
Setelah mendapat waktu yang tepat, Zhea dan Tasya memulai rencana mereka. Mereka harus menunggu satu minggu untuk memulai rencana ini, karena hari ini lah hari yang tepat untuk mempertemukan abang nya Tasya dengan Zee. Kesibukan Zee dan juga abang nya Tasya membuat Zhea dan Tasya harus menunggu.
" Zhea, kamu bilang kak Zee magang di rumah Sakit Medistra kan? abang aku kan kerja di sana juga, jangan - jangan mereka sudah kenal " tanya Tasya, saat ini mereka dalam perjalanan pulang. Tasya selalu mengantar dan menjemput Zhea pulang, dan bukan hanya Zhea tapi Bulan juga ikut bersama nya. Zhea sudah mengatakan kepada Tasya untuk tidak terus mengantar dan menjemputnya karena Zhea juga punya kendaraan sendiri ke sekolah. Tapi Tasya tetap saja kekeh dan Zhea pun mengalah. Zhea akan membawa kendaraan nya sendiri ke sekolah kalau Tasya berhalangan. Misalnya tidak sekolah karena tiba - tiba sakit atau ijin karena ada acara keluarga.
" Bener Sya, kalau benar udah kenal ya bagus dong. Perjodohan ini semakin mudah " jawab Tasya.
" Perjodohan apa onty? " tanya Bulan yang penasaran, karena memang Zhea dan Tasya tidak memberi tahunya.
Zhea dan Tasya tersenyum mendengar pertanyaan dari Bulan, Zhea pun mulai menceritakan rencana mereka. Bukan kesedihan yang terlihat di raut wajah Bulan, bahkan ia terlihat semringah. Ia mendukung sekali rencana Zhea dan Tasya, dan ia siap membantu.
" Kalau abang kamu udah di rumah, kabarin aku ya Sya. Biar aku dan Bulan siap bergerak " ucap Zhea sebelum turun dari mobil. Tasya sengaja menurunkan Zhea tidak di depan rumah mereka, ya perlu jalan kaki sekitar sepuluh menit barulah sampai di rumah. Karena ini bagian dari rencana mereka.
" Siap, tadi aku udah telpon ibu katanya abang ku bentar lagi pulang " ucap Tasya, Zhea pun turun dan menutup pintu mobil. Setelah itu mobil Tasya segera pergi, meninggalkan Zhea dan Bulan yang berjalan kaki menuju rumah mereka.
Zee sedang libur hari ini karena sudah seminggu masuk shift siang, besok gantian Zee masuk pagi sedangkan Amira masuk siang. Zee yang sedang duduk di teras depan langsung berdiri melihat Zhea dan Bulan yang terlihat dari kejauhan sedang berjalan kaki.
Melihat kakak nya, Zhea memulai aksinya. Semakin dekat langkah mereka menuju rumah, wajah Zhea semakin terlihat sedih.
" Kalian kenapa jalan kaki? bukan nya tadi pagi berangkat bareng Tasya, kalau pulang juga biasa nya sama Tasya kan? terus tu muka kamu kenapa Zhea? kenapa murung gitu " Bukan nya menjawab pertanyaan kakak nya, Zhea langsung berlari masuk ke dalam dan langsung menuju kamar. Dengan raut wajah yang sedih bahkan terlihat kedua air mata Zhea yang berkaca - kaca.
" Onty kamu kenapa Bulan? "
" Onty lagi sedih bun, onty bilang dia lagi berantem sama Kak Tasya. Onty cerita kalau kak Tasya itu kan gak suka banget sama kucing, karena dulu Kak Tasya pernah di cakar terus di gigit sama kucing bahkan sampai kak Tasya masuk rumah sakit. Nah, tadi di sekolah Onty jahilin Kak Tasya, ada kucing lewat Onty langsung ambil dan ngasih ke Kak Tasya. Jadinya Kak Tasya ngambek Bun, bahkan Kak Tasya nangis - nangis tadi. Onty udah minta maaf tapi Kak Tasya gak mau maafin Bun, malah ngejauh dari Onty " Jelas Bulan.
