
Tiga jam lama nya akhirnya Zee bangun , perlahan Zee mencoba membuka kedua mata nya. Dan langsung beranjak duduk sembari memegangi perutnya, bahkan kedua mata Zee terlihat berkaca - kaca.
" Zee, sudah bangun nak " ucap Bunda Hesty saat baru keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri Zee.
" Bun " ucap Zee sembari memegangi perutnya, Zee takut jika terjadi sesuatu dengan kandungan nya.
" Tenang ya sayang, Alhamdulillah kandungan kamu baik - baik saja "
Mendengar hal itu seketika tangis Zee pecah, melihat Zee menangis membuat Bunda Hesty juga ikut bersedih lalu membawa Zee kedalam pelukan nya.
" Jangan menangis Zee, nanti anak kamu juga ikutan sedih. Sekarang semua baik - baik saja nak "
Zee terus saja menangis sembari memeluk Bunda Hesty, Zee menangis karena menyesali perbuatan nya sendiri. Menurut Zee mungkin ini adalah teguran untuknya karena sempat berpikir dan merasa tidak siap saat tau jika ia hamil.
" Zee, minum dulu ya nak " Bunda Hesty melepas pelukan nya dan mengambilkan air minum untuk Zee.
" Abang mana Bun ? " tanya Zee.
" Abang lagi ke masjid nak, kamu mau makan ? makan dulu ya Zee , udah dari tadi sore belum makan kan "
Bunda Hesty mengambil nampan yang berisi makanan di atas nakas di samping ranjang rawat Zee.
" Bunda suapin ya nak " ucap Bunda Hesty dan di balas anggukan oleh Zee.
Dengan telaten Bunda menyuapi Zee, Zee yang memang merasa lapar dengan senang hati menerima suapan dari Bunda Hesty.
" Bunda senang sekali dengar kamu hamil Zee, kata dokter kamu harus jaga kandungan kamu baik - baik. Soalnya kandungan kamu lemah Zee, sebenarnya apa yang terjadi nak, kata Dokter kamu mengalami pendarahan ? "
Belum sempat Zee menjawab, pintu kamar terbuka dan Zhio datang dengan membawa bungkusan besar yang berisi dua kotak makanan yang Zhio bawa untuk Bunda Hesty.
" Sayang, kamu udah bangun " Zhio menaruh bungkusan yang ia bawa di atas meja dan segera menghampiri Zee.
Zhio mengecup lembut kening Zee lalu memeluk Zee, Zhio tidak merasa malu mencium Zee di hadapan Bunda Hesty.
" Abang senang kamu udah bangun , sini Bun biar Zhio aja yang suapin Zee . Bunda makan aja dulu, Zhio udah bawain makanan untuk Bunda "
" Bunda mau sholat dulu bang, habis itu baru makan. Kamu makan nya di habisin ya Zee " ucap Bunda lalu beranjak ke kamar mandi.
Zhio menggantikan Bunda Hesty dan menyuapi Zee, " gimana keadaan kamu sekarang, ada yang sakit gak sayang ? " tanya Zhio lalu mengelus lembut pipi Zee.
" Gak ada bang " Se
__ADS_1
" Habisin makanan nya ya, habis itu minum obat "
Zee menelan ludah mendengar Zhio yang meminta nya minum obat, tapi tidak mungkin jika Zee tidak meminum obat nya. Sekarang bukan hanya tentang dirinya, tapi juga ada satu nyawa yang juga hidup di dalam rahimnya . " iya bang, nanti aku minum obat nya " ucap Zee.
*****
Setelah makan dan minum obat, Zee kembali di pinta Zhio untuk beristirahat. Sebenarnya Zhio ingin sekali bertanya mengenai hal yang terjadi kepada Zee, bagaimana ia bisa mengalami pendarahan, dan kenapa tidak memberi tahu nya jika ia sedang mengandung, hanya saja Zhio tidak ingin bertanya itu terlebih dahulu. Ia ingin nanti nya istrinya sendiri yang bercerita mengenai hal itu.
