Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Kehidupan Zee setelah bercerai


__ADS_3

Tiga tahun berlalu...


Zee sedang sibuk memperhatikan setiap detail penjelasan dari dosen nya, sembari sebelah tangan nya mencatat hal - hal yang menurutnya penting. Zee adalah salah satu mahasiswi kedokteran di sebuah universitas yang cukup ternama di kota. Setelah perceraian nya, Pak Bayu memaksa Zee untuk melanjutkan pendidikan nya ke jenjang kuliah. Bertepatan pada saat itu juga Zhea lulus SMP, dan Pak Bayu juga menyuruh Zhea agar melanjutkan bangku SMA di kota. Jadi mereka bisa tinggal bersama - sama, dan Pak Bayu tidak mengkhawatirkan lagi jika Zhea sendirian di sana.


Pak Bayu tidak ingin Zhea sendirian karena takut kejadian yang menimpa Zee terdahulu terulang. Dengan adanya Zee, Pak Bayu yakin Zee bisa menjaga adiknya dengan baik, sembari Zee juga kuliah di sana. Pak Bayu juga menyuruh Zee untuk membawa Bulan, dan setelah mendapat ijin dari Satria, Zee bisa membawa Bulan ke kota. Zee juga tidak mau egois dan mengambil keputusan sepihak, bagaimana pun juga Bulan mempunya seorang Ayah. Dan harus meminta ijin juga kepada Satria.


Awalnya Satria tidak mau Zee ikut membawa Bulan, dan entah mengapa selang beberapa hari Satria menghubungi Bulan dan mengijinkan nya pergi bersama Zee. Bulan senang sekali,begitu pula dengan Zee. Bulan tidak ingin berpisah dengan Bunda nya,begitu pula dengan Zee. Zee tidak akan melanjutkan kuliah ke kota kalau Bulan juga tidak ikut, tapi alhamdulillah Satria mengijinkan dan mereka kini tinggal bersama di kota.


" Jadi kita bakalan magang di rumah sakit mana Zee? ingat ya, sudah cukup kita berpisah sekian lama Zee. Dan sekarang kita harus selalu bersama " tegas Amira, sahabat Zee saat di bangku SMK dulu, Zee tidak sengaja bertemu Amira saat ospek, Amira sangat bahagia sekali bertemu Zee begitu pula dengan Amira.


Lulus dari Bangku SMK, Amira tidak langsung berkuliah. Amira tidak seperti sahabat - sahabat mereka yang lain, Amira termasuk keluarga yang tidak mampu, setelah lulus Amira memilih untuk bekerja. Namun tekad yang kuat dari Amira membuat ia bisa melanjutkan kuliah. Dan akhirnya bisa bertemu dengan Zee, di antara sahabat - sahabat yang lain, Amira memang yang paling dekat dengan Zee.


" Kamu lebay banget sih Ra, lagian kita gak bisa nentuin di mana, dosen kita yang atur semua. Ya semoga aja kita di kelompok yang sama " Zee mencubit lengan Amira sembari terkekeh.


" Aku yakin kita pasti sekelompok Zee, aku pastikan itu " ucap Amira.


" Yakin banget? ya semoga aja " balas Zee.


Jam istirahat berakhir, Zee dan Amira kembali ke dalam kelas. Kali ini dosen akan memberi tahu rumah sakit mana yang akan menjadi tempat untuk mereka magang dan sekaligus pembagian kelompoknya. Hal itu membuat Zee dan Amira tegang, mereka berdua sangat berharap bisa magang di tempat yang sama.


" Yes!! benar kan ucapan ku Zee " Amira semringah sekali, karena benar ia dan Zee sekelompok dan akan magang bersama di Rumah Sakit Medistra Center, rumah sakit yang sangat terkenal di kota itu.


" Iya Ra, kayaknya kamu berbakat jadi peramal deh dari pada dokter " ledek Zee.


" Apaan sih Zee, ngeledek terus, gak lucu tau " Amira menepuk lengan Zee dengan buku, lalu setelah nya mereka tertawa bersama, dan melanjutkan pelajaran mereka hingga jam kelas berakhir.


" Sampai jumpa di tempat kerja Zee " Amira melambaikan tangan nya ke arah Zee lalu terlebih dahulu meninggalkan kampus dengan sepeda motornya.


Mereka berpisah di parkiran, dan Zee juga pulang setelah Amira pergi. Jarak kampus dan kontrakan Zee tidak terlalu jauh, butuh 15 menit saja ia sudah sampai di rumah.

__ADS_1


" Bunda...!! " teriak Bulan begitu melihat Zee datang dan memeluk bunda nya, Zee pun membalas dengan erat pelukan Bulan.


