
Kevin membawa Zhea keluar dari Mall dan mereka saat ini berada di taman yang tak jauh dari Mall tersebut.
Kevin tak melepas genggaman tangannya kepada Zhea, dan baru melepasnya setelah mereka sampai di taman.
" Maaf Zhea, Abang bawa kamu ke sini, maa juga Abang pegang tangan kamu "
Zhea tersenyum kepada Kevin, " ya gak pa-pa bang "
Kedua nya tampak malu-malu dan canggung. Apalagi Kevin dimana saat ini jantungnya kembali berdebar kencang.
" Oh ya, bang Kevin kok bisa tau aku lagi di Mall "
" Iya, tadi Abang kebetulan gak sengaja liat kamu. Kamu sendirian ? "
Kevin sebenarnya ingin bertanya mengenai Iqbal, tapi rasanya masih canggung dan Kevin tidak ingin mencampuri urusan Zhea dengan lelaki itu. Ya walaupun Kevin bisa menebak kalau lelaki yang bernama Iqbal itu pasti menyukai Zhea, atau mungkin mereka pernah berhubungan sebelumnya. Kevin tidak ingin tau lebih dalam mengenai hal itu. Yang terpenting ada satu hal yang harus Kevin lakukan saat ini.
" Iya bang, bulan depan rencananya aku sama Tasya mau ke luar negeri buat kuliah. Jadi aku ke Mall karena mau beli beberapa barang dan perlengkapan untuk persiapan aku ke sana bang, tadinya mau bareng Tasya , cuma dia lagi gak enak badan. Jadi aku pergi sendiri. Kalau Abang ? sendiri juga ke sini ? "
" Oh tadi cuma mau ngantar Mama aja "
" Iya bang, oh ya aku jadi lupa bang. Maaf ya bang aku belum ada hubungin Abang. Soalnya aku tu rencananya mau ganti nomor baru, jadi rencananya kalau udah ganti nomor baru deh hubungin Abang "
Kevin melihat Zhea, ia senang karena ternyata itu alasan Zhea kenapa tidak menghubunginya. Kevin sudah mengira kalau Zhea melupakannya begitu saja.
" Iya Zhe, kamu gak perlu minta maaf. Oh ya Zhe , jadi tadi Abang telepon kamu. Itu nomor lama atau baru "
" Baru bang, baru kemarin aku ganti nomor. Abang tau nomor aku dari siapa ? "
" Dari Zhio, Abang minta nomor ponsel kamu sama dia "
__ADS_1
Zhea hanya tersenyum dan mengangguk - anggukkan kepalanya, mereka berdua kembali canggung satu sama lain.
" Bang...kalau gitu aku pergi dulu ya bang "
Zhea berdiri, ia beranjak ingin meninggalkan Kevin. Kevin terlihat salah tingkah, ada satu hal yang belum ia selesaikan dengan Zhea.
" Zhea, Abang pengen ngomong sesuatu "
Zhea mengernyitkan keningnya, lalu ia kembali duduk. Menatap Kevin yang terlihat gugup bahkan Kevin sudah merasakan keringat dingin berhadapan dengan Zhea.
" Abang pengen ngomong apa ? "
Kevin menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan.
" Sebelumnya mungkin ini akan mengejutkan kamu Zhe, tapi abang..abang menyukai kamu Zhe, Abang ingin MENIKAH denganmu Zhea, Abang ingin kamu jadi istri Abang "
Deg..
Zhea dan Kevin saling tatap, mereka hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. Dan Zhea seketika ingat akan doa dan ucapannya waktu itu.
" Ya Allah, dulu aku pernah berdoa dan mengucap kalau aku tidak mau pacaran dan akan menerima siapa pun yang akan mengajak ku menikah setelah aku lulus SMA, tapi apa benar secepat ini ? " batin Zhea.
" Zhea... "
Kevin membangunkan Zhea dari lamunannya.
" Zhe, abang akan menerima apapun keputusan kamu. Abang dengar dari Tasya kalau kalian akan melanjutkan study di luar negeri. Abang pengen kamu tau isi hati Abang sebelum kamu pergi. Dan Abang benar-benar serius Zhe, Abang ingin menikahimu "
Zhea benar-benar bingung, ia tidak bisa menjawab apapun , dan memberi keputusan apapun saat ini.
__ADS_1
" Aku..jujur aku benar-benar kaget bang Kevin " ucap Zhea sembari terkekeh, ia mencoba untuk tidak terlalu serius berbicara dengan Kevin.
" Abang serius Zhe, tapi kamu gak jantungan kan dengarnya " kini giliran Kevin yang bercanda dan membuat Zhea juga ikut tertawa.
" Abang benar suka sama aku ? kenapa bisa bang ? kita kan baru berapa kali aja ketemu ? "
" Kamu percaya dengan kata-kata CINTA DATANG PADA PANDANGAN PERTAMA ? "
" Hmm..percaya ? " ucap Zhea sembari tersenyum.
" Nah..seperti itulah yang aku rasakan Zhe "
Zhea tersenyum lalu menatap Kevin, lelaki yang ada di depannya saat ini lelaki yang umurnya berbeda cukup jauh darinya, lelaki dewasa dan mapan yang wajahnya juga tampan, semua wanita pasti menyukainya.
Dan lelaki di hadapannya ini menyukainya, dan jika bertanya mengenai hati Zhea, Zhea tidak tau apa yang ia rasakan saat ini. Hanya biasa saja saat bersama Kevin, tidak merasakan rasa jatuh cinta atau apapun seperti rasa yang dulu ia rasakan saat pertama ia jatuh cinta dengan Iqbal.
Tapi bicara tentang cinta, bukankah tidak ada cinta yang indah selain pernikahan. Kata-kata itu yang sering Zhea dengar dari ustadzah di kajian - kajian yang rutin Zhea datangi.
" Ya Allah, secepat ini engkau menjawab doaku. Sekarang aku yang bingung bagaimana harus menghadapinya. Apa yang sebaiknya aku lakukan , bantu aku ya Allah, beri aku jalan untuk mengambil keputusan yang benar " batin Zhea.
" Bagaimana Zhe ? " tanya Kevin.
Zhea menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
" Kalau Abang serius ingin menikahi aku, Abang harus dapat restu dari kedua orangtua ku dulu. Kalau kedua orangtuaku merestui, in syaa Allah aku mau menikah dengan bang Kevin "
Kevin tersenyum senang , ia seperti memenangkan undian besar karena Zhea memberinya secercah harapan. Kini tugas Kevin adalah meminta restu kepada kedua orangtua Zhea.
" Terima kasih Zhea, abang akan membicarakan hal ini ke orangtua Abang. Abang akan secepatnya menemui kedua orangtua kamu untuk melamar kamu "
__ADS_1
Zhea tersenyum, Zhea mengagumi keberanian Kevin, ternyata Kevin benar-benar bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan.