
Setelah dari rumah ibu mertua nya, Zee menuju ke kantor tempat Pak Bayu bekerja, di sana lah biasa nya tempat Zee untuk lebih leluasa berbicara kepada Bapak nya. Karena kalau di rumah Zee merasa canggung, apalagi jika ada ibu sambung nya di sana.
" Assalamualaikum, Pak " Zee meraih tangan Pak Bayu lalu mencium punggung tangan Bapak nya.
" Waalaikumsalam Zee, ada apa? "
" Pak, Zee... "
" Zee...Zee mau pisah sama Mas Satria "
Zee duduk bersimpuh di bawah kaki Pak Bayu, karena posisi Pak Bayu sekarang sedang duduk di kursi kerjanya, dan Zee di bawah.
" Apa kau sudah lelah? " pertanyaan yang membuat Zee terkejut.
" Bapak mengerti perasaan kamu, inilah yang bapak tunggu - tunggu, Bapak ini orang tua kamu Zee, Bapak bisa melihat kesedihan yang kamu pendam sendiri selama ini, kamu tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Bapak "
Zee menangis, ia tidak bisa menahan bendungan air mata nya. Zee menyandarkan kepalanya di paha Pak Bayu, dan Zee terus menangis. Dengan lemah lembut, Pak Bayu mengelus - elus kepala Zee, dan bisa terlihat jika kedua mata Pak Bayu saat ini berkaca - kaca.
" Maafkan Zee ya Pak, maaf selama ini Zee tidak pernah mendengar kan omongan Bapak " Zee ingat jika dulu Pak Bayu pernah mengatakan jika Satria itu orangnya kasar, maka dari itu Pak Bayu tidak pernah menyukai Satria.
Zee merasa malu, ia malu dengan Pak Bayu, itu juga salah satu alasan Zee tidak mau bercerita mengenai sikap Satria kepadanya. Zee malu, karena dulu ia tidak mendengarkan ucapan Bapaknya, dan tetap mempercayai Satria.
" Sudah lah nak, kamu tidak salah, semua keputusan Bapak serahin sama kamu Zee, kamu yang menjalani, kalau kamu memang sudah tidak mampu untuk bertahan, maka lepaskan lah " walaupun Pak Bayu tidak menyukai Satria, tapi ia tidak mau egois dan menyerahkan semua keputusan kepada Zee.
" Zee sudah yakin Pak "
" Apa Satria sudah tau kalau kamu ingin berpisah dengan nya? "
" Belum Pak, Zee belum memberi tahu Mas Satria, dan Zee. Zee tidak ingin bertemu dengan Mas Satria lagi "
" Temui lah dia nak, sekali saja, dan sampaikan niat mu ini, bicarakan baik - baik dengan Satria "
" Baik Pak, tapi nanti Pak, Zee akan memikirkan nya lagi "
__ADS_1
Hanya itu yang Zee bicarakan kepada Pak Bayu, mengenai semua kelakuan Satria selama ini kepadanya, Zee tidak pernah membicarakannya, bahkan ketika Satria ketahuan selingkuh pun, Zee tidak menceritakan itu kepada Pak Bayu.
Pak Bayu juga tidak bertanya banyak kepada Zee, ia sudah mengerti dan cukup tau bagaimana perasaan Zee sekarang, dan kalaupun harus mendengar bagaimana sikap buruk Satria kepada anaknya, Pak Bayu merasa tidak sanggup.
*****
Seharian Satria hanya berdiam diri di rumah, berpuluh - puluh panggilan dari selingkuhan nya itu pun ia abaikan. Sesekali Satria melirik kearah jam dinding, yang sekarang sudah menunjukkan pukul 8 malam.
" Di mana Zee? kenapa dia tidak pulang? "
" Assalamu'alaikum " terdengar suara seseorang datang, Satria bergegas keluar, namun bukan Zee melainkan Bulan anaknya.
" Dimana Bunda, Zee? "
" Bunda di rumah nenek, Yah. Bunda tidur di rumah nenek malam ini, Bulan juga tidur di sana Yah, Bulan kesini mau ambil pakaian Bunda "
" Suruh Bunda pulang, ayah ingin berbicara "
Bulan kembali kerumah neneknya, dan menyampaikan pesan ayah nya kepada Zee, tapi Zee tidak perduli, ia benar - benar tidak ingin bertemu dengan suaminya sekarang. Bulan merasa ada yang aneh, tapi ia belum berani bertanya kepada Bundanya. Karena Zee juga belum menceritakan niatnya untuk berpisah dengan Satria, Zee belum siap untuk mengatakan hal ini kepada anaknya, dan ia masih memikirkan cara terbaik untuk menyampaikan hal ini kepada Bulan.
