Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Bodoh Sekali


__ADS_3

Setelah Syam pulang, barulah Zhio masuk dan menemui Zee. Sebelum pulang, Syam bertemu Zhio di depan dan sempat menyapa Zhio. Seperti biasa Zhio hanya menganggukan kepala nya tanpa ada senyuman atau pembicaraan dengan Syam.


Zhio masuk bersama dengan seorang perawat yang akan memindahkan Zee di ruang rawat pasien. Zee di tempatkan di ruang VVIP, itu semua atas perintah Zhio.


Zee menatap sekeliling ruang rawat, bagaimana bisa dia di tempatkan di ruang VVIP begini. Kenapa tidak di ruangan biasa saja, ruangan nya juga terlalu besar. Zee jadi pusing memikirkan hal itu, ia yakin biaya nya pasti mahal.


Zee melihat Zhio yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya, Zhio sedang melihat - lihat jadwal operasi esok hari. " Tanya gak ya , aduh aku kok jadi takut " Zee menggigit bibir bawahnya, ia ingin berbicara dengan Zhio, ingin bertanya kenapa ia bisa di tempatkan di ruangan ini. Dan ingin meminta kepada Zhio agar menempatkan nya di ruangan biasa saja, tapi Zee merasa takut untuk berbicara dengan Zhio.


" Bang Zhio " Zee memberanikan diri, mendengar nama nya di panggil. Zhio menatap Zee, jantung Zee berdetak kencang begitu Zhio menatap nya. Zee takut sekali, menurut nya tatapan Zhio sangat mengerikan.


" Kenapa? " tanya Zhio.


" Kenapa aku di tempatkan di ruangan ini? ini ruangan VVIP kan bang? bisa tidak aku di tempatkan di ruangan biasa saja. Lagipula besok kan aku sudah bisa pulang "


Zhio tersenyum tipis mendengar pertanyaan Zee, sangat tipis hingga Zee pun tak bisa melihatnya, lalu ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Zee. Jantung Zee semakin berdetak kencang, " apa yang ingin bang Zhio lakukan? tidak bisakah dia duduk di sofa saja "


" Tau dari mana kalau kamu besok sudah bisa pulang? " tanya Zhio, kini ia sudah berdiri di samping Zee.


" Hmm.. a.. a.. ku.. aku kan Dokter bang, aku bisa mendiagnosa kondisi tubuh ku sendiri, dan besok aku sudah boleh pulang " Zee berbicara agak sedikit terbata - bata, entah mengapa ia gugup sekali. Menghadapi Zhio lebih menakutkan dari pada menghadapi Satria yang dulu sering berkata kasar kepada nya.

__ADS_1


" Jangan sok tau, seharusnya kamu bisa menjaga kondisi dan kesehatan kamu sendiri, pasien memang lebih penting, tapi kesehatan kita juga penting. Kalau kamu sakit, atau kurang sehat. Kamu juga pasti tidak bisa maksimal dalam memeriksa pasien, kalau kamu sampai salah mendiagnosa pasien bagaimana? Baru magang saja kamu sudah begini, bagaimana nanti kalau udah kerja ? " Mendengar penjelasan Zhio, Zee terdiam. Apa yang di katakan oleh Zhio benar, ia memang bodoh sekali. Kenapa bisa teledor seperti ini. Zhio bukan nya marah kepada Zee, ia hanya ingin mengingatkan Zee agar selalu menjaga kesehatan nya sendiri. Zhio tidak ingin Zee nanti nya akan sakit lagi, dan akhirnya harus kembali masuk kerumah sakit.


" Iya bang, aku memang salah. Tapi.. bisa kan aku pindah ke ruang rawat biasa saja " Zee kembali ke inti permasalahan nya tadi.


" Rumah sakit sudah menanggung semua nya, kamu tidak perlu khawatir " Zhio sudah mengerti maksud Zee.


" Yang bener bang, tapi gimana bisa bang? kan aku cuma anak magang, bukan karyawan di rumah sakit ini. Lagipula bagaimana bisa rumah sakit yang tanggung jawab? "


" Gak usah banyak pertanyaan, sekarang lebih baik kamu istirahat " ucap Zhio dingin.Zhio sengaja berbohong kepada Zee, Zhio hanya ingin yang terbaik untuk Zee sekarang.


