
Setelah tiga hari lama nya Zhio tidak turun bekerja, rencana nya hari ini Zhio akan kembali beraktivitas dan memulai kesibukannya. Selama tiga hari ini Zhio hanya berdiam dan terbaring lemas di kamarnya, seperti yang di katakan oleh Ayah Xander, Zhio mengalami sindrome simpatik, kehamilan ini Zee tidak mengalami keluhan apapun, melainkan Zhio yang selalu merasa pusing dan mengalami mual dan muntah di pagi hari.
" Abang yakin mau turun kerja hari ini? " tanya Zee sembari memasang dasi di leher sang suami.
" In syaa Allah sayang, abang harus kerja. Buat kamu, Bukan, dan calon buah hati kita " ucap Zhio, menangkup wajah sang istri lalu memberi kecupan manis di bibir Zee.
" Iya bang "
" Ya udah kita keluar yuk, kamu juga hati-hati ya di rumah sakit. Masker jangan lupa di pakai terus, jangan terlalu capek " Zhio menggandeng sang istri keluar dari kamarnya, mereka menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
*****
Selesai mengantar Zee ke Rumah sakit, Zhio melajukan kendaraan menuju kantor. Di sana sudah ada Pak Niko yang menunggunya, meninggalkan kantor selama tiga hari membuat laporan - laporan yang harus ia tandatangani pun menumpuk. Zhio ingin segera menyelesaikan pekerjaan kantornya karena sore harinya ia masih ada jadwal pekerjaan di Rumah sakit.
" Apa saja jadwal saya setelah ini pak? " tanya Zhio.
" Setelah ini kita ada rapat bulanan bersama karyawan, setelah itu pertemuan bersama klien terbaru, hanya itu saja Tuan "
__ADS_1
" Baiklah, saya ingin segera menyelesaikannya. Karena pasien-pasien saya di rumah sakit juga sudah menunggu Pak "
" Oh ya Tuan, boleh saya memberi pendapat? " tanya Pak Niko.
" Silahkan Pak Niko "
" Bagaimana jika anda fokus dengan perusahaan saja Tuan, maaf jika saya lancang. Saya hanya kasihan melihat anda yang harus double job seperti ini, bukankah ini perusahaan milik anda juga, atau mungkin anda bisa mendirikan rumah sakit sendiri, tanpa harus bekerja dengan orang lain. Apalagi istri anda saat ini sedang hamil, ia pasti ingin waktu lebih bersama anda "
Zhio tersenyum mendengar pendapat dari Pak Niko. " Terima kasih atas pendapat anda Pak Niko, bapak tenang saja. Saya sudah memikirkan itu semua " ucap Zhio.
Pak Niko bernafas lega, ia senang jika ternyata Zhio juga memiliki pemikiran yang sama dengannya. Dan ia yakin Zhio pasti sudah menyiapkan sesuatu yang baik untuk keluarganya.
****
Celin merasa resah dan merasa tidak nyaman di cuekin oleh Kevin, bukan hanya tentang Zhio, Celin juga pening memikirkan Kevin saat ini.
" apa aku harus jujur saja kepada Zhio dengan apa yang terjadi kepada Zee. Aku harus menjelaskannya sebelum Zee bercerita banyak kepada Zhio, Zee pasti akan mencari perhatian kepada Zhio dan bercerita berlebihan, ya aku harus bercerita terlebih dahulu sebelum Zee "
__ADS_1
Celin keluar dari ruang kerja nya dan menuju ruang kerja Zhio, karena Zhio belum datang ia pun rela menunggu Zhio selama satu jam di luar ruangan.
" Zhio " ucap Celin saat melihat Zhio dari kejauhan, sudah beberapa hari ini ia tak melihat Zhio, rasa rindu menghampiri hati Celin saat ini.
Zhio membuka pintu ruang kerjanya, dan Celin ikut masuk kedalam.
" Ada apa? " tanya Zhio sembari sibuk merapikan meja kerja nya.
" Apa kau sudah baikan? aku dengar kau sedang sakit? " tanya Celin.
" Sudah " jawab Zhio singkat.
" Zhio, maafkan aku. Aku tau mungkin Zee sudah bercerita banyak mengenai aku, tapi sumpah apa yang di katakan oleh Zee tidak benar. Bukan aku yang membuatnya jatuh, tapi salah seorang temanku yang sengaja menyodorkan kakinya ke lantai dan membuat Zee terjatuh "
Mendengar itu, Zee langsung melihat ke arah Celin. Ia tidak tau menahu soal ini, dan Zhio marah sekali saat mendengarnya.
**Bersambung..
__ADS_1
Terima kasih buat teman-teman yang selalu kasih support buat aku.. jangan lupa baca juga novel ketiga aku ya**..