Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Mencari Dia


__ADS_3

Zhea dan Tasya menikmati liburan mereka dengan berjalan-berjalan di mengelilingi kampung, mereka juga menyempatkan untuk berjalan-jalan di kampung sebelah. Sedangkan Bulan lebih menikmati liburannya bersama nenek dan kakeknya, yaitu kedua orangtua Satria.


Zhea juga mengajak Tasya ke beberapa tempat wisata yang ada di tempat tinggalnya.


" Zhe, aku mau olahraga ni, mau ikut gak ? " ajak Tasya yang sedang memakai sepatunya , ia ingin bersiap untuk melakukan olahraga sore.


" Pengen Sya, tapi kaki aku lagi sakit nih "


" Ya udah kalau gitu aja "


" Eh bentar Sya, kamu yakin mau pergi sendiri "


" Iya, kamu tenang aja aku cuma mau lari sekitar sini aja kok "


" Beneran ya, jangan jauh - jauh "


" Iya Zhea sayang "


Tasya mulai berlari dari kediaman Zhea, beberapa anak muda yang melihat Tasya bersiul - siul dan sesekali berdehem memanggil Tasya.


Tasya hanya tersenyum tipis dan mengabaikan para kaum Adam yang sedang memperhatikannya.


Tasya pun memilih berbelok ke arah sawah. Tempat pertama yang dulu ia datangi saat berada di desa tempat tinggal Zhea.


" Tempatnya gak berubah , hanya saja sore ini terlihat lebih ramai. Dulu sewaktu aku ke sini tempatnya gak terlalu ramai begini "


Tasya menghirup udara segar yang ada di persawahan, masih sangat asri dan terasa segar. Apalagi di tambah angin-angin Sepoi yang bertiup membuat suasana persawahan di sana semakin nyaman. Pantas saja hal itu membuat banyak orang yang datang berkunjung.


Tasya berdiri dan menatap tanaman padi yang masih berwarna hijau. Setelahnya Tasya tampak celingukan, melihat ke kanan dan kekiri. Tujuan Tasya pergi ke sawah bukan karena hanya ingin menikmati pemandangan sawah, melainkan ada sesuatu yang Tasya cari.


" Dimana ya ? apa mungkin dia bakalan ada di sini lagi ? apa iya aku ketemu sama dia " batin Tasya.


Tasya pun berjalan menyusuri jembatan panjang yang ada di sawah, namun seseorang yang Tasya cari tidak terlihat sama sekali.


Karena hari semakin sore, Tasya memilih pulang. Pulang dengan hati sedih karena tidak bertemu dengan seseorang yang pernah ia temui dulu di sawah.


" Zhe "

__ADS_1


" Hmm..Kenapa Sya ?


" Di sini ada gak sih cowok ganteng ? "


Zhea mengerenyitkan keningnya mendengar pertanyaan dari Tasya.


" Kenapa tanya gitu Sya ? banyak kali cowo ganteng di sini di kampung aku, tinggal pilih " ucap Zhea sembari terkekeh.


Tasya hanya diam, ia melamun dan membayangkan kembali sosok seorang lelaki yang dulu pernah ia temui. Sosok seorang lelaki tampan yang menurut Tasya sangat tampan dan menjadi lelaki tampan ketiga setelah ayah dan kakaknya Zhio.


" Nah kan..malah melamun "


Zhea menepuk pelan pundak Tasya , membuat Tasya tersadar dari lamunannya.


" ngomong-ngomong soal kegantengan dan ketampanan ni ya Sya, di kampung aku tuh sebenanrya semua kaum adamnya ganteng semua. Tapi ada satu nih Sya yang ganteng yaitu pemilik cafe yang kamu pengen datangin itu, tempat nongkrong yang paling asyik di desa ini "


Tasya tersenyum semringah mendengar penjelasan Zhea.


" Yang bener Zhe ? ya udah kapan kita ke sana , kamu mah janji terus gak juga bawa aku kesana. Kan besok udah terakhir kita di sini "


" Zhea...apaan sih, emangnya aku selama ini gak normal, gak suka sama cowok gitu " Tasya melempari Zhea dengan bantal, Zhea kembali tertawa melihat Tasya.


