Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Bu Dewi


__ADS_3

Mendengar Bulan yang sedang sakit, membuat semua anggota keluarga khawatir. Dan yang paling terlihat repot adalah Bunda Hesty. Saat Bulan sedang tertidur, Bunda sibuk di dapur membuat bubur dan minuman tradisional untuk Bulan. Dan setelah semua selesai , Bunda segera membawanya ke kamar, ingin memberikannya kepada Bulan setelah Bulan bangun.


" Maaf ya Bunda, seharusnya Zee aja yang buat buburnya Bun " saat ini hanya ada Zee dan Bunda Hesty yang menemani Bulan, Zhea dan Tasya sudah berangkat ke sekolah, begitu pula dengan Ayah Xander yang sudah berangkat ke luar kota untuk menangani cabang perusahaan mereka di sana.


" Gak usah minta maaf Zee, kamu gak salah apa-apa sayang. Bagaimanapun Bulan itu kan cucu Bunda, jadi sudah seharusnya Bunda juga perhatiin Bulan. Dulu waktu Abang sama Tasya sakit, Bunda sering ni bikinin mereka minuman tradisional ini, besoknya mereka langsung sembuh deh " jelas Bunda sembari menunjukkan segelas minuman tradisional yang Bunda Hesty buat.


" Makasih ya Bun " ucap Zee.


" Sama-sama sayang " ucap Bunda dengan tersenyum hangat kepada Zee.


Pintu kamar terbuka, " Gimana keadaan Bulan ? tanya Zhio baru saja datang setelah tadi keluar sebentar karena ada telepon penting dari Pak Niko.


" Bulan masih tidur bang, suhu tubuhnya udah mulai turun " jelas Zee sembari melihat ke arah Bulan.


" Kamu gak siap-siap kerja Bang ? " tanya Bunda.


" Bulan lagi sakit Bun, Zhio jadi bingung mau turun ke kantor " ucap Zhio.


" Kamu kerja aja nak, kan ada Bunda. Oh ya Zee, bukannya kamu hari ini harus ke kampus kamu ya , kata kamu ada laporan yang harus di kumpul hari ini ? " tanya Bunda Hesty.


" Loh yang, laporan kamu harus di kumpul hari ini ? " tanya Zhio, pasalnya Zhio memang tidak tau jika laporan yang ia buat semalam untuk Zee harus di kumpul hari ini. Pantas saja istrinya itu harus begadang untuk mengerjakannya.


" Hmm..iya sih Bun, tapi gak apa nanti biar Zee ijin aja sama Dosen Bun " ucap Zee.


" Jangan sayang, nanti kalau telat ngasih, pasti bakalan berdampak sama nilai kamu. Gak apa pergi aja, kamu gak perlu khawatir , Bulan biar Bunda yang jaga " ucap Bunda Hesty.


Zee pun terdiam sejenak,. sebenarnya tugas kampusnya juga penting, tapi melihat Bulan sakit juga membuat Zee khawatir.


"Zee sayang, tenang ada Bunda di sini. Okey " ucap Bunda meyakinkan Zee bahwa Bunda akan merawat Bulan dengan baik.


" Ya udah Bun, tapi beneran gak apa kan Bun ? gak ngerepotin Bunda kan ? " tanya Zee.


" Gak sayang, gak sama sekali, sudah berangkat sana. Nantu terlambat loh "


Zee melirik ke arah jam dinding, Zee memang hampir terlambat.


" i...i..iya Bun, nanti bilangin Bunda kalau Zee ke kampus ya Bun "


" Iya sayang, ya udah cepat sana, Abang antar Zee ya, sekalian Abang juga berangkat kerja " pinta Bunda.

__ADS_1


" Iya Bun , kalau gitu kami pamit. Assalamualaikum " Zhio menyalimi tangan Bunda Hesty, dan di iringi Zee di belakangnya.


" Waalaikumussalam " jawab Bunda.


****


" Abang nanti gak usah jemput aja gak apa ya bang, aku paling sebentar aja bang. Nanti biar naik taksi aja pulangnya. Kasian Abang nanti bolak-balik jemputin aku " ucap Zee sembari mengulurkan tangannya ingin menyalimi tangan Zhio.


" Abang akan tetap jemput sayang, nanti telepon Abang kalau kamu udah pulang ya " ucap Zhio.


" Ya udah deh terserah Abang " ucap Zee pasrah, karena jika Zhio sudah memaksa, Zee tidak bisa apa-apa. Ia pun ingin melepas tangannya dari Zhio, namun Zhio menahan tangan Zee sembari tersenyum.


" Abang... " ucap Zee sembari menatap Zhio, dan tiba-tiba saja Zhio menarik Zee dan menangkup wajah Zee.


