
**Bismillahirrahmanirrahim..
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Zee Anastasya Putri binti Bayu Pramana dengan maskawinnya yang tersebut , tunai "
" Sah "
" Sah "
Dengan sekali tarikan nafas, dengan lancar dan lantang Zhio mengucapkan ijab kabul nya di depan Pak Bayu, Dan semua anggota keluarga mengucapkan kata sah saat Zhio selesai mengucapkan ijab kabul tersebut.
Setelah ijab kabul selesai, doa pun di panjatkan. Selesai berdoa, Zhio dan Zee saling bertukar cincin. Zee pun mencium punggung tangan Zhio, dan di balas ciuman yang di tautkan Zhio de kening Zee. Ada rasa gugup yang menerpa Zee saat Zhio mencium kening nya, dan sebenarnya bukan hanya Zee. Zhio pun merasakan hal yang sama yang di rasakan oleh Zee.
Tidak ada acara yang mewah, acara akad nikah kali ini begitu sederhana. Hanya anggota keluarga saja yang hadir, dan acara tersebut di laksanakan di kediaman kedua orangtua Zee di kampung. Beberapa hari setelah musibah yang menimpa Zee, Zhio beserta keluarga datang menemui Pak Bayu untuk menyampaikan niat mereka.
Dan dengan senang hati Pak Bayu menerima lamaran Zhio, sebelumnya Zee sudah menceritakan semua yang terjadi. Dan juga bercerita mengenai niat Zhio yang ingin menikahinya. Pak Bayu pun memberi restu kepada Zee, setelah apa yang menimpa Zee, Pak Bayu merasa Zee memang lebih baik menikah agar ada yang menjaga dirinya dan menghindari fitnah. Dan dengan begini Pak Bayu juga merasa tidak terlalu mengkhawitrkan keadaan Zee lagi karena akan ada suami yang selalu ada di samping nya.
Setelah acara pernikahan selesai, kedua orangtua Zhio kembali pulang ke kota, sedangkan Tasya tinggal dan akan ikut pulang besok bersama Zhio , Zee , Zhea dan Bulan.
Akad nikah sengaja di adakan sederhana dan hanya ada anggota keluarga saja yang datang. Hal ini sudah menjadi kesepekatan bersama. Sedangkan resepsi akan di rencanakan nanti setelah ada waktu yang tepat, karena saat ini kasus mengenai musibah Zee saja belum terselesaikan. Satria belum tertangkap, dan rencana nya setelah semua urusan selesai barulah nanti acara resepsi akan gelar.
Zhio dan Zee saat ini berada di rumah nenek, mereka tidak tidur di rumah Pak Bayu karena memang rumah Pak Bayu tidak memiliki banyak kamar. Hanya terdapat dua kamar, sedangkan di rumah nenek memilki empat kamar.
satu kamar untuk Zhio dan Zee, satu kamar lagi untuk nenek, satu kamar untuk Zhea, Bulan dan Tasya. Dan satu kamar lagi untuk Ibu Zee dan juga Bapak tiri Zee. Setelah mendapat kabar mengenai musibah yang menimpa Zee, Ibu nya Zee segera pulang dan menemui Zee. Hati ibu mana yang tak sakit melihat anaknya di sakiti dan hampir di per kosa oleh seseorang yang tak lain adalah mantan menantu nya sendiri. Sedih sekali rasanya , dan hal itu juga yang di rasakan oleh Pak Bayu.
Tapi saat Zhio dan kedua orangtua nya datang dengan niat baik mereka, kedua orangtua Zee yang sebelumnya tidak pernah akur dan selalu berselisih pendapat pun dengan mantap memberi restu mereka. Walaupun Ibu Zee tidak mengenal Zhio, tapi Ibu Zee merasa Zhio orang yang baik. Terlebih saat mendengar cerita Zhea mengenai Zhio , membuat Ibu Zee dengan yakin memberi restu nya. Yang penting Zee bahagia, dan akan selalu ada suami yang menjaga nya. Masalah mengenai kuliah kedokteran nya yang belum usai itu tidak menjadi masalah, Zee bisa masih bisa melanjutkan nya walaupun ia sudah menikah.
****
Zee sedang duduk di atas tempat tidur sembari memandangi seserahan yang Zhio dan keluarga nya bawa saat acara pernikahan mereka. Zee merasa terharu dan juga senang, dulu saat menikah dengan Satria ia tidak pernah mendapatkan semua ini. Bahkan cincin pernikahan pun tak ada, semua serba di lakukan serba terburu - buru karena kehamilan yang sudah terjadi terlebih dahulu, ya sudahlah..tidak perlu untuk Zee ingat kembali.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka dan memperlihatkan seorang lelaki tampan yang kini sudah sah menjadi Suami Zee. Zhio tersenyum melihat Zee, entah mengapa senyuman Zhio membuat Zee gugup. Bahkan Zee mulai salah tingkah, ia pun mengambil seserahan yang ada di lantai dan menaruhnya di atas meja.
