Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Rencana Zhea dan Tasya


__ADS_3

Mendengar alarm ponsel nya berbunyi Zee pun terbangun. Terdengar suara adzan subuh sudah berkumandang, Zee segera bangkit dan beranjak ke kamar Bulan dan juga Zhea. Zee tidur sendiri sedangkan Zhea dan Bulan sekamar, Zee terlebih dahulu membangunkan Bulan karena Bulan tidak susah kalau di bangunin. Tidak butuh waktu lama, Bulan sudah bangun dan segera ke kamar mandi untuk bersiap shalat subuh. Berbeda dengan Zhea, butuh tenaga ekstra untuk membangunkan Zhea, dan sesekali Zee harus berteriak di telinga Zhea agar dia bangun.


" Kak, sebentar lagi ya. Zhea masih ngantuk " Zhea berbicara dengan kedua mata yang masih tertutup.


" Gak ada sebentar - sebentar, cepat bangun Zhea. Bulan aja udah bangun, kamu nya belum "


Zhea tidak peduli dengan omelan kakak nya, ia masih memejamkan kedua matanya. Ya walaupun omelan kakak nya itu masih bisa ia dengar.


" Zhea... cepat bangun!! atau mau kakak siram sama air " mendengar Zee berbicara seperti itu, dengan secepat kilat Zhea bangkit dari tidurnya. Pernah sekali Zee berkata seperti itu dan benar saja, Zee benar - benar menyiram air di wajah Zhea. Membuat baju Zhea juga basah dan bahkan tempat tidur juga, dan dengan susah payah Zhea harus membersihkan semuanya. Dan menjemur sendiri kasur miliknya tanpa di bantu oleh Zee. Zhea tidak mau itu terjadi, kakak nya itu selalu bersungguh - sungguh dengan apa yang ia ucapkan.


" Jangan kak, aku ke kamar mandi sekarang terus shalat " ucap Zhea dan buru - buru ke kamar mandi, Zee mengulum senyum melihat adiknya. Kalau tidak diancam seperti itu, bisa - bisa sampai waktu subuh selesai pun Zhea gak bakalan bangun.


Selesai shalat subuh, Zhea dan Bulan segera mandi. Secara bergantian tentunya. Zee sedang datang Bulan, maka nya dia tidak melaksanakan shalat subuh, dan saat ini sedang berkutat di dapur. Ia sedang membuat sarapan untuk mereka bertiga. Shift kerja yang di mulai jam 3 sore membuat Zee tidak harus terburu - buru seperti biasanya. Ia bahkan senang, karena lebih banyak waktu untuk membersihkan rumah. Karena biasa nya setiap pagi setelah memasak dan menyiapkan sarapan. Ia sudah harus berangkat kekampus, pulang sore dan setelah itu langsung kerja lagi. Tidak ada waktu banyak untuk Zee membersihkan rumah, hanya bisa di lakukan saat hari libur. Dan saat sibuknya Zee, Zhea lah yang menggantikan semuanya. Dibantu oleh Bulan juga.


" Permisi kak " sapa seorang wanita cantik yang kini berdiri di depan Zee, ia memakai seragam sekolah putih abu - abu. Saat ini Zee sedang menyapu teras depan rumah.


" Ehh Tasya, mau jemput Zhea? " tanya Zee, dan wanita itu bernama Tasya, sahabat Zhea sejak duduk di kelas satu SMA hingga sekarang.


" Iya kak, Tasya mau jemput Zhea "


" Masuk aja Sya, Zhea lagi di kamar nya tu lagi siap - siap "


" Kalau gitu Tasya masuk ya kak " ucap Tasya dan di balas senyuman oleh Zee.


Tanpa permisi atau mengetuk pintu dulu, Tasya langsung saja membuka pintu kamar Zhea. Zhea saat itu sedang memakai pakaian terkejut melihat kedatangan Tasya, bukan hanya Zhea yang terkejut tapi juga Bulan.


" Ya ampun Tasya... kebiasaan kalau masuk gak ketuk pintu dulu " ucap Zhea kemudian lanjut memakai seragam sekolah nya.


" Ckckckck... maaf Zhea, maaf juga ya Bulan " Tasya hanya tertawa dan langsung merebahkan diri di kasur Zhea dan Bulan. Tasya merasa masih ngantuk karena pagi - pagi sekali sudah harus bangun dan bersiap ke sekolah.

__ADS_1


Walaupun Tasya bisa di bilang lebih mampu dari pada Zhea, tapi ia tidak pernah sombong dan tidak membeda - bedakan teman. Tasya juga sudah menganggap Zhea seperti keluarga nya sendiri, begitu pula dengan Zhea.