Mendengar itu Zee diam, ia hanya menganggukan kepala nya. Ia tidak ingin bertanya lagi, ia takut jika bertanya lagi Zhio akan marah kepada nya.


" Biar saya saja yang lakukan " Zhio kembali mengambil alih, seolah ia tidak ingin ada orang lain yang menyentuh Zee, padahal perawat yang datang adalah perawat wanita. Tapi tetap saja, Zhio ingin ia yang melakukan nya. Dan dengan perlahan sekali Zhio mulai mengambil sedikit darah Zee, menusukkan jarum nya pun dengan perlahan dan hati - hati sekali. Selesai mengambil sampel darah Zee, perawat itu pun pamit.


" Bang, lebih baik abang pulang saja. Aku tidak apa sendirian disini, ibu abang kan juga lagi sakit "


" Aku sudah berjanji kepada Bulan untuk menemani mu disini, dan di rumah sudah ada ayah yang menjaga ibu. Lebih baik sekarang kamu istirahat, jangan banyak berbicara " Zee memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Zhio, Zee yang awalnya sedang duduk kini berbaring. Ia mengambil selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya. " Bisa - bisa nya bang Zhio bilang aku banyak bicara, aku kan peduli dengan nya. Aku bahkan belum mengucapkan Terima kasih kepada nya karena sudah membawa ku kesini, Menyebalkan, mungkin memang lebih baik aku tidur sekarang " batin Zee lalu ia mulai memejamkan kedua mata nya.


Zhio yang masih berdiri di samping tersenyum melihat Zee yang menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, Zhio pun berjalan menuju sofa. Ia membuka jaket nya, lalu merebahkan dirinya di sofa itu. Zhio meregangkan kedua tangan nya, tangan nya berasa sedikit pegal.

__ADS_1


" Ternyata kamu berat juga Zee " batin Zhio sembari melihat ke arah Zee. Ia sepertinya tangan nya pegal karena menggendong Zee tadi, ya menurut Zhio sekarang tubuh Zee memang sedikit berisi. Tidak seperti tiga tahun lalu, dulu Zee terlihat kurus sekali. Walaupun begitu, menurut Zhio sekarang Zee bahkan terlihat lebih cantik.


Zhio terus melihat ke arah Zee, Zee yang masih bersembunyi di balik selimut nya.


*****


Zhio


Sejak tadi sebenarnya aku ingin bertanya kepada Zee mengenai surat yang tiga tahun lalu pernah ia berikan kepada ku . Tapi entah mengapa melihat Zee, jantung ku jadi berdetak tidak menentu. Apalagi setelah tau Zee sudah bercerai, ya seperti ada secercah harapan untuk ku . Harapan untuk memiliki Zee seutuhnya. Karena terlalu gugup, aku memilih diam sejenak sembari memainkan ponsel , mengecek jadwal operasi dan juga jadwal visit ku besok, sembari menunggu dan berharap detak jantungku normal kembali dan setelah itu aku akan berbicara dengan baik kepada Zee. Namun, tiba - tiba saja Zee memulai perbincangan dan bertanya kepadaku. Sontak saja jantung ku yang sudah mulai normal kembali berpacu kencang, " Kenapa? " itulah kata yang terucap dari bibirku, dengan nada dingin.


Aku bisa mendengar Zee berbicara kepada ku dengan terbata - bata, ya sepertinya ia merasa takut dengan sikap dingin ku. Aku bodoh sekali ya, perasaan ku benar - benar gundah saat ini, Zee membuat ku jadi tidak bisa berpikir jernih. Bahkan aku tadi sempat menceramahi nya, aku tidak marah kepada nya, aku hanya ingin ia menjaga kesehatan nya. Aku tidak ingin ia kembali sakit dan harus di rawat di rumah sakit seperti ini. Itu semua ku lakukan karena aku sangat menyayangi nya.


Semoga saja Zee tidak berpikir yang tidak baik tentang ku, dan besok aku akan bertanya kepada Zee akan surat itu. Setidaknya beri ia waktu istirahat dulu sekarang, aku terus menatap Zee hingga aku pun ikut terlelap.


**Bersambung...


jangan lupa like dan vote nya 😊


kritik dan saran nya juga yahh.. 😘**

__ADS_1


__ADS_2