Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Kebencian yang menghilang


__ADS_3

Perlahan Bulan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang rawat Yuni. Terlihat Yuni sedang kesusahan mengambil segelas air yang ada di atas nakas tepat di samping Yuni.


Melihat hal itu, Bulan bergegas membantu Yuni. Yuni terkejut melihat kedatangan Bulan yang datang tiba-tiba.


" Bulan "


" Ibuk "


Bulan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Yuni. Yuni pun menerima uluran tangan Bulan.


" Maaf ya buk, udah bikin kaget. Ibuk gimana kabarnya ? "


" Baik "


Yuni masih terlihat cuek dan menjawab singkat pertanyaan yang di lontarkan oleh Bulan.


" Wah...itu adek ya Buk , maa syaa Allah lucunya "


Bulan menghampiri adiknya dan mengelus lembut pipi bayi mungil tersebut. Bayi tersebut tampak tidur dengan sangat pulas.


Yuni memperhatikan senyum ketulusan Bulan kepada anaknya, dan bagaimana sikap manis dan ramah bulan kepada anaknya yang baru lahir. Yuni merasa bersalah karena sudah bersiap tidak baik di depan Bulan.


" Oh ya Buk, Bulan sampai lupa. Ini ada beberapa pakaian buat adek dan juga ibuk "


Bulan mengambil paper bag yang ia bawa lalu menaruhnya di atas nakas di samping Yuni.


" Bunda yang beliin semua buat adek dan juga ibuk, bunda cuma titip salam sama ibuk. Bunda gak bisa jenguk ibuk karena masih ada pekerjaan buk " jelas Bulan kemudian Bulan kembali fokus mengamati adiknya yang terlihat begitu menggemaskan di mata Bulan.

__ADS_1


" Bunda ? apa yang di maksud Bulan itu Zee ? " batin Yuni.


Yuni mengambil paper bag yang bulan bawa, lalu ia melihat dan membuka isi paper bag tersebut.


" Banyak sekali " batin Yuni sembari melihat banyaknya pakaian bayi termasuk perlengkapan mandi dan lainnya untuk anaknya. Ada juga beberapa helai pakaian untuk dirinya sendiri.


" Bunda kamu yang belikan semua ini, Bulan ? " tanya Yuni kembali tak percaya.


" Iya Buk, Bunda yang cerita kalau ibuk masuk rumah sakit dan melahirkan. Makanya Bulan datang ke sini " jelas Bulan.


Seketika air mata menetes di pipi Yuni, Yuni merasa terharu karena Zee begitu baik kepadanya. Padahal begitu banyak dosa dan kesalahan yang sudah ia perbuat kepada Zee, betapa dirinya juga sangat membenci Zee, membenci Zee karena merasa iri dengan kehidupan Zee yang justru lebih baik darinya saat ini, belum lagi rasa benci dan cemburunya kepada Zee karena merasa Zee dulu mencoba kembali mengganggu dan menginginkan Satria setelah Satria mulai berubah sikap kepadanya.


Padahal hal itu tidak lah benar adanya, Satria memang lelaki yang tak pantas untuk di sebut sebagai suami. Yuni akui ia bodoh karena terlalu mencintai Satria, dan bahkan rela menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Zee. Merasa benar sendiri, dan bahkan justru terbalik membenci Zee dimana seharusnya Zee lah yang membenci nya karena ia telah merebut Satria dari Zee.


" Assalamualaikum... "


Kedua orang tua Satria datang, Yuni segera menyeka air matanya. Tidak ingin kedua mertua nya itu melihat kalau ia baru saja menangis.


Bulan tersenyum lebar melihat kedatangan nenek dan kakeknya, sudah lama sekali bulan tidak bertemu dengan mereka. Bulan berlari menghampiri sang nenek dan memeluknya dengan erat.


" Maa syaa Allah, Bulan. Sudah pak, cucu kita Bulan " ucap ibu nya Satria.


" Iya buk, Bulan semakin cantik dan juga sudah remaja "


Kedua orangtua Satria melepas rindu mereka kepada Bulan, sampai tidak sadar akan kehadiran Yuni di sana.


" Wah nek, ini Riski kan ? " Bulan berjongkok dan membelai rambut adiknya Risky, anak pertama dari Yuni dan Satria.

__ADS_1


" Maa syaa Allah sudah besar " ucap Bulan.


" Riski mau liat adik ? sini sama kakak ? " Bulan menggandeng riski dan membawa Riski untuk melihat adik mereka. Sedangkan Bapak dan ibu Satria menghampiri Yuni.


" Gimana kabar kamu Yun. Ibuk sama Bapak dapat kabar dari tetangga kamu , makanya bapak sama ibuk ke sini "


Hiks..hiks..hiks..


Tangis Yuni pecah, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Selama ini hubungan Yuni dengan kedua orang tua Satria tidak lah baik , semenjak Satria di penjara dan ibunya meninggal. Hidup Yuni benar-benar terpuruk. Ya mungkin ini karma karena Yuni sudah melakukan dosa besar , dan Yuni semakin membenci keadaannya. Membenci kedua mertuanya juga karena Yuni merasa kedua mertuanya itu tidak menyukai.


" Kamu kenapa nangis Yun ? " ibu Satria mengambil selembar tisu dan memberi nya kepada Yuni.


Yuni menarik tangan ibu nya Satria lalu menciumnya.


" Maafkan Yuni buk, maafkan Yuni Pak "


Yuni menangis dan meminta maaf kepada bapak dan ibu mertuanya.


" Maafkan semua kesalahan dan sikap Yuni selama ini sama ibu dan juga bapak "


Ibu dan bapak Satria ikut berkaca-kaca melihat Yuni, ibu Satria lalu memeluk Yuni.


" Kami sudah memaafkan kan mu nak, bapak dan ibu juga minta maaf ya. Selama ini bapak dan ibu juga tidak berlaku baik kepadamu "


" Gak buk, Yuni yang salah. Ibu dan bapak gak salah apa-apa " ucap Yuni dan kembali menangis.


" Iya Yuni, sudah ya nak jangan menangis. Kamu habis melahirkan. Jangan banyak bersedih" ucap ibu Satria lalu menyeka air mata yang membasahi pipi Yuni.

__ADS_1


Bulan tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya, melihat Yuni dan neneknya saling berpelukan. Bulan bahagia karena kini nenek dan ibu sambungnya itu berbaikan, karena dulu bulan juga sering melihat bagaimana neneknya dan Yuni saling beradu mulut.


Bulan bahagia karena akhirnya semua kebencian itu telah hilang dan kini berakhir bahagia. Bulan juga merasa kalau Yuni tidak juga lagi membencinya karena sikap Yuni yang tidak seperti dulu. Walaupun tidak banyak bicara, tapi dengan tidak mengusir bulan di sana menjadi alasan Bulan kalau ia yakin hal itu adalah tanda bahwa ibu sambungnya itu juga sudah berubah dan tidak lagi membencinya.


__ADS_2