
Pukul sebelas malam Zee terbangun dari tidurnya, Zee melihat ke langit - langit kamar, Zee ingat kalau terakhir kali ia naik mobil bersama Zhio dan sekarang kenapa bisa ada di kamar. Zee menoleh ke samping dan melihat Tasya yang sedang tertidur pulas.
" Jadi aku di kamar Tasya, berarti udah sampai di rumah bang Zhio. Aku ketiduran pasti pengaruh obat yang di suntikkan tadi, tapi siapa ya yang bawa aku ke kamar? malu banget rasanya sampe ketiduran begini "
Zee berusaha beranjak dari tempat tidur dengan gerakan perlahan, sekujur tubuh Zee terasa sakit dan remuk, bayangan mengenai kecelakaan pun kembali terulang. Dimana Zee sempat terlempar dari sepeda motornya dan berguling-guling di jalan aspal saat sepeda motor di belakang nya tiba - tiba menabrak nya. Zee juga masih bisa mengingat dengan jelas saat banyaknya kendaraan saling bertabrakan hanya karena ada satu mobil truk yang menimpa dan menabrak sehingga terimbas kepada pengendara lain nya.
Zee juga ingat bagaimana ia bersikeras membantu Celin keluar dari mobil dengan keadaan yang masih setengah sadar dan dengan kondisi kaki yang terjepit kursi mobil dan kening yang terus mengalir mengeluarkan darah segar karena terluka.
Zee bersyukur sekali karena ia masih selamat dalam kecelakaan, dan alhamdulillah nya Zee masih bisa membantu para korban saat itu.
Sesuai pesan dari Zhio, Bunda Hesty meletakkan segelas air di atas meja laci yang berada di samping tempat tidur. Melihat itu Zee segera meminumnya karena ia merasa kehausan.
Merasa tubuhnya tidak terlalu sakit lagi, Zee beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi. Di sana Zee mengambil air wudhu dan berniat untuk menunaikan sholat, dan juga nengucap syukur kepada sang pencipta karena telah melindungi nya dan menyelamatkan nya dari kecelakaan yang ia alami.
Untung saja mukena dan sajadah milik Tasya tergantung rapi dinding kamar, jadi Zee tidak sulit untuk mencari dan memudahkan Zee melaksanakan sholat.
Ceklek...
pintu kamar terbuka dan Zee langsung melihat ke arah pintu. Ternyata yang membuka pintu kamar adalah Zhio, Zhio baru saja pulang dari rumah sakit.
" Abang Zhio "
" Kamu baru selesai sholat? "
" Iya, abang dari mana? "
" Abang baru pulang dari rumah sakit, tadi ada pasien yang harus di operasi. Sini biar abang yang simpan " Zhio mengambil sajadah dan mukena yang ada di tangan Zee dan menggantung nya kembali ke dinding.
" Gimana keadaan kamu, ada yang sakit? atau kamu haus,laper?"
" Gak ada bang, oh ya maaf tadi aku ketiduran di mobil "
__ADS_1
" Iya Zee, kamu gak perlu minta maaf. Oh ya ini ada obat yang sudah abang siapin. Kamu minum sekarang ya, habis itu baru tidur lagi "
Zhio mengambil obat yang ada di dalam laci lalu membuka nya dan meminta Zee untuk meminum obat itu. Zee bergidik ngeri melihat satu pil obat yang ada di tangan Zhio, satu hal yang Zhio tak tau kalau Zee sangat tidak menyukai obat. Ada suatu hal yang membuat Zee trauma memakan obat, jika sudah terlanjur sakit parah maka barulah Zee mau meminum obatnya itu pun dengan susah payah.
Aneh bukan? Zee yang notabene adalah seorang calon dokter takut sekali kalau di suruh minum obat.
" Gak usah aja ya bang, aku udah baikan kok " tolak Zee.
Zhio menatap Zee penuh curiga, kenapa tidak mau minum obat yang di beri oleh Zhio.
" Kamu harus minum obat Zee, abang tau badan kamu pasti rasanya sakit sekali kan? "
Zhio seperti bisa membaca yang ada di pikiran dan perasaan Zee sekarang, dia bisa menebak dengan tepat apa yang Zee rasakan.
" Badan aku gak sakit kok bang, coba lihat. Tu, gak sakit sama sekali bang. Hoammmm.... aku ngantuk bang, aku tidur aja lagi ya " Zee sengaja berbohong dan menutupi rasa sakitnya di depan Zhio, dan bahkan berpura - pura mengantuk agar Zhio tidak memaksa nya minum obat.
" Kamu gak bisa berbohong di depan abang, Zee. Dan sekarang abang sudah tau apa yang tidak kamu sukai, tapi tidak masalah. Abang justru senang karena begitu abang semakin mengenal kamu " batin Zhio seraya menatap Zee yang bersiap naik ke atas tempat tidur.