" Abang mau mandi, ini handuk nya " Zee mengambilkan handuk yang ada di dalam lemari dan menyerahkan nya kepada Zhio lalu kembali sibuk merapikan seserahan di atas meja.
Zhio kembali tersenyum melihat Zee, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dan memulai membersihkan diri.
__ADS_1
" Huff...ya Allah, kenapa aku jadi salah tingkah begini " Zee mengelus - elus dada nya dan menghentikan aktivitasnya setelah Zhio masuk kedalam kamar mandi.
" Lebih baik aku keluar dan membantu nenek dan ibu masak untuk makan malam " Zee memilih keluar dan membantu sang nenek dan ibu nya masak untuk makan malam mereka, selagi ia menetralkan rasa gugup pada diri nya.
Saat sedang asyik membantu , tiga gadis cantik juga datang dan berniat membantu memasak.
" Ciehh...pengantin baru, lagi masak ni ye..." goda Zhea kepada sang kakak.
" Iya ni kak Zee, kenapa masak sih kak..sudah di kamar aja biar urusan memasak kami yang kerjakan " Tasya juga tak mau kalah, ia juga ikut menggoda Zee.
" Husss...kalian para bocil bisa diam gak, nanti kakak jadi gak fokus ni masak nya " ucap Zee dengan menunjuk Zhea dan Tasya secara bergantian dengan spatula yang masih ia pegang.
" Kak Zee kayak Abang aja, bilangin kami bocil. Kami tuh udah bukan bocil lagi kak " protes Tasya , sedangkan Zee hanya senyum - senyum sendiri mendengar protes dari Tasya.
" Kalian kan memang masih bocil.. kalian pergi aja sana gih, mandi sana. Lagian udah sore ni, nanti kita sholat magrib bareng. Bulan juga mandi ya nak, jangan di ikutin tu mereka berdua " ucap Zee kembali melihat ke arah Zhea dan Tasya yang sedang sibuk memakan kerupuk yang baru saja Zee goreng.
" Ia Bunda " Bulan pun mengikuti saran sang ibu dan bergegas mandi, sedangkan dua gadis nan usil masih setia di dapur tanpa niat untuk beranjak dan mandi dan malahan terus memakan kerupuk.
" Kalian berdua..ayo cepat mandi, udah mau magrib nih "kali ini ibu Zee yang berkomentar dan meminta Zhea dan Tasya untuk segera mandi karena memang hari sudah sore dan sebentar lagi magrib menjelang.
" Iya enak Zhe, ini bikinin nenek ya? " tanya Tasya dan di balas anggukan dan senyuman oleh nenek.
" Pantas aja enak " ucap Tasya.
" Ya dong Sya, nenek itu kalau masak atau bikin makanan apapun pasti enak " ucap Zhea.
" Masih aja ngobrol, astaga Zhea..Tasya.. kerupuk nya habis... " ucap Zee saat melihat kerupuk yang tadi ia goreng untuk makan malam sudah habis di lahap oleh Zhea dan Tasya.
" Hehehee..maaf kak, habisnya enak " ucap Zhea.
" ya enak, tapi kan gak di habisin juga dek. Ya sudah gak apa, nanti kakak goreng lagi. Ya udah kalian cepetan mandi ya udah mau magrib nih, gak boleh anak cewek mandi kesorean "
" Siap kak " Zhea dan Tasya mengangkat tangan mereka dan memberi hormat kepada Zee lalu berlalu pergi, nenek , ibu Zee dan Zee hanya menggeleng-gelengkan kepala nya sembari tersenyum melihat kedua nya.
Selesai sholat bersama, semua berkumpul untuk makan malam. Di rumah nenek semua serba sederhana, jika biasanya Zhio dan Tasya makan di meja makan yang besar di rumah mereka, beda hal nya dengan di sini. Mereka harus makan lesehan, semua menu masakan sudah disiapkan dan di gelar di atas lantai yang sudah di lapisi dengan kain terlebih dahulu.
Dengan telaten Zee menuangkan nasi dan lauk pauk di atas piring Zhio, Zhio tersenyum dan tersentuh sekali dengan perhatian yang Zee berikan. Zee juga sadar jika ia sekarang sudah bersuami, dan sudah kewajiban nya untuk melayani sang suami. Setelah menuangkan nasi di piring Zhio, Zee juga melakukan hal yang sama kepada Bulan. Dan apa kalian tau apa yang di lakukan Tasya dan juga Zhea, mereka berdua menyodorkan piring mereka kepada Zee dan berharap Zee melakukan hal yang sama kepada mereka.
