Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Kecewa


__ADS_3

Semalam Bulan bermalam di kediaman bapak dan ibu Satria, yang tak lain adalah nenek dan kakek nya sendiri. Dan rencana nya malam ini barulah ia akan tidur di rumah nenek buyut.


Dari semalam, Bulan sudah menunggu kedatangan Satria. Dan pagi ini Bulan sedang sibuk membantu ibu Satria yang sibuk melayani para pembeli. Kesempatan ini tidak Bulan lewatkan karena kapan lagi ia bisa membantu nenek nya seperti ini, setelah kembali ke kota nanti pasti nya lama lagi baru kembali bertemu nenek.


Saat sibuk melayani pembeli, tiba - tiba saja Satria datang. Satria datang seorang diri, Bulan tersenyum bahagia saat melihat Ayahnya itu.


" Ayah... !!! " teriak Bulan sembari berlari dan memeluk Satria yang baru saja turun dari sepeda motornya.


" Bulan " batin Satria.


Cukup lama memeluk Ayah nya, Bulan pun melepaskan pelukan nya lalu membawa Satria masuk kedalam Rumah.


" Ayah, Bulan kangen sama Ayah " ucap Bulan lalu kembali memeluk Satria.


" kapan Bulan datang? sama siapa ke sini? " tanya Satria, dari wajah Satria tidak tampak sekali kerinduan terhadap Bulan. Berbeda sekali dengan Bulan yang sangat merindukan dirinya.


" Kemarin yah, Bulan ke sini sama Onty " ucap Bulan.


" Bunda kamu mana? " tanya Satria.


" Bunda gak ikut yah, soalnya lagi sibuk. Oh ya Ayah gimana kabarnya yah. Kenapa gak pernah hubungi Bulan, terus juga setiap Bulan telepon Ayah, Ayah gak pernah angkat telepon Bulan "


" Ayah lagi sibuk " jawab Satria santai.


Senyum yang sejak tadi terukir di wajah Bulan padam, bukan itu jawaban yang Bulan tunggu. Bagaimana bisa dengan santai nya Satria berkata jika ia sibuk, apakah setiap hari sibuk? tidak pentingkah Bulan di mata Ayah?


" Iya yah, Bulan mengerti. Ayah sekarang kerja dimana? oh ya Ayah udah sarapan belum? Ayah mau sarapan apa? Bulan ambilin ya Yah " ucap Bulan, Bulan berusaha menjauhkan pikiran yang buruk tentang sang Ayah.


" Gak usah Bulan, Ayah mau pergi lagi. Ayah berangkat kerja dulu " ucap Satria lalu beranjak dari duduknya dan pergi.


" Satria..kamu mau kemana? kenapa cepat sekali kembali nya, ada anak kamu Sat " ucap ibu Satria yang berteriak sembari tangan masih sibuk membungkus beberapa pesanan pembeli.

__ADS_1


" Kerja Bu " ucap Satria lalu menyalakan sepeda motornya dan pergi.


Bulan hanya bisa menatap kepergian Satria dari balik jendela kaca, sebutir air mata menetes dan membasahi pipi Bulan. Dengan cepat Bulan menyekanya, Bulan begitu kecewa dengan sikap cuek Satria. Tidak ada sedikitpun bentuk kerinduan yang telihat dari sikap Satria kepada Bulan, padahal sudah terbayang di benak Bulan jika bertemu dengan Satria, nantinya Satria akan mengajak nya jalan - jalan keliling kampung dan kemudian duduk santai di jembatan sawah sembari menikmati sepotong ice cream. Seperti yang dulu pernah Satira dan ia lakukan.


" Ada apa dengan Ayah sekarang? Ayah sudah berubah? apa karena Tante Yuni? " batin Bulan.


" Bulan, ngapain di situ ndok? " tanya nenek, begitu selesai melayani pembeli Ibu Satria masuk kedalam rumah mencari Bulan.


" Eh nenek, gak apa nek " ucap Bulan sembari tersenyum kepada Ibu Satria, Bulan berusaha menutupi kesedihan dan kekecewaan nya dari ibu Satria.


*****


Satria menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan, ia mengambil ponsel yang berada di saku bajunya lalu terlihat menghubungi seseorang. Satria terus menghubungi nomor tersebut namun tidak ada jawaban.


" Sial...kenapa dia tidak mengangkat telepon dari ku.


Apa dia tau kalau aku yang menelpon nya, tapi bagaimana bisa dia tau. Ahh...sial..sial..sial.. tunggu aja ya kamu Zee, aku akan kembali menemui mu " ucap Satia lalu kembali menaruh ponsel nya di saku baju dan kembali ke rumah.


" Mas, kamu dengar gak sih aku ngomong " ucap Yuni begitu masuk kedalam kamar menyusul Satria.


" Cukup yun, aku tidak ingin berdebat hari ini " ucap Satria.


