Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Pulang Kampung


__ADS_3

Sudah lima hari berlalu, Zee dan Zhio benar - benar tidak bertemu. Bahkan saling berhubungan lewat ponsel pun tidak sama sekali. Apakah Zhio merasa rindu kepada Zee? ya jawaban nya benar. Walaupun sekarang pekerjaan nya bertambah dan semakin sibuk, hal itu tidak membuat Zhio melupakan Zee.


Seperti saat ini, sepulang dari Rumah sakit dan membersihkan diri, Zhio merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai memainkan ponsel nya. Rasanya tangan Zhio begitu gatal dan ingin segera menghubungi Zee, namun Zhio berusaha menahan nya. " Dua hari lagi, aku harus sabar. Ya Allah , semakin dekat kenapa rasanya aku semakin gugup Zee. Bagaimana kalau.. ahh..tidak..tidak..aku harus yakin " batin Zhio sembari terus memikirkan Zee.


Selama lima hari ini Zhio hanya bisa memantau Zee dari sosial media milik Zee. Dari situ Zhio bisa tau apa saja yang Zee lakukan, karena Zee termasuk orang yang juga aktif dalam bersosial media. Zee juga selalu memposting apa saja kegiatan yang ia lakukan setiap hari. Sekarang Zhio sudah tidak bisa lagi mencuri kesempatan untuk melihat Zee apabila Zee di Rumah sakit, ya hal itu karena jadwal Zhio dan Zee selalu tidak sama. Zee lebih sering masuk pagi sedangkan Zhio sekarang lebih sering ke Rumah sakit pada malam hari.


Selain dari media sosial, Zhio juga sering menghubungi Bulan untuk menanyakan keadaan Zee. Ya yang pasti nya tanpa sepengetahuan Zee, karena Zhio sengaja memberi tahu Bulan untuk tidak memberi tahu Zee. Zhio sebenarnya bisa saja bertanya kepada sang Adik ataupun Zhea. Apalagi setiap hari Tasya selalu datang ke Rumah Zee. Tapi Zhio tidak mau karena mereka berdua itu sangat usil,usul dan banyak tanya. Cerita nya akan semakin panjang jika bertanya kepada mereka.


Karena terlalu lelah, akhirnya Zhio tertidur dengan ponsel yang masih berada dalam genggamnya.


*****


Setelah pulang sekolah , rencana nya Zhea dan Bulan akan pulang ke kampung mereka. Karena kebetulan hari senin tanggal merah, dan senin sore barulah mereka kembali ke kota. Sebenarnya mereka bisa saja pulang ke kampung setiap hari sabtu sore sepulang sekolah, tapi hari minggu harus kembali lagi karena senin sudah harus sekolah. Hanya lelah saja yang di dapat, ya setidaknya kalau ada tanggal merah yang bergandengan gini mereka jadi punya waktu lebih untuk pulang.


Zhea dan Bulan pulang ke kampung dengan bergoncengan. Zee tidak ikut pulang karena memang tidak ada waktu Zee untuk libur. Hari minggu besok akan Zee luangkan untuk membuat laporan bersama Amira dan teman mereka yang lain.


Zhea dan Bulan tidak terlalu banyak membawa bawaan, mereka berdua hanya membawa dua ransel saja. Punya Zhea satu, dan Bulan juga satu.


" Kami pamit ya kak Zee, hati - hati di rumah "


" Iya Bun, hati - hati di Rumah ya "


" Iya, kalian juga hati. Jangan ngebut bawa motor nya Zhe. Terus jangan lupa kabarin nanti kalau udah nyampe "


" Iya kak, tenang aja. Assalamu'alaikum "


" Assalamu'alaikum,Bun "

__ADS_1


" Waalaikumsalam "


Zhea pun perlahan melajukan sepeda motornya, Bulan tidak hentinya melambaikan tangan nya ke arah Zee. Dan Zee pun juga membalas lambaian tangan Bulan hingga akhirnya Bulan dan Zhea sudah tak terlihat lagi dari kejauhan. Zee kembali masuk kedalam Rumah, Zee langsung masuk ke kamar nya dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Apa kalian tau apa yang Zee pikirkan sekarang? ya sebenarnya Zee sedang memikirkan Zhio.


Sudah lima hari ini Zee tidak bertemu ataupun berkomunikasi dengan Zhio. Ada rasa rindu yang juga timbul, ya Zee merasa rindu kepada Zhio . Jika Zhio selalu tau apa yang Zee lakukan lewat Bulan atau media sosial? beda halnya dengan Zee. Zee hanya mendapat informasi dari Amira kalau Zhio sekarang sering visite pasien pada malam hari. Entah kenapa? ya Zee tidak tau sama sekali.


