Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Baby Boy


__ADS_3

" Zee "


" Bunda "


Bunda Hesty dan Bulan saling bergantian memanggil Zee.


" Ya Allah nak, gimana keadaan kamu sayang, maaf bunda baru datang nak "


Jangan di tanya bagaimana ekspresi wajah Bunda Hesty saat ini, sejak dalam mobil hingga sekarang saja Bunda Hesty tidak hentinya menangis mengkhawatirkan keadaan menantunya.


Wajah Zee terlihat sangat pucat dan wajah nya penuh dengan keringat dingin menahan sakitnya.


" Bagaimana keadaan anak saya Dokter ? " tanya Ayah Xander yang sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan keadaan Zee.


" Pendarahan yang di alami Nyonya Zee cukup banyak Tuan, dan kami terpaksa harus melakukan tindakan operasi agar bayi Nyonya Zee bisa terselamatkan, Nyonya Zee juga mengalami kontraksi yang cukup kuat dan sering "


" Baiklah, kalau begitu segera lakukan tindakan, lakukan semua yang terbaik demi anak dan calon cucu saya " pinta Ayah Xander dan di jawab anggukan oleh Dokter yang menangani Zee.


" Bunda sabar ya Bun, pasti sakit banget ya "


Kini giliran Bulan yang menangis , ia tidak bisa melihat bunda nya yang terlihat sangat pucat menahan rasa sakit.


" Bunda baik-baik saja sayang "


Zee memaksakan senyumannya di hadapan Bulan agar Bulan tidak terlalu khawatir.


" Bunda yakin semua nya pasti akan baik-baik saja Zee, Bunda akan selalu menemani kamu, sabar yang kuat ya nak "


" Terima kasih Bun, oh ya Bun , bang Zhio gimana Bun ? "


Di saat seperti ini , suaminya Zhio lah yang sangat Zee inginkan.


" Ayah sudah menghubungi Zhio, dan Zhio sudah dalam perjalanan pulang ke sini, tapi kemungkinan Zhio akan datang terlambat Zee "


" Zee pengen ngomong sama bang Zhio , Bun "


" Iya nak "


Ayah Xander merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi Zhio, namun ponsel Zhio justru tidak bisa di hubungi.


" Gimana yah ? "


" Zhio tidak bisa di hubungi Zee, mungkin Zhio dalam perjalanan sekarang "


" Ya udah gak apa Yah, kasian juga Abang lagi di jalan sekarang ini yah "


" Astaghfirullahadzhim.... "

__ADS_1


Zee mengalami kontraksi dan ia kembali meringis , Bunda Hesty mengelus lembut pipi Zee dan menggenggam tangan menantunya itu, sebagai seorang ibu, Bunda Hesty bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang di alami Zee saat ini.


" Permisi Tuan dan Nyonya, kami akan memindahkan Nyonya Zee sekarang juga "


" Oh ya baiklah "


" Bun, nanti kalau bang Zhio ada telepon, bilang aja gak usah terlalu khawatir ya Bun, jangan terlalu buru-buru di jalan "


" Iya Zee, tenang aja nanti Bunda dan Ayah akan sampaikan ke Zhio. Yang terpenting sekarang Zee fokus dengan operasimu nak "


" Ya Bun, doakan Zee ya Bun, doakan Zee selamat, bayi Zee juga, doakan Zee ya yah, Bulan "


" Kami semua pasti mendoakan kamu sayang "


" Terima kasih Bun "


Bunda Hesty , Ayah Xander dan Bulan mengantar Zee menuju ruang operasi, dan di belakangnya Celin pun ikut mengiringi mereka dan mereka semua hanya bisa menunggu di depan ruang operasi.


" Semoga operasi Zee berjalan lancar ya Yah "


Bunda Hesty kembali menumpahkan air mata , Ayah Xander menarik Bunda Hesty dan membawa Bunda Hesty kedalam pelukannya.


" Tenang bunda, semua akan baik-baik saja "


Ayah Xander mencoba memenangkan Bunda Hesty.


" Tapi semua itu pantas kamu dapatkan Zee, kamu orangnya sangat baik, bahkan terlalu baik " batin Celin.


Tanpa sadar Celin meneteskan air matanya, kali ini Celin terlihat begitu menyesal karena perbuatannya yang selalu jahat kepada Zee.


Padahal Zee bisa saja tidak peduli kepadanya, namun itu semua berbanding terbalik, bahkan Zee tidak memikirkan dirinya sendiri yang sedang mengandung.


