Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Arshaka Zayyan Alexander


__ADS_3

Selama berada di rumah sakit, Zee di temani oleh Zhio dan Bunda Hesty. Mertuanya itu selalu siap siaga membantu Zee, bahkan mendengar suara tangis cucunya saja di tengah malam, Bunda rela bangun hanya untuk memastikan cucunya baik-baik saja sekaligus siaga jika Zee meminta bantuan. Padahal di sana bukan hanya ada Bunda Hesty, Zhio pun juga selalu siap siaga ketika baby mereka menangis.


Sudah sering kali Zee dan Zhio meminta Bunda Hesty untuk pulang saja dan beristirahat di rumah, namun Bunda Hesty tetap kekeh untuk menemani Zee , Bunda berkata bahwa ia juga seorang ibu, Bunda sangat mengerti bagaimana lelahnya setelah melahirkan, dan bagaimana rawannya kesehatan seorang ibu yang baru saja melahirkan, Bunda Hesty tak ingin Zee merasa lelah , terlebih Zee melahirkan secara Caesar, Karena pemulihannya pasti lebih lama.


Sehari setelah Zee melahirkan, keluarga Zee dari kampung pun datang untuk menjenguk. Amira sahabat Zee pun juga datang untuk menjenguk Zee.


" Lihatlah cucu Oma, kalau begini terus lama kelamaan pipi kamu tambah gembul sayang "


Bunda Hesty mencubit dan mengelus elus pipi chubby cucu nya yang sedang asyik menyusu. Zhio juga ikut memperhatikan baby nya dan tertawa saat ibunya mencubit pipi baby nya itu.


" Kalian sudah menentukan nama untuk cucu Oma ? " tanya Bunda Hesty kepada Zhio dan Zee.


" Sudah Bun, kami sudah sepakat untuk memberi nama anak kami Arshaka, Bun "


" Arshaka , maa syaa Allah nama yang baik sekali "


" Arshaka artinya anak yang tampan Bun, Arshaka Zayyan Alexander, yang berarti anak yang tampan dan baik hati Bun "


" Maa syaa Allah, baik sekali nama cucu Oma, pintar ya sayang, anak yang Sholeh cucu Oma, sehat, murah rejekinya " ucap Bunda Hesty sembari mengelus pipi gembul Arshaka.


Zhio dan Zee saling pandang lalu tersenyum melihat Bunda Hesty yang begitu bahagia dengan adanya kehadiran Arshaka.


Di luar ruangan, Celin yang tengah berdiri di depan pintu mendengar semua percakapan dan canda tawa Bunda Hesty, Zhio dan juga Zee. Seketika air mata Celin menetes, Celin hanya merasa sedih karena selama ini ia begitu berandai - andai bisa menjadi bagian dari keluarga Alexander, namun itu semua tetaplah hanyalah angan-angan Celin.


" Aku ikhlas Zhio, mulai sekarang aku janji gak bakalan gangguin kalian lagi, Zee memang pantas untuk kamu " batin Celin.


Setelah merasa tenang, Celin mengetuk pintu kamar rawat Zee untuk menemui Zee.


Tok..tok..tok..


Bunda Hesty, Zhio dan Zee melihat ke arah pintu.


" Ada tamu Zhio " ucap Bunda Hesty.


" Iya Bun, sebentar Zhio pasangin jilbab Zee dulu "


Tanpa di minta oleh Zee, Zhio dengan sigap menutupi aurat sang istri karena mereka tidak tahu apakah tamu yang datang laki - laki atau perempuan.

__ADS_1


" Masuk saja " teriak Bunda Hesty.


Celin menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafas pelan sebelum masuk kedalam ruangan.


Setelah merapikan jilbab istirnya, Zhio melihat ke arah pintu, ingin mengetahui siapa yang datang. Dan setelah melihat tamu nya, ekspresi wajah Zhio berubah datar.


" Arshaka biar bunda taruh di tempat tidurnya Zee "


Karena Arshaka sudah tidur, Bunda Hesty menaruh cucunya itu di tempat tidur. Dengan sedikit merasa sungkan, Celin tersenyum dan jalan perlahan mendekati Zee.


" Hai Zee " sapa Celin.


" Hallo Tante, Zhio "


" Iya Celin, apa kabar ? " dengan ramah Bunda Hesty menyapa Celin.


