
Zhio menjalani operasi selama 7 jam lebih, setelah menjalani operasinya, Zhio sudah dapat di pindahkan di ruang perawatan.
Zhio di pindahkan di ruang VVIP yang sudah di siapkan Ayah Xander. Zee duduk di sisi sebelah Zhio , dan di sebelah sisinya lagi ada Bunda Hesty.
Zee meraih tangan Zhio dan mengelus lembut tangan suaminya itu. Zhio terlihat sangat pucat, dengan kepala yang masih terlilit perban, bahkan wajah Zhio juga terdapat sedikit luka lecet akibat kecelakaan yang di alaminya.
Kedua kaki Zhio juga tampak di perban , dan terdapat selang kecil di dalamnya yang mengeluarkan darah , dan di ujung selang terdapat kantung untuk menampung darah tersebut. Air mata pun kembali mengalir, Zee tidak bisa menahan air matanya saat melihat kondisi suaminya.
Zee bisa membayangkan bagiamana sakit yang di alami suaminya saat ini, terlebih kedua kakinya dan juga tangan kanan Zhio yang juga di balut dengan gips karena terjadi retakan tulang di pergelangan tangan kanan Zhio. Walaupun tidak sampai patah , tapi tetap saja hal itu membutuhkan waktu penyembuhan yang cukup lama.
Zhio masih dalam keadaan tak sadarkan diri, hal itu karena pengaruh obat bius yang ada pada tubuhnya.
" Zee, jangan menangis ya nak. kamu harus kuat, agar Zhio juga kuat menjalani semuanya dan menerima semua yang terjadi "
Zee menganggukkan kepalanya dan menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.
" Bunda benar Zee, kita semua harus kuat. Ikhlas ya nak, semua yang terjadi adalah kehendak Allah " ujar Ayah Xander.
" Iya ayah "
Zee masih setia menunggu Zhio, Zee duduk di sisi Zhio dengan menggenggam erat jemari tangan Zhio. Sedangkan Bunda dan Ayah Xander sudah beristirahat terlebih dahulu. Ayah Xander dan Bunda Hesty tidur di lantai berdua dengan memakai kasur tipis sebagai alas mereka yang sudah di persiapkan sebelumnya dan di antar oleh Pak Ujang.
Karena ruangan rawat sangat luas, memungkinkan untuk ayah Xander dan Bunda membawa kasur tipis yang cukup lebar itu , di sana juga terdapat sofa bed yang cukup besar pula yang bisa digunakan untuk beristirahat.
" Cepat sadar ya bang "
Zee mengelus-elus tangan Zhio dan sesekali menciuminya.
Dua jam kemudian Zhio terbangun dari tidur panjangnya, Zhio melihat Zee yang sedang tidur di sebelahnya dengan posisi duduk, bahkan Zee masih menggenggam erat jemari tangan Zhio. Merasa adanya gerakan dari jemari tangan Zhio , membuat Zee terbangun.
" Abang "
__ADS_1
Zee berdiri dan menatap Zhio, Zhio tersenyum kepada Zee begitu pula dengan Zee.
" Alhamdulillah , Abang sudah sadar "
Zee ingin beranjak membangunkan Ayah Xander dan juga Bunda Hesty, namun Zhio menarik tangan Zee , dan melarang Zee untuk membangunkan kedua orangtuanya.
" Biar aja yang, kasian Ayah sama Bunda lagi tidur " Zhio berbicara dengan pelan, dan Zee menuruti permintaan Zhio.
" Minum dulu ya bang ", Zee memberikan segelas air putih kepada Zhio dan membantu Zhio untuk minum.
" Abang baik-baik saja kan ? apa ada yang sakit ? " tanya Zee dengan wajah kekhawatirannya.
" Gak ada sayang , kaki abang , kaki Abang kenapa ? " tanya Zhio.
Sebenarnya Zhio merasa semua tubuhnya terasa sakit, ia tidak ingin mengatakan hal itu karena tidak ingin membuat Zee semakin khawatir , lihat betapa sayangnya Zhio kepada sang istri, bahkan untuk sakit pada dirinya sendiri pun ia tutupi agar sang istri tidak khawatir.
