
Sampai di Rumah Sakit, Zhio bergegas turun dari mobil dan menggendong Zee. Membawa Zee masuk kedalam UGD dan membaringkan nya di ranjang rawat pasien. Para petugas di sana terkejut melihat kedatangan Zhio, dan lebih terkejut lagi begitu melihat seseorang yang berada di gendongan Zhio adalah Zee.
Para perawat dan dokter di sana berkumpul untuk melihat keadaan Zee, dan beberapa dari mereka bertanya - tanya kepada Zhio tentang apa yang terjadi dengan Zee. Zhio hanya menjawab pertanyaan mereka sekedarnya sembari memeriksa keadaan Zee. Seorang perawat juga dengan sigap mendampingi Zhio.
" Dia harus di infus " ucap Zhio kepada perawat yang ada di samping nya. Perawat itu segera mengambil alat infusan, dan berniat untuk memasangkan nya di tangan Zee.
" Biar aku saja " ucap Zhio, dan perawat itu hanya menganggukan kepala nya tanda mengerti. Zhio pun dengan hati - hati sekali memasang jarum infus di tangan Zee.
" Gimana keadaan Bunda om? " tanya Bulan yang sejak tadi berdiri di samping ibu nya bersama dengan Zhea.
" Bunda kamu baik - baik sayang, dia hanya kelelahan. sebentar lagi Bunda mu akan sadar " Zhio berbicara dengan sangat lembut kepada Bulan, Bulan dan Zhea bisa bernafas lega mendengar penjelasan Zhio dan kemudian memandangi wajah Zee yang terlihat pucat dan sangat lemah.
Zhio pun juga begitu, kekhawatiran juga terlihat di wajah Zhio. Apalagi saat pertama ia melihat Zee terkapar di lantai, Zhio sangat khawatir sekali. Siapa yang tidak khawatir jika melihat orang yang kita cintai tidak sadarkan diri seperti ini dan terlihat pucat dan lemah. Belum lagi terpaksa di rawat di Rumah sakit.
Walaupun selama ini Zhio berusaha menghindari dan bersikap dingin dengan Zee, tetapi tetap saja rasa Cinta itu masih ada. Sangat sulit bagi Zhio untuk menghilangkan rasa itu. Dan melihat Zee seperti ini membuat Zhio merasa bersalah sekali.
" Onty, Bulan mau ke toilet sebentar ya " ucap Bulan dan di balas anggukan oleh Zhea.
" Zhea, dimana ayah nya Bulan. Apa dia sedang bekerja? aku tidak melihat tadi di rumah kalian . Lebih baik kamu mengabari nya sekarang " Zhio berbicara tanpa melihat Zhea, tatapan hanya tertuju kepada Zee.
" kakak sudah bercerai dengan suami nya , dan Ayah Bulan sekarang di kampung bang. Kurasa kita tidak perlu memberitahu nya " jelas Zhea, dan membuat Zhio membulatkan kedua matanya dan menatap Zhea.
" Bercerai? sejak kapan Zhea? " Zhio terkejut, selama ini ia kira Zee masih bersama dengan suami nya.
" Sejak tiga tahun lalu bang setelah Zhea lulus SMP bapak meminta Zhea untuk melanjutkan sekolah di kota. Dan juga meminta kak Zee untuk melanjutkan pendidikan nya. Jadi kami tinggal bersama di kota, Bulan ikut bersama kami juga dan pindah sekolah di sini " penjelasan Zhea membuat Zhio kembali terkejut.
" Kak Zee benar hanya kelelahan saja kan bang? tidak ada penyakit yang serius. Zhea takut bang, kak Zee itu orang nya pintar sekali menyembunyikan kesakitan nya di depan orang lain "
" Nanti setelah kakak mu sadar, kita akan memeriksa nya lebih lanjut. Kamu tenang saja ya, abang yakin tidak ada penyakit yang serius " Zhio mencoba meyakinkan Zhea agar Zhea tidak terus khawatir tentang keadaan kakak nya.
" Makasih bang Zhio " Zhea duduk di samping kakak nya, lalu mengelus lembut tangan Zee.
Setelah Bulan datang dari toilet, Zhio pamit keluar dan sekarang Zhio sedang duduk di kursi panjang tempat biasanya keluarga pasien menunggu. Zhio menyandarkan kepala nya ke dinding, lalu ia memejamkan kedua matanya.
jadi selama ini kamu sudah bercerai Zee, bukankah waktu itu kamu bilang kalau kamu sangat mencintai suami mu.. patutkah aku bahagia mendengar kabar ini Zee? Tapi.. surat itu, kenapa kau membuatku jadi bimbang Zee.. aku harus meminta penjelasan kepadamu Zee.. ya harus..