" Ada - ada aja, Zhea juga kenapa harus nakutin Tasya. Udah tau Tasya takut sama kucing. Usil memang tu anak "
" Kata onty dia mau ngetes Kak Tasya aja Bun, masih takut gak sama kucing. Dan awalnya mau coba bantuin Kak Tasya biar gak terlalu takut lagi sama kucing, tapi ternyata Onty salah. Kak Tasya marah sekali Bun, kasian Onty sedih banget Bun "
" Ya sudah, masuk dulu. Nanti bunda bicara sama onty "
Zee dan Bulan masuk kedalam rumah dan mereka langsung menemui Zhea. Zhea terlihat menangis sesegukan sembari berbaring di kasur, baju seragam nya saja belum di ganti. Zee duduk di samping Zhea, mengelus lembut pucuk kepala adiknya, sedangakan Bulan sibuk mengganti baju seragam nya.
" Sudah jangan nangis, kamu tu tambah jelek kalau nangis "
Zhea bangkit lalu duduk berhadapan dengan kakak nya, wajah Zhea sudah penuh dengan air mata.
" Tu kan, tambah jelek " bukannya berusaha menghibur Zhea, Zee malah meledek.
" Kakak... aku lagi sedih tau, malah di ledekin " Zhea menepuk ringan lengan kakak nya.
" Hahaha...maaf.. maaf.. jangan sedih lagi ya, maka nya lain kali jangan usil " Zee menarik tubuh adiknya, lalu memberikan pelukan hangat kepada Zhea. Selesai mengganti baju, Bulan duduk di samping Zee.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.." Zhea menangis di pelukan Zee.
" Kakak temenin aku ya ke rumah Tasya, aku pengen minta maaf lagi sama Tasya kak. Aku beneran gak ada niat buat nakutin dia kak, aku cuma mau Tasya gak phobia lagi sama kucing "
" Kakak ngerti maksud kamu, tapi cara kamu itu gak tepat. Menghilangkan phobia sesorang itu gak semudah itu, bahkan ada yang harus terus menerus berobat ke dokter untuk menghilangkan phobia nya. Melihat seseorang yang phobia akan suatu hal tertentu mungkin bagi kita kaum awan akan terlihat biasa saja, dan bahkan ada sebagian orang yang malah menyebut mereka aneh dan ada juga yang membuli mereka. Tapi itu berbeda hal dengan yang memiliki phobia itu, apalagi kalau ia di hadapkan kembali dengan suatu benda atau hal yang membuat phobia nya kambuh, akan membuat ia semakin sakit dan ketakutan "
" Kakak... aku kan jadi merasa bersalah, pokoknya kakak harus temanin aku ke rumah Tasya sekarang. Please ya kak, aku mau minta maaf sama Tasya. Kalau Tasya gak mau maafin aku, kakak bantuin aku ya " Zhea bergelayut manja di lengan Zee, memohon agar kakak nya itu mau menuruti kemauannya.
" Iya.. iya.. kakak temenin, kakak ganti baju dulu " Zee beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar. Walaupun suka meledek dan mengerjai Zhea, jauh di lubuk hatinya Zee sangat menyayangi Zhea.
__ADS_1
Setelah Zee pergi, Zhea segera menghapus air mata palsu yang membasahi wajahnya. Lalu ia menatap Bulan, dan mereka berdua sama - sama tersenyum. Rencana mereka berhasil, Zhea dan Bulan pun ikut bersiap karena mereka akan ke rumah Tasya. Zhea bergerak cepat, karena sebelumnya Tasya memberi pesan kalau abangnya sudah di rumah. Dan Tasya akan berusaha menahan abang nya untuk tidak keluar rumah sampai Zee, Zhea dan Bulan tiba di rumahnya.
