
Zee baru selesai memeriksa pasien nya, dan tiba - tiba saja Amira datang lalu menyapa Zee. Karena pasien hari ini cukup banyak, Zee tidak menyadari jika shift kerja nya sudah usai. Bukan hanya Zee yang sibuk, Celin, Dokter Syam dan lain nya juga begitu. Entah mengapa hari ini pasien lebih banyak tidak seperti hari sebelumnya.
" Zee, belum pulang? pasien hari ini banyak ya? aku kangen sama kamu Zee, lama kita gak jalan bareng " Amira bergelayut manja di lengan Zee.
" Iya banyak banget pasien nya Ra, aku aja gak sadar kamu datang. Aku juga kangen sama kamu, nanti kalau ada waktu yang pas kita jalan - jalan ya " ucap Zee.
" Siapa yang mau jalan - jalan? " Zee dan Amira menoleh ke belakang, ternyata Dokter Syam. Melihat Zee dan Amira, Dokter Syam menemui mereka dan samar - sama mendengar percakapan Zee dan Amira yang mengatakan kalau mereka ingin jalan - jalan.
" Eh Dokter Syam, kami berdua yang mau jalan - jalan " ucap Zee.
" Hmm.. boleh saya ikut? " tanya Dokter Syam.
Zee dan Amira saling pandang, dan tak lama pandangan mereka kembali ke Dokter Syam. " Boleh Dok " jawab Zee dan Amira bersamaan. Dokter Syam berterima kasih kepada mereka, lalu berlalu pergi begitu saja. Zee dan Amira kembali saling pandang, dan tak lama mereka saling melempar senyum. Mereka merasa aneh saja dengan sikap Dokter Syam, tapi kalau Dokter Syam benar ingin ikut mereka jalan bareng, ya tidak jadi masalah. Bahkan Zee dan Amira senang.
Zee dan Amira masuk kedalam ruang petugas, Zee bersiap pulang sedangkan Amira bersiap memulai shift kerja nya yang masih ada waktu sekitar sepuluh menit lagi. Amira memang sengaja datang lebih awal agar bisa lebih lama berbincang dan bertemu Zee.
" Zee, aku tadi liat ada nek lampir di sini? dia kerja di sini juga? Kenapa kita bisa ketemu lagi ya sama dia di sini? " Amira, Amira masih kesal dengan sikap Celin kepada Zee waktu itu.
" Dia anak dari pemilik rumah sakit ini Ra, dan sekarang dia jadi penanggung jawab di UGD "
" Hah!! yang benar Zee. Astaga Zee!! " Amira Syok, Zee terkekeh melihat tingkah Amira.
" Mau gimana lagi Ra, semua sudah di atur sama Allah. Sabar - sabar aja ngadepin Dokter Celin, lagipula habis ini juga dia pulang "
" Ya Zee, kamu juga yang sabar ya. Dia kan gak suka sama kamu. Oh ya Zee, kalau Dokter Celin ada di sini. Berarti abang Zhio mu itu kerja di rumah sakit ini juga kan? "
" Aku juga gak tau Ra, aku gak pernah liat dia di sini. Bisa aja kan udah gak kerja di sini lagi, tapi.. aku sudah ketemu dia kemarin Ra "
" Ketemu, ketemu dimana Zee? "
__ADS_1
" Jadi begini Ra.. " Zee pun mulai bercerita pertemuan nya kembali dengan Zhio, Amira menutup mulut nya dengan kedua tangan nya begitu mendengar Zee bercerita kalau Zee jatuh di atas badan Zhio.
" Kenapa mulut kamu di tutup gitu Ra? "
" Aku mau nahan teriak aku Zee, jadi pas kamu jatuh bareng bang Zhio itu. Kamu saling tatapan gitu sama dia.. ih.. so sweet banget Zee. Aku jadi penasaran deh sama si babang Zhio mu itu " Amira menepuk pelan lengan Zee.
" Terus.. terus Zee, kamu ngobrol apa aja sama dia? Kamu gak tanya kalau dia sekarang kerja di rumah sakit mana? " Amira kembali menjejali Zee dengan banyak pertanyaan.
" Aku gak ngobrol banyak Ra, Bang Zhio sekarang berubah. Sikapnya dingin sama aku, aku jadi canggung juga kalau ngajak dia ngobrol " Zee memanyunkan bibirnya, ia jadi ingat sikap Zhio waktu itu yang begitu dingin dengan nya.
" Kok bisa gitu ya, aku jadi tambah penasaran sama babang Zhio mu itu " ucap Amira.
" Sudah yuk Ra, kita keluar. Nanti kalau kelamaan di sini Dokter Celin marah lagi " ucap Zee dan di balas anggukan oleh Amira, mereka berdua pun keluar dari ruang petugas. Amira memulai tugasnya, sedangkan Zee langsung pulang. Tidak lupa ia berpamitan dulu dengan para perawat dan Syam, dengan Celin juga begitu. Walaupun Zee juga tidak menyukai Celin, tapi ia tetap profesional, Celin adalah dokter senior di sana. Dan ia harus menghormati Celin.