__ADS_1
Zhio seperti orang yang galau, iya terus saja memikirkan Zee. Hingga tanpa sadar Zhio terkejut ketika ada seseorang yang menepuk bahu nya. Zhio membuka kedua mata nya lalu melihat adiknya yang berdiri tepat di depan Zhio.
" Abang, abang ngapain di sini? tadi Zhea kasih kabar kalau Kak Zee di bawa ke rumah sakit, ibu suruh Tasya segera kesini. Kak Zee nya dimana sekarang bang? " Tasya datang atas perintah ibu nya, ya walaupun tanpa di suruh ibu pun ia pasti akan datang.
" Zee ada di dalam dek, ayo kita kesana " Zhio mengajak adiknya untuk melihat kondisi Zee, sampai di dalam ternyata Zee sudah sadar. Zee tidak terkejut melihat Zhio, karena Zhea dan Bulan sudah menjelaskan semua kepada nya.
" Kak Zee, kakak baik - baik saja kan? " Tasya langsung memeluk Zee, ia sangat khawatir dengan Zee. Zee sudah ia anggap seperti kakak nya sendiri. Zee hanya mengangguk dan tersenyum melihat Tasya yang sangat mengkhawatirkan nya.
Mereka bertiga pun saling berbincang, Tasya dan Zhea lah yang paling banyak berbicara, sedangkan Zhio hanya diam saja sejak tadi. Sesekali ia melirik ke arah Zee yang tatapan nya tertuju kepada Tasya, Zhea dan Bulan. Zee juga terlihat sesekali tersenyum ketika mendengar ada ocehan yang lucu dari Tasya.
Karena sudah larut malam, Zee meminta adik dan anak nya untuk pulang saja. Karena mereka besok akan bersekolah, tetapi Zhea dan Bulan kekeh tidak mau pulang dan ingin menemani Zee.
" Besok Bulan ada ulangan harian kan, Bulan pulang aja ya nak. Bunda udah baikan, besok mungkin udah pulang, ulangan Bulan lebih penting. Zhea juga pulang ya temani Bulan , kamu juga harus sekolah besok " Zee ingat kalau besok bulan ada ulangan harian, karena sore tadi Bulan yang memberitahu nya.
" Tapi Bun, kalau Bulan sama onty pulang siapa yang jagain Bunda di sini? " berat rasa hati Bulan dan Zhea untuk meninggalkan Zee sendirian di rumah sakit.
" Bulan pulang saja, ada Om yang jaga bunda kamu " ucapan Zhio membuat semua menatap ke arahnya. Zee menatap heran, Bulan biasa saja. Sedangkan Tasya dan Zhea tersenyum mendengar itu.
" ya udah kalau gitu Bulan sama Zhea biar Tasya aja yang antar, ntar Tasya temanin kalian juga deh di rumah. Ntar Tasya bilang sama ibu, gimana Bulan? Zhea? " tanya Tasya.
Setelah berpamitan dengan Zee, Bulan dan Zhea akhirnya pulang.
" Abang mau ngapain? " tanya Zee begitu melihat Zhio yang memegang lengan nya dan memperhatikan jarum infus di tangan nya.
Zhio tidak menjawab pertanyaan Zee, ia terus memperhatikan infusan yang ada di tangan Zee, terlihat ada air yang menetes. Jelas sekali kalau jarum infus Zee bocor, dan Zhio segera memperbaiki nya.
" Makanya jangan banyak bergerak, lihat sampai bocor begini " ucap Zhio, Zee pun memperhatikan tangan nya. Memperhatikan Zhio yang sedang memperbaiki jarum infus nya dengan perlahan sekali, Zee tersenyum melihat itu. Senyum yang pastinya tidak di lihat oleh Zhio.
" Kamu lapar kan? tunggu di sini aku cari makan dulu " selesai memperbaiki jarum infusan Zee, Zhio beranjak ingin membelikan makanan untuk Zee.
" Gak perlu bang, aku gak lapar kok " bohong Zee, padahal ia sangat lapar, karena sejak siang belum ada sedikit pun nasi yang masuk kedalam perut nya, hanya beberapa cemilan saja.
Zhio tidak berkata apa - apa, ia tetap keluar dan mencari makanan untuk Zee. Zee memanyunkan bibirnya melihat sikap Zhio. " Nyebelin banget sih, sikapnya masih saja dingin " batin Zee.
