Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Bertemu mantan mertua


__ADS_3

Seperti biasa sebelum tidur , Zhio dan Zee saling bertukar cerita mengenai kegiatan mereka seharian ini. Itu adalah salah satu cara Zhio dan Zee untuk saling menjaga komunikasi di antara keduanya agar hubungan mereka selalu terjaga. Terlebih keduanya saling sibuk sama lain.


" Abang gak penasaran kenapa aku sampe mau beliin pakaian bayi untuk salah satu pasien aku ? "


Zee belum bercerita mengenai Yuni kepada suaminya Zhio. Zee sengaja tidak bercerita kepada Zhio saat di perjalanan, karena Zee ingin mencari waktu yang tepat seperti malam ini, saat mereka bersantai di dalam kamar.


" gak yang, apapun yang kamu lakuin selagi dalam hal kebaikan Abang pasti mendukung. Lagian hal yang kamu lakuin itu hal yang baik kan "


" Sebenarnya aku beliin semua itu buat mbak Yuni "


" Yuni ? temen kamu ? " tanya Zhio.


Zhio selalu serius dan memperhatikan istrinya bercerita, walaupun hal kecil yang mungkin tidak penting bagi Zhio. Tapi Zhio selalu menampakkan keseriusan nya , bahkan saat Zhio sibuk pun ia rela menghentikan pekerjaannya sejenak hanya untuk mendengarkan keluh kesah sang istri.


" Yuni bang, ibu sambungnya Bulan "


Zhio tampak diam dan berfikir sejenak, ia tidak mengenal seseorang yang namanya Yuni. Namun setelah Zee mengatakan kalau Yuni ibu sambungnya Bulan, Zhio pun mengerti kalau Yuni itu adalah istrinya Satria.


" Oh..jadi dia melahirkan di rumah sakit ? sejak kapan di rawatnya yang ? "


Zee memperhatikan wajah suaminya, tidak tampak kalau Zhio marah kepadanya karena Zee tidak bercerita sejak awal. Zee hanya takut Zhio marah kalau ia bercerita mengenai Yuni yang ada hubungannya dengan mantan suami nya Satria.


" Abang gak marah kan ? " tanya Zee.


Zhio tersenyum lalu mengelus lembut pipi Zee.


" Marah kenapa sayang ? untuk apa juga Abang marah ? "


" Maaf ya bang gak cerita pas kita di toko tadi, soalnya aku mau ceritanya malam aja , kayak sekarang ini. Aku minta maaf ya bang, aku takut Abang marah sama aku karena ini ada hubungannya sama ayahnya Bulan "


Zhio menarik tengkuk leher Zee lalu mencium lembut bibir Zee.


" Kamu tu gemesin banget sih yang " ucap Zhio lalu mencubit kecil pipi Zee yang terlihat gembul.


Semenjak hamil, tubuh Zee memang tampak berubah. Tubuhnya lebih terlihat berisi dari sebelumnya.


" Abang gak marah sayang, apa yang kamu lakuin itu hal yang baik. Jadi tidak ada alasan untuk Abang marah. Justru Abang salut sama kamu, karena kamu masih bersikap baik kepada ibu sambungnya Bulan yang bernama Yuni itu "

__ADS_1


" Iya bang, aku kasian liat Mbak Yuni. Dia datang dengan pendarahan yang cukup hebat bang, jadi terpaksa harus segera di lakukan operasi. Alhamdulillah Mbak Yuni dan bayinya selamat bang. Aku kasian liat Mbak Yuni datang cuma sendiri, gak ada keluarga sama sekali yang nemenin. Belum lagi pakaian yang bayi nya pake itu keliatan lusuh semua bang " jelas Zee panjang lebar.


Zhio terus memperhatikan Zee berbicara, yang ia perhatikan bukan apa yang Zee bicarakan, ia justru fokus melihat wajah sang istri yang terlihat begitu menggemaskan dan semakin terlihat cantik.


Zhio kembali menarik tengkuk leher Zee dan mencium lembut bibir manis istri nya. Menghentikan Zee yang sejak tadi tak berhenti mengoceh.


Zee hanya diam dan menikmati apa yang di lakukan sang suami.


" Apapun itu selagi baik Abang akan dukung kamu sayang, tetaplah jadi orang yang baik ya sayang " ucap Zhio setelah melepas ciumannya dan mengelus lembut bibir Zee.


" Makasih ya bang " ucap Zee lalu memeluk Zhio.


