
Zhio
Sekitar pukul 15.00 sore, puskesmas benar - benar sepi. Pasien sudah tidak terlihat lagi berdatangan. Dan sebagian petugas sudah pulang, menyisakan aku, Celin, Zee dan juga Mawar.
" Zhi, ayo kita balik. Aku udah cape banget nih " Celin mengajak ku segera pulang, namun aku tidak ingin pulang terlebih dahulu. Rencananya aku akan mengajak Zee jalan, ya mungkin sekedar makan atau minum di warung. Sepertinya Zee juga tidak akan menolak atau menghindar apalagi sudah ingat dengan ku.
" Ngapain sih nanti - nanti Zhi, bareng yuk pulang nya " Celin kembali merengek meminta ku untuk pulang bersama nya. " Menjengkelkan sekali " batin ku. Setelah beberapa kali aku katakan aku masih ingin disini, akhirnya Celin menyerah. Mungkin ia memang terlalu lelah, padahal kalau di pikir - pikir seharusnya aku yang sangat lelah saat ini karena pasien lebih banyak yang minta di periksa dengan ku, bukan Celin.
Tapi aku tidak merasa lelah sama sekali, justru saat ini aku sangat semangat sekali karena ingin mengajak Zee jalan. Setelah Celin pulang, aku melangkah kan kaki ku mendekat ke arah Zee yang sedang sibuk merapikan sisa - sisa obat yang tadi di siapkan untuk para pasien.
" Zee " sapaku.
" Iya Bang, Abang kenapa belum pulang? " Zee bertanya kepada ku dengan senyum manisnya, ya.. manis sekali menurutku hihihi...
Kenapa ini? tiba - tiba saja degup jantungku berirama tidak menentu, detak nya begitu cepat. Apa aku jantungan? oh tidak.. tidak.. aku gugup sekali, bagaimana caranya mengatakan kepada Zee kalau aku ingin mengajak nya jalan.
" Hmm.. hmm... ka.. ka.. mu.. hmm.. habis ini kita jalan yuk Zee " Huff akhirnya, walaupun saat ini detak jantung ku masih berdetak tidak menentu. Tapi aku berusaha memberanikan diri mengajak Zee jalan, yah semoga saja dia mau.
Mendengar ajakan ku, seketika Zee menghentikan aktivitasnya dan menatap ku. " Duh, apa dia tidak mau? "
" Bang ngajak Zee jalan? " tanya Zee kembali, dan aku pun menganggukkan kepala ku.
" Okelah Bang, tapi.. emangnya mau jalan kemana Bang? "
" Jalan - jalan aja keliling desa ini Zee, tapi sebelumnya kita ke warung dulu ya. Makan atau minum dulu gitu di sana Zee "
" Baik Bang, tapi.. kita ajak Mawar juga ya Bang? gak pa - pa kan Bang? "
" Mawar? astaga, aku kan hanya ingin berdua dengan mu Zee!! kenapa harus membawa Mawar "
" Baiklah, tidak masalah Zee " aku pun mengiyakan kemauan Zee.
" Kalau gitu tunggu bentar ya Bang, Zee mau taruh obat ini dulu ke gudang sekalian ngajak Mawar " Zee menyuruh ku menunggu, dan tak lama ia keluar bersama Mawar.
" Sudah siap? " tanya ku kepada mereka berdua.
__ADS_1
" Sudah Bang " jawab Zee, bisa ku lihat Mawar terlihat bingung begitu mendengar Zee memanggil ku dengan sebutan Abang.
Karena aku ke Puskesmas hanya berjalan kaki, dan jarak warung cukup jauh. Jadinya aku membawa motor Zee seorang diri, sedangkan Zee di bonceng oleh Mawar. Cukup jauh juga tempat nya, karena warung atau tempat makan yang kami kunjungi itu ada di kampung sebelah. Tepatnya kampung tempat tinggal Mawar, menurut Zee dan Mawar di tempat makan itu banyak sekali menu, dan juga masakan di sana enak - enak. Dan aku pun hanya mengikuti saja kemauan mereka.
Sekitar lima belas menit, kami sampai di warung itu. Warungnya tidak terlalu besar, cukup sederhana. Tapi pengunjung yang makan cukup banyak. Aku jadi penasaran juga dan tidak sabar menyantap makanan di warung itu.
" Abang pesan apa? "
" Kayaknya aku pesan bakso aja Zee " cukup lama melihat daftar menu, aku pun memilih bakso. Karena aku tidak ingin makan nasi saat ini.
" Mawar apa? "
" Sama bakso juga kak "
" Kalau gitu samain aja semua ya " ucap Zee.
" Kamu tunggu di sini aja Zee, biar aku yang pesan bakso nya " aku menahan Zee yang berniat berdiri untuk menemui pemilik warung yang ada di depan, aku menyuruh nya untuk duduk saja dan aku yang akan memesan bakso nya.