****
__ADS_1
Di luar terlihat Syam sedang berlari menuju UGD Rumah Sakit. Setelah mendapat kabar dari teman - teman di UGD kalau Zee masuk Rumah Sakit, Syam yang sudah siap untuk tidur langsung beranjak dan ingin segera melihat kondisi Zee.
" Dimana Zee? " tanya Syam kepada salah satu perawat di UGD yang tak lain juga teman nya, setelah perawat itu menunjukkan tempatnya. Syam langsung ke sana, Zee masih di UGD belum di pindahkan ke ruang rawat.
" Zee " ucap Syam begitu melihat Zee.
" Dokter Syam " ucap Zee.
" Bagaimana kondisi kamu? saya dapat kabar dari teman - teman di sini "
" Saya baik Dok, ya sepertinya saya hanya kelelahan " ucap Zee sembari tersenyum kepada Syam.
" Syukurlah kalau baik saja, Kamu sendiri di sini? "
" Tidak Dok, ada.. " tiba - tiba saja ucapan Zee terhenti begitu melihat Zhio datang membawa beberapa kantong plastik yang berisi makanan. Syam langsung berdiri dan menyapa Zhio. Zhio hanya menganggukan kepala nya dan tersenyum tipis kepada Syam. Syam tidak heran kalau ada Zhio di sana, karena sebelumnya ia sudah mendengar jika Zhio lah yang membawa Zee ke rumah sakit. Tapi yang membuat Syam penasaran yaitu apa hubungan Zhio dan Zee, padahal setahu Syam mereka tidak pernah bertemu. Kenapa bisa Zhio yang membawa Zee ke rumah sakit, ya itu akan ia tanyakan nanti kepada Zee.
Zhio membuka kantong plastik yang berisi kotak makan yang di dalam nya terdapat bubur ayam. Untung saja di dekat rumah sakit terdapat kantin yang buka 24 jam, sehingga Zhio tidak perlu bersusah payah mencari makanan untuk Zee.
" Kamu mau makan Zee, tadi siang saya tidak melihat mu istirahat. Jangan bilang kalau kamu tidak makan dari tadi siang hingga saat ini, maka nya kamu kelelahan dan pasti tidak bertenaga karena tidak makan " jelas Syam, ya diam - diam Syam selalu memperhatikan gerak - gerik Zee. Walaupun ia sendiri sedang sibuk mengurus pasien.
Melihat Zee yang ingin duduk, Zhio dan Syam beranjak dari duduk mereka. Mereka berniat membantu Zee, tapi Zee sudah keburu duduk. Zhio dan Syam saling tatap, namun duduk kembali.
" Saya memang lalai Dok, karena terlalu sibuk mengurus pasien saya jadi lupa dengan diri saya sendiri " ucap Zee lalu tersenyum.
Zhio memberikan kotak makan itu kepada Zee.
" Kamu bisa makan sendiri, apa perlu saya suapi " tanya Syam, Syam berbicara santai sekali. Tidak sadar jikaa Zhio ada di samping nya.
" Tidak perlu Dok, saya bisa sendiri " Zee pun mulai melahap makanan nya, ia benar - benar lapar. Zee makan sembari berbincang dengan Syam. Melihat keduanya, Zhio jadi kesal sendiri.
" Muak sekali aku mendengar ocehan Syam, Zee kenapa juga senyum - senyum sama dia. Asyik banget lagi ngobrolnya, mereka seperti tidak menganggap ku yang juga ada di sini. Padahal aku yang membelikan Zee makanan, tapi Zee tidak berterima kasih kepada ku. Malah asyik berbincang dengan Syam " batin Zhio, Zhio pun memilih untuk keluar dan kembali duduk di kursi tunggu.
" Apa ini balasan untuk ku Zee? " ucap Zhio setelah mengingat kalau sore itu Zhio juga bersikap sama seperti Zee. Zee sudah dengan baik hati mencari nya dan memberitahu kondisi ibu nya, tapi Zhio mengabaikan nya begitu saja tanpa mengucapkan kata Terima kasih atau lain nya. Begitu pula yang ia rasakan sekarang, ia sudah susah payah membelikan Zee makanan. Tapi Zee tidak mengucapkan kata Terima kasih sedikit pun, bahkan lebih asyik mengobrol dengan Syam.
**Jangan lupa like nya ya teman - teman...
__ADS_1
Komentar kalian juga aku tunggu - tunggu... 😊**