" Baik Tante "


" Silahkan duduk Cel " ucap Zee.


Bunda Hesty menyodorkan kursi kepada Celin dan menaruhnya tepat di samping Zee. Sesekali Celin melihat Zhio yang wajahnya terlihat datar.


" Gimana kabar kamu Zee ? Oh ya ini aku bawa buah-buahan , sama ini juga aku ada bawa beberapa perlengkapan bayi, semoga aja cocok ya buat anak kamu "


" Makasih banyak Dokter Celin " ucap Zee.


Beberapa menit suasana menjadi hening, Celin ingin berbicara banyak kepada Zee, namun merasa canggung karena adanya Bunda Hesty dan Zhio, terlebih melihat wajah Zhio yang tidak terlihat baik sama sekali.


" Bunda mau keluar sebentar ya, Zhio tolong lihatin Arshaka ya "


" Baik Bun "


Bunda mengerti bahwa Celin merasa sedikit canggung, jadi Bunda Hesty sengaja keluar agar Celin leluasa berbicara.


Zhio mengganti posisi nya duduk di dekat Arshaka.


" Gimana kabarmu Zee ? "

__ADS_1


" Alhamdulillah baik Dokter Celin "


" Terima kasih ya Zee "


Dengan bibir bergetar, Celin mengucapkan terima kasih kepada Zee. Zhio hanya diam mendengarkan apa yang Celin ucapkan sembari Zhio memandangi wajah tampan Arshaka.


Celin berdiri lalu memeluk Zee, Celin menumpahkan tangisannya dalam pelukan Zee.


" Maafkan aku Zee, maafkan aku, aku bersyukur sekali kamu dan anak kamu baik-baik saja "


Zhio menatap tajam Celin yang memeluk istrinya, sedangkan Zee mengelus lembut punggung Celin.


" gak apa Dokter Celin, semuanya udah berlalu "


" Maafin aku ya Zee, aku gak tau gimana lagi, kamu terlalu baik Zee, padahal sebelum kejadian ini aku udah jahat banget sama kamu, aku dan juga teman-teman aku Cel "


Mendengar kata teman-teman, Zhio pun beranjak berdiri untuk mendekati Celin, Zhio merasa emosi dan ingin mempertanyakan apa yang sudah Celin lakukan kepada istrinya sebelum Zee menyelamatkan Celin dari kecelakaan.


Namun baru sekali melangkah, Zee melambaikan tangan kepada Zhio agar Zhio tenang dan kembali duduk. Melihat isyarat dari istrinya, Zhio pun mengikuti dan kembali duduk.


" Makasih banyak ya Zee, seandainya gak ada kamu mungkin aku udah celaka, kamu rela menyelamatkan aku padahal kamu lagi mengandung "


" Hal itu aku lakuin karena rasa kemanusiaan aku Dokter Celin, walaupun waktu itu bukan Dokter Celin, aku akan melakukan hal yang sama. Aku gak mungkin diam aja melihat orang yang ingin celaka "


Celin merasa malu mendengar ucapan Zee, ia malu pada dirinya sendiri, jika saja di balik Celin yang menjadi Zee, mungkin Celin tidak akan melakukan hal yang sama yang di lakukan oleh Zee.


" Maafkan aku ya Zee "


" Jauh sebelum itu aku sudah memaafkan Dokter Celin, maaf juga waktu itu aku sempat menampar Dokter Celin, aku hanya berharap di balik semua yang terjadi, Dokter Celin bisa mengambil semua pelajaran di dalamnya, aku tau Dokter Celin itu wanita yang baik, Dokter Celin juga cantik, aku juga yakin jodoh yang baik sudah menanti Dokter Celin di luar sana "


Setelah cukup lama bercengkrama , Celin pamit pergi, Celin menempatkan berpamitan dan berbicara kepada Zhio, namun seperti biasa Zhio hanya menanggapinya dengan ekspresi wajah yang datar.


Setelah Celin pergi, Zhio mendekati Zee, duduk tepat di depan Zee dan menatap Zee dengan tajam. Siap menginterogasi istrinya.


Melihat wajah suaminya yang tampak serius, Zee pun terkekeh.


" Kenapa muka Abang kayak gitu ? "

__ADS_1


__ADS_2