Setelah memesan tiga porsi bakso dan juga es teh, aku kembali duduk bersama Zee dan juga Mawar.
" Dokter Zhio ini kakak senior kakak sewaktu kami SMP war, kakak biasanya manggil Dokter Zhio abang " jelas Zee kepada Mawar, dan Mawar tampak terkejut.
" Hah!! jadi gitu, lama banget ya kak, Dok, sejak SMP baru ketemu lagi sekarang. Tapi.. kenapa waktu itu kakak sebut Dokter Zhio pencuri, kan kakak kenal Dokter Zhio? "
" Iya Mawar, kakak lupa.. hahaha... maaf ya bang? " Zee tertawa sembari meminta maaf kepada ku.
" Ihh kak Zee, jahat banget sama Dokter Zhio kok bisa lupa " Mawar berkata sembari ikut tertawa.
" Bener tu Mawar, Zee kok bisa lupa ya sama aku. Aku aja gak lupa " ujar ku dan ikut juga tertawa.
" Iya Bang, maafin Zee ya " Zee kembali meminta maaf kepadaku, dan terlihat wajah Zee sedih. Sepertinya aku salah bicara.
" Sudah Zee, gak masalah. Wajar aja lupa, kan udah lama sekali " ucap ku mencoba menenangkan Zee, dan dia tersenyum kepadaku.
Kami asyik sekali berbincang, dan sesekali di iringi canda tawa. Ternyata Mawar anaknya rame juga, buktinya Mawar selalu menghadirkan ocehan - ocehan yang bisa membuat kami tidak henti nya tertawa.
__ADS_1
Tak lama, pemilik warung datang dengan membawa tiga porsi bakso plus dengan minum nya. Kami pun langsung menyantap bakso tersebut.
Saat sedang asyik makan, Mawar menyenggol lengan Zee, seperti mengisyaratkan sesuatu agar Zee melihat nya.
" Kenapa Mawar? " tanya Zee.
" Kak, itu lihat " Mawar berbisik kepada Zee.
" Lihat apa? " Zee mencoba melihat sekelilingnya. Dan aku pun ikut melihat sekeliling, dan bisa ku lihat kalau Zee saat ini sedang memperhatikan sepasang lelaki dan wanita yang sedang memesan makanan kepada pemilik warung. Sepertinya mereka sepasang kekasih.
Dan mereka berdua masuk kedalam warung, mereka duduk berjarak dua meja dari meja kami. Ada yang aneh menurutku, lelaki yang bersama wanita itu sejak pertama masuk memperhatikan kami. Dan dia menatap tajam kepadaku. Entahlah kenapa, dan aku hanya memasang wajar datar.
" Cih.. lihat tu mereka berdua, dasar gak tau malu, masih berani aja menampakkan diri " ucap salah satu ibu - ibu yang duduk di samping kami. suaranya agak keras, sehingga bisa kami dengar. Aku tidak mengerti maksud ibu - ibu itu, tapi ibu - ibu itu berbicara sembari melihat kearah sepasang kekasih yang baru saja masuk tadi.
Aku tidak peduli, aku kembali menyantap bakso. Dan kami kembali berbincang sembari menghabiskan bakso kami.
****
" Sial, siapa lelaki itu?" batin Satria sembari terus memperhatikan Zee, Mawar dan Zhio yang terlihat asyik berbincang sembari tertawa.
" Ngapain sih Mas Satria liatin ke sana terus, pasti ngeliatin mantan istrinya itu. Kesel aku jadinya " Yuni bisa lihat kalau Satria saat ini sedang memperhatikan Zee, Yuni bergelayut manja di lengan Satria. Ia sengaja mengumbar kemesraan nya bersama Satria agar Zee bisa melihat. Dan mungkin Zee akan kesal jika melihat nya seperti itu. Itulah yang ada di pikiran Yuni.
" Balik yuk kak Zee, udah sore. Ntar aku di cariin sama ibu " ajak Mawar begitu bakso mereka habis.
" Kita balik ya Bang? " tanya Zee kepada Zhio, dan Zhio hanya mengangguk dan tersenyum kepada Zee.
Mereka bertiga pun keluar dari warung, dan melewati Satria dan Yuni yang sedang asyik menyantap makanan mereka. Satria dan Yuni melihat Zee yang melintas di depan mereka. Tidak sedikit pun Zee menatap mereka berdua, sepertinya Zee menganggap kalau Satria dan Yuni tidak ada di sana.
Satria tampak kesal, begitu pula dengan Yuni. Dan Yuni semakin mempererat gandengan tangan nya kepada Satria, seolah ingin membuat Zee kesal. Padahal Zee tidak kesal sama sekali. Bahkan tidak peduli dengan mereka berdua.
**Bersambung...
maaf up nya gak teratur ya readers, soalnya lagi sibuk..
makasih tetap setia, jangan lupa like, vote dan singgah di kolom komentar ya.😘**
__ADS_1