__ADS_1
Zhea dan Tasya semringah saat melihat Zee tersenyum kepada mereka dan bersiap mengambil sesendok nasi berharap Zee menaruh di atas piring mereka. Tapi ternyata sendok itu berbelok arah menuju piring Zee yang belum terisi, Zee terkekeh melihat ekspresi wajah Tasya dan Zhea yang terlihat kecewa.
" Yah...kak Zee..culas.. " ucap Zhea dan Tasya bersamaan.
" Sudah besar juga, ambil sendiri kenapa sih dek " ucap Zhio kepada Tasya.
" Iya.. iya.. " jawab Tasya dan Zhea bersamaan.
Semua makan dengan sangat lahap, bahkan Zhio dan Tasya makan dengan begitu banyak. Makan dengan cara sederhana ini justru membuat nafsu makan Zhio dan Tasya menjadi meningkat, karena jarang sekali mereka bisa merasakan nya. Hanya di kampung tempat tinggal Zee, jika sudah kembali ke kota mereka akan jarang menemui suasana seperti ini.
Merasa kenyang dan juga lelah, semua memilih untuk kembali ke kamar mereka masing - masing untuk beristirahat.
" Maaf ya bang, kasurnya gak terlalu besar. Terus juga lesehan di lantai aja gak model springbad besar kayak di rumah abang " ucap Zee sembari merapikan tempat tidur.
" Kenapa kamu minta maaf, kamu gak salah Zee. Lagian enak malah tidur di bawah gini " ucap Zhio lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Melihat Zhio berbaring, membuat Zee gugup. Ini malam pertama mereka, apakah malam ini mereka akan melakukan nya.
" Kenapa diam, ayo sini " ucap Zhio menepuk - nepuk kasur dan memberi isyarat kepada Zee untuk ikut berbaring bersama nya.
Dengan perasaan yang masih gugup, Zee pun ikut berbaring di samping Zhio. Mereka berdua berbaring saling berhadapan, Zee memberanikan diri menatap Zhio, baru kali ini Zee menatap wajah tampan Zhio sedekat ini. Zhio terus saja menatap wajah Zee, bahagia sekali rasanya, akhirnya Allah menjawab semua doa Zhio selama bertahun - tahun ini. Zhio dapat memilki seutuhnya wanita yang sangat ia cintai.
Zhio terus menatap Zee , Zhio melempar senyum kepada Zee dan Zee pun begitu. Dan semakin lama Zhio mendekatkan wajahnya ke wajah Zee, Zee menutup kedua mata nya. Ia tau apa yang di inginkan Zhio, Zhio mengecup kening Zee, kemudian kedua mata Zee, hidung Zee, lalu terakhir kecupan manis di bibir Zee. Kecupan kecupan yang semakin lama semakin terasa liar, mulai terbuai dengan ciumannya Zhio pun ikut memejamkan kedua mata nya.Ia terus menyesapi bibir manis Zee yang menurutya begitu manis, ini adalah ciuman pertama Zhio.
Semakin dalam Zhio mencium bibir Zee, entah mengapa bayangan akan Satria yang ingin memper kosa nya waktu itu muncul. Zee berusaha melawan nya, ia tidak sadar jika jemarinya meremat kuat lengan Zhio. Zhio pun tersadar, dan kemudian melepas ciuman nya dan menatap Zee yang masih terpejam.
" Kamu baik - baik saja sayang? " tanya Zhio dengan lemah lembut.
Zee membuka kedua mata nya, dan menatap Zhio yang terlihat khawatir akan dirinya. " A..aku..maafkan aku bang, tiba - tiba saja bayangan Mas Satria yang ingin memper kosa waktu itu muncul " kini Zee justru menangis, ia merasa bersalah kepada Zhio.
Zhio pun membawa Zee kedalam pelukan nya, tidak di sangka ternyata hal itu membuat Zee trauma. Kedua rahang Zhio mengeras, ia benar - benar marah akan Satria.
" Maafkan aku bang " ucap Zee.
" Kamu gak perlu minta maaf sayang, Abang mengerti pasti tidak mudah untuk kamu melupakan nya, kita akan melewatinya bersama. Sekarang lebih baik kita istirahat ya " Zhio kembali membawa Zee kedalam pelukan nya, memberikan rasa hangat dan senyaman mungkin untuk Zee. Sesekali Zhio juga mengecup pucuk kepala Zee dan mengelus - ngelus belakang Zee agar Zee tertidur.
" Ya Allah, beri aku dan istriku kekuatan untuk menghadapi semua ini. Bantulah aku agar bisa membantu Zee keluar dari trauma nya ini. Hanya kepadamu aku memohon dan berlindung " batin Zhio , ia mengecup pucuk kepala Zee lalu memejamkan kedua mata nya dan ikut tertidur bersama Zee.
Bersambung...
__ADS_1