" Kenapa jemput nya pagi sekali Sya? aku kan belum siap " omel Zhea.


" Tadi sekalian ngantar ibu ku dulu, ibu ada acara di tempat temannya. Ibu mau bantu - bantu ,jadi pagi - pagi sudah harus kesana. Maka nya aku sekalian ikut deh biar Pak ujang gak bolak - balik "


" Kan bisa minta antar Abang kamu Sya? masih ada waktu satu jam lagi Sya, terlalu cepat ke sekolah juga gak enak, sepi "


" Onty Zhea benar kak, masih ada satu jam lagi " sanggah Bulan.


" Gak masalah Bulan, lama - lama di sini juga kakak senang " ucap Tasya.


" Iya kak, kalau gitu Bulan keluar dulu ya " Bulan keluar dari kamar ingin menemui Bunda nya.


" Kan ada abang kamu Sya? kenapa gak minta antar aja sama dia "


" Jadi Dokter itu memang begitu sibuknya ya Sya? Apa kak Zee akan seperti itu juga nantinya? " ucap Zhea.


" Menurut ku sih gak, kan Dokter di rumah sakit banyak Zhea. Gak cuma abang ku aja, Abang ku aja yang sok - sok sibuk. Kalau dia udah punya istri, pasti dia gak bakalan sesibuk itu lagi. Aku juga heran sama Abang, udah tua juga belum nikah - nikah. Nanti yang ada keburu aku yang duluan nikah dari dia. Hahahaha " tawa Tasya.


" Ada - ada aja kamu Sya, emangnya kalau kita udah lulus kamu mau langsung nikah? "


" Ya gak lah, aku pengen kuliah dulu. Cari kerja, cari uang, habis itu baru mikirin nikah " jelas Tasya.


" Bener, prinsip kita sama " Zhea mengancungkan jempolnya ke pada Tasya dan setelah itu lanjut mengoleskan bedak di wajahnya.


" Hmm.. Kak Zee juga belum nikah kan Zhea, gimana kalau kita jodohin Abang aku sama kakak kamu? " muncul ide Tasya untuk menjodohkan abang nya dengan Zee.


" Setuju, aku juga udah pengen banget Kak Zee nikah lagi. Lagi pula mereka kan sama - sama dokter, cocok kalau gitu mah " Zhea langsung setuju dengan ide Tasya.

__ADS_1


" Okelah kalau begitu, kita akan memikirkan cara nya nanti "


Tiba - tiba Bulan datang dan langsung membuka pintu kamar.


" Kak, Bunda panggil tuh. Kita di suruh sarapan dulu "


" Iya sebentar lagi " ucap Zhea lalu di balas anggukan oleh Bulan.


Selesai berdandan, Zhea dan Tasya keluar kamar dan menuju dapur. Disana Zee dan Bulan sudah menunggu.


" Tasya, ikut sarapan ya " ucap Zee lalu menuangkan nasi goreng kedalam piring Tasya.


Tasya sebenarnya sudah sarapan, tapi ia tidak pernah menolak tawaran Zee untuk sarapan. Karena masakan Zee memang enak, bukan cuma nasi goreng buatan Zee yang pernah Tasya makan. Beberapa masakan Zee yang lain juga pernah Tasya cicipi, karena Tasya sering kerumah Zee untuk bertemu Zhea sekaligus mengerjakan tugas kelompok mereka.


" Supir kamu udah sarapan belum Sya? kalau belum panggil aja sekalian kesini. Kan kasian udah nunggu lama, tapi dia belum sarapan " ucap Zee.


" Aduh kak Zee, Pak ujang aja di perhatiin. Apalagi nanti abang ya " Tasya mulai menghayal bagaimana perhatian nya Zee kepada abang nya kelak kalau Zee dan abang nya menikah.


" Tasya!! malah bengong " Zhea menyenggol lengan Tasya, membangunkan Tasya dari lamunan nya.


" Eh.. ia kak Zee, tadi Pak ujang udah sarapan kok. Kak Zee tenang aja " ucap Tasya dan di balas anggukan oleh Zee.


Mereka berempat sangat menikmati sarapan pagi ini, dan tidak ada rasa canggung buat Tasya. Tasya sudah merasa Zhea, Zee, dan juga Bulan seperti keluarga sendiri.


Selesai sarapan, Zhea dan Tasya berangkat ke sekolah. Sedangkan Bulan diantar oleh Zhea.


" Kita akan membahas rencana perjodohan abang sama Kak Zee di kantin ya, tunggu jam istirahat " ucap Tasya sesampai mereka di parkiran sekolah, Zhea hanya manggut - manggut sembari tersenyum.


Jangan lupa like, vote, dan singgah di kolom komentar 😘

__ADS_1


__ADS_2