
Dengan raut wajah sedih, Tasya masuk kedalam kamar Bulan dan mengganggu Bulan yang sedang belajar.
" Bulan " panggil Tasya.
" Iya kak Tasya " ucap Bulan.
" Kamu gak kangen sama Zhea ? " tanya Tasya.
" Gak " jawab Bulan dengan santai.
" Ihh Bulan mah gak asyik " Tasya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Bulan. Sedangkan Bulan justru terkekeh melihat Tasya.
" Baru juga ketemu onty kemarin kak, jadi Bulan belum kangen tuh " ucap Bulan sembari fokus menulis sesuatu di bukunya.
" Kami nulis apa ? " tanya Tasya sembari melirik tulisan Bulan.
" Ihh kak Tasya KEPO !! " jawab Bulan lalu menyembunyikan bukunya dari hadapan Tasya, Bulan tidak ingin Tasya melihat tulisannya yang sebenarnya hanya tulisan biasa. Hasil catatan Bulan.
" Pasti nulis surat cinta untuk pacar kamu ya ? " ledek Tasya.
" Pacar ?? siapa juga yang punya pacar "
" Hayoo..hayoo ngaku..kakak kasih tau bunda kamu ya ?? " goda Tasya.
" Kasih tau aja kak, gak bener juga " tantang Bulan.
" Ihh kamu tuh pinter banget ya jawabnya, sini kak Tasya gelitikin "
Tasya pun menggelitik Bulan hingga Bulan tertawa tebahak-bahak. Mereka bahkan saling kejar-kejaran di dalam kamar, Bulan pun ikut menggelitik perut Tasya karena tak mau kalah.
" Aduh...capek kak " ucap Bulan setelah lelah berkejaran.
Mereka berdua terbaring di tempat tidur.
" Sebenarnya Bulan juga kangen sama onty, gitu ya kak kalau udah nikah, bakalan jauh deh dari keluarga " ucap Bulan.
" Ya begitulah , makanya kamu jangan cepat dewasa ya " ucap Tasya.
" Nanti kalau onty dan kak Tasya udah kuliah, tinggal aku sendiri. Sepi banget kak "
" Ya gak dong, kan bentar lagi kita kehadiran anggota keluarga baru. Kamu gak bakalan kesepian "
" Iya bener kak, rasanya udah gak sabar pengen cepat ketemu sama adek bayi "
" Iya, kak Tasya juga "
Keduanya pun terdiam , dan fokus dengan pikiran mereka masing-masing. Bulan dan Tasya membayangkan bagaimana keseruan keluarga mereka saat nantinya anak Zee lahir dan membuat suasana rumah semakin ramai.
****
__ADS_1
Suara kegaduhan terdengar di UGD saat ada sebuah ambulance datang dengan membawa seorang wanita yang ingin melahirkan.
Zee pun segera keluar untuk memeriksa, dan betapa terkejutnya Zee saat melihat wanita itu karena Wanita itu adalah Yuni istri dari Satria mantan suaminya.
Yuni pun juga ikut terkejut saat melihat Zee namun tak sempat berkata apa-apa Yuni justru jatuh pingsan.
" Cepat bawa masuk " pinta Zee dengan penuh kekhawatiran.
Zee berjaga seorang diri di UGD, biasanya ada Dokter pendamping yang menemani nya. Namun temannya itu telah memberi tahu Zee bahwa ia akan datang terlambat.
Zee pun membaca terlebih dahulu surat rujukan dari puskesmas yang merujuk Yuni. Dan di sana ternyata Yuni mengalami pendarahan hebat. Zee pun segera menghubungi dokter pendamping nya dan memberi tahu kondisi Yuni.
Dan benar sesuai dengan apa yang Zee pikirkan, tidak ada jalan lain selain Yuni harus segera di operasi. Zee segera menghubungi Dokter kandungan dan meminta bantuannya untuk segera menangani Yuni.
" Pasien datang bersama keluarganya? " tanya Zee kepada salah satu perawat yang ada di UGD.
" Tidak Dok, pasien datang sendiri " ucap perawat itu.
" Ada keluarga yang bisa di hubungi? " tanya Zee.
Perawat melihat rekam medis dan biodata Yuni, hanya ada satu nomor keluarga yang bisa di hubungi yang tertulis nama Suami Satria.
" Hanya ada satu nama Dok, suami pasien atas nama SATRIA "
Glekk..