*****


Keesokan harinya Zee datang bersama anaknya Bulan ke rumah sakit. Semalam Zee memberi tahu Bulan kalau Yuni sudah melahirkan dan berada di rumah sakit. Karena hari ini Bulan libur sekolah, Bulan pun ingin ikut Zee untuk menemui Yuni.


Mendengar Yuni melahirkan membuat Bulan begitu antusias untuk melihat adik bayi nya.


" Bulan gak apa kalau Bunda tinggal ? " tanya Zee saat mereka sudah berada di depan pintu ruang rawat Yuni.


" Gak apa Bun, Bunda kan mau kerja. Bulan tunggu di sini aja sampai Bunda selesai kerja. Sekalian temenin ibu Yuni "


" Siap Bun "


Bulan pun masuk kedalam ruang rawat Yuni dengan membawa beberapa paper bag besar berisi perlengkapan bayi dan juga beberapa baju Yuni yang kemarin Zee belikan untuknya.


Zee sebenarnya merasa sedikit ragu meninggalkan Bulan berdua dengan Yuni, karena Zee tau betapa bencinya Yuni kepadanya. Zee takut kalau Yuni juga ikut membenci anaknya Bulan.


Karena Bulan bersikeras dan begitu antusias, Zee pun memberikan ijin Bulan untuk bertemu Yuni. Setelah Bulan masuk kedalam ruangan, Zee kemudian pergi untuk kembali bekerja.


" Bapak, ibu " panggil Zee saat melihat kedua mantan mertuanya terlihat bingung sembari melihat kekiri kanan ruangan rawat pasien dengan membawa seorang anak kecil yaitu anak pertama Yuni dan Satria.


Bapak dan ibu nya Satria pun terkejut karena melihat Zee, sudah lama sekali mereka tidak melihat Zee.


" Maa syaa Allah, Zee. Ini benar kamu nak " ucap Ibu nya Satria sembari memperhatikan Zee dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Iya Bu, ini Zee "

__ADS_1


Zee dan ibunya Satria saling berpelukan, kedua mata mereka terlihat berkaca-kaca. Walaupun bukan istri dari Satria lagi, tapi Zee juga sudah menganggap ibu dan bapak Satria seperti kedua orangtuanya sendiri.


" Gimana kabar kamu sehat Zee ? " tanya Bapaknya Satria.


" Alhamdulillah pak, Zee sehat. Bapak sama ibu gimana ? kabarnya baik ? "


" Alhamdulillah Zee, seperti yang kamu lihat. Maa syaa Allah kamu hamil sudah berapa bulan nak ? " Ibu Satria tampak mengelus elus perut Zee.


" 6 bulan buk, Alhamdulillah " jawab Zee.


" Maa syaa Allah, Alhamdulillah. Bentar lagi kita punya cucu lagi Pak " ucap Ibu Satria.


" Bapak sama ibu mau jenguk mbak Yuni ya ? " tanya Zee.


" Iya benar Zee, kamu tau Yuni di rawat di sini ? "


" Ya taulah buk, masa Zee gak tau. Ibu gak liat Zee bekerja dan menjadi dokter di sini " timpal Bapaknya Satria.


Seketika ketiganya saling pandang dan berakhir tawa.


" Iya ya Zee, ibu gak fokus. Ibu senang banget ketemu kamu Zee "


" Iya Bu, oh ya ruang rawat mbak Yuni sebelah sana Bu , pak " ucap Zee sembari menunjukkan ke arah ruang rawat Yuni.


" Oh iya Zee, bapak sama ibu mau jenguk sekalian temenin Yuni "


" Iya Bu, kebetulan Bulan juga ada di sana Bu "


" Bulan ? " tanya Ibu dan Bapak Satria bersamaan.


" Iya Bu, Pak. Bulan juga datang pengen jenguk Mbak Yuni "


" Maa syaa Allah kalau begitu bapak sama ibu masuk dulu ya Zee. Ibu sama bapak juga udah lama gak ketemu Bulan, ibu kangen sama bulan . Kamu mau sekalian ikut Zee ? "


" Zee masih ada pekerjaan Bu, Pak. Jadi bapak sama ibu saja ya "


" Oh ya udah kalau gitu, maa syaa Allah. Hati-hati kerja nya ya Zee, jaga kesehatan, jangan capek nak "

__ADS_1


" Iya bu, makasih "


Ibu Satria kembali memeluk Zee lalu setelahnya pergi meninggalkan Zee untuk menemui Yuni. Zee tersenyum sembari melihat ke arah bapak dan ibu Satria. Zee tidak menyangka bisa bertemu mereka, Zee bersyukur kedua mantan mertuanya itu masih terlihat sehat walau sudah di usia senja.


__ADS_2