CUP...


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Zee. Dan setelah itu Zhio baru melepaskan tangannya.


" Hati-hati sayang , my baby, jaga bunda baik-baik ya " ucap Zhio sembari mengelus lembut perut Zee.


" Iya Abi " jawab Zee sembari terkekeh.


" Waalaikumussalam, sayang " jawab Zhio.


Zhio pun melajukan kendaraannya menuju kantor.


Zee mempercepat langkahnya menuju kelas, karena ia benar-benar sudah terlambat. Zee takut jika dosen pembimbingnya pergi karena terlalu lama menunggunya.


Saat berada di depan kelas, tiba-tiba saja Zee menghentikan langkahnya karena dari kejauhan Zee melihat Amira yang sedang berdiri di depan ruang administrasi dengan memegang selembar kertas. Yang membuat Zee terkejut karena melihat Amira seperti menangis dan sedang menyeka air matanya.


Zee ingin menghampiri Amira, Namun Zee ingat kalau Dosen sedang menunggunya, dan mengurungkan niatnya. Ia akan menemui Amira setelah ia memberikan hasil laporan hariannya kepada Dosen.


" Buk, tinggal saya aja ya yang ibu tunggu " ucap Zee, saat Bu Dewi Dosen pembimbingnya sedang sibuk memeriksa laporan hariannya.


" Iya betul " ucap Bu Dewi sembari fokus mengoreksi laporan Zee.


" Bu, apa Amira sudah ngumpulin tugas ? " tanya Zee.


" Sudah, oh ya kamu itu sahabat Amira kan. Nanti kalau kamu ketemu dia. Tolong kasih tau ya , di tunggu sama Bu Sri di bagian administrasi. Tadi saya lupa kasih tau Amira " ucap Bu Dewi, masih fokus memeriksa laporan Zee.

__ADS_1


" Baik Bu, emangya ada apa ya Bu ? kenapa Amira di panggil Bu Sri ? " tanya Zee.


" Mana saya tau, kan kamu sahabatnya , seharusnya kamu dong yang lebih tau " ucap Bu Dewi menatap horor Zee sejenak, namun setelah itu kembali fokus memeriksa laporan Zee.


Zee bergidik melihat tatapan horor Bu Dewi, dan tiba-tiba Bu Dewi kembali menatap Zee. Bahkan melihat Zee dari ujung kepala hingga ujung kaki.


" Kamu..ibu lihat perut kamu membesar ? Kamu..kamu hamil ??" tanya Bu Dewi dengan tatapan horornya.


" Iya Bu, saya sedang hamil " ucap Zee, karena sudah terbiasa dengan Bu Dewi, membuat Zee tidak terlalu takut menghadapi Bu Dewi.


" Apa ?? hamil ?? berarti berita mengenai pernikahan kamu waktu itu benar ? " tanya Bu Dewi.


" Ibu tau dari mana ? " tanya Zee balik.


" Kamu..di tanya malah tanya balik " ucap Bu Dewi dengan sedikit meninggikan suaranya.


" Maaf Buk .. iya benar saya sudah menikah buk dan saya juga sedang hamil " jelas Zee.


" Bukan karena hamil duluan kan ?? " tanya Bu Dewi.


Dosen nya Zee yang satu ini memang sedikit galak dan suka blak- blakan kalau berbicara.


" Tidak Bu, saat ini usia kandungan saya sudah memasuki 4 bulan. Dan usia pernikahan saya sudah memasuki 7 bulan, Alhamdulillah setelah jalan dua bulan pernikahan, saya sudah positif hamil Bu " jelas Zee panjang lebar.


Bu Dewi hanya mengangguk sembari fokus memeriksa laporan Zee.


" Bukan suami orang kan ? " tanya Bu Dewi , menatap Zee sejenak, kemdian kembali fokus memeriksa laporan Zee.


Zee terkekeh melihat tingkah Bu Dewi. " Bukan Bu, ibu tenang saja " ucap Zee.


" Baguslah, ini laporan kamu sudah selesai. Tidak ada yang perlu di perbaiki. Mulai lagi membuat laporannya besok, dan kumpul lagi ke saya Bulan depan . Ingat, jangan hanya di buat tapi di pelajari, karena sebentar lagi kita akan menghadapi ujian "


" iya Bu "


" oh ya selamat atas pernikahan dan kehamilan kamu " ucap Bu Dewi.


" Iya Bu, terima kasih "ucap Zee dan di balas anggukan oleh Bu Dewi.


Zee tersenyum saat Bu Dewi pergi, di balik galaknya Bu Dewi , ia adalah Dosen yang cerdas dan sangat perhatian kepada semua anak pembimbingnya.

__ADS_1


__ADS_2