
Sebelum kelulusan , Zhea dan Tasya sudah memilki rencana mengenai jenjang perkuliahan dan jurusan apa yang mereka inginkan. Namun mengenai kampus yang tepat, saat ini Zhea dan Tasya bingung karena mereka berdua ingin satu kampus. Sedangkan Zhea dan Tasya menempuh jurusan yang berbeda.
Zhea ingin menggapai cita-cita nya sebagai seorang Dokter sama halnya seperti Zee. Sedangkan Tasya ingin menggapai cita-citanya sebagai seorang pembisnis mengikuti jejak sang ayah.
" Jadi kalian berdua mau kuliah di kampus mana ? " tanya Ayah Xander.
Saat ini semua anggota keluarga Xander sedang berkumpul untuk makan malam.
" Masih bingung yah, soalnya jurusan kami berbeda , padahal Tasya maunya satu kampus sama Zhea "
" Emangnya Tasya mau ambil jurusan apa ? "
" Tasya mau ambil manajemen bisnis seperti ayah, dan Zhea mau masuk kedokteran yah "
" Kalau gitu kamu masuk kedokteran juga dek bareng sama Zhea "
" Gak ah bang, Tasya gak sepintar Zhea. Lagian nanti kepala Tasya pusing kalau kebanyakan mikir, belum lagi kalau kedokteran itu kan harus menghadapi darah setiap harinya. Tasya gak sanggup bang "
" Emangnya kamu kira kalau manajemen bisnis itu gak bikin pusing ? "
" Ya setidaknya gak menghadapi darah tiap hari bang "
Semua orang yang tertawa mendengar ucapan Tasya.
" Gimana kalau kuliah di luar negeri saja. Di luar negeri banyak kampus yang jadi satu dengan kampus kedokteran "
Tasya dan Zhea membulatkan kedua mata mereka mendengar usul dari Ayah Xander.
" Yang bener Yah, wah...boleh tu yah "
Tasya sangat antusias, tapi tidak dengan Zhea. Zhea sebenarnya sangat senang, tapi untuk kuliah di luar negeri orangtuanya kemungkinan tidak akan sanggup untuk membiayai kuliahnya di luar negeri. Apalagi jurusan kedokteran, pasti lebih mahal lagi kalau di luar negeri.
" Gimana Zhe, kita keluar negeri aja ya, kita ke Korea aja Zhe. Negara impian kita "
Zhio dan Zee melihat raut wajah Zhea yang tampak tak gembira, dan mereka berdua mengerti apa yang ada di pikiran Zhea saat ini.
" Nanti aku bicarakan dengan kedua orangtua ku dulu ya Sya "
__ADS_1
" Oke, segera ya Zhe "
" Kamu benar Zhea, mintalah ijin kepada kedua orangtua kamu dulu. Kalau mereka mengijinkan , ayah akan mengurus semuanya dan akan mendaftarkan kuliah kalian di sana "
" Baik yah "
****
Tok..tok..tok..
" Masuk " teriak Zhea.
" Kak Zee "
" Lagi ngapain dek ? "
" gak ngapa-pain kak, ada apa kak ? "
" Sudah telepon bapak ? "
" Kenapa muka kamu sedih gitu ? "
" Aku gak berani telepon bapak , kak. Aku sebenernya senang kak kalau kuliah di luar negeri, siapa yang gak mau kuliah di sana kak. Semua orang pasti pengen, tapi kak Zee ngerti kan. Bapak dan ibu apa bisa biayai Zhea kuliah di sana kak, bapak aja anak-anaknya banyak, masih kecil-kecil lagi. Pasti perlu biaya besar juga. Kuliah di luar negeri kan gak murah kak ? "
Zee tersenyum lalu mengelus lembut rambut Zhea.
" Kakak tadi udah telepon bapak, dan bapak setuju kamu kuliah di sana "
" Hah ?? yang bener kak Zee ? "
Zhea masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh kakaknya.
" Iya dek, kata bapak , bapak bakalan biayai kamu kuliah sampai kamu lulus dan jadi seorang dokter , yang terpenting kamu harus benar-benar kuliahnya, belajar yang rajin sampe dapat gelar kedokteran "
" Alhamdulillah, makasih kak Zee "
" Iya adek kakak comel, sekarang kamu telepon bapak sana, sama ibuk juga. Bilang makasih sama bapak dan juga ibuk "
__ADS_1
" Siap kak "
Zhea segera menghubungi orangtuanya, Zee turut senang melihat kegirangan sang adik. Sebenarnya saat Zee menghubungi orangtuanya, orangtuanya masih ragu. Tapi setelah Zee menjelaskan dan meyakinkan kedua orangtuanya bahwa ia akan membantu biaya kuliah Zee, akhirnya kedua orangtua Zee luluh dan menyetujuinya.
" Gimana yang ? udah bicara sama Zhea "
" Sudah bang, Zhea seneng banget "
" Alhamdulillah, syukurlah yang. Tasya juga pasti girang kalau tau hal ini "
" bang "
" Iya kenapa yang ? "
Zhio dan Zee saling tatap, kedua mata tampak berkaca-kaca saat menatap suaminya Zhio.
" Terima kasih ya bang "
Zee langsung memeluk Zhio, Zee sangat berterima kasih dan bersyukur memilki suami seperti Zhio.
" Makasih bang, Abang mau lakukan apa aja buat keluarga aku. Bahkan buat adik aku, terima kasih bang "
Zhio melepas pelukan Zee dan menangkup wajah Zee.
" Jangan bersedih sayang, Abang sudah pernah katakan kan, Abang akan lakukan apa aja buat kamu. Adik kamu berarti adik Abang juga, Abang akan lakukan apa aja buat keluarga Abang "
Mendengar ucapan Zhio, membuat Zee justru menangis, semenjak hamil Zee memang berubah lebih cengeng dan mudah sekali menangis bila ada hal yang sedikit sensitif dan membuatnya bersedih atau terharu.
" Ya ampun yang, lucu banget kalau kamu mewek gini. Sudah ya jangan nangis yang "
Zhio menyeka air mata Zee, lalu membawa Zee kedalam pelukannya.
" Hiks..hiks..hiks..makasih ya bang "
" Ya ampun sayang, sama-sama sayang. Sudah jangan nangis lagi ya yang "
Zhio mengelus-elus lembut punggung Zee, berusaha menenangkan Zee yang sedang menangis.
__ADS_1