Sebagai seorang Dokter, Zhio juga sudah tau apa yang terjadi dengan kaki dan tangannya dengan melihat banyaknya perban yang melilit, hanya saja Zhio ingin tau seberapa parah cedera yang ia alami saat ini.
" Gak ada yang perlu di khawatirkan ya bang. Abang akan sembuh "
Hanya itu saja yang bisa Zee katakan, saat ini Zee berusaha untuk menahan tidak menangis di hadapan Zhio.
Zhio kembali tersenyum , " Maafin Abang ya, nasi Padang yang kamu mau gak bisa Abang beliin "
Air mata yang berusaha Zee tahan akhirnya tumpah, Zee tidak bisa menahan bendungan air matanya itu tatkala Zhio masih mengingat akan nasi Padang pesanannya sebelum kecelakaan terjadi.
Hiks..hiks..hiks...
Zee kembali menangis karena di saat seperti ini suaminya masih memikirkan dirinya , masih memikirkan apa yang ia inginkan.
Ingin rasanya Zhio beranjak dan memeluk sang istri, tapi apalah daya Zhio, untuk duduk saja Zhio masih tidak sanggup karena merasa sakit pada semua tubuhnya.
__ADS_1
Zee menunduk lalu menciumi tangan suaminya, setetes air mata pun mengalir di pipi Zhio. Namun hanya setetes , Zhio tidak bisa menahan rasa sedihnya saat ini, kecelakaan ini membuat Zhio tidak berdaya, bahkan kedua kakinya mungkin akan lumpuh selamanya dan yang jelas akan sangat lama pulih, begitu pula dengan tangan kanannya.
Sebagai seorang dokter bedah, tangan adalah tempat yang sangat berharga, bagaimana Zhio bisa melanjutkan kedokterannya, bagaimana ia akan mengoperasi orang nanti jika terjadi suatu pada tangannya, begitu juga dengan perusahaannya. Masih banyak hal yang ingin Zhio wujudkan, dan yang paling membuat Zhio bersedih yaitu melihat kesedihan istrinya saat ini.
Zee teringat akan saran dan kata-kata kedua mertua nya yang mengatakan untuk tidak terus menangis terlebih di hadapan Zhio. Mengingat akan hal itu Zee pun berhenti menangis.
" Abang yang sabar ya, Abang pasti bisa ngelewatin semua ini " Zee memberi semangat kepada sang suami.
" Iya sayang, Abang akan terus semangat asal kamu selalu di samping Abang "
Zee tersenyum , beranjak dari duduknya dan mencium kening Zhio.
" Aku akan selalu di samping Abang apapun keadaannya "
Zhio bahagia sekali mendengar tuturan dari istrinya, Zhio sangat ikhlas menerima yang tertimpa kepadanya. Zhio yakin Allah maha tahu yang terbaik dari setiap hambanya,, jadi saat ini Zhio hanya perlu berserah dan menerima semua yang sudah Allah tentukan kepada hidupnya.
" Terima kasih sayang "
Suara Zhio dan Zee yang sedang mengobrol terdengar oleh Bunda Hesty, Bunda Hesty pun segera membangunkan Ayah Xander.
" Zhio , alhamdulillah kamu sudah sadar nak "
Bunda begitu senang melihat Zhio sudah sadar , Bunda mencium kening Zhio sama seperti yang Zee lakukan sebelumnya.
" Sudah lama bangunnya Zee, kenapa tidak membangunkan ayah dan bunda "
" Baru aja Bun, tadi mau bangunin Bunda tapi bang Zhio ngelarang soalnya kasian liat ayah sama bunda udah tidur pulas "
" Maa syaa Allah Abang, di saat seperti ini masih aja memikirkan bunda dan ayah. Terima kasih ya nak, Abang yang sabar ya, semua yang terjadi sudah kehendak Allah, kita semua akan membantu Abang untuk ngelewatin semua ini "
" Bunda benar Zhio , saat ini pikirkan pemulihan kamu saja ya nak. Biarkan semua yang di luar ataupun masalah pekerjaan biarkan semua ayah yang mengurusnya "
__ADS_1
" Terima kasih Ayah, Bunda "