*****


Udara dingin di dalam ruang operasi terasa menusuk tubuh Zee, kali ini Zee masuk ke ruang operasi bukanlah untuk membantu mengoperasi pasiennya, melainkan dialah yang menjadi pasiennya saat ini.


Hal itu justru membuat Zee merasa sedikit gugup, terlebih baru kali ini ia menjalani operasi Caesar. Belum lagi rasa nyeri yang ia rasakan, di dalam ruangan operasi, semua Dokter dan perawat yang membantu operasi Zee semua adalah wanita.


Para Dokter dan perawat yang bertugas mengoperasi Zee juga sangatlah ramah kepada Zee. Setidaknya membuat Zee sedikit merasa nyaman.


Zee menutup kedua matanya saat jarum mulai masuk dan menusuk punggungnya, air mata Zee kembali menetes merasakan betapa luar biasanya sakit yang ia rasakan. Namun berangsur lama rasa sakit itu berganti hilang dan Zee merasa setengah tubuhnya mati rasa.


Setelahnya Dokter mulai memposisikan Zee dengan berbaring telentang, dan memberikan sebuah pembatas agar Zee tidak bisa melihat Proses pembelahan pada perutnya.


Zee menoleh sebelah kiri nya, ia sangat berharap Zhio bisa menemani nya saat ini.


Zee kembali meneteskan air matanya, dan ia meluruskan kepalanya menatap langit-langit ruangan operasi. Zee pun mulai memejamkan kedua matanya sembari berdoa.

__ADS_1


Saat berdoa , Zee merasakan sebuah tangan tangan hangat menyentuh kepalanya . Zee juga merasakan ada seseorang yang menggenggam tangannya.


Zee pun perlahan membuka kedua matanya, dan saat menoleh, Zee membulatkan kedua matanya saat melihat seseorang yang sangat ia tunggu-tunggu kini hadir dan berasa di sampingnya.


" Bang Zhio "


" Ya sayang, ini Abang "


Dengan kedua mata yang berkaca-kaca, Zhio tersenyum kepada Zee lalu mengecup lembut kening Zee.


Zee kembali menangis , lalu Zee mencium tangan Zhio. Zee begitu bahagia melihat suaminya datang dan menemaninya.


" Maafkan Abang ya sayang, sekarang Abang di sini, Abang akan selalu ada di samping kamu "


Zhio dan Zee pun saling melepas rindu dengan saling berpegangan tangan, sesekali Zhio menciumi tangan, pipi dan kening istrinya.


" Dokter Zhio, kami akan memulai operasi nya "


" Baiklah " ucap Zhio.


Zhio semakin mempererat genggaman tangannya kepada Zee saat Dokter kandungan mulai membelah perut Zee.


" Maafkan aku ya bang, aku gak bisa jaga kandungan aku dengan baik, anak kita harus keluar sebelum waktunya "


Zee merasa menyesal karena dulu ia juga pernah mengalami pendarahan dan hampir keguguran, kali ini ia hampir terulang lagi.


Saat melihat Celin yang akan di tabrak oleh sebuah kendaraan, Zee benar-benar tidak berpikir panjang, yang ia pikirkan hanya bagaimana bisa menyelamatkan Celin. Ia tidak berpikir bahwa ia akan terjatuh dan justru membuat nya mengalami pendarahan.


" Gak sayang, gak usah minta maaf, kamu gak salah apa-apa "


Zhio kembali mencium kening Zee, lalu membisikkan sholawat dan takbir di telinga Zee. Membuat Zee merasa semakin tenang.


Owekk..owekk...owekk...


Zhio dan Zee saling tatap dan tersenyum saat mendengar suara bayi. Bahkan air mata Zhio dan Zee menetes saat mendengar suara tangisan bayi mereka.


" Selamat Dokter Zhio, anak anda laki - laki, Alhamdulillah bayi nya sehat "


Dokter wanita yang menangani operasi Zee memberikan bayi tampan itu kepada Zee.


" anak kita laki-laki bang , anak kita lahir selamat dan sehat " ucap Zee dengan air mata yang tak hentinya mengalir.


Zee begitu bersyukur anaknya lahir dengan selamat dan sehat, saat mengalami pendarahan, Zee merasa khawatir akan keadaan bayinya di dalam kandungan.


" Alhamdulillah, terima kasih sayang , terima kasih "


Zhio mengecup lembut kening dan bibir Zee, sebuah ungkapan rasa terima kasih yang sangat besar Zhio kepada sang istri yang rela berkorban melahirkan darah dagingnya.

__ADS_1


__ADS_2