Sudah pukul sepuluh malam, Satria terlihat mondar - mandir dan gelisah. Ia menunggu kedatangan Zee sejak tadi, namun Zee belum juga pulang.
Satria meraih ponselnya di atas meja, ia berniat untuk menanyakan kabar Zee kepada Zhea.
Tut.. tut.. tut..
" Kak, Kak Satria telpon ni " Zee tidur di kamar Zhea, dan ada Bulan juga di sana, Bulan sudah tidur, tinggal Zee dan Zhea yang masih terjaga.
" Katakan kalau kakak sudah tidur " bisik Zee.
" Hallo "
" Hallo Zhea, apa kakakmu ada? "
__ADS_1
" Ada kak, tapi Kak Zee sudah tidur "
Satria menelan kekecewaan, ia berharap jika saat ini ia bisa berbicara dengan istrinya.
" Baiklah Zhea " Satria memutus sambungan telepon nya.
" Huh.. biar tau rasa tu Kak Satria " ucap Zhea, Zhea sebenarnya juga tidak terlalu menyukai Satria, terlebih mendengar cerita Zee, Zhea semakin tidak suka dengan kakak iparnya itu.
" Kakak besok gak usah pulang ya, di sini aja terus, biar tau rasa tu kak Satria, baru tau rasanya kehilangan gimana "
Zhea terus saja mengoceh, sifat Zee dengan Zhea memang berbeda, Zee lebih kalem, sedangkan Zhea sedikit cerewet dan bar-bar. Zee sangat mirip dengan sikap sabar yang ia dapat dari Pak Bayu, sedangkan Zhea lebih mirip dengan ibu mereka.
Ya walaupun usia nya baru 15 tahun, Zhea tampak lebih dewasa dari umurnya, sama halnya seperti Zee. Bahkan Zhea sering memberikan kata - kata penyemangat kepada kakaknya. Semenjak perceraian kedua orang tua nya, Zhea dan Zee harus di hadapkan dengan situasi - situasi dimana mereka harus berjuang sendiri, dan dari sana lah membuat mereka menjadi wanita yang kuat dan mandiri.
" Aku harus bagaimana? " ucap Satria sembari mengacak - acak rambutnya.
" Bagaimana kalau yang di katakan Bapak dan ibu benar? apa Zee benar - benar ingin berpisah dari ku "
Begitu banyak pertanyaan yang memenuhi pikiran Satria saat ini, Dan Satria memilih masuk kedalam kamar. Satria memiringkan tubuhnya, biasanya ada Zee di sampingnya,namun kali ini tidak ada. Satria mulai merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Satria memejamkan kedua matanya, lalu terpintas di pikirannya bagaimana sikap buruk nya selama ini kepada Zee, dan bagaimana Zee selalu sabar menghadapi sikap nya.
Sebenarnya Satria tidak benar - benar mencintai Zee, Satria hanya memanfaatkan Zee, karena tau Zee anak orang mampu dan juga dari keluarga kaya, dari situlah niat Satria untuk memacari Zee. Karena nafsu, Satria berani merenggut keperawanan Zee, dan setelah tau Zee hamil. Satria merasa belum siap, namun Satria tetap menunjukkan sikap manisnya kepada Zee. Tapi lambat laun setelah Zee melahirkan dan Bulan lahir, Satria merasa sangat terbebani, terlebih ia harus di pecat dari pekerjaan nya, dan itu pun juga karena ulahnya yang sering tidak turun kerja.
Di situlah Satria mulai berubah, dan menunjukkan sifat aslinya, ia mulai bersikap kasar, dingin dan juga cuek terhadap Zee.
" Aahh sial.. aku tidak bisa berpisah dari mu Zee, aku tidak ingin " teriak Satria.
**Bersambung..
Kira - kira Satria sama Zee bakalan pisah gak ya.. kayaknya Satria gak mau tuh... 🤔🤔
tetap stay tune ya..jangan lupa like,vote, kritik dan saran nya juga 😘**
__ADS_1