" Zee, bunda pulang ya nak Maaf bunda gak bisa temani Zee di sini, soalnya bibi lagi gak ada di rumah. Besok anak - anak pada sekolah, bunda harus nyiapin sarapan buat mereka "
" Iya Bun, gak apa. Zee juga udah baikan kok "
"Iya sayang, kamu istirahat ya. Ayah tadi telepon bunda titip salam sama kamu, ayah sebenarnya pengen pulang begitu dengar kamu masuk rumah sakit. Tapi bunda larang soalnya udah malam, takut nya kenapa - kenapa di jalan "
" Iya Bun, gak papa Bun "
" Ya udah, bunda pamit ya Zee, Abang. Abang jagain Zee yang baik di sini ya, kamu istirahat ya Zee. Bunda pamit sayang, Assalamu'alaikum " pamit Bunda lalu mencium kening Zee.
" Waalaikumsalam "
Dritt...dritt...dritt..
ponsel Zhio berdering, dan yang menghubungi nya adalah Tasya yang melakukan panggilan video.
" Tasya "
Zhio mengangkat telepon dari Tasya dan mengarahkan kamera ponselnya ke dirinya dan Zee.
" Assalamu'alaikum...kak Zee...Abang.. " teriak Tasya dengan suara cempreng nya.
" Waalaikumsalam, gak usah teriak - teriak kenapa sih dek " ucap Zhio.
" Adek gak teriak bang, biasa aja. Hehehehe , oh ya gimana keadaaan kak Zee "
" Nih, kak Zee nya. Tanya sendiri " ucap Zhio langsung mengarahkan kamera ponselnya ke arah Zee.
" Bunda.. "
" Kak Zee .. "
Bulan dan Zhea masing - masing berteriak memanggil Zee, mereka saling berebut ponsel agar dapat melihat Zee.
__ADS_1
" Ihh Zhea..biar bulan dulu ngomong sama kak Zee " ucap Tasya.
" Aku dulu sya, aku pengen liat kak Zee , aku mau tau kak Zee udah baikan apa belum "
" Tapi kan onty, Bulan juga sama. Bulan juga pengen tau kabar bunda "
Zhio dan Zee saling tatap kemudian terkekeh mendengar ocehan dan perdebatan dari Tasya, Zhea dan Bulan.
" Sudah yank, kita tidur aja kali ya. Biarin mereka berdebat sampai puas " ucap Zhio sembari terkekeh.
" Sudah kalian tu jangan berdebat gitu, kakak baik - baik aja Zhea. Bunda udah baikan Bulan, kalian semua jangan khawatir ya " ucap Zee.
" Iya Bunda, Bun..bentar lagi Bulan punya dedek kan..Horeee..." teriak Bulan.
" Berarti sebentar lagi kita anggota keluarga kita bertambah, kira-kira nantinya adek kamu perempuan atau laki - laki ya Bulan . Kamu pengen nya adek perempuan atau laki - laki ? " tanya Tasya.
" Perempuan " jawab Bulan singkat.
" Sama, aku juga mau nya perempuan. Kalau anak laki- laki tu nakal , nyebelin " ucap Zhea.
" Huss...kayak tau - tau nya aja anak laki - laki nakal, gak semua kali Zhe , contohnya aja kamu " ucap Tasya.
" Aku " ucap Zhea sembari menunjuk dirinya sendiri.
" Iya kamu, buktinya kamu juga nakal, nyebelin, suka ganggu orang " jelas Tasya.
" Tasya apaan sih " Zhea mengambil bantal dan melemparkan nya ke arah Tasya, Tasya hanya tertawa dan membalas Zhea dengan melemparkan kembali bantal ke arah Zhea.
" Onty, kak Tasya..kok jadi berantem sih..aduh, kena Bulan nih " Bulan yang berada di tengah - tengah juga ikut jadi sasaran Zhea dan Tasya.
" Lihat kan sayang, mereka malah berdebat. Yukk kita tidur aja yank " ucap Zhio lalu membawa Zee untuk berbaring bersama nya.
" Onty, kak Tasya. Sudah..kita tu lagi telepon sama Bunda. Kok malah berantem sih " ucap Bulan berusaha melerai Zhea dan Tasya.
Tasya dan Zhea berhenti melempar bantal, mereka sadar jika mereka sedang menelepon Zee.
" Kamu sih Sya " ucap Zhea.
" Kamu tu " ucap Tasya.
Tasya, Bulan dan Zhea kembali ke posisi mereka dan ternyata setelah di lihat ponsel Tasya layar nya sudah gelap dan sambungan telepon mereka dengan Zee terputus.
__ADS_1
" Tu kan..udah mati telepon nya. Onty sama Kak Tasya sih.. " ucap Bulan kecewa.
" Ya udah..telepon lagi.. "