
Zhio sampai di rumah Bidan Isti, Zee dan Mawar mengekor di belakang Zhio. Setelah Zhio turun dari motor, Zee mengambil alih motornya.
" Maaf ya Bang, belum bisa ajak Abang jalan keliling desa. Soalnya udah terlalu sore, ntar besok kita jalan lagi Bang. Ntar kita bareng Mawar lagi ya Bang "
Zhio senang sekali, karena Zee berencana mengajak nya jalan keliling desa besok.
" Baik Zee " Zhio sebenarnya hanya ingin jalan berdua saja dengan Zee. Tapi Zee kembali mengajak Mawar. " Aku jadi tidak bisa leluasa berbicara dengan Zee " batin Zhio.
" Zee pamit Bang, Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumussalam "
Setelah Zee pergi, Zhio masuk kedalam rumah. Namun, di depan pintu Zhio sudah di hadang oleh Celin.
" Oh... jadi tadi kekeh gak mau pulang karena wanita itu? " ucap Celin. Zhio hanya bersikap biasa saja, ia memasang wajah datar.
" Awas, aku mau masuk " ucap Zhio.
" Kamu sama dia habis kemana Zhio? terus kenapa dia panggil kamu dengan sebutan Abang? sok akrab banget sih dia "
" Bukan urusan kamu!! " ucap Zhio, dan Zhio berusaha masuk ke dalam rumah, tapi Celin masih saja menghadang nya.
" Kamu gak boleh masuk Zhio, jawab dulu pertanyaan aku "
" Gak ada yang perlu aku jawab, aku udah bilang itu bukan urusan kamu "
" Kamu kenapa sih Zhio? tinggal jawab susah banget. Kita itu partner kerja Zhio, aku perlu tau dong kamu habis kemana, jalan sama siapa? "
" Emang perlu begitu ya? alasan gak masuk akal " ucap Zhio, dan kali ini Zhio sedikit keras mendorong tubuh Celin. Celin kalah, dan akhirnya Zhio bisa masuk kedalam rumah.
" Zhio.. Zhio.. ngeselin banget sih, sampai kapan coba sikap nya dingin banget gitu sama aku. Wanita itu, ada hubungan apa dia sama Zhio? bisa - bisa nya manggil Zhio dengan sebutan Abang. Akrab banget lagi keliatannya, Zhio juga ramah banget sama dia. Aku aja yang udah bertahun - tahun dekat sama Zhio gak pernah tu Zhio seramah itu sama aku. Aku harus cari tau " batin Celin.
****
" Assalamu'alaikum "
" Wa'alaikumussalam, Bunda " melihat Zee, Bulan langsung memeluk bunda nya itu.
" Bunda, itu bakso? " tanya Bulan semringah.
" Iya, ni bawa ke dalam ya. Bagi sama nenek sama onty juga "
__ADS_1
" Siap Bunda " Bulan langsung kedapur, sebelum pulang Zee menyempatkan diri memesan tiga bungkus bakso lagi untuk di bawa pulang. Bakso adalah makanan favorit Bulan, Mawar juga membawa pulang tiga porsi bakso. Semua itu Zhio yang membayar nya.
" Huff, lelah sekali hari ini " Zee merebahkan dirinya di tempat tidur.
" Dasar wanita ular, dia pikir aku cemburu atau kesal gitu ngeliat dia sama Mas Satria. Gak akan!! terserah kalian mau apa di depan ku, mau pelukan, mau ciuman, mau apa aja di depan ku, aku gak peduli " batin Zee begitu ingat akan Satria dan Yuni tadi saat mereka bertemu di warung.
Cukup istirahat sebentar, Zee beranjak kekamar mandi. Ia ingin membersihkan tubuhnya. Dan 20 menit kemudian ia sudah selesai mandi, dan memakai baju.
" Kak Zee " Zhea masuk kedalam kamar.
" Kenapa Zhea? "
" Kak, nenek lagi masak bistik ayam tu "
" Terus? "
" Kalau bistik ayam nya sudah masak, nenek suruh antar ketempat bapak, ke tempat tante Wulan juga . Nenek mau ngasih bapak sama tante "
" Ya antar aja "
" Kakak aja yang antar ya? ya kak? "
" Kamu yang di suruh, kenapa jadi kakak yang antar. Dasar pemalas " ucap Zee sembari terkekeh.
" Ya antar aja dulu ke rumah bapak sama tante, habis itu balik baru ke rumah Ririn "
" Kelamaan kak, kakak aja ya... pliss kak.. " Zhea kembali memohon kepada Zee.
" Dasar pemalas, baiklah nanti kakak yang antar " ucap Zee sembari mencubit kedua pipi Zhea.
" aduh.. aduh.. sakit kak, ihh kakak ni. Aku bukan anak kecil lagi di gituin kak " ucap Zhea sembari mengelus - elus pipinya yang habis di cubit oleh Zee.