*****
Baru keluar dari UGD, ponsel Zee berdering. Dan tertulis nama Tasya di layar kaca ponsel nya. Zee dengan segera mengangkat telpon dari Tasya. Tasya mengatakan jika ia meminta tolong untuk mencari abang nya, yang tak lain adalah Zhio. Tasya bilang kalau ibu nya sedang sakit , Tasya sudah berusaha menghubungi Zhio tapi abangnya itu tidak mengangkat telpon dari nya. Zee mengernyitkan dahi nya, mau cari dimana dalam batin nya. Tasya mengatakan kalau abangnya bekerja di tempat yang sama dengan nya, Zee menganggukan kepalanya mengerti lalu sambungan telepon mereka terputus.
" Ngapain wanita itu ke sini lagi? " tanya Celin, Celin tengah bersiap pulang, namun begitu keluar dari ruang petugas, Celin tidak sengaja melihat Zee.
" Oh, Dokter Zee tadi bertanya kepada saya dimana ruang kerja Dokter Zhio "
" Ruang kerja Zhio? " Celin membulatkan kedua matanya, ia pun bergegas menyusul Zee. Ia tidak mau Zhio bertemu dengan Zee.
Zee melihat ke kiri dan ke kanan, memperhatikan satu persatu papan nama yang tertera di depan pintu ruang kerja para dokter. Hingga akhirnya Zee menemuka ruang kerja Zhio. Zee menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu, padahal Zee sudah lama kenal dengan Zhio. Tapi entah mengapa karena sifat dingin Zhio waktu itu membuat Zee sedikit takut jika bertemu Zhio.
Baru saja ingin mengetuk pintu, tangan Zee di cekal oleh seseorang dan orang itu adalah Celin.
" Mau apa kamu ke sini? " tanya Celin dengan jantungnya yang sudah berdetak dengan kencang sejak tadi, nafasnya juga tersengal - sengal.
__ADS_1
Zee kembali menarik nafas panjang, ia sudah sangat lelah hari ini. Dan sekarang harus kembali dihadapkan dengan Celin, Zee tidak ingin berdebat saat ini.
" Saya ke sini mencari Dokter Zhio? "
" Zhio, apa dia tau Zhio bekerja di rumah sakit ini juga. Sial.. jangan sampai mereka bertemu " batin Celin.
" Dia tidak ada di sini, lebih baik kamu cepat pergi " Celin mendorong - dorong Zee, ia ingin Zee segera pergi sebelum Zhio melihat mereka.
" Saya tidak ada maksud apa - apa Dokter Celin, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu " ucap Zee, Celin tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Zee. Ia terus mendorong Zee untuk segera pergi dari sana. Zee manahan tangan Celin, Kalau bukan karena ibu Zhio, ia sudah pergi dari tadi.
" Ada apa ini? " tanya Zhio, Celin dan Zee menoleh ke arah Zhio.
" Zhio " Celin melangkah maju mengadap Zhio dan membelakangi Zee.
" Kenapa kalian berdua ribut - ribut di sini? " tanya Zhio.
" Tasya tadi telpon bang, kata nya ibu abang sedang sakit. Tasya sudah coba menghubungi abang Zhio, tapi ponsel abang tidak bisa di hubungi "
" Ibu sakit? " Zhio bergegas masuk kedalam ruangan nya, ia meraih ponsel nya dan segera keluar lagi dari ruangan. Wajah Zhio terlihat cemas.
" Zhio, aku ikut ya. Aku mau jenguk ibu " Celin memegang lengan Zhio, tapi Zhio segera melepas tangan Celin.
" Baiklah " Celin semringah, ia mengekor di belakang Zhio. Mereka meninggalkan Zee yang masih berdiri dan mematung seorang diri. Zhio tidak berterima kasih sedikit pun kepada nya karena sudah memberikan tahu Zhio mengenai kondisi ibu nya.Bahkan mengucap satu kata pun tidak ada buat Zee. Hati Zee terasa sakit melihat Zhio yang seperti tidak peduli dengan nya.
Seperti yang di katakan oleh Kevin, pertemuan Zhio dan Zee tidak akan terhindarkan. Sesusah apapun Celin berusaha menjauhkan Zhio dan Zee, mereka pasti akan bertemu. Melihat sikap dingin dan cuek Zhio kepada Zee membuat Celin tidak khawatir lagi, coba tau seperti ini mungkin ia tidak akan bersusah payah menjauhkan Zhio dan Zee.
**Maaf baru up ya readers... 🙏🙏
selamat menjalankan puasa.. 😊
__ADS_1
Tetap stay tune yak, jangan lupa like dan singgah di kolom komentar.. 😘**