" Abang ambillin roti atau buah ya di bawah, biar kamu bisa makan obatnya di bantu sama roti atau buah itu "
" Husss...jangan melamun Zee, udah larut malam ni " ucap Zhio sembari menahan tawa nya, Zee terlihat semakin menggemaskan di mata Zhio jika terlihat seperti kebingungan begini.
" Hah..!! eng..enggak..kok bang, nanti aja Zee minum obatnya ya bang. Zee baik - baik aja kok, udah ngantuk juga ni. Abang keluar aja, istirahat juga "
" Kalau gitu abang gak mau keluar kalau kamu belum minum obat " ancam Zhio, Zhio juga harus memutar otak bagaimana cara nya supaya wanita yang ia cintai ini mau minum obat.
" Ya udah kalau gitu , terserah abang aja " Zee mulai kesal karena Zhio kembali dengan sikap pemaksa nya. Zee berbaring lalu menghadap ke arah Tasya.
Zhio tersenyum melihat Zee yang terlihat marah, Zhio menaruh obat yang ia pegang di atas meja. " Maaf kalau abang udah maksa, ya udah kamu tidur ya sekarang. Kalau perlu apa - apa bangunin aja Tasya ya Zee, atau gak bilang sama abang, Abang ada di kamar "
Dengan terpaksa Zhio keluar dari kamar dan membiarkan Zee istirahat tanpa meminum obat nya. Zhio tidak bisa memaksa Zee lagi, tapi nanti seandainya Zhio dan Zee menikah dan Zee sah menjadi istri Zhio. Zhio tidak akan menyerah untuk meminta Zee meminum obat, dan Zhio akan melakukan segala cara agar Zee mau minum obat.
__ADS_1
****
Zee bangun dari tidurnya tepat saat adzan subuh berkumandang, dan saat ini ia tidak melihat Tasya di samping nya. Dan tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka, ternyata Tasya ada di dalam kamar mandi.
" Kak Zee, sudah bangun? gimana keadaan kak Zee? ada yang sakit?" Tasya bergegas menghampiri Zee dan duduk di atas tempat tidur.
" Kakak baik Tasya, maaf ya Tasya, kakak tidur di sini. Soalnya abang Zhio maksa kak Zee untuk tidur di rumah kalian " kembali Zee meminta maaf, ia benar - benar merasa tidak enak dengan Tasya dan kedua orang tua nya.
" Udah kak Zee santai aja, Bunda malah senang kak Zee tidur di sini. Lagian kalau di rumah kakak, kak Zee sendirian aja. Bulan sama Zhea kan belum pulang, eh..ngomongin Zhea sama bulan, Tasya belum kasih tau mereka tentang keadaan kak Zee sekarang "
" gak usah di kasih tau ya Sya , nanti mereka panik kalau tau kak Zee kecelakaan. Nanti kalau mereka udah pulang, baru kak Zee ceritakan "
" Hmm..baiklah kak, ya udah kalau gitu aku mau sholat subuh dulu kak. Kak Zee mau sholat juga?barengan kak " ajak Tasya.
" Mau Tasya, tungguin kak Zee ya " ucap Zee dan di balas anggukan oleh Tasya, Zee segera ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sedangkan Tasya menyiapkan sajadah dan mukena untuk dipakai oleh Zee.
" Sya, kamu mau kemana? " tanya Zee saat Tasya ingin keluar dari kamar.
" Mau sholat kak, kita sholatnya di luar kak bareng Bunda sama abang. Biasanya kami sekeluarga selalu sholat berjamaah di rumah, ya udah hayuk kak " Tasya menarik lengan Zee dan mengajak Zee keluar dari kamar.
" Bun, kak Zee juga mau sholat bareng " ucap Tasya saat mereka sudah ada di ruangan yang khusus yang sudah di sediakan untuk semua anggota Xander saat melakukan sholat berjamaah.
... Photo by google...
Bunda tersenyum melihat kedatangan Zee, dan Zee juga membalas senyuman Bunda dengan malu - malu. Kembali Zee merasa tidak enak dan malu karena kedatangan nya di rumah Zhio.
" Sudah siap semua? " tanya Zhio yang sejak tadi juga ada di sana dan tentunya memperhatikan Zee juga sejak tadi, dan senang sekali karena Zee juga ikut sholat bersama.
Zee yang tidak sadar akan kehadiran Zhio pun langsung melihat ke arah suara, Zee terpukau melihat Zhio. Zhio terlihat sangat tampan dengan pakaian koko putih, sarung dan peci yang ia pakai sekarang.
__ADS_1
Zhio tersenyum kepada Zee yang sejak tadi tidak berkedip menatapnya, dan setelah itu Zhio memulai memimpin sholat. Hari ini Zhio yang menjadi imam karena sang ayah sedang berada di luar kota.
Bersambung..