
" Abang, abang beneran udah gak pusing dan mual lagi kan ? " tanya Zee.
" Iya " jawab Zhio tanpa melihat Zee, ia sedang sibuk memainkan ponselnya.
Zhio dan Zee sedang dalam perjalanan menuju Rumah sakit, untuk mengantar Zee tentunya dengan di antar oleh Pak Niko. Sebenarnya Zhio bisa membawa mobilnya sendiri, namun karena Zhio yang selalu mengalami pusing, mual dan muntah membuat Ayah Xander dan Bunda Hesty khawatir. Mereka pun memaksa Zhio agar meminta Pak Niko mengantar dan menjemput Zhio saat bekerja.
Zee merasa sedih melihat tingkah suaminya, entah apa yang salah dari dirinya yang membuat Zhio semenjak semalam hingga pagi ini masih saja mengabaikan nya. Tentunya Zee sangat merasa perbedaan itu.
" Abang, aku duluan ya " ucap Zee sembari menyodorkan tangannya untuk menyalimi Zhio. Zhio pun menyambut uluran tangan Zee.
" Assalamualaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Zhio.
Zee terdiam sejenak,biasanya kecupan manis di kening Zee selalu Zhio berikan sebelum Zee keluar dari mobil. Namun kali ini tidak Zhio berikan.
" Pak Niko, saya duluan Pak " ucap Zee berpamitan dengan Pak Niko.
" Iya Nyonya " jawab Pak Niko dengan tersenyum ramah kepada Zee.
Setelah Zee turun, Pak Niko melajukan mobilnya. Zhio menatap kepergian Zee.
" Maaf tuan, maaf jika saya lancang. Apa tuan sedang berkelahi dengan Nyonya ? " tanya Pak Niko.
" tidak Pak Niko " ucap Zhio dengan tersenyum ramah kepada Pak Niko, Pak Niko menyadari jika ada sesuatu yang berbeda dari Zhio , karena tidak biasanya Zhio bersikap cuek kepada istrinya.
" Oh..baiklah Tuan, saya mendengarnya " ucap Pak Niko.
" Emangnya ada apa Pak Niko ? " tanya Zhio.
" Tidak apa Tuan " ucap Pak Niko.
Zhio tersenyum, ia mengerti jika Pak Niko menyadari akan sikapnya kepada Zee.
" Jangan khawatir ya Pak Niko, oh ya nanti tolong cancel semua jadwal saya sore ini ya Pak Niko. Dan tolong pesankan tempat terbaik di Swiss Resto & cafe " pinta Zhio.
" Baik Tuan "
*****
Zee sampai di rumah sakit, kini ia tidak lagi berada di UGD melainkan ia di tugaskan di ruang operasi. Tempat yang sudah lama Zee tunggu-tunggu.
" Zee..... " teriak Amira saat melihat kedatangan sahabatnya.
" Amira " ucap Zee lalu mereka saling berpelukan.
__ADS_1
" Kenapa wajahmu terlihat sedih gitu Zee ? " tanya Amira.
" Yang benar Ra, gak ah aku gak sedih " ucap Zee mencoba menutupi kesedihan nya.
" Yakin, kamu gak apa kan. Gak ada masalah sama kamu kan ? " tanya Amira lagi.
" Gak ada Ra, kamu tenang aja " ucap Zee.
" Ya udah deh kalau gitu, kita masuk yuk kita siap-siap " Zee dan Amira masuk kedalam ruang petugas untuk berganti pakaian, dan tak lama Celin juga masuk dan berada di sana.
Zee, Amira ,dan Celin saling berpandangan sejenak namun kemudian mereka saling membuang muka.
Celin pun ikut berganti pakaian, dan kemudian pergi.
" Kamu tau gak Zee, hari ini operasi di pimpin sama Mak lampir itu " ucap Amira, Amira masih saja menyebut Celin dengan sebutan Mak lampir.
" Amira, gak boleh ngomong kayak gitu. Biar begitu dia senior kita " ucap Zee.
" Iya..iya Zee " ucap Amira.
Hari ini rencana nya Celin akan mengoperasi pasien yang mengalami gangguan pada ginjalnya, pasien itu seorang wanita tua yang sudah berumur 50 tahun ke atas. Terdapat batu di dalam ginjal nya atau biasa kita sebut dengan batu ginjal, dan rencana nya akan di lakukan pengangkatan batu ginjal tersebut.