Zee, Zhea dan Bulan dalam perjalanan ke rumah Tasya. Zee membonceng Bulan, sedangkan Zhea berkendara sendiri. Bulan ikut juga karena tidak mungkin ia di tinggal sendirian di rumah.
Perjalanan menuju rumah Tasya cukup jauh, Zhea berada di depan sedangkan Zee dan Bulan mengikuti nya di belakang. Zee terus mengikuti kemana adiknya melangkah, Zee dan Bulan tidak pernah kerumah Tasya. Hanya Zhea yang sering kesana. Dan setelah 30 menit lama nya, mereka sampai.
" Ini benar rumah nya Zhea? " tanya Zee.
" Bener kak, aku kan sering kesini. Gak mungkin salah, ayo masuk!! " Zhea mengajak Zee dan Bulan masuk begitu pagar rumah Tasya terbuka, satpam penjaga rumah Tasya sudah sangat mengenal Zhea. Jadi tidak perlu bertanya sang satpam langsung membuka pagar rumah.
" Bun, rumah kak Tasya besar sekali " bisik Bulan di telinga Zee, Bulan tidak hentinya menatap rumah dan sekeliling nya. Bulan kagum melihat rumah Tasya yang cukup besar, rumah berlantai dua dengan gaya rumah yang modern.
Ting.. tong.. ting.. tong.. Zhea memencet bel rumah Tasya, dan tak lama Bi Asih membuka kan pintu.
" Mba Zhea, mau cari Mba Tasya ya ? Tumben gak sendiri Mba "
" Iya Bi Asih, kenalin ini kakak aku nama nya Zee, dan ini ponakan aku nama nya Bulan " Zee dan Bulan saling berkenalan dengan Bi Asih. Mereka di persilahkan masuk oleh Bi Asih dan menunggu di ruang tamu, sedangkan Bi Asih memanggil Tasya.
" Kak, kira - kira Tasya mau gak ya ketemu sama aku " ucap Zhea dengan memasang wajah cemas.
" Tenang, dia pasti mau ketemu kamu "
Tak lama Bi Asih kembali, dan tidak terlihat Tasya.
" Maaf Mba Zhea, Mba Tasya nya lagi dikamar. Katanya gak mau ketemu sama Mba Zhea "
" Aduh, gimana nih kak " Zhea panik.
" Kayaknya baik - baik aja Mba Zee, tapi Mba Tasya nya lagi baring aja di kamar "
" Kayak apa dong kak, aku gak mau pulang kalau belum ketemu Tasya "
" Kedua orang tua Tasya ada Bi? " tanya Zee, ia ingin bertemu kedua orang tua Tasya.
" Ibu dan Bapak sedang keluar Mba, yang ada cuma abang nya Mba Tasya. Tapi abang nya Tasya lagi istirahat Mba baru pulang kerja, biasanya gak bisa di ganggu "
Zee terdiam sejenak, ia memikirkan cara agar bisa mempertemukan Zhea dan juga Tasya.
" Hmm.. kalau saya langsung menemui Tasya bisa gak Bi, antarkan saya ke kamar Tasya "
" Bisa Mba, mari saya antar "
" Bulan tunggu di sini ya, temani onty " ucap Zee lalu di balas anggukan oleh Bulan.
Zee mengekor di belakang Bi Inah, Zee menatap sekeliling rumah Tasya. Terlihat sekali kalau keluarga Tasya ini cukup berada, dan ada beberapa pajangan bingkai foto tertempel di dinding. Zee hanya melihat samar - sama saja foto yang terpajang di dinding itu, Zee menderita rabun jauh, kacamata Zee ada di dalam tasnya yang sekarang tas itu ada di ruang tamu.
Zee mengalami rabun jauh baru satu tahun ini, sering membaca buku dan menatap layar laptop terlalu lama membuat hal itu terjadi. Di tambah lagi dengan keteledoran Zee yang selalu lupa memakai kacamata baca atau radiasi.
