pikir Zhio akan meminta hak nya sekarang. Ternyata tidak, Zee pun dengan bergantian membasahi tubuh Zhio dengan air. Membantu Zhio menyabuni tubuhnya dengan sabun, dan juga membantu keramas. Hal itu juga yang di lakukan Zhio kepada Zee, kedua pasangan pengantin baru itu mandi dengan saling bercanda tawa dan sesekali memberi kecupan mesra. Karena terlalu asyik di kamar mandi, Zhio dan Zee tidak menyadari jika Bunda Hesty sudah berulang mengetuk pintu kamar mereka untuk mengajak Zhio dan Zee makan malam.
" Kenapa mereka tidak mendengar? apa jangan..jangan.. sudah lah biarkan saja, ya Allah semoga saja aku segera mendapatkan cucu " ucap Bunda Hesty tersenyum dengan gembira nya lalu pergi dari kamar Zhio.
**Bersambung..
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini... 😘**