Sekitar tiga jam, akhirnya Zhea dan Bulan sampai di kampung. Seperti biasa, tempat tujuan mereka adalah rumah sang nenek. Kedatangan Zhea dan Bulan sangat di tunggu - tunggu sang nenek, nenek juga sudah memasakkan berbagai makanan untuk Zhea dan Bulan. Bukan hanya sang nenek, Zhea dan Bulan pun juga sangat senang bertemu nenek dan mereka juga sangat rindu kepada nenek.


Setelah membersihkan diri, Zhea dan Bulan memilih untuk makan. Perjalanan yang panjang membuat Zhea dan Bulan sangat kelaparan. Karena keasikan, mereka berdua jadi lupa mengabari Zee kalau mereka berdua sudah sampai. Setelah makan,Bulan berlari menuju kamar untuk mengambil ponselnya. Bulan dengan segera menghubungi Zee dan memberi kabar jika mereka sudah sampai. Dan kesempatan juga untuk Zee sekaligus berbincang dengan sang nenek melalui panggilan video. Nenek senang sekali begitu melihat Zee, dan Zee juga sebenarnya sangat rindu dengan sang nenek.


Karena belum terlalu larut malam, Bulan langsung saja menuju ke rumah nenek nya. Ibu dari Ayah nya yaitu Satria. Ibu dan Ayah Satria sangat senang begitu melihat kedatangan Bulan, mereka juga sudah lama tidak bertemu Bulan. Ya walaupun begitu mereka juga masih sering berhubungan lewat sambungan telepon.


" Bulan udah kasih kabar Ayah kalau pulang?" tanya Ibu Satria.


" Bulan udah coba hubungi Ayah, nek. Tapi Ayah gak bisa di hubungi " terlihat kesedihan di raut wajah Bulan , ya sudah lama sekali Ayah nya tidak menghubungi nya.


" Ummm.. Ada kok nek, Ayah juga ada kirim uang " ucap Bulan. Ya walaupun sebenarnya Satria jarang sekali menghubungi nya, dan apabila di hubungi pun selalu tidak bisa.


" Ya sudah,kalau gitu kita kerumah Ayah aja ya. Biar nenek antar " ajak Ibu Satria.


" Gak usah nek, biar Bulan sendiri aja ke sana " ucap Bulan.


" Ya udah, tapi nanti balik kerumah nenek lagi ya "


" Iya nek "


Bulan pergi ke rumah sang Ayah dengan mengendarai sepeda motor. Bulan sudah bisa mengendarari sepeda motor, ia hanya boleh mengendarai motor di sekitar rumah atau ketika di kampung seperti ini.

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama, Rumah sang Ayah berada di kampung sebelah. Lebih tepatnya Rumah Yuni, istri Satria dan juga ibu tiri Bulan.


" Assalamu'alaikum "


" Waalaikumsalam "


Seorang wanita yang tidak asing dan Bulan kenal membukakan pintu. Orang itu adalah Yuni, sudah lama sekali Bulan tidak bertemu dengan ibu tiri nya ini, bahkan berkomunikasi pun tak pernah. Ibu tiri nya ini terlihat berbeda sekali, sekarang lebih gemuk. Bulan juga bisa melihat perut Yuni yang membuncit, ya sepertinya Bulan akan mempunyai calon adik lagi.


Yuni benar - benar berbeda, badan yang dulu ideal sudah tidak tampak lagi. Kulit yang putih sekarang sudah terlihat menghitam, rambut yang tebal,lurus dan indah pun sudah tak terawat. Tapi walau begitu, Bulan masih bisa mengenali ibu tiri nya ini.


" Tante Yuni, apa kabar Tan? " dengan sopan Bulan menyapa Yuni , tapi Yuni memasang wajah tidak suka nya kepada Bulan.


" Mau apa kamu kesini? " tanya Yuni ketus, dan hal itu membuat Bulan kesal. Sejak dulu Yuni memang tidak menyukai nya dan akan baik saja kalau di hadapan sang Ayah.


" Ayah nya ada Tan? "


" Ayah kamu belum pulang kerja "


Tiba - tiba saja datang seorang anak kecil yang berumur tiga tahun menghampiri Bulan dan Yuni.


" Wah..adek..sekarang udah besar " Bulan berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan sang adik. Walaupun Yuni tidak menyukai nya, hal itu tidak membuat Bulan untuk membenci adik nya ini.


Belum sempat Bulan menyentuh kedua pipi sang adik, Yuni sudah terlebih dahulu menarik anak nya dan membawa nya masuk.


" Kamu pergi aja Bulan, nanti tante kasih tau Ayah kamu kalau dia sudah pulang " ucap Yuni lalu menutup pintu begitu saja, tidak peduli dengan Bulan yang masih ada di depan rumah. Bahkan Bulan tidak beri kesempatan untuk berucap lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2