" Bunda udah makan belum? kalau belum kita makan bareng yuk Bun, bentar lagi kan Bunda mau berangkat kerja lagi. Bulan udah nungguin Bunda dari tadi "


" Baiklah sayang " Zee dan Bulan masuk kedalam rumah, selesai membersihkan diri Zee segera ke dapur. Bulan dan Zhea sudah menunggu nya. Zee tidak perlu memasak, karena semua sudah disiapkan oleh Zhea. Tumis kangkung, sambel Ulek dan tempe goreng sudah tersaji.


" Kayaknya enak nih, adik kakak memang jago kalau urusan masak " puji Zee.


" Cuma goreng tempe sama numis kangkung mah itu biasa aja kak, kakak mah lebay "


" Hahaha... kamu ni bukan senang di puji sama kakak, malah bilang kakak lebay "


" Bunda gak lebay, onty. Bunda memang benar, onty tu jago masak. Terus tu masakan onty tu enak tau, walaupun cuma tumis kangkung gini " Bulan berbicara dengan mulut yang udah penuh dengan makanan.


" Kamu bisa aja Bulan, selesain makan nya nanti keselek kalau ngomong terus " ucap Zhea dan hanya di balas anggukan oleh Bulan.


Mereka bertiga makan dengan lahap, dan sesekali di selingi dengan cerita mengenai aktivitas mereka hari ini.


" Iya Zhea, waktu kakak cuma tiga minggu. Kakak sebentar lagi magang di rumah sakit, dan kakak akan berhenti dulu dari pekerjaan kakak. Karena kalau magang kakak gak bisa bagi waktu buat kerja "


" Ya kak, apapun deh yang menurut kakak baik. Lagian ada bagusnya juga kakak gak usah kerja dulu, Zhea kasian liat kakak. Pasti capek kan kak? lagian masih ada Bapak sama ibu yang bisa bantu bayar kuliah kakak " Zhea menghampiri Zee dan berdiri di samping Zee yang sedang sibuk mencuci piring.


" Kakak cuma gak mau ngerepotin bapak dan ibu terus, Kakak juga punya Bulan, semua kebutuhan Bulan juga tanggung jawab kakak. Kakak juga seharusnya bukan tanggung jawab Bapak atau ibu lagi dek "


" Iiiss.. jadi ingat Kak Satria, Bulan tu kan juga tanggung jawab Kak Satria, bukan cuma kakak yang harus tanggung jawab dan kerja keras untuk Bulan. Lelaki gak bertanggung jawab, ngirim uang aja jarang buat Bulan, ngasih uang cuma seratus dua ratus ribu sebulan, itu pun ngasihnya kalau kami pulang ke kampung. Padahal gajih Kak Satria itu besar lo kak, Tante Yuni yang cerita sama aku " Zhea ngomel - ngomel, ia sangat tidak suka dengan Satria.


" Huss.. jangan keras ngomongnya, nanti Bulan dengar terus dia sedih lagi, kamu kok jadi emosi sih "


" ya iyalah kak, siapa yang gak emosi coba. Kalau gitu kakak cepat nikah deh kak, biar ada yang tanggung jawabin kakak sama Bulan "

__ADS_1


Pletak... Zee menepuk pelan kening Zhea, tidak peduli dengan tangannya yang masih bersabun.


" Ihh kakak, tangan kakak masih ada sabun nya tu " Zhea segera mencuci wajahnya, sedangkan pelaku hanya terkekeh melihat adiknya.


" Kakak ni nyebelin, di kasih saran yang baik juga "


" Kamu fokus aja sama sekolah kamu, gak usah mikiran kakak "


" Iya, tapi kan aku pengen liat kakak bahagia "


" Emangnya sekarang kakak gak bahagia?


" Bukannya gitu kak, tapi.. "


" Sudah gak usah ceramahin kakak, cepat mandi dah sore nih. Kakak bentar lagi mau berangkat kerja " Zee memotong begitu saja ocehan Zhea. Zhea memang suka menceramahi nya, dan sering sekali menyuruh Zee untuk menikah lagi.


" Iya kak, aku mandi sekarang. Lagian baju ku juga udah basah nih " Zee mengulum senyum melihat Zhea, adiknya ini memang lebih cerewet dari nya.


"Kakak hanya ingin fokus dengan kuliah kakak dan juga Bulan, kakak masih ragu untuk menikah lagi. dengan adanya kamu dan Bulan saja sudah cukup buat kakak, yang selalu ada buat kakak dan menemani kakak " Batin Zee sembari mencuci piring.


Selesai cuci piring, Zee bersiap untuk berangkat kerja. Bulan dan Zhea sudah mengekor di belakang Zee, mereka ingin mengantar Zee sampai depan rumah.


" Dek, jaga Bulan ya. Kalian semua baik - baik dirumah. Jangan kemana - kemana "


" Siap kak "


" Siap Bunda "


Sebelah pamit, Zee melajukan sepeda motornya menuju tempat kerja. Sebuah resto sederhana yang terletak di pusat kota.

__ADS_1


Tetap stay tune ya readers.. 😊


__ADS_2