" Sudah saya coba hubungi tapi tidak aktif Dok " ucap perawat setelah mencoba menghubungi nomor Satria.
Bayangan mengenai perlakuan jahat SATRIA kepadanya pun kembali terlintas di benak Zee, Zee berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri. Entah mengapa ada rasa takut di hati Zee.
" Dokter "
" Dokter "
" Dokter Zee "
Zee tersadar setelah perawat memanggil namanya dengan cukup keras.
" Apa yang harus kita lakukan Dok, kita harus meminta persetujuan dari keluarga pasien untuk segera melakukan operasi ? " tanya perawat.
Zee menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.
" Segera hubungi Lapas kelas II A , dan cobalah untuk mencari anggota keluarga pasien di sana " ucap Zee.
" Anda mengenal keluarga pasien ? " tanya perawat.
" Segeralah " pinta Zee.
" Ba..baik..Dokter Zee "
__ADS_1
Setelah mencoba menghubungi LAPAS Kelas II A, perawat berhasil mendapatkan ijin dari Satria. Di LAPAS Satria begitu khawatir akan kondisi Yuni, karena baru saja di hubungi oleh Rumah sakit.
" Salah satu keluarga pasien benar ada di sana Dok, dan saya berhasil berbicara dengan suaminya. Dia memberikan persetujuan dan meminta kita melakukan yang terbaik untuk istrinya " ucap perawat.
" Baiklah, kalau begitu segera bawa pasien ke ruang operasi "
Zee hanya bisa mengantarkan Yuni sampai di depan ruang operasi. Setelahnya Yuni akan di tangani oleh Dokter yang berada di sana. Dan Zee kembali ke UGD untuk melanjutkan pekerjaan.
" Bang, kita pamit ke toko pakaian Bayi dulu ya ? " pinta Zee.
" Kamu sudah pengen beli pakaian untuk anak kita ? " tanya Zee sembari mengelus lembut perut Zee.
" Bukan bang , aku pengen beli pakaian bayi untuk salah satu pasien ku " ucap Zee.
" Maa syaa Allah , kamu baik banget yang " ucap Zhio.
Sesuai permintaan sang istri, sebelum pulang ke rumah, mereka singgah ke sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi. Zhio dan Zee merasa senang sekali berada di sana karena melihat banyaknya pakaian bayi dan anak - anak yang lucu.
" Gak sekalian beli untuk anak kita yang ? " tanya Zhio.
" Nanti aja bang kalau kita ada waktu lebih. Lagian masih ada waktu 3 bulan lagi. Sekarang kita beli perlengkapan bayi untuk pasien aku aja ya bang " ucap Zee.
" Anaknya cowok atau cewek yang ? " tanya Zhio.
" Cewek bang "
" Cewek, oke kalau gitu Abang bantu cari ya "
" Iya bang "
Melihat banyaknya pakaian bayi yang lucu - lucu membuat Zhio juga jadi tak sabar menunggu kelahiran sang buah hati.
" Kayaknya sudah cukup deh bang " ucap Zee saat membawa beberapa lembar pakaian bayi.
" Yakin cukup yang ? diapers , handuk, dan bedak nya gak mau sekalian di beli ? " tanya Zhio yang justru terlihat antusias.
" Bener juga sih , ya udah kalau gitu sekalian juga deh bang . Abang tunggu sini ya "
Zee kembali mencari berbagai bedak dan handuk , dan saat memilih Zee juga melihat beberapa pakaian wanita.
Zee pun terpikir untuk membelikan Yuni sepasang daster dan juga gamis.
Selesai bekerja dan sembari menunggu Zhio menjemputnya, Zee menyempatkan diri untuk menjenguk Yuni saat Yuni masih belum sadarkan diri setelah melakukan operasi. Zee bersyukur Yuni dan anaknya selamat , padahal pendarahan yang terjadi pada Yuni cukup parah.
Zee merasa iba kepada Yuni karena tidak ada satu orang pun keluarga Yuni yang menemaninya. Zee juga menyempatkan untuk melihat anak Yuni yang berada di ruangan lain. Dan Zee kembali prihatin saat melihat pakaian yang di pakai anak Yuni terlihat lama dan lusuh.
Maka dari itulah Zee berinisiatif untuk membeli beberapa pakaian dan perlengkapan untuk Yuni dan juga anaknya.
Terlepas dari semua yang pernah Yuni lakukan kepadanya, sebagai sesama manusia hendaknya kita selalu tolong menolong dan saling membantu.
__ADS_1