" Emang kamu masih anak kecil kok. Hahaha "
" Kakak Zee..!! " teriak Zhea, Zee senang sekali kalau melihat Zhea kesal begini.
" Jangan marah dong, ntar kalau marah kakak gak jadi deh antar bistik ayam nya. Kamu aja yang antar "
" Jangan.. jangan kak.. pokoknya kakak yang antar " ucap Zhea lalu keluar dari kamar. Zee hanya terkekeh melihat adiknya itu.
Bistik ayam buatan nenek sudah selesai, karena suara orang mengaji di masjid sudah berbunyi. Zee berniat mengantar bistik ayam sehabis maghrib saja.
__ADS_1
Selesai sholat magrib, Zee berangkat ke rumah Pak Bayu. Zee memutuskan untuk berjalan kaki saja. " Jarang - jarang aku jalan kaki, hitung - hitung olahraga " ucap Zee.
Selesai dari rumah Pak Bayu, Zee menuju ke rumah Tante Wulan. Zee menyempatkan berbincang sebentar dengan tante Wulan, baru setelah itu dia pulang.
" Rumah udah kosong belum ya? lama banget aku gak kerumah. Gak enak juga tinggal tempat nenek terus, pasti ngerepotin nenek " Zee berniat untuk kerumah nya, hanya lewat saja, memastikan kalau Satria tidak ada di rumah. Dan begitu lewat depan rumah, ternyata benar tidak tampak Satria. Sandal nya pun tidak terlihat di luar rumah.
" Semoga aja Mas Satria udah pergi dari rumah ini, jadi aku bisa kembali, besok aku suruh Bulan kerumah ibu aja. Mastiin kalau Mas Satria memang sudah gak tinggal di rumah ini lagi " ucap Zee.
Zee masuk kedalam sebuah gang, gang itu tembus ke jalan depan. Samar - samar Zee bisa melihat sesorang dari kejauhan. Dan sepertinya laki - laki. Karena hanya ada satu lampu yang menerangi, membuat Zee tidak bisa melihat jelas lelaki itu. Tanpa ada rasa curiga, Zee terus saja berjalan. Terlihat lelaki itu sudah dekat, Zee menundukkan kepalanya. Dan tiba - tiba saja lelaki itu menarik lengan Zee,mengunci kedua tangan.
" Hei.. lepaskan!! " ucap Zee memberontak. Zee tidak bisa melihat siapa lelaki itu, karena lelaki itu posisinya di belakang Zee. Ia mengunci kedua tangan Zee.
" Siapa lelaki itu? hebat ya kamu, sudah berani di belakang ku " bisik Satria.
" Suara itu.. Mas Satria " batin Zee.
" Lepaskan aku Mas " ucap Zee.
Satria membalik tubuh Zee, tapi kedua tangan Zee masih di kunci, dan jarak mereka kini sangat dekat.
" Katakan siapa lelaki itu " Satria kembali bertanya, dan dari mulut Satria tercium bau alkohol.
" Lelaki siapa? apa maksud Mas Satria. Kalaupun aku dekat dengan lelaki lain itu bukan urusan Mas "
" Bukan urusan ku, ciihh...aku ini suami mu Zee "
" Hah!! suami ? aku tidak salah dengar. Suami yang terang - terangan jalan dengan wanita lain di luar, bahkan kepergok berzina. Apa masih pantes di sebut suami? " ucapan Zee begitu menohok dan menusuk hati Satria.
" Aku bukan istri Mas Satria lagi, kita akan bercerai!! " jelas Zee.
" Tidak semudah itu Zee, aku tidak pernah meminta untuk bercerai dari mu. kamu masih milikku Zee " ucap Satria dan kali ini mencoba menyambar bibir Zee. Tapi Zee mencoba memberontak, ia menendang paha Satria. Satria merintih, tapi itu tidak membuat Satria melepas kedua tangan Zee. Tangan Zee masih saja terkunci.
" Lepaskan aku Mas, Dasar Psikopat!! " ucap Zee.
Plakk... Satria menampar wajah Zee. Ia geram, ia kesal karena Zee sudah menyebutnya psikopat. Dan mungkin karena ia saat ini mabuk, Satria tidak bisa menahan dirinya untuk menampar wajah Zee.
Zee merasakan perih di pipi sebelah kiri nya, tamparan Satria sungguh kuat. Rasanya Zee ingin menangis, tapi ia coba tahan. Zee berusaha teriak minta tolong, tapi tidak bisa karena baru saja ingin berucap. Satria sudah membungkam mulutnya.
" Lepaskan Dia " terdengar suara seseorang, Satria dan Zee menoleh ke sumber suara.
" Bang Zhio? " Batin Zee.
__ADS_1
Bersambung...
jangan lupa like, vote, dan singgah di kolom komentar ya readers.. 😘