Zee tidak terlalu suka memakai kacamata, ia hanya memakai jika sedang berkendara atau sedang bekerja.Jika sedang santai Zee tidak akan memakai kacamata nya itu, sama halnya tadi. Baru sampai rumah Tasya saja ia sudah mencopot kacamata nya itu dan menyimpan di dalam tasnya.
" Mba, Bibi lupa kalau lagi goreng ayam. Mba naik aja sendiri ya kamar Mba Tasya di atas sebelah kanan " ucap Bi Asih lalu berlalu di hadapan Zee, Zee pun belum sempat menjawab ucapan Bi Asih. Bi Asih khawatir sekali kalau ayam nya gosong.
__ADS_1
Zee naik sendiri ke lantai dua, di lantai dua juga tidak kalah luas. Dan terlihat ada tiga kamar di sana, ada dua di sebelah kanan, dan ada satu di sebelah kiri.
" Kanan atau kiri ya kamarnya Tasya, aku jadi lupa Bi Asih ngomong apa tadi "
Setelah menyakinkan diri sendiri, Zee berjalan ke sebelah kiri. Menuju sebuah kamar yang hanya ada satu di sana.
Tok.. tok.. tok.. Zee mencoba mengetuk pintu.
Tok.. Tok.. tok.. Zee mencoba lagi.
" Kok gak di bukain ya, apa Tasya tertidur? " Zee mencoba mendekatkan telinga nya ke dinding pintu, mencoba mendengar apakah ada orang atau tidak di dalam.
" Apa aku buka aja ya? takut nya terjadi apa - apa sama Tasya " Zee pun mencoba membuka pintu, namun begitu membuka ganggang pintu. Pintu sudah terbuka terlebih dahulu, dan Zee terhuyung dan tiba - tiba saja ia sudah berada di atas tubuh lelaki. Lelaki itu membuka pintu tepat di depan Zee, ia menarik pintu sangat kuat. Membuat Zee terhuyung menabraknya dan kini mereka berdua jatuh ke lantai.
Deg!!
Deg!!
Deg!!
Zee menatap wajah lelaki itu, dan lelaki itu pun juga begitu. Mereka saling bertatapan, jantung Zee berdetak kencang saat ini. Begitu pula dengan lelaki itu, karena terlalu dekat. Zee bisa merasakan kalau jantung lelaki itu juga berdetak kencang.
Zhea dan Bulan yang menunggu merasa resah, mereka memutuskan untuk menyusul Zee. Sebelum ke kamar Tasya, Zhea sempat melirik ke arah kamar Abang Tasya yang terbuka. Tapi Zhea tidak peduli dengan itu, ia segera membuka pintu kamar Tasya. Tasya terkejut melihat kedatangan Zhea.
" Zhea!! " ucap Tasya.
" Kak Zee mana Sya? " tanya Zhea.
" Kak Zee, dia gak ada di sini "
" Tadi Bunda mau ke kamar kak Tasya " ucap Bulan.
" Ke sini, gak ada tuh "
" Terus kak Zee kemana? jangan - jangan... " Zhea menatap Tasya dan Bulan bergantian.
" jangan - jangan apa nya Zhea? " tanya Tasya penasaran.
" Aku liat kamar abang mu tadi terbuka "
" ASTAGA...!! " Tasya, Zhea dan Bulan berlari keluar kamar. Mereka yakin kalau Zee pasti salah kamar, bukan ke kamar Tasya melainkan kamar abangnya.
Sesampai di depan kamar, mereka bertiga semua terperangah. Zee masih sama dengan posisinya.
" Kak ZEE!! "
" Abang ZHIO!! "
" BUNDA!! "
Ketiga nya kompak berteriak, dan alhasil mengejutkan Zee dan juga Zhio. Zee segera bangkit dari tubuh Zhio, dan Zhio pun begitu. Wajah Zee saat ini memerah, ia malu sekali. Sedangkan Zhio tampak biasa saja.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di sini 😘