Zee dan Amira ikut bersama dalam operasi tersebut, mereka tidak melakukan operasi nya secara langsung. Mereka hanya memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari Celin.
Zee bersyukur kehamilan nya ini tidak begitu membebani nya, ia juga tidak mengalami mual dan muntah sehingga ia masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, ia juga tidak mengalami masalah saat melihat atau mencium bau darah yang begitu banyak pastinya saat berada di kamar operasi.
Operasi yang berlangsung cukup lama sedikit membuat kaki Zee merasa pegal.
" Minum dulu Zee " Amira memberikan sebotol air mineral kepada Zee.
" Makasih Ra " ucap Zee.
" Eh Celin, kamu hebat banget tadi " ucap salah satu kawan Celin. Celin bersama dua orang teman nya baru saja keluar dari ruang operasi.
Celin memandang Zee dan Amira dengan tatapan sinis.
" Ya dong, Celin gitu. Anaknya Pak direktur mah memang harus hebat " ucap salah satu teman Celin.
" Hahaha..kalian bisa aja " ucap Celin.
" Kamu itu memang sangat cocok sama Dokter Zhio , kamu cantik,Zhio ganteng, terus kalian itu sama-sama Dokter terkenal dan terbaik di rumah sakit ini " ucap salah satu teman Celin.
Celin melihat ke arah Zee, ia yakin jika Zee kesal dengan apa yang di ucapkan oleh temannya.
" Oh benarkah ? kami itu memang pantas dan sangat cocok, ya udah kalau gitu kita istirahat yuk " ucap Celin mengajak kedua teman nya untuk beristirahat.
__ADS_1
" Iihh...dasar Mak lampir..." teriak Amira setelah Celin dan teman nya pergi.
" Amira " ucap Zee.
" Aku kesel ni Zee, emangnya kamu gak kesel, gak tau diri banget tu ya Dokter Celin. Ada istrinya di sini malah ngomong kayak gitu. Teman-teman nya juga sama tu " kesal Amira.
" Kalau sama Dokter Celin aku sudah biasa Ra, kalau teman-teman yang lain juga udah biarin aja. Mereka kan gak tau kalau aku udah nikah sama bang Zhio,jadi wajar aja kalau mereka masih berpikiran dan ngomong gitu di depan kita " jelas Zee.
" Iya..tapi tetap aja Zee.. "
" Sudah..sudah..ya udah kita siap-siap, bentar lagi kita pulang "
Zee mengajak Amira untuk bersiap pulang.
" Zee, aku duluan ya. Kamu beneran udah di jemput ? " tanya Amira.
" Iya sudah, ya udah kamu hati - hati di jalan Ra "
" Siap Zee, kamu juga , assalamualaikum "
" Waalaikumsalam "
Zee menunggu jemputan tepat di pinggir jalan yang tidak jauh dari parkiran rumah sakit, sebenarnya Zee kembali bersedih karena tadi Zhio mengirimi nya pesan dan mengatakan jika ia tidak bisa menjemput Zee. Hanya ada Pak Niko yang akan menjemput Zee .
Saat sedang menunggu Pak Niko, di seberang jalan Zee melihat Celin dengan kedua teman nya tadi sedang asyik mengobrol.
" Ya udah aku duluan ya Cel " ucap kedua teman Celin.
" Iya, hati-hati ya.Ntar kabarin kalau hangout bareng " teriak Celin sembari menyeberang jalan.
Dari kejauhan Zee dapat melihat sebuah mobil sedang berjalan, sedangkan Celin sedang menyeberang tanpa melihat ke kanan dan ke kiri, pandangan nya hanya fokus kepada kedua teman nya sembari melambaikan tangan.
" Dokter Celin AWAS ....!!! ", teriak Zee.
Mendengar teriakan Zee, Celin baru sadar dan saat melihat ke arah kanan sebuah mobil sudah sangat dekat dengan nya, mobilnya itu membunyikan suara klakson mobilnya dengan sangat keras. Celin terkejut dan hanya menutup kedua mata nya.
Namun ia merasa seseorang telah mendorong nya dan kini berpelukan bersama nya.
" Dokter Celin, kamu gak kenapa - kenapa kan ? " tanya Zee, ia melepaskan pelukannya dari Celin dan memperhatika tubuh Celin dari atas hingga bawah.
Celin membuka kedua mata nya.
" ZEE "
Celin terkejut, karena ia selamat dan tidak tertabrak mobil. Dan terkejut lagi karena Zee lah yang kembali menyelamatkan nya.
__ADS_1
Bersambung..