Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Untuk pertama kali


__ADS_3

Zhea tersenyum saat bangun dari tidur dan wajah tampan Kevin yang ia lihat pertama kali, laki-laki tampan yang sekarang sedang memeluknya sambil tertidur.


Kedua pipi Zhea memerah saat mengingat bagaimana ciuman panas mereka semalam, Zhea jadi senyum-senyum sendiri karenanya.


Cukup puas memandangi wajah tampan suaminya, Zhea berniat untuk beranjak dari tempat tidur. Namun semakin Zhea bergerak, Kevin justru semakin mempererat pelukannya.


Karena waktu subuh sudah terlewat, Zhea mencoba membangunkan Kevin dengan mengelus lembut pipi suaminya, dan Zhea terkejut saat Kevin justru memegang tangannya lalu membuka kedua matanya.


" Abang sudah bangun " ucap Zhea, kedua pipi Zhea kembali memerah, entah karena ciuman panas mereka semalam, Zhea justru merasa malu saat melihat Kevin.


Kevin melepas pelukannya dari Zhea, Zhea merasa sedikit lega , dan bukannya langsung beranjak dari tempat tidur, Kevin justru berada di atas tubuh Zhea. Dan membuat Zhea berada di dalam kungkukannya.


Karena merasa candu, Kevin pun kembali mencium bibir manis sang istri, dan mereka kembali mengulang apa yang mereka lakukan semalam. Zhea yang juga merasa candu begitu menikmati apa yang suaminya lakukan.


Kevin memberi luang untuk mereka saling bernafas, dengan nafsu yang sudah berada di puncaknya. Kevin memberanikan diri untuk meminta hak nya kepada Zhea. Sebagai lelaki normal, tentu Kevin tak bisa menahan lagi gejolak cinta dan nafsu nya saat ini.


" Apakah boleh sayang ? " tanya Kevin sembari mengelus lembut rambut Zhea.


Zhea merasa gugup, namun dengan senang hati Zhea memberi kode kepada Kevin dengan menganggukkan kepalanya. Kevin pun tersenyum senang mendapat ijin dari Zhea, dan Kevin kembali mengecup bibir manis Zhea.


Ruangan kamar yang full AC pun tak membuat keduanya kedinginan, justru membuat tubuh keduanya bermandi keringat. Zhea merasa melayang saat Kevin memulai penyatuan dengannya, begitu pula dengan Kevin yang di buat candu dengan kemolekan tubuh sang istri.


Kevin memanggil sesuatu di dalam laci dan memakai nya saat Kevin sudah ingin sampai pada puncaknya, Zhea tahu itu apa dan merasa sedikit bingung dengan apa yang Kevin lakukan.


Kevin dan Zhea mengerang keras saat mereka berdua sama-sama berada dalam puncaknya, dan Kevin jatuh lemas di atas tubuh Zhea. Zhea bisa merasakan irama jantung Kevin yang berdetak kencang.


" Terima kasih Zhe " ucap Kevin lalu mengecup sekilas bibir Zhea.

__ADS_1


Zhea hanya bisa tersenyum, Zhea juga begitu senang karena ia sudah melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik.


" Bisa bangun Zhe, Abang gendong ya. Kita harus cepat mandi soalnya waktu subuh udah kelewat "


" Bisa kok bang "


Kevin dan Zhea bangkit dari tempat tidur, dan mereka sama-sama terkejut melihat pakaian mereka yang berceceran di lantai. Kevin dan Zhea pun saling pandang kemudian saling senyum. Kevin pun dengan santainya mengambil pakaian mereka yang berserakan di lantai tanpa memakai apapun untuk menutupi tubuhnya. Zhea merasa malu dengan apa yang ia lihat.


" Jangan malu Zhe, kamu harus membiasakan diri " ucap Kevin.


Setelah membereskan pakaian mereka, Kevin berjalan ke arah Zhea.


" Ayo Abang gendong " pinta Kevin siap dengan mengulurkan kedua tangannya di depan Zhea.


Zhea menyelimuti tubuhnya erat dengan selimut, dan setelahnya berusaha untuk bangkit.


Dan setelah berhasil berdiri, tanpa meminta ijin Kevin langsung menggendong Zhea.


" Ihh abang.." ucap Zhea.


" Abang tau rasanya pasti sedikit sakit, kamu tahu Abang ini suami yang bertanggung jawab, jadi Abang mau bertanggung jawab atas apa yang Abang lakukan. Kamu cukup diam dan ikuti aja yang Abang lakukan ya " ucap Kevin lalu menggendong Zhea , membawa Zhea ke dalam kamar mandi.


Jujur saja apa yang di katakan oleh suaminya Kevin benar adanya, Zhea memang merasakan sedikit nyeri di bagian bawah tubuhnya, dan lagi Zhea kembali tersentuh dengan apa yang di lakukan Kevin. Kevin mengerti akan apa yang ia rasakan.


****


Di tempat lain, Zee menangis sesegukan di dalam pelukan Zhio. Zee menangis karena merasa sedih akan sang adik untuk kuliah di luar negeri. Selama ini Zee tak pernah berpisah jauh dari Zhea, akan butuh waktu lama lagi untuk Zee bertemu Zhea nantinya.

__ADS_1


" Sayang, sudah ya nangisnya "


" Hiks..hiks..hiks.. aku gak pernah pisah sama Zhea bang, rasanya kok berat ya bang " ucap Zee.


Zhio hanya bisa mengelus - elus lembut punggung Zee untuk menenangkan istri nya.


" Abang juga sama yang, rasanya berat juga di tinggal Tasya, apalagi mereka berada di luar , bukan di negara kita. Kita bakalan kesepian karena gak ada tukang ngoceh lagi " ucap Zhio.


Zee yang awalnya menangis , kemudian tertawa kecil mendengar apa yang di katakan suaminya.


" Jangan sedih lagi ya yang, nanti kita bisa jenguk mereka kalau kamu mau, tenang aja yang "


" Jenguk, pergi ke Korea bang ? " tanya Zee tak percaya.


" Iya yang, kenapa ? " tanya Zhio.


" Biaya ke Korea kan cukup mahal bang " ucap Zee.


Zhio tertawa kecil melihat kepolosan sang istri, bukannya senang, Zee justru memikirkan masalah biaya yang padahal hal itu adalah hal mudah bagi Zhio, dan tak menjadi hal yang berat untuknya.


" Kamu tuh gemes banget sih yang " ucap Zhio lalu mengecup lembut bibir manis sang istri.


" ayok kita siap-siap yang, kan pesawat Zhea dan Tasya pagi ini. Kamu gak mau terlambat kan ? "


" Gak bang, tapi..Abang..gendong ya " pinta Zee, bersikap manis dan manja di depan Zhio.


Semakin lama Zee semakin menunjukkan sikap manjanya kepada Zhio, entah karena faktor kehamilan atau memang inilah sebenarnya Zee. Zee sebenarnya sosok yang tak segan atau malu untuk bermanja kepada orang yang ia cintai,. namun karena masa lalunya dulu membuat Zee sedikit dingin, dan lambat Laun semua hal itu hilang, kini Zee sudah kembali, tentu Zhio sangat menyukai sikap manja Zee kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2