
" Zee "
Celin terkejut melihat Zee yang berdiri di sampingnya saat ia baru saja keluar dari ruang kerja Kevin. Zee sudah berdiri sejak tadi dan mendengar semua yang di bicarakan Kevin dan Celin.
" Bisa kita bicara ? " ajak Zee.
" Tentu " jawab Celin.
Celin mengekor di belakang Zee, Zee mengajak Celin menjauh dari ruang kerja Kevin.
" Baik, di sini saja " Zee berhenti berjalan lalu melihat Celin.
" Apa yang mau kamu omongin Zee ? " tanya Celin.
" Saya tidak mau berbicara panjang lebar Dokter Celin, saya hanya ingin memperingatkan untuk jangan mengganggu rumah tangga adik saya "
Celin tertawa kecil setelah mendengar ucapan Zee, Celin berusaha menutupi kekesalan nya kepada Zee.
__ADS_1
" Maksud kamu apa Zee ? kamu kira aku Pelakor gitu ? hahahaha.."
Zee hanya diam dan menatap Celin yang masih tertawa.
" Kenapa kamu bisa berpikir kayak gitu Zee ? ohh..apa karena kamu liat aku kemarin pelukan ya sama Kevin ? pasti itu ya kan ?? kamu jangan berpikir negatif dulu ya, aku tuh sama Kevin udah sahabatan sejak lama, jadi bagi aku sama Kevin itu hal yang biasa , bahkan dulu nih ya Zee, Kevin tu justru kalau ketemu aku , dia tu yang paling duluan peluk aku, jadi ya biasa aja, kami memang sering gitu, Kevin juga sering main ke rumah aku, tidur di rumah aku , apalagi kamu kan tau aku baru pulang dari luar negeri, udah lama banget kami gak ketemu , ya seharusnya kamu...."
PLAKKK.....
Zee memberikan tamparan keras ke pipi sebelah kanan Celin. Celin diam sembari memegangi pipi nya.
" Ini hanya sebuah peringatan kecil, Dokter Celin. Mungkin saya masih bisa diam dan bersabar setelah apa yang sudah anda lakukan kepada saya , tapi saya tidak akan tinggal diam kalau ini menyangkut adik saya, sudah cukup anda mencoba untuk mengganggu rumah tangga saya, jangan sampai anda mengganggu rumah tangga adik saya juga , kalau sampai itu terjadi, saya akan memberikan peringatan yang lebih besar dari pada ini "
" Kurang ajar...!! " batin Celin.
Kedua mata Celin terlihat berkaca-kaca karena tamparan Zee yang membuat pipi nya terasa perih.
" Lihat saja nanti !! " umpat Celin lalu pergi.
__ADS_1
Zee mencoba mengatur nafasnya setelah sampai di UGD, Zee merasa sedikit bersalah karena menampar wajah Celin. Namun di sisi lain Zee juga merasa puas karena Zee begitu kesal dan otaknya memanas setelah mendengar Celin berkata panjang lebar didepannya, Zee tahu bahwa Celin sengaja berkata seperti itu kepadanya untuk memanas-manisi dirinya. Jadi menurut Zee tamparan itu adalah balasan yang setimpal.
" Aduhh... "
Zee sedikit meringis saat merasakan pergerakan bayinya di dalam perut.
" Kenapa sayang ? apa kamu tahu perasaan bunda sekarang ? "
Zee berbicara sendiri mengajak bayinya sembari mengelus lembut perut buncitnya.
" Maafkan bunda ya sayang, lain kali bunda gak akan marah-marah lagi " ucap Zee.
*****
Celin tiba di rumahnya, ia membanting tasnya ke sembarang arah. Celin begitu kesal karena Zee berani menamparnya.
" Zee.....Zee...."
__ADS_1
Celin berteriak dengan menyebut nama Zee, padahal rasa benci nya kepada Zee sudah hilang , namun karena Zee sudah menamparnya dan berani mengancamnya rasa benci itu kembali datang.
Celin mengambil kembali tasnya dan mengeluarkan ponselnya. Ia mencoba menghubungi ayahnya yang masih berada di luar kota, dan sebuah senyuman terukir di wajah Celin. Entah apa yang akan Celin lakukan selanjutnya.