" Hahaha...canda Sya, habisnya tumben banget loh seorang Tasya membahas mengenai lelaki, biasanya juga para lelaki atau cowok-cowok yang suka sama kamu , kamu abaikan begitu aja "


" Sudah ah Zhe, ayo ajak aku ke sana " mohon Tasya.


" Oke..oke..kita ajak Bulan juga ya, ya udah kamu siap - siap "


Tasya tersenyum dan beranjak dari tempat tidur, ia sedang mencari pakaian untuk bersiap pergi.


Zhea,Tasya dan Bulan pergi dengan memakai sepeda motor, Zhea dan Tasya berboncengan, sedangkan Bulan seorang diri.


Tidak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit saja mereka sudah sampai di tempat nongkrong yang kata Zhea paling asyik di kampungnya.


Mereka bertiga tiba sekitar jam delapan malam, karena malam ini adalah malam Minggu , cafe tersebut sudah terlihat sangat ramai. Bahkan band akustik yang Zhea ceritakan pun ada.


" Kita duduk di sini aja ya " ajak Zhea, mereka duduk di pojok paling depan, tepat di depan band akustik berada.

__ADS_1


" Dulu tempatnya bagus Sya, tapi sekarang tempatnya semakin bagus "


" Iya benar kak Tasya, semalam aja aku udah ke sini, makanan dan minumannya juga enak kak. Gak kalah kayak di kota "


Tasya dan Zhea sama-sama melihat ke arah Bulan.


" Jadi kamu semalam udah ke sini ? " tanya Tasya dan Zhea bersamaan.


" Hehe..iya sudah, sama teman-teman SD aku kak, Onty "


" Kamu tuh ya, kalau jalan nggak ngajak-ngajak " kelitik Zhea, membuat Bulan tertawa karena merasa kegelian.


" Hehehe..iya maaf onty "


Tasya tertawa melihat Zhea dan Bulan. Kemudian Tasya kembali celingak celinguk ke kiri dan ke kanan. Tasya masih penasaran dengan sosok lelaki yang ia temui dahulu di sawah. Apa benar lelaki itu pemilik cafe ini ? apa aku akan bertemu dengannya di sini ?


" Tasya lihat "


Tiba-tiba Zhea menarik lengan Tasya dan meminta Tasya untuk melihat seseorang yang sedang berbicara dengan salah satu pemain band yang ada di sana.


" Lihat, lelaki itu. Lelaki itu yang kamu cari ? "


Dengan tatapan yang sangat tajam Tasya melihat lelaki itu. Lelaki itu sangat tampan, tapi terlihat kalau lelaki itu sudah berumur , rambutnya terlihat sedikit memutih, tapi tubuhnya masih terlihat tegap dan atletis. Dan wajahnya, sangat mirip dengan lelaki yang waktu itu pernah Tasya temui. Tapi apa ia lelaki itu menua secepat ini ?


" Sya , benar lelaki itu. Lelaki itu pemilik cafe ini, tapi lebih tepatnya suami dari pemilik cafe ini "


" Suami ? maksud kamu dia sudah nikah ? " tanya Tasya.


" Ya sudah lah Sya, lelaki itu umurnya mungkin seumuran ayah Xander, tapi lihat dia masih terlihat awet muda kan? masih terlihat ganteng Sya , ibu-ibu aja banyak lho yang ngefans sama om itu, bahkan tetangga aku aja sering ceritain dia "


", Yang bener Zhe ? ", tanya Tasya tak percaya.


" Iya Sya, jadi benar om itu yang kamu cari, kalau menurut aku dia itu lelaki paling ganteng di kampung ini , nomor dua setelah bapak aku. Hahaha " tawa Zhea.


Tasya terdiam sembari terus memperhatikan lelaki atau om-om yang ada di depan mereka.


" Wajahnya mirip banget sama lelaki yang aku temui waktu itu di sawah, tapi apa ia dia secepat itu menua ? dan ternyata sudah punya istri ? atau aku yang salah lihat ya ? " batin Tasya.

__ADS_1


__ADS_2