" Gak mas, aku perlu penjelasan. Mas kemana aja, kenapa kemarin gak pulang, aku hubungi juga gak bisa. Seharusnya kemarin sore sudah ada di rumah kan ? kenapa baru datang pagi ini? apa yang Mas lakukan? " Yuni mencecar Satria dengan berbagai pertanyaan.


" Aku lembur " jawab Satria.


" Lembur ? jangan coba membohongiku Mas, Mas ada wanita lain kan di luar sana. Oh.. atau jangan - jangan Mas masih berhubungan dengan mantan istri Mas itu, iya kan Mas? masih kan? apa semalam Mas pergi menemui nya? kesempatan Mas kan karena Bulan tidak ada disini "


" Kamu tau Bulan di sini? " tanya Satria.


" kenapa mas? terkejut? benar kan yang aku katakan? jadi punya kesempatan ya? dasar wanita ja lang " umpat Yuni dengan menyungginggang sedikit bibirnya.

__ADS_1


" Jaga ucapan mu Yuni " ucap Satria dengan wajah yang terlihat memerah menahan amarah karena Yuni mengatai Zee ja lang.


" Memang benar kan Mas ? apa yang mas lakukan semalam dengan nya Hah? " Yuni tidak perduli dengan Satria, ia malah memajukan tubuhnya dan berdiri begitu dekat di depan Satria.


" Sudah cukup ya Yuni, kamu tu ya suami pulang kerja bukannya di sambut dengan baik ini malah menuduh aku sembarangan "


" Jujur Mas,gak usah banyak alasan "


" Aku sudah jujur!!!"


" Aku tau kamu bohong Mas, kenapa Mas masih saja berhubungan dengan wanita itu. Bukan nya Mas bilang tidak mencintai nya lagi, karena itu kan Mas memilih ku "


" ya benar, tapi sekarang coba lihat dirimu. Apa kamu sudah begitu terlihat baik, coba sadar diri. Lihat dirimu , suami mana yang betah di rumah jika melihat dirimu seperti ini "


" Apa maksud mu Mas? maksud mu aku tidak cantik lagi kan? mau tau kenapa? semua juga karena kamu Mas, kami gak pernah ngertiin aku. Kamu gak pernah tau atau mendengar keluh kesah ku di rumah, kamu gak pernah membantu aku "


Satria dan juga Yuni terus berdebat, sebenarnya semalam Satria tidak pulang itu karena bermalam di rumah teman nya. Hal itu Satria lakukan karena ia begitu malas pulang kerumah dan harus bertengkar dengan Yuni seperti yang mereka lakukan sekarang.


Jika banyak yang beranggapan rumah tangga Yuni dsn Satria baik - baik saja itu salah. Mereka sering bertengkar, dan hal itu terjadi sejak meninggalnya ibu nya Yuni setahun lalu. Yuni yang selalu bergantung kepada ibu nya kini begitu kesusahan saat ibu nya itu tiada. Saat ibu nya masih hidup, Yuni selalu menyerahkan semua urusan rumah kepada sang ibu termasuk mengasuh anak mereka.


Dan saat ibu nya tiada, ia benar - benar kewalahan. Belum lagi Satria yang tidak pernah membantunya mengurus pekerjaan Rumah.


" Sudah cukup Yun, aku lelah !!! " ucap Satria dengan nada yang sedikit tinggi, Satria yang awalnya ingin tidur lalu beranjak dan pergi meninggalkan rumah. Dirinya benar - benar muak mendengar ocehan istrinya itu.


" Mas Satria..Mas Satria..mau kemana lagi kamu? " teriak Yuni sembari mengejar Satria yang langkahnya begitu cepat. Bahkan Satria sudah naik ke sepeda motornya dan pergi tanpa menghiraukan Yuni.


Yuni masuk kedalam rumah lalu berdiri di depan kaca dan memandangi dirinya sendiri, dan tak lama Yuni menangis. Ia sadar jika dirinya memang jauh dari kata dulu, bukan Yuni yang cantik dan memiliki tubuh ideal. Sekarang semua berubah, " tapi..semua ini juga karena kamu Mas. Bagaimana aku fokus dengan diriku sendiri sedangkan setiap hari aku harus mengurus raja dan juga rumah seorang diri, belum lagi uang yang kamu beri juga tidak cukup. Semua uang warisan dan tabungan ibu juga sudah habis, mau tidak mau aku terpaksa berhemat. Apa karena ini Mas? tidak,aku yakin ini semua karena mantan istrimu itu. Dia pasti sering menggoda mu dan membuat kamu buta dan melupakan aku Mas "


ujung - ujungnya Yuni kembali menyalahkan Zee, ia tidak sadar jika dulu dirinya lah yang menjadi orang ketiga di antara rumah tangga Zee dan juga Satria.


𝓑𝓮𝓻𝓼𝓪𝓶𝓫𝓾𝓷𝓰...

__ADS_1


__ADS_2